
"Humps..."
Bambang menggaruk - garuk pelipisnya sembari mengernyit melihat tingkah Kenan dan Fara. Tuan dan nyonya nya itu baru saja saling mendengus terhadap satu sama lain sebelum beranjak keluar dari mobil, lalu melangkah menuju lift dengan langkah masing - masing, tidak berdampingan seperti biasa.
Mereka baru saja tiba di basemen apartemen sepulang dari bekerja. Namun dalam pengamatan Bambang, sejak di basemen rumah sakit tadi, ia mendapati kejanggalan pada gelagat Kenan maupun Fara. Sepertinya tuan dan nyonya nya itu tengah dalam perang dingin, pikirnya. Tapi mengapa? Perasaan pagi tadi hubungan keduanya tampak baik - baik saja, bahkan terkesan lebih mesra dari biasanya. Bambang geleng - geleng kepala, malas memikirkan hubungan Kenan dan Fara lebih jauh. Lagipula ia cukup sadar diri, dalam novel ini dirinya hanyalah figuran.
###
Sementara di tempat lain, di basemen rumah sakit, Nabila baru saja akan pulang ke rumahnya. Namun sudah cukup lama ia mencoba menyalakan mobilnya, mobilnya tak kunjung menyala juga.
Tok tok tok...
Tiba - tiba kaca mobilnya diketuk dari luar. Nabila yang tengah kesal langsung menurunkan kaca mobilnya "Ada apa?" tanyanya judes bahkan sebelum kaca mobil turun sepenuhnya tanpa mencoba mengenali sosok sang pengetuk lebih dulu. "Ah..." sedetik kemudian ia terperangah kala mendapati sosok yang baru saja mengetuk kaca mobilnya ternyata adalah Ju Woon. Ia jadi sedikit salah tingkah sembari dalam hati merutuki sikapnya barusan yang terbawa kekesalan, hingga bertanya dengan nada judes.
Sementara Ju Woon yang baru saja mendapatkan sambutan judes itu, sembari tersenyum kikuk pada Nabila, digaruk - garuknya tengkuknya yang tidak gatal "Ma- maaf mengganggu waktu anda, Dokter Nabila. Sa- saya hanya ingin bertanya, apakah anda baik - baik saja? Soalnya sejak tadi saya perhatikan, anda sudah cukup lama masuk kedalam mobil, namun tak kunjung berlalu juga." ucapnya panjang lebar dengan formal nan sopan kemudian.
"Ugh..." Nabila tertegun mendengar penuturan Ju Woon yang terkesan perhatian padanya. Ia dibuat semakin salah tingkah saja. Tapi, tunggu! Apakah Ju Woon baru saja menyatakan bahwa telah memperhatikan dirinya sejak tadi? Jika benar, mengapa demikian? Apakah hanya sebuah kebetulan, atau...? Nabila segera menepis segala pemikiran narsisnya yang berpikir bahwa Ju Woon mengawasi dirinya secara diam - diam. Ia cukup sadar diri, siapa dirinya, hingga perlu diawasi secara diam - diam oleh seorang Ju Woon?
Lantas Nabila balas tersenyum kikuk pada Ju Woon "Sa- saya baik - baik saja Tuan. Hanya saja sepertinya mobil saya sedang bermasalah. Sejak tadi sudah saya coba nyalakan, tapi tak mau menyala juga."
Ju Woon manggut - manggut memahami "Apa perlu saya bantu?" tawarnya tulus.
"Eh, terima kasih Tuan. Tapi, sepertinya tidak perlu, saya tidak ingin merepotkan anda. Saya akan memanggil jasa Montir saja." tolak Nabila sungkan.
Ju Woon menggeleng tegas "Tidak, tidak, saya tidak merasa direpotkan kok. Lagipula, anda adalah teman Kakak Ipar saya, Fara Noona."
__ADS_1
"Tapi___"
"Ayolah Dokter Nabila, biarkan saya membantu anda! Nanti kalau Fara Noona tahu, saya tidak membantu temannya yang sedang membutuhkan bantuan, saya pasti akan dipecat sebagai Adik Iparnya." Ju Woon mengiba dramatis, memotong ucapan Nabila yang masih ingin menolak bantuannya.
Jika itu orang lain, pasti akan menganggap ucapan Ju Woon sebagai omong kosong belaka. Tapi bagi Nabila yang sedikit banyak mengetahui hubungan antara Ju Woon, Kenan dan Fara, menganggap apa yang dikatakan Ju Woon bisa saja terjadi. Ya, meski baru sekali melihat ketiganya berinteraksi, Nabila dapat menerka bahwa Ju Woon seolah adik yang tidak ingin dianggap oleh Kenan. Hanya Fara yang menjadi perantara, sehingga Kenan menganggap Ju Woon sebagai adik. Dan Nabila seolah dapat mengetahui isi hati Ju Woon yang benar - benar ingin dianggap sebagai adik oleh Kenan. Jadi, tentu saja ia tak sampai hati jika karena dirinya, Ju Woon dipecat sebagai adik ipar oleh Fara yang otomatis akan dipecat pula sebagi adik oleh Kenan.
"Hufh..." Nabila mend*sah pasrah "Baiklah, mohon bantuannya, Tuan Ju Woon!" putusnya menerima bantuan Ju Woon.
Seketika mata Ju Woon berbinar - binar sembari tersenyum cerah di wajah sumringahnya "Terima kasih Dokter Nabila, saya akan melakukan yang terbaik." lantas ia segera bergegas ke depan mobil Nabila dan langsung membuka kap penutup mesinnya.
Sejenak Nabila takjub melihat betapa gesitnya pergerakan Ju Woon yang terkesan sangat ahli, seolah sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Awalnya ia pikir Ju Woon akan sedikit kesulitan membuka kap penutup mesin mobilnya karena mengira Ju Woon minim pengalaman di bidang itu. Tapi siapa sangka? Ternyata seorang Ju Woon yang tampak manja itu begitu gesit membuka kap penutup mesin mobilnya. Bukan lagi seolah terbiasa membuka kap penutup mesin mobil manapun, tapi seolah sudah terbiasa membuka kap penutup mesin mobil Nabila itu sendiri.
Nabila segera menggeleng - gelengkan kepalanya, menepis sebuah kecurigaan tak berdasar terhadap Ju Woon yang tiba - tiba hinggap di benaknya. Lalu ia pun keluar dari mobil ingin melihat apa yang sedang dilakukan Ju Woon di depan sana.
Bruk...
Baru saja Nabila keluar dan kembali menutup pintu mobilnya, Ju Woon langsung melontarkan pertanyaan padanya.
Nabila menaikan sebelah alisnya, sedikit bingung mendapati intonasi panik samar dalam pertanyaan Ju Woon. "Saya ingin melihat bagaimana anda bekerja. Siapa tahu saya bisa sedikit mendapatkan pelajaran dari itu." ucapnya seraya mulai melangkah menghampiri Ju Woon.
Dengan ekspresi yang tiba - tiba berubah pias Ju Woon mengacungkan telapak tangannya menghadap pada Nabila "Stop, stop! Ti- tidak perlu Dokter Nabila. Saya sudah selesai, sebaiknya anda kembali ke dalam mobil saja untuk mencoba menyalakan mobilnya."
Sontak langkah Nabila yang baru berada di sisi depan mobil yang berbeda dengan Ju Woon, terhenti. "Oh, benarkah?" tanyanya dengan nada curiga. Entah curiga apakah Ju Woon sudah benar - benar selesai memperbaiki kerusakan mobilnya, atau curiga dengan kepanikan Ju Woon yang kian menjadi.
"I- iya Dokter Nabila, saya sudah selesai. Co- cobalah anda masuk kembali ke dalam mobil dan mencoba menyalakannya!"
__ADS_1
Lihatlah, Ju Woon bahkan berucap dengan sedikit terbata. Sangat mencurigakan, pikir Nabila. Namun tak urung ia melakukan seperti yang diminta Ju Woon, kembali masuk ke dalam mobil dan langsung mencoba menyalakannya.
Burm...
Burrm...
Burrrm...
Namun setelah sekian stateran, mobil Nabila tak mau menyala juga. Hanya bunyi mesin mobil yang seolah ingin mengerjainya. Saat tombol stater ditekan, mesinnya memang menyala, namun kembali mati beberapa detik kemudian. Ia benar - benar merasa diPHP, alias diberikan harpan palsu oleh mesin mobilnya sendiri.
"Ehem, ehem..." Ju Woon yang telah kembali menutup kap mesin mobil, langsung menghampiri Nabila, berdiri tepat di luar pintu kemudi sembari batuk berdehem "Bagaimana?" tanyanya sok polos.
Nabila sebenarnya curiga bahwa Ju Woon tengah mempermainkan dirinya. Namun ia tidak punya bukti dan berpikir itu mungkin hanya perasaannya saja. Ia juga tak mau suudzon "Masih belum bisa menyala." jawabnya lesu.
"Benarkah? Coba anda coba lagi!" Ju Woon seolah tak percaya dan malah meminta Nabila terus mencoba menyalakan mobilnya.
Ingin sekali rasanya Nabila menangis. Ia sudah lelah, lelah fisik, lelah batin juga karena diPHPin oleh mesin mobil. Namun sekali lagi tak urung ia melakukan seperti yang Ju Woon minta. Dan hasilnya sama saja, mobilnya tak mau juga menyala. "Anda sudah melihatnya kan, Tuan?" tanyanya merengek.
"Iya ya, kenapa bisa begitu?" ucapnya sok heran sembari menggaruk - garuk pelipisnya "Hmm? Sepertinya mobil anda harus dibawa ke bengkel." sarannya.
"Hufh..." Nabila menghembuskan nafas gusar "Iya, sepertinya begitu Tuan. Terima kasih dan maaf sudah merepotkan." tuturnya.
"Tidak, tidak, seperti yang saya katakan tadi, saya tidak merasa direpotkan." Ju Woon tersenyum tulus "Karena sudah begini, bagaimana kalau saya mengantar anda pulang? Saya tidak mungkin membantu anda setengah - setengah kan?" usulnya kemudian.
Nabila memicingkan matanya menatap Ju Woon, mencoba mencari tahu niat sebenarnya pria itu melalui ekspresinya. Namun ia sama sekali tak bisa membaca ekspresi Ju Woon yang terus tersenyum tulus kepadanya itu. Yang ada ia malah terpesona oleh ketampanan Ju Woon.
__ADS_1
"Ehem... Bagaimana Dokter Nabila?"
"Eh, ba- baiklah, saya akan menerima niat baik anda. Terima kasih."