Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Drama Pengakuan Kenan


__ADS_3

"Lagi, Yang!"


"Fara cinta Kak Ken."


"Lagi!"


"Fara cinta Kak Ken."


"Lagi!"


"Iiihh... Kak Ken nyebeliiin, Fara gak cinta lagi."


"Hahaha..."


Akhirnya Fara jengah juga kepada Kenan yang tak henti - hentinya menggodanya. Namun Kenan, alih - alih meminta maaf, suami Fara yang tak berakhlak itu malah tertawa terbahak - bahak.


"Humps..." Fara mendengus kesal sembari membenamkan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus itu, ke dada bidang Kenan. Saat ini keduanya tengah berada di atas ranjang yang rencananya bersiap untuk tidur. Namun sejak tadi, tepatnya sejak perjalanan pulang kerja, Kenan tak henti - hentinya menggoda Fara, menyuruhnya lagi, lagi dan lagi mengungkapkan pengakuannya.


Sembari berusaha menghentikan gejolak tawanya yang meluap - luap, Kenan mendekap erat tubuh Fara yang berada dalam pelukannya. "Hah... Ok, ok, maaf sayang, Kakak berhenti deh. Jangan marah ya, nanti cantiknya ilang loh!" ucapnya merayu ketika berhasil menghentikan tawanya.


"Humps..." Fara mendengus lagi, tak termakan rayuan receh Kenan.


"Ck..." Kenan berdecak acuh "Ngomong - ngomong, sejak kapan, Yang?" alih - alih terus merayu yang bukan keahliannya, ia memilih mengalihkan topik pembicaraan.


Namun Fara yang tengah mode ngambek tak bergeming, sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Kenan.


"Sayang, ayo, jawab dong!" pinta Kenan mendapati Fara hanya diam selang sekian waktu berlalu.


"Sayang!"


"Nisha sayang!"


"Sayangnya Kakak!"


"..."

__ADS_1


"Hufh..." Kenan mend*sah frustasi, bahkan setelah sekian kata - kata manis ia lontarkan untuk memanggil Fara, istrinya itu tetap diam tak berniat menanggapi. Tertidur? Ia tahu Fara belum tidur. Buktinya, ia bisa merasakan getaran samar dari tubuh Fara yang berada dalam pelukannya. Dan iapun tahu, getaran itu disebabkan oleh tawa tertahan dimana Fara menertawakan dirinya yang terus merengek.


"Sayang! Kamu tau, gak?" ucap Kenan lagi mencoba beralih ke topik lain. "Sepertinya Kakak sedang jatuh cinta lagi." lanjutnya setelah jeda sejenak.


Sepertinya topik ini cukup mengusik perhatian Fara. Spontan istri Kenan itu mendongak demi mendapati sang suami yang tengah memandang langit - langit dengan sorot mata berbinar kerinduan sembari termenung. Fara memicingkan matanya "Maksud Kak Ken apa?" cecar nya menelisik.


"Ya, seperti yang Kakak katakan, Kakak sedang jatuh cinta lagi, entahlah untuk yang ke berapa kalinya." jawab Kenan santai sembari terus memandangi langit - langit.


Fara menahan nafas. Ia ingin bertanya lebih jauh, namun takut. Bukannya ia belum mengerti, tapi yang menjadi pertanyaannya, pada siapa Kenan jatuh cinta? Sanggupkah ia menerima jika Kenan menjawab bukan padanya?


"Sama siapa?" tanya Fara lagi kemudian, setelah menyiapkan hati sesiap - siapnya. Ya, meskipun takut, ia tetap memilih lanjut bertanya dari pada mati penasaran dalam keresahan.


"Sama cinta pertama Kakak, mungkin? Entahlah Kakak tidak begitu yakin dia cinta pertama Kakak atau bukan, intinya Kakak jatuh cinta lagi padanya."


Deg...


Sesaat jantung Fara benar - benar dibuat seperti rollercoaster macet mendengar penuturan Kenan. Sedetik berhenti berdetak kala mendengar kata 'cinta pertama', detik berikutnya kembali normal kala mendengar kata 'mungkin' yang ia salah artikan, Kenan tidak begitu yakin jikalau memang sedang jatuh cinta lagi, namun sedetik kemudian, jantungnya kembali berhenti berdetak kala Kenan mengucapkan inti jawabannya. Dadanya tiba - tiba terasa sesak. Sungguh, dari sekian banyak kemungkinan, ia tidak sekalipun menebak bahwa sosok yang menjadi cinta pertama Kenan adalah dirinya. Nafas yang sejak tadi ditahannya, terasa amat berat untuk dihembuskan.


Kenan yang merasakan adanya perubahan gerak - gerik dari tubuh Fara, dengan sigap mengalihkan perhatiannya demi mendapati kondisi Fara yang menunjukan gejala asmanya akan kambuh. "Sayang, kamu gak apa - apa?" tanyanya panik sembari mencoba bangkit dari berbaring nya.


Kenan membalas pelukan Fara "Tenang aja, Kakak gak bakal ninggalin kamu, Sayang. Siapa bilang Kakak bakal ninggalin kamu? Kakak cuman mau ngambilin inhaler kamu." ucapnya gagal paham.


"Mmaksud Fara, jjangan ninggalin Fara ddengan cinta pertama Kkakak." terang Fara.


"Ugh..." Kenan tertegun sesaat, sebelum dengan paksa namun lembut, dibaliknya posisi mereka menjadi dirinya di atas dan Fara di bawah. Tapi ia tidak menindih tubuh Fara seperti yang Fara lakukan padanya tadi. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuhnya. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati wajah Fara sudah dibasahai air mata. "Astaga, sayang! Maaf, sepertinya Kakak udah buat kamu salah paham." ucapnya penuh penyesalan dan rasa bersalah sembarai menggaruk - garuk pelipisnya.


"Hiks... Mmaksud Kakak?" sembari tersisak serta nafas yang masih tersengal, Fara bertanya. Sungguh kondisi wanita itu sangat menyedihkan kini.


Cup...


Kenan mendaratkan sebuah kecupan sayang di kening Fara, lantas berucap penuh keseriusan "Dengerin Kakak, sayang. Cinta pertama Kakak itu kamu, istri Kakak, Faranisha Gayatri."


"Huaaa..." Tangis Fara pecah setelah terdiam sesaat mencerna penuturan Kenan. "Kak Ken bohong, Kak Ken pasti cuman mau nenangin Fara aja. Huaaa..."


"Hah?" sejenak Kenan tercengang. Reaksi Fara sangat jauh dari ekspetasinya. Pikirnya tadi, Fara akan ditenangkan dan menjadi bahagia. Namun apa yang ia dapati? Tangis Fara malah pecah, menganggapnya berbohong pula. Tak tahukah Fara, wanita yang pernah dijulukinya sebagai bocah tengik ini, betapa beratnya ia mengungkapkan pengakuannya barusan?

__ADS_1


Sepertinya mulai saat ini, Kenan akan menjuluki Fara sebagai istri tengik, saking gemasnya. Namun ia tahu sekarang bukan saatnya untuk menghakimi istri tengiknya ini. "Sayang, Kakak gak bohong, sumpah!" ucapnya lembut namun tegas kemudian.


Mendengar kata 'sumpah' terucap dari bibir Kenan, seketika tangis Fara terhenti hanya menyisakan sedikit tersedu - sedu. "Beneran?" tanyanya memastikan setelah menyeka air matanya dengan tangannya sekilas.


"Iya." Kenan mengangguk mantap.


Fara dapat melihat sorot kesungguhan di kedua netra Kenan, namun ia masih sulit untuk percaya. "Kok bisa?" tanyanya dengan wajah dungunya.


"Ya, bisa lah, kenapa tidak?" jawab Kenan dengan pertanyaan balik, saking gemasnya.


"Lah, kok Kakak malah balik nanya?" sewot Fara.


Sumpah demi apapun, Kenan benar - benar gemas dengan istri tengiknya ini. Ingin sekali ia menyambar bibir Fara yang dimanyunkan itu dengan bibirnya. Namun sekali lagi ia harus menahan diri, sadar bahwa belum waktunya. "Jadi, Kakak harus jawab gimana biar kamu percaya, Hmm?"


"Jelasin, sejak kapan dan gimana bisa Kakak jatuh cinta sama Fara!" titah Fara.


Kenan meringis "Haruskah seperti itu, sayang?"


"Hm." Fara mengangguk tegas.


"Singkat aja, ya?" tawar Kenan.


"Ck..." Fara berdecak kesal tidak sabar "Ok lah, gak apa - apa."


"Hufh..." Kenan mend*sah pasrah "Ok, dengerin baik - baik ya! Kakak hanya akan jelasin sekali aja."


"Iya, iya, buru gih!" Fara mencibir kesal.


"Sabar dong sayang, orang sabar disayang Kakak." bukan Kenan namanya jika akan mau menurut begitu saja. Dengan senyuman jenakanya ia menggoda Fara. Namun sedetik kemudian, senyuman itu memudar akibat mendapat pelototan maut dari Fara. "Iya, iya, Kakak jelasin nih."


"Hufh..." sekali lagi Kenan mend*sah pasrah sebelum mulai menjelaskan "Sebenarnya..." panjang lebar ia menjelaskan mulai dari awal pertemuannya dengan Fara tanpa menutupi apapun, bahkan kesan pertamanya pada istri tengiknya itu yang sukses membuatnya kembali mendapatkan pelototan maut.


Namun Kenan acuh dan terus melanjutkan penjelasannya, bagaimana awalnya ia mulai jatuh cinta pada Fara yang baru ia sadari sekarang. Ternyata alasan mengapa ia rela memberikan sapu tangan koleksinya pada Fara dulu karena tidak suka melihat Fara menangis. Ada rasa yang entah tak bisa dijelaskan yang seolah memintanya untuk melindungi Fara. Dan rasa ketidak relaan yang ia rasakan dulu saat akan berpisah dengan Fara, kembali ia rasakan saat menerima kabar bahwa Fara akan menikah dengan Bagus.


Namun berpikir, jika dengan itu bisa membuat Fara bahagia, Kenan mencoba ikhlas. Sejujurnya, kedatangannya ke acara pernikahan Fara waktu itu bukan hanya karena untuk sekedar menghargai undangan Farzan, sang mantan mentor yang sudah dianggapnya sebagai seorang ayah. Melainkan, tanpa ia sadari ada sebuah dorongan dari dalam hati terdalamnya untuk memastikan apakah Fara benar - benar bahagia. Ia tak tahu saja, jika ia benar - benar mendapati Fara bahagia, akan ada yang pecah tapi bukan kaca. Ya, hatinya pasti akan pecah jika mendapati itu. Tapi untunglah, sepertinya tuhan sangat baik padanya.

__ADS_1


__ADS_2