
3 hari kemudian...
Gabela telah selesai mengurus seluruh perihal pemindahan tugasnya dan sudah terverifikasi. Saat ini Kenan dan Fara tengah berada di bandara internasional Soetta mengantar kepulangan Gabela ke Kanada.
"Terima kasih udah ngantarin aku, Ken, Far." ucap Gabela yang baru saja kembali dari konter check in dan akan segera menaiki pesawat. Ia berucap sembari tersenyum tulus yang baru pertama kali ia tunjukan pada Fara.
"Sama - sama Gaby." balas Kenan dan Fara tersenyum tulus pula.
Hening...
Selama beberapa saat ketiganya kembali terdiam.
"Umm, Fara, bolehkah aku memeluk suami mu untuk yang terakhir kali?" pinta Gabela sungkan pada Fara kemudian. Ia tidak memintanya pada Kenan langsung karena ia tahu Kenan pasti akan meminta persetujuan dari Fara terlebih dahulu.
Sejenak Fara tercenung. Ia benar - benar tidak berharap Gabela mengajukan permintaan ini kepadanya. Jika dalam kondisi normal, pasti akan langsung ditolaknya mentah - mentah. Mendapati Kenan sangat akrab bersama Nabila yang merupakan sahabatnya saja, ia sudah terbakar cemburu.
Namun melihat ekspresi mengiba penuh harap Gabela, Fara sungguh menjadi tak enak hati untuk menolak. Sekilas ia melirik pada Kenan yang berdiri tepat disampingnya, mencoba meminta pendapat suaminya itu melalui lirikan matanya. Namun Kenan hanya menggedikan bahu sebagai isyarat menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada dirinya.
Fara pun menggigit bibir bawahnya keras - keras "Ba- baiklah, silahkan!" putusnya pada akhirnya mengizinkan Gabela untuk memeluk Kenan dengan segenap keberatan hati. "TAPI, BENTAR DOANG!" imbuhnya memperingatkan penuh penekanan.
"Hufh..." Gabela mend*sah lemah sembari tersenyum kecut "Baiklah, terima kasih Fara."
Lantas perlahan tapi pasti Gabela mulai mendekat pada Kenan dan langsung menghambur memeluknya begitu tiba tepat di hadapan pria yang telah selama 9 tahun dan bahkan hingga detik ini masih mengisi hatinya itu. Dipeluknya erat - erat tubuh Kenan, namun Kenan hanya membiarkan saja tanpa balas memeluknya.
Satu...
Dua...
Tiga...
"SUDAH, CUKUP!" tepat pada detik ke tiga Gabela memeluk Kenan, Fara sudah berseru tegas memerintahkan Gabela untuk berhenti.
Namun Gabela tidak bergeming. Alih - alih melepaskan, ia malah semakin dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Kenan.
__ADS_1
"Ck..." Fara berdecak geram "Nih mantan pelakor amatir malah ngelunjak." dengan kesal dihentakan kakinya pada pijakannya sebelum beranjak lebih mendekat pada Kenan dan Gabela. Lantas dengan sekuat tenaga dicobanya melepaskan pelukan Gabela dari tubuh Kenan secara paksa sambil berseru garang "Woi, lepasin laki gue!"
Sementara Fara dan Gabela tengah mengadu otot, Kenan hanya diam saja sembari meringis tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sama halnya dengan Fara, sebenarnya ia juga tak enak hati untuk menolak permintaan Gabela yang ingin memeluk dirinya. Terlebih mendengar Gabela mengatakan untuk yang terakhir kalinya. Namun dilain sisi, ia juga tidak ingin membuat Fara cemburu.
Bukannya Kenan tak bisa tegas dengan lebih mementingkan Fara sebagai istrinya. Ia hanya berharap setidaknya dengan menyanggupi permintaan terakhir Gabela ini, ia bisa menebus rasa bersalahnya kepada gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik itu yang meskipun tidak ia sengaja dan bukan keinginannya. Tanpa dapat berbuat apapun, ia hanya bisa terdiam dalam dilema.
Hosh hosh hosh...
Beberapa menit kemudian, Gabela akhirnya melepaskan Kenan dari pelukannya dalam keadaan terengah - engah. Begitupun Fara yang sama terengah - engahnya. Secara konteks memang tampak Fara sebagai pemenang karena berhasil mencapai tujuannya, melepaskan Kenan dari pelukan Gabela. Untuk perihal adu otot, keduanya setara. Dimana Gabela hanya terpaksa melepaskan pelukan Kenan karena telah kehabisan tenaga. Fara hanya beruntung, disaat ia kehabisan tenaga, kebetulan Gabela juga demikian. Namun pada akhirnya, tetap Fara yang tersenyum penuh kemenangan.
Kenan hanya geleng - geleng kepala melihat Fara dan Gabela. Sepertinya harapannya yang ingin melihat kedua gadis itu akur, hanyalah harapan semu. Lihatlah, bahkan disaat - saat terakhir akan berpisah yang entah akan bertemu lagi atau tidak, Fara dan Gabela masih saling mengibarkan bendera perang terhadap satu sama lain.
"KEPADA PENUMPANG PESAWAT XX...!" untuk kesekian kalinya panggilan kepada penumpang pesawat yang akan ditumpangi Gabela, diumumkan melalui boarding.
"Cih..." Gabela yang baru saja berhasil menstabilkan pernafasannya berdich pada Fara yang juga demikian. "Untuk kali ini, gue bakal biarin lo yang menang. Lain kali, jangan harap!" uajarnya penuh percaya diri.
"Humps..." Fara mendengus sinis "Siapa takut?" tantangnya tak gentar.
Bukan hanya Gabela, sontak Fara juga ikut mengalihkan pandangannya ke arah gate terminal. Dan benar seperti yang Kenan katakan bahwa sudah cukup banyak penumpang yang berbondong - bondong mengantri memvalidasi identitas chard mereka di sana.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih udah ngantarin aku, Ken, Far." ucap Gabela kemudian.
"Sama - sama."
"Kalo gitu aku pergi, sampai jumpa!"
"Sampai jumpa, titip salam buat Ayahmu." hanya Kenan yang menyahut kali ini, sedang Fara benar - benar enggan untuk mengucapkan 'sampai jumpa'. Ralat, bukan enggan, tapi benar - benar tidak ingin.
"Baiklah, bye!" Gabela pun berlalu sambil melambai - lambaikan tangannya pada Kenan dan Fara yang sekali lagi hanya Kenan yang balas menanggapi dengan lambaian tangan pula.
>>>
"Sayang, kenapa diam aja?" tanya Kenan pada Fara. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang dan sudah cukup jauh meninggalkan bandara internasional Soetta. Namun sejak perpisahan dengan Gabela hingga detik ini, Fara belum berucap sepatah katapun yang sukses membuat Kenan heran.
__ADS_1
Bukannya Kenan tak tahu alasan Fara mendiamkan dirinya. Apa lagi kalau bukan karena kesal pada dirinya yang melakukan apapun saat Fara berusaha melepaskan pelukan Gabela dari dirinya. Ia tahu, Fara pasti ingin ia ikut membantu menyuruh Gabela melepaskan pelukannya.
Namun selain itu, dari pengamatannya, Kenan mendapati dalam raut wajah Fara ada alasan lain yang membuat istrinya itu berdiam diri sejak tadi. Ia tak tahu pasti apa itu, tapi ia dapat menebak bahwa itu masih berhubungan dengan Gabela.
"Kak, menurut Kakak, Fara gimana?"
Alih - alih menjawab, Fara malah balik bertanya yang sukses membuat kedua alis Kenan saling bertaut erat, benar - benar tak mengerti maksud pertanyaan tersebut.
"Maksudnya?"
"Apa menurut Kak Ken, Fara orang jahat?"
"Maaf sayang, bisakah kamu bertanya lebih jelas? Kakak benar - benar gak ngerti maksud pertanyaan mu."
"Ck... Dasar laload!" cibir Fara mengejek kesal yang hanya dapat diterima dengan pasrah oleh Kenan sembari meringis.
Kenan tahu mood Fara sedang tidak baik - baik saja saat ini. Jika ia membalas, maka pasti akan terjadi perdebatan panjang diantara mereka.
"Maksud Fara, apa Fara jahat karena gak ngebiarin Gaby meluk Kakak lama - lama?" terang Fara kemudian.
Kenan manggut - manggut. Samar - samar ia sudah dapat menebak bahwa Fara sebenarnya merasa bersalah karena memaksa Gabela melepaskan pelukannya dari tubuh Kenan tadi. Mungkin rasa bersalah yang dirasakan Fara serupa dengan rasa bersalah yang ia rasakan. Atau mungkin juga lebih, karena Fara sesama wanita dengan Gabela yang dapat membuatnya lebih jelas membayangkan sebesar apa rasa sakit yang dialami Gabela.
"Hmm? Kalo berdasarkan status dan perasaan pribadi, Kakak gak nganggap Fara jahat. Malahan baik, karena kamu setidaknya udah ngizinin Gaby meluk Kakak, disaat kamu sendiri harus nahan cemburu."
"Humps... Siapa yang cemburu?" Fara menyela sambil melengos.
Kenan geleng - geleng kepala sembari terkekeh pelan, lantas melanjutkan "Tapi, kalo berdasarkan empati umum tanpa memandang status, Fara bisa jadi salah. Dalam tanda kutip SALAH bukan JAHAT."
"Maksudnya?" giliran Fara yang tidak mengerti dengan penjelasan lanjutan Kenan.
"Iya, kamu salah bukan jahat. Kalo jahat, kamu sama sekali gak ngizinin Gaby meluk Kakak. Kesalahanmu adalah, kamu malah maksa dia buat berhenti. Baiknya, kamu sabar aja, gak malah biarin dirimu kebawa ego." terang Kenan.
Dan giliran Fara lagi yang manggut - manggut tercerahkan. Memang benar seperti yang kenan pikirkan bahwa dirinya merasa bersalah pada Gabela. Dan benar pula bahwa rasa bersalah yang ia rasakan melebihi Kenan. Itulah yang sejak tadi ia renungkan selepas perpisahan dengan Gabela. Dan kini berkat penjelasan Kenan, walaupun tidak sepenuhnya, rasa bersalahnya pada Gabela terasa berkurang.
__ADS_1