Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Harapan Fara


__ADS_3

"Kamu beneran ingin masuk kerja hari ini, yang?" tanya Kenan pada Fara. Saat ini keduanya tengah sarapan bersama seperti yang sudah-sudah di ruang makan apartemen.


"Iya Kak, Fara yakin." jawab Fara.


Kenan menggigit bibir bawahnya frustasi. Sejak tadi ia berusaha membujuk Fara agar tidak masuk kerja dulu hari ini. Apa lagi kalau bukan karena keadaan Fara yang sedang tidak baik-baik saja akibat pertempuran panas semalam plus selepas shalat subuh tadi. Dan semua itu juga merupakan salahnya, terlepas Fara juga menikmati.


"Tapi, sayang___"


"Udahlah, Kak. Fara yakin, Fara baik-baik aja kok." Fara langsung memotong tegas ketika Kenan masib bersikeras membujuknya.


"Hufh..." Kenan mend*sah pasrah "Ok, baiklah."


>>>


Ting...


Si supir omes masih terus saja memandang ke arah lift basemen rumah sakit yang baru saja di masuki tuan dan nyonya nya. Sejak bertemu di basemen apartemen sebelum berangkat tadi, ia terus mengamati gelagat Kenan dan Fara secara diam-diam. Pada Kenan, ia dapat melihat dengan sangat jelas dari raut wajah tuannya itu memancarkan kebahagian, namun juga tersematkan keresahan di sana. Sedangkan pada Fara, ia juga menemukan raut kebahagiaan di wajah nyonya nya itu meskipun sedikit redup oleh keletihan. Dan yang menurutnya paling menonjol dari gelagat Fara adalah gaya berjalan nyonya nya itu yang tertatih-tatih. Dengan kapasitas omesnya yang tidak diragukan lagi sepak terjangnya, ia dapat dengan mudah menebak apa yang telah terjadi pada tuan dan nyonya nya itu. "Akhirnya Tuan menjadi laki-laki sejati." gumamnya sembari tersenyum penuh kebanggan. Bukan, ia bukan bangga pada Kenan, tapi pada dirinya sendiri, seolah pencapaian Kenan itu berkat dirinya yang selalu mendoakan sang tuan.


Berbeda dengan si supir omes nan narsis itu, setiap orang yang berpapasan dengan Kenan dan Fara sepanjang perjalanan menuju ruang kerja, mereka malah terheran-heran melihat gelagat sepasang suami istri itu. Bukan karena kapasitas otak mereka yang kalah mesum dari si supir, tapi karena mereka belum mengetahui hubungan antara Kenan dan Fara. Jadi, walaupun ada yang sempat sepemikiran dengan si supir, pemikiran itu langsung ditepisnya. Dan hasilnya, mereka hanya bisa bertanya-tanya dalam kebuntuan.


Ceklek...

__ADS_1


"Selamat pagi, Prof Kenan, Dokter Fa-ra?" Gabela yang sudah berada lebih awal di dalam ruang kerja, langsung menyambut begitu Kenan dan Fara memasuki ruangan. Awalnya ia tersenyum cerah, secerah mentari pagi ini, namun sedetik kemudian senyuman itu perlahan memudar menjadi senyuman kikuk ketika menyadari gelagat aneh dari sepasang suami istri itu. Sama halnya dengan si supir omes, ia juga langsung dapat menebak apa yang telah terjadi pada Kenan dan Fara. Entahlah, mungkin kapasitas omesnya setara atau bahkan lebih besar dari si supir.


"Selamat pagi, Dokter Gaby." balas Kenan dan Fara selaras sembari tersenyum santai seolah tidak menyadari tatapan aneh Gabela, seperti yang mereka lakukan sejak tadi terhadap si supir omes maupun orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Ya, baik Fara maupun Kenan dapat dengan jelas menyadari segala tatapan aneh yang tertuju pada mereka, namun mereka memilih acuh nan abai. Keduanya lebih sibuk memikirkan pemikiran yang tengah mengusik pikiran masing-masing.


Kenan sibuk mencemaskan keadaan Fara yang sejak tadi membuatnya selalu siaga berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istrinya itu. Sedangkan Fara, ia sibuk memikirkan keadaan hubungannya dengan Kenan saat ini. Mereka sudah menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya, itu satu hal yang pasti Fara simpulkan sekarang. Masalahnya, itu hanya berlaku pada hubungan fisik, tidak dengan hubungan batin mereka.


Setahu Fara, perasaan Kenan pada dirinya sejauh ini hanyalah sebatas rasa sayang. Namun meskipun begitu, ia sangat ingin mendengar kata 'cinta' terucap dari bibir Kenan. Sayangnya, ia tak sekalipun mendapatkan itu, bahkan sepanjang percintaan mereka baik semalam maupun pagi tadi. Biasanya, seperti pada novel-novel serta film dewasa yang ia temui, si pria pasti akan mengatakan 'cinta' pada si wanita di tengah atau akhir percintaan. Itulah yang disebut improvisasi pemuas batin di atas kepuasan fisik yang mereka dapatkan. Namun sepertinya Kenan berbeda, entah karena tidak berpengalaman, atau terlalu jujur dengan perasaannya.


'Kakak sayang Fara.' hanya kalimat itu yang selalu Fara dapati.


"Ehem..."


Fara sedikit tersentak mendongak dan bertemu tatap dengan Kenan "Ada apa, Kak, eh, Prof?" ucapnya kelepasan memanggil Kenan dengan sebutan 'Kak'.


Sesaat Kenan terdiam dengan sebelah alis terangkat seolah tengah menelisik gerak gerik Fara. Sesaat kemudian ekspresinya berubah datar "Tolong berikan data-data pasien yang akan diperiksa hari ini!"


Deg...


Fara kembali merasakan sesak di dadanya, sperti terakhir kali Kenan bersikap dingin nan datar seperti ini pada dirinya. Namun kali ini jauh lebih sesak. Ia sangat tahu mengapa demikian. Yang mana ia merasa belum benar-benar mengenal kepribadian Kenan, bahkan setelah hubungan mereka sejauh ini.


Berbagai pemikiran buruk sektika menyeruak dalam benak dan hati Fara. Diantaranya dan yang paling buruk menurutnya, ia bertanya-tanya, apakah semua perlakukan Kenan selama ini tulus atau hanya sekedar sandiwara, termasuk rasa sayang yang pria itu tujukan pada dirinya? Sungguh Fara dibuat dilema setelah mendapati kepribadian Kenan yang sangat mudah berubah-ubah. Beberapa saat yang lalu, Fara masih dengan sangat jelas merasakan tatapan sayang yang Kenan tujukan pada dirinya. Namun kini, tatapan sayang itu benar-benar hilang tanpa bekas, berganti tatapan yang sangat dingin dan tertuju khusus untuk dirinya.

__ADS_1


Fara mencoba memikirkan mengapa demikian? Namun ia tak menemukan jawabannya. Profesionalitas kerja? Tidak, ia sangat tidak setuju dengan jawaban itu. Sangat jelas ia merasakan perlakuan Kenan itu hanya tertuju dan terkhusus untuk dirinya. Apa dirinya telah melakukan kesalahan tanpa ia sadari? Fara tidak terlalu yakin, ia hanya merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun, hanya melamun saja. Tunggu, melamun? Bukankah sikap Kenan selalu berubah dingin seperti ini setiap kali Kenan mendapati dirinya tengah melamun?


Entah keyakinan dari mana, Fara yakin bahwa itu masalahnya. Dan yang menjadi pertanyaannya sekarang, mengapa Kenan selalu bersikap dingin setiap kali mendapati dirinya tengah melamun? Tidak mungkin hanya karena Kenan tidak senang mendapati dirinya tengah melamun. Apa karena bahan lamunannya?


Fara merasa semakin mendekati titik terang. Dan yang menjadi pertnyaan terakhir sekarang adalah, bahan lamunan apa yang ketika dirinya lamunkan dapat membuat Kenan tidak senang ataupun marah?


"DOKTER FARANISHA GAYATRI!" belum sempat Fara menemukan jawaban, ia kembali disadarkan dari lamunannya oleh suara Kenan. Bedanya, kali ini Kenan terdengar geram dengan suara tinggi serta intonasi bentakannya yang menggebu-gebu menyerukan nama lengkap Fara.


Sontak Fara mengusap-usap dadanya yang makin sesak dan sakit akibat terkejut oleh bentakan Kenan. Perlahan nafasnya terasa berat seiringan dengan kesadarannya yang mulai buram.


"Sa-sayang, ka-kamu kenapa? Ma-maaf, sayang, Ka-kakak___"


Hanya penggalan kalimat itu yang Fara dengar terucap dari bibir Kenan dengan intonasi panik, sebelum kehilangan kesadaran. Entah masih ada lanjutannya atau tidak, ia benar-benar tak tahu, ia pingsan.


Tanpa berpikir panjang, Kenan bergegas menyeberangi meja kerja Fara dengan cara melompatinya bak atlet parkour profesional demi segera tiba di sisi istrinya itu.


"Sayang, bangun sayang!" tidak seperti terakhir kali saat mendapati asma Fara kambuh, kali ini Kenan benar-benar kehilangan ketenangannya, saking paniknya. Begitu tiba di sisi Fara, segera didekapnya tubuh istrinya itu, lantas menepuk-nepuk pipi Fara, berharap dengan itu dapat menyadarkan sang istri.


"Oh, s*it!" Kenan mengumpat dirinya sendiri setelah tersadar beberapa saat kemudian "Apa yang kamu lakukan, Kenan? Dasar bodoh!" sembari mengumpat, dengan tergesa-gesa ia membongkar isi dalam tas Fara, mencari alat pengatur pernafasan khusus pengidap asma di sana.


"Ayo, sayang! Kakak mohon, sadarlah! Maafin, Kakak. Kakak benar-benar gak sengaja, Kakak gak bisa ngendaliin emosi Kakak. Maaf, sayang."

__ADS_1


__ADS_2