
Keesokan harinya...
Saat ini masih pukul 9 pagi, namun pekarangan NF Hospital yang luasnya dua kali lapangan sepak bola standar internasional itu telah dipenuhi oleh lautan Manusia. Mereka bukan para pasien ataupun keluarga pasien, melainkan para pemburu berita yang ingin menyaksikan dan merekam secara langsung sesi jumpa pers yang tengah diadakan dalam rangka membahas perihal kesuksesan oeprasi ke 273 Kenan di Swiss tempo lalu.
Sesi jumpa pers tersebut telah berlangsung sejak 30 menit yang lalu. Dan kini tengah marak - maraknya Kenan dihujani oleh berbagai pertanyaan dari para jurnalis maupun wartawan.
Di atas panggung utama, bukan Kenan saja yang hadir, Fara juga turut serta hadir sebagai asisten Kenan dalam bidang spesialis bedah. Dan baru saja, terjadi sedikit kegemparan kala seorang jurnalis malah mengajukan pertanyaan bukan pada Kenan, melainkan pada Fara. Yang mana sang jurnalis tersebut menanyakan, mengapa Fara tidak ikut serta melakukan operasi di Swiss bersama Kenan sebagai sang asisten. Bukankah NF Hospital sangat dikenal dengan keadilan serta kesetaraan sistem kerjanya yang tidak memandang jabatan?
Pertanyaan yang sangat ambigu yang sukses mengundang kontraversi di kalangan masa yang mencoba berpendapat. Tak dapat terelakan, perdebatan pun terjadi diantara para masa yang berada di pihak pro dan kontra.
Mereka yang berada di pihak pro adalah mereka yang mencoba menerka - nerka dengan pendapat positif yang meyakini Fara pasti memiliki alasan tersendiri dan krusial sehingga tidak bisa ikut serta bersama Kenan melakukan operasi di Swiss. Sedangkan mereka yang berada di pihak kontra adalah mereka yang malah menuduh adanya konspirasi penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Kenan sebagai pemilik rumah sakit sekaligus suami Fara sehingga membebaskan sang istri dari tugasnya sebagai mana mestinya. Meskipun tuduhan tersebut tidak berdasar dan tanpa bukti, tetap saja mampu mengguncang reputasi NF Hospital, terutama pada sistem kerjanya yang dikenal adil dan setara.
Sementara perdebatan sengit terus berlangsung dan semakin memanas dari waktu ke waktu, Fara sebagai pihak yang dinantikan untuk memberikan jawaban sekaligus konfirmasi malah terdiam akibat merasa tertekan. Duduk di atas panggung utama dengan disorot banyaknya kamera serta tatapan menentukan yang tertuju padanya, Fara benar - benar dibuat speechless.
"Sayang!" panggil Kenan lembut dengan berbisik yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri dan juga Fara. Dengan sebelah tangannya diraih dan digenggamnya lembut sebelah tangan Fara yang berada di atas pangkuan istrinya itu. Samar - samar ia dapat merasakan seberapa besar tekanan yang dialami Fara dari getaran serta suhu yang mendingin pada tangan sang istri. "Tenang sayang, cukup jawab apa adanya sesuai fakta tentang kondisimu dan semua akan baik - baik saja. Percaya sama Kakak!" ujarnya sembari tersenyum penuh keyakinan demi mencoba memberikan dukungan mental pada Fara.
"Ta- tapi Kak, Fara takut___"
"Gak ada yang perlu ditakutin sayang, ada Kakak. Kalo kamu salah ngomong, nanti Kakak bantu benerin." potong Kenan yang tahu bahwa Fara takut menjawab pertanyaan sang jurnalis karena takut jawabannya membuat reputasi NF Hospital semakin jatuh, jika disalah pahami.
"Emm, ba- baiklah, Fara bakal usahain yang terbaik." Fara akhirnya memilih percaya pada Kenan setelah ragu sejenak.
__ADS_1
Senyuman di wajah tampan Kenan pun semakin mengembang "Nah, gitu baru Istri Kakak namanya. Tarik nafas dalam - dalam dulu sebelum ngejawab, sayang." ucapnya sedikit memuji dan memberi saran pada Fara.
"Hm." Fara mengangguk sembari balas tersenyum yang terkesan sedikit dipaksakan. Lantas diikutinya saran Kenan, menarik nafas dalam - dalam dan dihembuskan perlahan "Huuufffhhh..."
"Udah siap?" tanya Kenan memastikan sebelum Fara mulai menjawab.
"Hm." Fara kembali mengangguk sembari tersenyum lebih rileks dari sebelumnya.
"Ok, good luck sayang!" seru Kenan menyemangati Fara yang hanya ditanggapi dengan senyuman penuh percaya diri oleh istrinya itu.
Lantas Fara pun kembali mengalihkan pandangannya pada masa "Cek, cek, tes, satu dua..."
Sound sistem sedikit berdengung cukup panjang saat Fara mencoba cek sound yang sukses membuat perdebatan masa terhenti dan spontan mengalihkan perhatian mereka pada Fara.
"Ehem..." Fara berdehem demi menetralisir kegugupan yang kembali menyelimuti dirinya kala sorot kamera serta perhatian masa kembali tertuju padanya. "Sa- saya akan menjawab pertanyaannya sekarang. Jadi..." ucapnya menjeda singkat, sebelum melanjutkan dengan bertutur lebih tenang "Jadi, alasan saya tidak mengikuti profesor Kenan sangatlah sederhana. Yakni, saya mempunyai fobia mabuk udara yang cukup akut dan kondisi saya saat ini tengah mengandung. Oleh karena itu, untuk mengikuti Profesor Kenan yang sejatinya melakukan perjalanan melalui udara, saya benar - benar tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Jika kalian tidak percaya, silahkan periksa riwayat medis saya! Itu saja jawaban yang bisa saya berikan, sekian dan terima kasih."
Hening...
Setelah penjelasan panjang lebar dan penuh percaya diri dari Fara, suasana yang awalnya agak riuh mendadak berubah hening. Bukan karena apa. Jawaban Fara memang sangat sederhana, namun tak ada sedikitpun celah untuk mendebatnya. Terlebih dengan penekanan Fara yang dengan senang hati dan tanpa keraguan sedikitpun mempersilahkan mereka untuk memeriksa riwayat medisnya yang memang menjadi satu - satunya kunci yang dapat membuktikan kebenaran jawaban Fara.
"Istri Kakak memang hebat." puji Kenan kembali berbisik pada Fara ditengah - tengah keheningan yang sedang berlangsung. Dan Fara hanya menanggapinya dengan tersenyum penuh kebanggaan.
__ADS_1
"Ehem..." lantas Kenan berdehem tepat di microfon demi mengalihkan perhatian pada dirinya sekaligus memecah keheningan "Jadi, itulah jawaban dari Dokter Fara. Apakah ada yang ingin bertanya lebih lanjut, atau mungkin pertanyaan lain? Jika tidak ada, saya pikir jumpa pers ini cukup sekian." ujarnya kemudian, berniat segera mengakhiri jumpa pers tersebut.
"Saya Prof!"
Tak berselang lama dari ujaran Kenan, seseorang sudah mengajukan diri yang mana orang tersebut merupakan jurnalis yang sama dengan sang jurnalis yang telah mengajukan pertanyaan pada Fara.
"Oh?" Kenan sedikit terkejut sembari mulai merasa ada sesuatu yang janggal. Bukan karena apa. Memang tak salah jika sang jurnalis bertanya pada Fara yang memang juga seharusnya ikut andil pada operasi yang telah ia lakukan di Swiss. Hanya saja pertanyaan sang jurnalis pada Fara tadi benar - benar berada di luar konteks, dimana dalam jumpa pers ini seharusnya membahas proses operasi tersebut. Sedangkan pertanyaan sang jurnalis, sedikitpun tak ada sangkut pautnya dan bahkan tidak termasuk dalam proses persiapan operasi itu sendiri.
Sekilas Kenan menelisik ekspresi sang jurnalis yang malah sangat jelas mencoba menghindari bertemu tatap dengan dirinya. Namun, meskipun semakin curiga dan penasaran dengan apa tujuan sang jurnalis, Kenan tak ada pilihan lain selain mempersilahkan. "Silahkan!" ucapnya kemudian, sembari terus mengunci tatapannya dalam - dalam ke wajah sang jurnalis.
"Se- sebelum itu saya ingin minta maaf terlebih dahulu karena pertanyaan saya ini sebenarnya berada di luar konteks. Yang ingin saya tanyakan adalah___"
"Tidak apa - apa." Kenan segera menghentikan para petugas kedisiplinan tatib jumpa pers yang hendak menghentikan sang jurnalis agar tidak melanjutkan mengucapkan apa yang ingin ditanyakan nya. "Silahkan lanjutkan!" titah Kenan pada sang jurnalis setelah para petugas kedisiplinan tatib kembali pada posisi mereka semula.
"Ja- jadi, yang ingin saya tanyakan adalah, apa yang anda lakukan pada hari pertama pasca operasi? Dari nara sumber yang saya dapati, dia mengatakan bahwa hari pertama pasca operasi, kontak anda tidak dapat dihubungi selama hampir setengah hari oleh keluarga anda, termasuk Istri anda sendiri, Dokter Fara. Benarkah seperti itu Profesor Kenan?"
Masa pun kembali digemparkan. Sekali lagi pertanyaan ambigu yang mengundang kontraversri yang dilontarkan oleh sang jurnalis. Dengan pertanyaan tersebut, sekaligus membuat para pihak kontra pada pertanyaan pertama, kembali mendapatkan momentum untuk kembali memperjuangkan pendapat mereka dengan mengaitkan kedua pertanyaan dan malah menciptakan tuduhan yang semakin menjadi dan tak berdasar.
Bagaimana bisa dengan mengaitkan kedua pertanyaan tersebut, mereka menyimpulkan bahwa ketidak ikut sertaan Fara ke Swiss merupakan kesengajaan yang dilakukan oleh Kenan yang memang tak ingin membiarkan sang istri ikut serta agar bisa bertindak bebas di sana. Agar dapat bermain wanita misalnya, itulah salah satu opini tuduhan mereka.
Namun Kenan malah geleng - geleng kepala sembari tersenyum smirk nan geli. Ia telah mengetahui apa tujuan dan siapa dalang di balik kegemparan yang sejak tadi terjadi dalam jumpa pers ini.
__ADS_1