
Waktu bergulir, senja kini berganti malam. Penunjuk waktu sudah menunjukan pukul 20.00 waktu setempat. Kenan dan Fara baru saja selesai bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Tentu saja Kenan akan pulang bersama Fara ke kediaman Farzan. Sebenarnya Kenan mempunyai apartemen yang selalu ia tempati setiap ia berada di Indonesia, tanah kelahirannya ini. Biasanya juga ia tinggal di panti asuhan tempat ia di asuh dan di besarkan hingga berusia 13 tahun. Dulu panti asuhan itu sangatlah sederhana yang telah jauh berubah dengan sekarang yang sudah seperti istana.
Ya, siapa lagi yang merubahnya jika bukan Kenan. Di awal-awal Kenan mulai bekerja, gajinya ia pusatkan untuk merenovasi panti asuhan tersebut. Dan hasilnya tak tanggung-tanggung, bukan hanya bangunan panti asuhannya yang di renovasi bahkan derajat orang-orang di dalamnya juga ditinggikan. Setiap anak terlantar atau yatim piatu yang tinggal di situ, pendidikannya dibiayai penuh oleh Kenan hingga mereka mendapatkan gelar sarjana. Ibu panti yang telah dianggap Kenan sebagai ibu sendiri serta para pengasuh lainnya, diberikan fasilitas yang memadai. Mungkin jika ada nominasi panti asuhan terelit sedunia, panti asuhan Al-rahman lah yang menjadi pemenang nominasinya. Ya, Al-rahman adalah nama panti asuhan tempat Kenan dibesarkan.
Kini Kenan dan Fara sudah berada di basemen rumah sakit. Fara berjalan di depan dengan Kenan mengekor di belakangnya menuju mobil Fara.
Sebenarnya sejak tadi Fara ingin bertanya, mengapa Kenan selalu mengikutinya? Hanya saja ia urungkan, berpikir itu mungkin hanya perasaannya saja. Mungkin Kebetulan letak mobil mereka terpakir di sisi parkiran yang sama. Tapi, ia kembali berpikir, bukankah sebelumnya Kenan ke rumah sakit dengan di antar oleh sopir? Tapi lagi-lagi diurungkan niatnya untuk bertanya. Mungkin Kenan menyuruh orang-orangnya untuk mengantarkan mobil dan diparkirkan di basemen.
Hingga tibalah mereka di mobil Fara. Lantas Fara menekan tombol unlock pada remote control di kunci mobilnya, lalu membuka pintu kemudi dan masuk kedalam. Setelah Fara kembali menutup pintu, ia dikejutkan oleh keberadaan Kenan yang ternyata ikut masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi penumpang belakang kemudi yang dengan santainya duduk anteng di sana. Sontak Fara berbalik kebelakang setelah melongo sesaat "Eh, maaf Prof, apa anda tidak salah memasuki mobil?"
Kedua alis Kenan saling bertaut "Prof? Anda?" alih-alih menjawab pertanyaan utama Fara, ia malah terusik oleh tutur kata yang masih menggunakan bahasa formal. Beberapa waktu yang lalu ia berpikir, istrinya itu menggunakan bahasa formal sebagai bentuk profesionalitas kerja. "Kenapa kamu masih menggunakan bahasa formal?"
"Eh?" Fara terjengkit bingung dengan perubahan arah pembicaraan "Maksudnya?"
"Ya, bukankah sekarang sudah bukan jam kerja? Kenapa kamu masih menggunakan bahasa formal?"
Alih-alih tercerahkan, Fara malah semakin bingung menanggapi. Bukan bingung karena tidak mengerti ara pembicaraan, melainkan bingung harus menjawab apa. Pasalnya, ia masih sungkan berbicara menggunakan bahasa informal dengan Kenan.
"Nis?" tegur Kenan setelah sekian waktu berlalu tapi Fara hanya diam.
Fara sedikit gelagapan "Eh, ugh... Maaf, terbawa suasana, soalnya masih di lingkungan rumah sakit." kilahnya beralasan.
"Ohh..." Kenan manggut-manggut "Makanya, sebaiknya kita membiasakan menggunakan bahasa informal ketika sedang berdua saja, termasuk disaat jam kerja." usulnya.
__ADS_1
"Memangnya boleh?" cicit Fara ragu-ragu.
"Tentu saja, mengapa tidak? Kita kan suami istri, malah akan terasa aneh jika kita berbicara dengan bahasa formal, di jam kerja sekalipun." ungkap Kenan mengutarakan sesuatu yang cukup mengusiknya sejak tadi. Awalnya, ia mencoba biasa saja dan mengikuti alur saat Fara mulai berbicara menggunakan bahasa informal dengannya. Namun sekeras apapun ia mencoba, tetap saja hal itu mengusiknya. Rasanya tidak nyaman, entahlah ia tidak bisa menjabarkan ketidak nyamanan itu.
Fara sedikit terkesiap mendengarkan penuturan Kenan yang tersemat kekalutan di dalamnya. Rupanya ia telah salah berpikir buruk pada sang suami, yang ia pikir diperlakukan asing sebagai istri. Ternyata itu hanya perasaannya saja. Ia juga tersadar bahwa dirinya lah yang lebih dulu memulai. Jadi, seharusnya ia yang disalahkan disini. Mengapa dirinya yang merasa kecewa pada Kenan? pikirnya merasa bersalah. "Maaf." hanya itu yang bisa ia ucapkan sebagai bentuk penyesalannya.
"Hmm? Maaf untuk apa?" tanya Kenan bingung.
"Maaf karena aku yang memulai berbicara dengan bahasa formal." jawab Fara sembari menundukkan pandangannya, tidak berani bertemu tatap dengan Kenan.
"Ohh... Tidak apa-apa, aku mengerti. Kamu hanya ingin bersikap profesional kan? It's ok, tidak masalah. Hanya saja, mulai sekarang sebaiknya kita mulai bersikap seperti pasangan suami istri pada umumnya, di depan publik sekalipun. Kalau kamu tidak keberatan, tentunya." tutur Kenan penuh wibawa.
'Aaaah, suamiku! Mengapa engkau tampan sekali? Pengen karungin.' batin Fara menjerit benar-benar terkesima pada Kenan. Sebenarnya ia juga merasa malu. Bersikap profesional? Sejak awal ia tidak pernah bermaksud menggunakan bahasa informal saat berbicara dengan Kenan. Ia hanya spontan saja awalnya, saking gugupnya. Dan selanjutnya karena ia sudah terlanjur salah berpikir tentang Kenan. Namun tidak mungkin ia mengungkapkan itu. Bisa rusak citra suami tampannya ini yang baru saja terlihat sangat berwibawa dan sangat keren, menurutnya. Ya, rusak. Sebab dengan cool nya Kenan mengucapkan kesalah kiraannya. Selain itu dirinya sendiripun, pasti akan ikut malu. Sebagai gantinya, Fara mengangguk dengan senyum yang dibuat-buat semanis mungkin seraya berkata "Iya Kak, aku akan coba. Mohon bimbingannya ya!"
"Hm, kita sama-sama belajar." balas Kenan tersenyum manis pula, natural tentunya, bukan KW, alias imitasi seperti senyuman yang di kenakan Fara. "Ya sudah, ayo jalan." lanjutnya.
Senyuman Kenan ikut memudar berganti kedua alisnya yang saling bertaut "Maksudnya?"
"Kenapa Kak Ken ikut masuk ke mobilku? Kak Ken tidak salah masuk mobil Kan?" Fara memperjelas pertanyaannya.
"Ohh... Aku memang tidak salah. Kamu mau pulang kan?"
"Iya."
"Ya, berarti sudah benar aku ikut masuk ke mobilmu. Aku juga mau pulang. Bukankah tujuan kita sama?"
__ADS_1
"Maksudnya, Kak Ken juga mau pulang ke rumah ku dan ayah?"
"Iya."
"Ooh, begitu." Fara menggut-manggut baru mengerti.
"Hm, sudah mengerti?"
"Iya Kak."
"Ya sudah, ayo jalan!"
"Baik Kak." dengan patuh Fara menuruti. Ia lantas kembali berbalik ke depan dan mulai menyalakan mesin mobil. Namun ketika hendak menginjak pedal gas, ia seperti tersadar akan sesuatu. Niatnya untuk menjalankan mobil pun diurungkan. Seperti ada yang salah? Pikirnya memutar otak.
"Ada apa? Kenapa belum jalan juga?" tanya Kenan sedikit tidak sabar sekaligus menginterupsi siklus pemikiran Fara.
"Eh, maaf Kak, aku tidak sengaja melamun."
"Melamun kan apa? Sudah, melamun nya nanti diteruskan di rumah saja, sangat berbahaya kalau kamu melamun sementara mengemudi. Kasihan Ayah, pasti sedang menunggu kita di rumah."
Karena belum juga menemukan jawaban dari siklus pemikirannya, Fara memutuskan menuruti instruksi Kenan. Terlebih lagi saat Kenan mengatakan tentang Farzan yang sedang menunggu mereka, semakin menguatkan nalurinya untuk menuruti instruksi Kenan. Ia pun kembali melanjutkan niatnya menjalankan mobil. Meskipun pertanyaan tentang 'ada yang salah' masih mengusik pemikirannya, sebisa mungkin ditepisnya dan memfokuskan konsentrasinya pada kemudi.
Dalam perjalanan, Kenan dan Fara hanya diam menikmati perjalanan. Seperti yang diharapkan, jalanan ibu kota memang selalu padat. Namun arus lalu lintasnya cukup mulus. Mereka hanya sesekali terjebak macet ketika tiba lampu lalu lintas berwarna merah. Itupun tidak terlalu lama.
Kenan cukup kagum dengan kemajuan kedisiplinan arus lalu lintas Indonesia yang sekarang. Kalau dulu, harus melalui adu mulut bahkan adu otot dulu untuk bisa melewati macet. Kurang lebih begitulah penilaian Kenan tentang kedisiplinan arus lalu lintas ibu kota saat ini. Tidak tahu bagaimana dengan kota-kota lain.
__ADS_1
Setelan perjalanan sekitar 25 menitan, Kenan dan Fara akhirnya tiba di kediaman Farzan. Namun keduanya tidak langsung keluar dari mobil, mereka sama-sama terdiam.
Lain Kenan lain Fara. Kenan terdiam karena terbiasa disupiri. Jadi, ia tanpa sadar menunggu pintu dibukakan baru akan keluar. Sedangkan Fara, ia terdiam karena melanjutkan lamunannya memikirkan pertanyaan yang sejak tadi mengusiknya.