
Senja kini berganti malam. Seharian ini Kenan dan Fara menghabiskan waktu santai mereka hanya dengan berkencan. Total 4 destinasi yang mereka kunjungi hingga malam ini. Pertama di Taman langsat saat pagi hingga menjelang siang, lanjut ke Gelato secrets selepas shalat Dzuhur hingga menjelang waktu shalat Ashar, terus ke Wisata Kota Tua mereka menghabiskan waktu di sana hingga menjelang malam dikala waktu shalat Maghrib tiba, dan terakhir selepas shalat Isya hingga detik ini dimana waktu sudah menunjukan pukul 20, waktu setempat, mereka berakhir di Dia.Lo.Gue Artspace menikmati pameran sambil ngemil dengan menu kuliner khas di Dia.Lo.Gue Artspace.
Tepat pukul 22.00 PM, Kenan dan Fara sudah berada di dalam mobil beserta Bambang, si supir omes, telah siap untuk pulang yang mengindikasikan bahwa kencan mereka hari ini telah berakhir.
"Gimana, puas, gak yang?" tanya Kenan pada Fara yang tengah duduk sambil membaringkan kepala di pundaknya.
"Hm, puas banget." jawab Fara sembari tersenyum puas di wajah lelahnya. Ya, ia sangat lelah, namun sangat puas dan senang dengan kencan mereka.
Begitupun Kenan yang ikut tersenyum puas mengetahui Fara sangat puas. "Nantilah, kalo ada waktu kita kencan lagi, gimana, mau?"
Fara mengangguk antusias sembari terus mempertahankan posisinya "Mau, mau, mau bangeett."
"Pak, saya juga mau ikut tidur. Nanti bangunin kami kalo udah sampai di apartemen, ya." pinta Kenan pada Bambang ketika sekitar 15 menit sudah mereka tempuh dalam perjalanan pulang. Di sebelahnya, Fara sudah terlelap damai dengan nafas teratur, masih menggunakan pundaknya sebagai bantal. Ia yang juga lelah seperti istrinya itu, tiba - tiba diserang kantuk yang cukup berat.
"Baik, Tuan." dengan senang hati Bambang menyanggupi.
"Terima kasih, Pak." Kenan pun mulai memejamkan matanya dan beberapa saat kemudian ia sudah ikut terlelap, menyusul Fara ke alam mimpi.
Tinggallah Bambang seorang diri yang masih terjaga fokus dengan kemudinya membelah jalanan malam ibu kota yang padat namun dengan alur lalulintas teratur yang membuatnya cukup mulus melalui perjalanan.
>>>
"Kita sudah sampai, Tuan!"
Tak terasa waktu berlalu, rasanya Kenan baru saja memejamkan matanya, ia sudah mendengar ujaran Bambang yang memberitahukan bahwa mereka telah tiba di tujuan.
Sayup - sayup Kenan membuka matanya, begitupun Fara di sebelahnya yang ternyata juga mendengar ujaran Bambang. Dan benar, mereka telah tiba di basemen apartemen.
Sembari mengumpulkan kesadaran, Kenan dan Fara merenggangkan otot - otot mereka yang terasa kaku akibat baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh, yakni selama 45 menit perjalanan.
"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini Pak." ucap Kenan pada Bambang ketika dirinya dan Fara sudah keluar dari mobil dan hendak berlalu menuju lift untuk naik ke unit mereka.
"Sama - sama, Tuan."
>>>
__ADS_1
"Kamu gak mandi dulu, yang?" tanya Kenan pada Fara yang langsung menghempaskan tubuh ke atas ranjang begitu mereka memasuki kamar, setelah melepaskan sepatu serta menaruh tasnya di meja rias tentunya.
"Gak Kak, Fara capek banget, mau langsung tidur aja." mengabaikan tubuhnya yang terasa lengket oleh peluh akibat aktivitas seharian, Fara mulai mencari posisi ternyaman untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terputus di mobil tadi.
"Ok lah. Kalo gitu kamu tidur duluan aja, Kakak mau mandi dulu." Kenan menggedikan bahunya sembari tersenyum tipis melihat tingkah istrinya itu. Ia mengerti keadaan Fara, ia pun tak jauh berbeda, ingin segera melanjutkan tidurnya juga. Namun, ia sangat tak nyaman merasakan lengket di tubuhnya.
"Hm." sahut Fara hanya ber'hm' malas menyetujui ucapan Kenan.
>>>
Keesokan harinya...
Hari ini Kenan dan Fara tak memiliki agenda apapun. Jadilah mereka hanya bermalas - malasan di apartemen. Mengingat besok adalah hari H pengadaan acara resepsi pernikahan, mereka memutuskan untuk berhemat tenaga.
Bukan karena apa, Kenan dan Fara tahu bahwa besok pasti akan menjadi hari yang sangat melelahkan untuk mereka. Bayangkan saja, mereka harus menyambut para tamu yang akan menghadiri acara resepsi pernikahan mereka. Total 10.000 tamu undangan resmi, ditambah yang non resmi yang hanya diundang melalui undangan terbuka di jejaring sosial, entahlah akan seberapa banyak jadinya. Bisa saja setara, atau mungkin bahkan lebih banyak dari tamu undangan resmi. Terutama mereka yang ingin bertemu langsung dengan Kenan, jangankan dalam negeri, dari luar negeri pun pasti akan ada yang datang. Kapan lagi bisa bertemu langsung dengan sosok sesensasional Kenan? Sangat sayang jika dilewatkan kesempatan yang mungkin hanya akan datang sekali seumur hidup ini.
"Eh, Kak? Kita bakal kedatangan tamu?" tanya Fara ketika dirinya dan Kenan tengah bersantai di sofa ruang santai sambil menonton televisi. Dari posisinya, ia dapat melihat para ART yang selalu mengurus apartemen Kenan sedang sibuk berlalu lalang membawa kresek - kresek besar berlogo yang ia yakini berisi makanan dari jasa catering.
"Iya." jawab Kenan santai nan singkat sembari terus memfokuskan pandangannya ke layar televisi yang sedang menayangkan film action semi adventure, genre film kesukaannya.
"Kok, Kakak gak ngasih tau Fara sih?" protes Fara sedikit kesal.
"Ya, iya lah."
"Itulah kenapa Kakak gak ngasih tau, Kakak gak mau kamu kecapekan. Ingat, besok hari pengadaan resepsi pernikahan kita loh! Jadi, kamu harus ngehemat dan ngumpulin tenaga ekstra hari ini."
"Iya, Fara ingat kok. Tapi, kan___"
"Gak ada tapi - tapian." potong Kenan tegas tak ingin dibantah.
Fara tahu, kalau Kenan sudah memasuki mode tegas seperti ini, ia tak akan bisa melakukan apapun untuk merubah keputusan suaminya itu. Ia pun hanya bisa pasrah dan berusaha menepis kekeras kepalaannya. "Baiklah, Fara ngerti. Ngomong - ngomong, tamunya siapa Kak? Fara kenal?" tanyanya mengalihkan topik kemudian.
"Iya, kamu kenal. Gaby sama ayahnya, Profesor Berhan, mantan atasan Kakak sekaligus mantan mentor Kakak sebagai Dokter spesialis penyakit dalam." jawab Kenan santai, namun sukses membuat Fara terperangah.
"Ma- maksud Kakak, Profesor Berhan Logan?" Fara sama sekali tidak peduli dengan Gabela, ia lebih peduli pada Berhan yang merupakan salah satu guru besar di dunia medis Internasional.
__ADS_1
"Yup." masih dengan santainya Kenan mengangguk membenarkan.
Tuut...
"Kak Ken, ayo cepat bersiap - siap!" tanpa permisi Fara tiba - tiba mematikan televisi dan berseru histeris yang sukses membuat Kenan terperanjat kaget.
"Astaga, sayang! Kamu apa - apaan sih? Ngagetin Kakak aja. Orang lagi asyik - asyik nonton juga." protes Kenan sambil mengusap - usap dadanya demi menetralisir kekagetan serta kekesalan akibat Fara yang main mematikan televisi seenaknya disaat adegan film sedang seru - serunya.
"Ngagetin, ngagetin? Kakak tuh yang ngagetin Fara. Tamu penting gitu baru ngasih tahunya sekarang, dengan santainya lagi." balas Fara memprotes garang yang sukses membuat nyali Kenan menciut.
Ya, Fara sudah memasuki mode singa betina marah, mode yang sangat di wanti - wanti Kenan, tak berani melihatnya.
Glek...
Kenan meneguk saliva susah paya. "Ma maaf, sayang. Ka- Kakak gak tau kalo kamu nganggap Gaby sama ayahnya tamu penting." cicitnya sembari menunduk tak berani bertemu tatap dengan Fara.
"Ayahnya doang, Profesor Berhan, Gaby nya gak." ralat Fara masih garang.
"I- iya, itulah." Kenan hanya bisa mengiyakan.
"Jadi, jam berapa tepatnya mereka datang?"
Kenan menggigit bibir bawahnya keras - keras sembari menunduk lebih dalam. Bibirnya tiba - tiba terasa berat untuk berucap. Ia yakin saat mendengar jawabannya, Fara pasti akan semakin menjadi dengan mode singa betina marahnya.
"Kak, kok diem aja?" Fara memicingkan matanya menghunus tajam pada Kenan yang malah diam tak menjawab.
Kenan bergidik ngeri merasakan betapa tajamnya tatapan Fara yang seolah dapat dengan mudah menembus tubuhnya. Kembali digigitnya bibir bawahnya lebih keras dari yang pertama. "15 me- menitan lagi, sayang." jawabnya bercicit takut - takut kemudian, sembari memejamkan mata erat - erat di penghujung ucapannya.
'Satu...'
'Dua...'
'Ti___'
"KAKAAAKKK!!!"
__ADS_1
Belum sampai hitungan ke tiga Kenan menghitung dalam hati, Fara sudah memekik sangat keras hingga membuat telinganya berdengung akibat salah perhitungan dan sedikit terlambat menutup kedua telinganya dengan tangannya.
Akhirnya yang Kenan takutkan terjadi juga, Fara benar - benar semakin menjadi dengan mode singa betina marahnya. Ditatapnya Kenan lekat - lekat dengan tatapan garangnya "5 MENIT KAKAK HARUS SUDAH SIAP!"