
Biip biip biip...
Alarm ponsel Kenan yang terletak di atas nakas sudah berbunyi sejak sekitar 15 menit yang lalu, namun Kenan masih terlelap dalam tidurnya. Sementara Fara yang berbaring di sampingnya sudah terbangun sejak menit pertama alarm berbunyi tadi. Alih - alih membangunkan Kenan, Fara malah sibuk mengamati setiap inci wajah suaminya itu, mengagumi ketampanannya. Tangan Fara yang tadinya melingkar di perut Kenan, kini beralih membelai, menyusuri wajah sang suami.
"Ck..." Fara berdecak kesal "Sejak awal aku memang udah tau kalau suamiku memang tampan, tapi ternyata lebih tampan lagi kalo diperhatiin dari dekat gini. Pantes aja si pelakor amatir itu begitu tergila - gila padanya." gerutunya lirih.
"Tenang aja sayang, si tampan ini akan selalu jadi milik kamu, sekarang, nanti dan selamanya." sahut Kenan tiba - tiba dengan suara serak khas baru bangun tidur sembari tersenyum sayup. Ternyata tanpa Fara sadari, ia sudah terjaga sejak beberapa saat yang lalu karena terusik oleh belaian istrinya itu, di wajah tampannya.
Fara balas tersenyum cerah, mengalahkan cerahnya mentari pagi ini. Iyalah lebih cerah, mentari nya saja belum terbit, masih subuh juga. Ia tak terkejut sedikitpun dengan Kenan yang tiba - tiba bangun dan menyahuti gerutuannya. "Selamat pagi, sayang." sapa nya manja nan ceria.
"Pagi juga sayangnya Kakak yang udah gak malu - malu lagi manggil Kakak sayang." balas Kenan sembari menggoda Fara.
"Nagpain juga musti malu - malu, sama suami sendiri juga." Fara cuek namun pipinya merona.
"Cih... Semalam aja waktu lagi praktek reproduksi, nanti dipaksa baru mau manggil sayang." Kenan mencibir sambil mengulurkan tangannya untuk meraih ponselnya dan mematikan alarm yang belum juga berhenti berbunyi. "Astaga, sayang! Ini kita udah telat bangunnya loh. Kita kan musti keramas dulu sebelum subuhan." serunya kaget kemudian, ketika mendapati bahwa mereka sudah terlambat bangun 20 menit.
Namun Fara, fokusnya lebih pada ucapan Kenan yang menyebutkan 'praktek reproduksi'. Ditutupnya wajahnya yang seketika memerah bak kepiting rebus dengan kedua tangannya dan benar - benar mengabaikan seruan kaget Kenan.
Praktek reproduksi adalah istilah yang mereka tentukan sebagai sebutan proses pembuatan Kenan junior. Ralat, bukan mereka, tapi Kenan yang alasannya agar terkesan ilmiah dan profesional sesuai dengan profesi mereka sebagai dokter yang hampir 100% menjurus pada pengetahuan Biologi. Fara hanya menuruti Kenan saja, tidak begitu peduli dengan istilah atau apalah yang berkaitan dengan kegiatan itu.
Intinya, semalam mereka baru saja melalui malam kedua mereka sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya. Setelah penjelasan pengakuan Kenan, Fara langsung menyambar bibir sang suaminya, menciumnya secara agresif. Kenan tentu saja menyambut dengan senang hati setelah shock sesaat. Hingga akhirnya mereka terbuai hasrat, dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Silahkan bayangkan sendiri!
"Sayang, ayo bangun sayang!" seru Kenan lagi panik sendiri. Sekarang ia sudah dalam posisi duduk. Digoyang - goyangnya bahu Fara yang masih berbaring dan masih menutup wajah pula.
__ADS_1
Fara tak bergeming, ia malah traveling mengingat - ingat, membayangkan proses praktek reproduksi panas mereka semalam, sehingga menjadikan seruan Kenan bagaikan angin lalu yang hanya lewat di pendengarannya. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.
"Astaga! Ck..." Kenan berdecak gusar karena diabaikan "Kamu yang minta ya, sayang!" peringat nya, lalu beranjak turun dari ranjang dan langsung mengangkat tubuh Fara dalam gendongannya ala bridal style. Ia sama sekali tidak memusingkan keadaan tubuh mereka yang sama - sama polos tanpa sehelai benangpun. Selimut yang membalut tubuh mereka tadi, tertinggal di atas ranjang.
"Kyaaa..." sontak Fara memekik histeris ketika merasakan tubuhnya melayang di udara, dalam keadaan bugil pula. "Ka- Kak Ken mau ngapain?" tanyanya was - was.
Kenan menyeringai mesum "Tenang sayang, Kakak cuman ngelakuin apa yang kamu mau. Kamu sengaja telat bangunin Kakak kan, biar bisa mandi bareng." jawabnya sembari menaik turunkan sebelah alisnya. Lalu bergegas mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi.
"Si- siapa yang bilang itu mau Fara? Gak, Fara gak ada niat gitu. Kak Ken, turunin Fara!" protes Fara sambil meronta meminta diturunkan.
Namun Kenan tidak peduli, seringai di bibirnya semakin menjadi mesum. Langkahnya terus terayun sembari mempertahankan tubuh Fara dalam gendongannya.
Klik...
Fara auto menepi ke sudut bathub seraya berusaha menutupi semua area intimnya yang bisa ia tutupi dengan anggota tubuhnya. Jadilah ia meringkuk dalam posisi duduk sembari gemetar mendapati Kenan yang mencoba mendekatinya. Wajahnya pias merah padam. Bukan takut, ia hanya masih sangat malu tubuh polosnya dilihat oleh Kenan. Terlebih di bawah terangnya lampu kamar mandi seperti saat ini.
"S- Stop! Ka- Kak Ken mau ngapain?" tanya Fara dengan suara bergetar kala jarak Kenan semakin dekat.
"Hmm? Menurutmu?" Kenan terus saja merangkak mendekati Fara secara perlahan, bagaikan binatang buas yang hendak menerkam mangsanya. Seringai mesum yang sejak tadi terpatri di bibirnya, kian menjadi.
Glek...
Fara meneguk saliva susah paya dan terkekeh hambar "Hehe... Bu- bukannya tadi Kak Ken yang yang bilang kalo kita udah telat bangun, musti keramas dulu? Ka- Kak Ken gak mungkin lakuin itu kan?" ujarnya mengingatkan.
__ADS_1
"Lakuin apa?"
"P- praktek reproduksi. Kyaaa!!!" spontan Fara menjerit histeris sambil menutup mata, kala Kenan sudah tiba tepat di hadapannya dan mengulurkan tangan ke arahnya.
Klik...
Sempat hening sejenak, sebelum terdengar suara tombol ditekan tepat di belakang kepala Fara. Fara yang tadinya mengira Kenan akan menyentuhnya, tidak merasakan sentuhan apapun sampai detik ini. Perlahan dibukanya matanya dan mendapati Kenan tengah tersenyum tertahan padanya. Sesaat kemudian, ia mulai merasakan genangan air hangat di lantai bathub. Ia pun tersadar atas apa yang baru saja dilakukan Kenan serta makana dari senyuman yang tengah terpatri di bibir suami tak berakhlak nya itu. Ternyata sejak tadi Kenan mengerjainya, mendekat padanya hanya untuk menyalakan keran bathub.
"KAK KENNN!!!" seru Fara berteriak kemudian. Wajahnya yang sejak tadi sudah memerah, semakin dan semakin memerah. Ia sangat, sangat malu. Terlebih mengingat ia baru saja menuduh Kenan ingin mengajaknya praktek reproduksi. Jika bisa, ia benar - benar ingin masuk ke inti bumi detik ini juga, menyembunyikan diri dari hadapan Kenan.
"Hahaha..." tentu saja Kenan tertawa terpingkal - pingkal melihat reaksi Fara. Dipeganginya perutnya yang terasa sangat menggelitik. Buliran bening sudah menggenang di pelupuk matanya. Sungguh, ia benar - benar merasa lucu melihat reaksi Fara dan merasa sangat puas dengan itu, misinya sukses.
Fara menggigit kesal bibir bawahnya. Ia benar - benar lupa bahwa suami tak berakhlak nya ini sangat suka mengerjainya. Sepertinya ia sudah terlalu sombong karena akhir - akhir ini ia dapat menggagalkan bahkan balas mengerjai Kenan. Dan kali ini ia benar - benar kecolongan. "Kak Ken, udahan iiih!" rengek nya meminta Kenan berhenti menertawakan dirinya.
"Hadededeh... Be- bentar sa- sayang, i- ini Kakak ju- juga lagi u- usahain. Su- susah banget, su- sumpah!" Kenan susah paya berucap di sela - sela tawanya hingga terbata - bata.
"Ck..." Fara berdecak kesal dan sekali lagi menggigit bibir bawahnya "Kalo Kak Ken gak berhenti juga, Fara gak akan mau lagi praktek reproduksi bareng Kakak." ancamnya dengan intonasi sedikit tidak yakin. Itu hanyalah ancaman kosong yang sebenarnya tak akan juga ia realisasikan. Kesampingkan dirinya sendiri yang sebenarnya juga suka melakukan praktek reproduksi dalam tanda kutip, hanya bersama Kenan, suaminya tentunya.
Tidak mungkin Fara menjadikan dirinya sebagai istri durhaka, ia masih takut dosa. Selain itu, jika ia benar - benar merealisasikan ancamannya, bagaimana jika Kenan malah berpaling ke wanita lain untuk menyalurkan hasratnya? Sungguh ia tidak menginginkan itu. Memikirkannya saja membuatnya bergidik ngeri.
Fara hanya asal saja melontarkan ancaman itu. Menggunakan referensi dari novel - novel serta film dewasa yang ia temui, dimana para istri selalu menggunakan ancaman itu untuk mengancam para suami. Dan hasilnya, tidak perlu diragukan. Namun ia tidak cukup yakin kalau ancaman itu, apakah berhasil jika digunakan pada para suami di dunia nyata?
"Hah..." siapa sangka? Ternyata berhasil. Seketika tawa Kenan terhenti dengan kedua pupil mata melebar sempurna pula.
__ADS_1