Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Fara Dilema


__ADS_3

"Ada apa sayang? Kakak perhatiin kamu banyak diam sejak siang tadi, hmm?" tanya Kenan pada Fara yang tengah berbaring menggunakan sebelah pahanya sebagai bantal.


Saat ini Kenan dan Fara tengah bersantai ala mereka di ruang santai apartemen selepas makan malam beberapa waktu yang lalu. Tepatnya sejak kepulangan mereka dari makan siang di restauran siang tadi, Fara sangat banyak diam seperti yang Kenan katakan.


Kenan sebenarnya dapat menebak mengapa demikian. Apa lagi kalau Bukan Fara yang kembali dihampiri rasa bersalah terhadap Bagus akibat pertemuan tak terduga siang tadi.


Awalnya Kenan mencoba mengerti dan memilih diam membiarkan Fara meratapi kedilemaannya. Namun setelah sejauh ini, ia akhirnya jengah juga merasa agak tidak nyaman melihat Fara yang seperti itu. Walaupun ia tahu Fara mencintai dirinya, ia tetap tak dapat menampik ketakutan yang terkadang datang menghampirinya. Ketakutan memikirkan jikalau Fara akan meninggalkan dirinya dan kembali kepada Bagus.


Bukannya Kenan meragukan kesetiaan Fara. Tapi, mengingat betapa tulusnya Bagus dengan segala cinta serta perhatiannya dulu terhadap Fara, siapa yang bisa menjamin Fara tidak akan goyah olehnya. Terlebih dengan kepribadian Fara yang sangat tidak tegaan dan bahkan cenderung rela mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain. Bisa saja Fara akan memilih kembali kepada Bagus dan mengorbankan kebahagiaannya bersama Kenan. Seperti yang Fara lakukan dulu, menerima sebagai kekasihnya hanya atas dasar apresiasi terhadap kegigihan Bagus yang pantang menyerah dalam mengejarnya. Sungguh, memikirkan itu benar - benar membuat Kenan merasa cukup cemas, resah dan takut secara bersamaan, bercampur menjadi satu berkecamuk dalam hatinya.


"Ugh..." Fara tertegun speechless sesaat "Ga- gak kok, Kak. Fara biasa aja, perasaan Kak Ken doang kali."


'Hufh...' Kenan mend*sah dalam hati. Ia sedikit kecewa mendapati Fara berkelit dan berbohong padanya. Lantas perhatiannya yang sejak tadi tertuju pada layar televisi dialihkan pada Fara. Ditangkupnya kedua sisi pipi Fara dengan kedua tangannya demi mempertemukan tatapan mereka dengan Fara yang masih berbaring menggunakan sebelah pahanya sebagai bantal. "Tatap mata Kakak dan katakan yang sebenarnya!" titah Kenan penuh penekanan namun lembut kemudian.


"Ugh..." sekali lagi Fara tertegun speechless yang kali ini dalam waktu yang cukup lama. Digigitnya bibir bawahnya keras - keras demi berupaya membuka bibirnya yang tiba - tiba merasa berat untuk berucap. Ia tahu jika sudah begini, ia tidak akan bisa membohongi Kenan lagi. "Fa- Fara lagi kepikiran sama Kak Bagus. Fara ngerasa bersalah sama dia." ia berucap sambil berusaha mengalihkan wajahnya, tak berani bertemu tatap dengan Kenan. Namun tak bisa karena Kenan terus menangkup pipinya. Sebagai gantinya, ia hanya memicingkan matanya menghindari bertemu dengan mata Kenan.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan itu?" tanya Kenan tenang.


Sontak Fara kembali meluruskan picingan matanya ke wajah Kenan. Ia sedikit terkejut dengan reaksi Kenan yang tenang. Awalnya ia mengira Kenan akan marah pada dirinya. "Ka- Kak Ken gak marah?" alih - alih menjawab, ia malah balik bertanya memastikan.


"Bukan gak, tapi belum. Tergantung jawabanmu dari pertanyaan Kakak yang ini." Kenan tersenyum tipis sekilas.


Fara meringis, sepertinya ia terlalu cepat untuk merasa lega. "Fa- Fara harus jawab gimana biar Kakak gak marah?" tanyanya takut - takut mencoba bernegosiasi.

__ADS_1


"Sayang, kita bukan lagi negosiasi. Hehe..." Kenan terkekeh pelan sedikit merasa terhibur dengan tanggapan Fara. "Kakak mau kamu menjawab dengan sejujur - jujurnya." imbuhnya.


"Ta- tapi Fara takut Kak Ken marah." sahut Fara dengan lugunya.


Sumpah demi apapun, ingin sekali rasanya Kenan menyumpal bibir Fara dengan bibirnya detik ini juga, saking gemasnya. Namun sekuat tenaga ditahannya keinginan itu agar pembicaraan mereka ini tidak terputus dan terlewatkan. Ia benar - benar bertekad ingin menyelesaikan maslah yang tengah mereka bahas ini sampai setuntas - tuntasnya.


"Sayang, Kakak mohon jangan mancing Kakak. Kakak benar - benar pingin mendengar jawabanmu mengenai yang satu ini. Please!" Kenan mengiba.


"Hah?" sesaat Fara termangu, benar - benar tak mengerti dengan maksud ucapan Kenan. Apa yang Kenan maksud dengan Memancing? Dan apa yang dipancing? Perasaan ia tidak melakukan apapun yang berhubungan dengan pancing memancing. Ia benar - benar tak mengerti, terlebih dengan sikap Kenan yang mengiba.


Fara segera menepis pemikiran tak berfaedah itu meskipun cukup penasaran juga dengan jawabannya, namun tak ada waktu untuk itu. Fokusnya sekarang harus ditujukan untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan Kenan yang menanyakan, apa yang akan dirinya lakukan dengan rasa bersalahnya terhadap Bagus.


Sejujurnya sampai detik ini Fara masih dilema, belum menemukan jawaban apapun. Ralat, bukan belum, tapi ia benar - benar tak ingin merealisasikan jawaban yang ia temukan. Bagaimana tidak? Jawaban yang ia temukan kurang lebih sama dengan apa yang ditakutkan Kenan.


Ya, Fara sempat terpikir untuk mengorbankan kebahagiaannya bersama Kenan. Namun tidak seperti yang Kenan pikirkan, ia tidak akan kembali kepada Bagus. Ia hanya akan berpisah dengan Kenan, tanpa berniat kembali atau berpindah hati pada siapapun. Ia pikir dengan melakukan itu akan adil untuk dirinya dan Bagus yang pada akhirnya sama - sama kehilangan cinta mereka.


"Fa- Fara gak tau apa yang musti Fara lakuin Kak." jawab Fara kemudian sembari kembali memicingkan matanya menghindari mata Kenan.


"Sayang, bukankah tadi Kakak nyuruh kamu buat natap mata Kakak?" peringat Kenan lembut namun penuh penekanan.


Fara kembali menggigit bibir bawahnya lebih keras dari yang pertama. Kali ini bibirnya terasa lebih berat lagi untuk berucap saat matanya bertemu dengan mata Kenan.


"Katakan aja Sayang! Tidak perlu takut dengan kemarahan Kakak. Kakak akan coba buat ngendaliin diri." bujuk Kenan yang mengetahui Fara tengah kesulitan untuk berucap.

__ADS_1


Namun, alih - alih direkskan, Fara malah bertambah takut untuk berkata jujur.


"Ok, ok, Kakak janji deh gak bakalan marah apapun jawabanmu." ralat Kenan kemudian, mencoba berdamai.


"Be- beneran janji?" tanya Fara memastikan.


"Hufh..." Kenan menghembuskan nafas berat "Iya, Kakak janji." jawabnya bersungguh - sungguh.


Fara terdiam sejenak menelisik kedalaman netra Kenan mencari kesungguhan di sana. "Ba- baiklah, Fara akan jujur. Huuufffhhh..." ditariknya nafas dalam - dalam dan dihembuskan perlahan, lantas melanjutkan "Se- sebenarnya..."


Fara pun mengungkapkan pemikiran untuk berpisah dengan Kenan yang sempat terbesit di benaknya. Ia mencoba menjelaskan dengan tutur kata yang menurutnya dapat dimengerti dan tidak disalah pahami oleh Kenan.


"Tapi, pada akhirnya Fara sepertinya gak akan bisa lakuin itu. Fara sangat takut pisah dengan Kak Ken." di penghujung ucapannya, Fara memejamkan mata erat - erat, takut melihat ekspresi Kenan. Sembari terus memejamkan mata, harap - harap cemas ditunggunya reaksi serta tanggapan Kenan.


Hening...


Namun setelah sekian waktu berlalu, Fara belum juga mendapatkan reaksi atau tanggapan apapun dari Kenan. Yang ada hanyalah keheningan. Baik dirinya dan Kenan sama - sama terdiam.


Ragu - ragu bercampur takut, Fara mencoba kembali membuka matanya dengan segenap keberanian demi mendapati ekspresi datar di wajah Kenan yang jaraknya terbilang sangat dekat dengan wajahnya sendiri. Dari sorot netra Kenan, iapun menemukan kehampaan, tak ada emosi apapun yang tersirat di sana. Satu hal yang ia tahu pasti bahwa Kenan tengah berupaya sebaik mungkin meredam amarahnya. Itu sangat jelas tersirat dari cara Kenan menahan nafasnya.


Mendapati itu, Fara ikut menahan nafasnya juga. Sebisa mungkin ia mencoba tak membuat pergerakan apapun. Seolah - olah bahkan dengan hembusan nafasnya saja yang menerpa wajah Kenan bisa membuat suaminya itu kehilangan kendali dalam mengontrol amarahnya.


Tik tok tik tok...

__ADS_1


Semakin banyak waktu berlalu dalam keheningan dan kebisuan yang sangat mencekam nan menegangkan bagi Fara itu. Hingga akhirnya, mungkin telah berhasil mengontrol emosinya sepenuhnya, Kenan mulai bereaksi dengan memejamkan matanya sejenak sembari menghembuskan nafas lemah lembut yang terasa damai menerpa wajah Fara, hingga membuatnya terbuai ikut memejamkan mata.


"Ehem..." Namun kedamaian Fara seketika sirna kala mendengar deheman Kenan "Kamu pikir Kakak bakal biarin kamu ninggalin Kakak hmm?" ucap suaminya itu sembari menyeringai penuh makna.


__ADS_2