
"Apa kamu masih mencintai mantan pacar sekaligus mantan calon suamimu, Bagus Sanjaya?"
"Hah? Ma- maksudnya?"
"Apa kamu pernah berpikir untuk kembali padanya?"
"Tu- tunggu, tunggu, Fara benar-benar gak___"
"Kakak mohon, Faranisha Gayatri, Kakak hanya ingin kamu menjawab pertanyaan Kakak!" Kenan berucap dengan sedikit menyentak, memotong ucapan Fara. Ia hanya ingin Fara menjawab pertanyaannya, namun Fara malah bertanya balik.
"Ugh..." Fara sedikit tertegun oleh sentakan Kenan. Sejenak ia terbungkam, tak tahu harus berkata apa. "Apa itu yang selalu Kakak pikirin tentang Fara, setiap kali Fara ngelamun?" tebaknya kemudian, yang hanya dibenarkan dengan anggukan oleh Kenan.
"Kenapa Kakak bisa berpikir seperti itu?"
"Hufh..." Kenan menghembuskan nafas gusar. Ingin sekali ia menyentak Fara sekali lagi. Untung sekarang ia sudah cukup tenang, hingga tidak kelepasan seperti barusan. Ya, barusan ia hanya kelepasan karena Fara selalu menyela sebelum ia menyelesaikan pertanyaannya. Parahnya lagi, Fara malah balik bertanya hingga membuatnya jengah dan pada akhirnya kelepasan menyentak. "Bisakah kamu jawab saja pertanyaan Kakak tanpa balik bertanya? Kakak mohon, Nis, Kakak hanya butuh jawaban!" pintanya mengiba.
"Hufh..." Fara balas menghembuskan nafas berat. Bukannya ia tidak ingin segera menjawab pertanyaan Kenan, ia hanya ingin tahu terlebih dahulu apa alsan Kenan bertanya demikian. Selain itu, sebenarnya ia juga bingung bagaimana cara menjelaskan, sejelas mungkin agar Kenan mengerti dan percaya dengan jawabannya.
Sejujurnya, setelah mengetahui bahwa Kenan adalah sosok pria yang menjadi cinta pertamanya, Fara sedikitpun tidak lagi memikirkan hubungannya dengan Bagus. Bahkan ia hampir lupa bahwa dalam kisah cintanya pernah ada nama Bagus di dalamnya, jika tidak diingatkan seperti yang Kenan lakukan saat ini. Alih - alih memikirkan kisah cintanya yang kandas dengan Bagus, ia justru lebih disibukan dengan memikirkan bagaimana cara menyikapi cinta pertamanya yang dulu tak pernah tersampaikan dan ternyata perasaan cinta itu masih bersemi di dalam hatinya hingga kini. Ia bahkan menyimpulkan bahwa itu adalah alasan utama, mengapa bahkan setelah 3 tahun menjalin kasih, ia tak pernah bisa membuka hatinya untuk Bagus. Ternyata kecintaannya pada sang cinta pertama lebih besar dari pada yang ia pikirkan, bahkan mungkin memenuhi setiap inci ruang hatinya.
Dan yang menjadi permasalahannya sekarang, bagaimana cara Fara menjelaskan itu pada Kenan? Haruskah ia menjelaskan sejujur - jujurnya pada Kenan? Tidak, untuk sekarang ia belum siap untuk mengungkapkan itu. Selain malu, ia juga takut mendapat penolakan dari Kenan, walaupun ia tahu bahwa Kenan masih belum mencintainya.
"Nisha!"
__ADS_1
Lamunan Fara dibuyarkan oleh suara berat Kenan yang menyebutkan namanya. Sepertinya Kenan sudah cukup kehilangan kesabaran menunggu Fara yang tak kunjung juga berucap menjawab pertanyaannya, dan malah diam melamun.
"Ma- maaf, Kak. Fara gak sengaja ngelamun." cicit Fara sedikit merasa bersalah.
"Hm." Kenan hanya ber'hm' dingin dengan suara beratnya.
Sepertinya, Kenan lagi - lagi berpikir bahwa Fara tengah melamun kan perihal hubungannya dengan Bagus. 'Mana ada? Eh, ada ding, tapi dikit doang kok, hehe...' Fara cengengesan dalam hati merasa konyol dengan monolog batinnya sendiri.
"Ehem... Ehem..." Fara batuk berdehem demi menyadarkan dirinya sendiri untuk kembali ke jalan yang benar. Bisa - bisanya disaat suaminya, Kenan tengah dalam mode over serius, ia malah cengengesan tidak jelas dalam hati. Dasar istri durjana. "Apa Kak Ken percaya, jika Fara berkata bahwa Fara tidak pernah mencintai Bagus?" tanyanya kemudian.
"Maksudnya?" kedua alis Kenan saling bertaut, benar-benar tidak mengerti maksud dan tujuan perkataan Fara.
"Ya, seperti yang Fara katakan, Fara sama sekali tidak pernah mencintai Bagus. 3 tahun yang lalu, Fara menerima pernyataan cinta Bagus hanya karena mengapresiasi usahanya yang tidak kenal lelah dan menyerah untuk mendapatkan cinta Fara. Tentu saja saat Fara menerimanya, Fara juga sudah bertekad untuk mencoba sebaik mungkin membalas perasaanya. Namun, sepertinya Fara salah, bahkan setelah 3 tahun berpacaran, Fara tidak bisa juga mencintai Bagus. Jadi, jangankan memikirkan untuk kembali padanya, Fara bahkan hampir lupa kalau kami pernah memiliki hubungan seperti itu. Apakah Kak Ken percaya dengan pengakuan Fara?" panjang kali lebar kali tinggi Fara menjelaskan dan diakhiri dengan menanyakan pendapat Kenan lagi.
Sejenak Kenan terdiam, butuh waktu cukup lama baginya yang sangat minim pengalaman tentang hubungan asmara untuk dapat mencerna penjelasan Fara dengan baik. Jujur saja, ia memiliki keraguan untuk percaya setelah memahami inti penjelasan Fara. Memang dirinya tidak berpengalaman dalam hubungan asmara, tapi masih saja ia bertanya - tanya. Benarkah, bahkan setelah 3 tahun menjalin kasih, Fara masih tidak bisa juga membuka hati untuk Bagus? Terlepas dari alasan Fara yang awalnya menerima Bagus hanya karena sebatas rasa apresiasi. Dari penjelasan Fara, ia juga menemukan fakta bahwa Bagus sangat mencintai Fara. Jelas selama mereka menjalin kasih, Bagus mencurahkan sangat banyak perhatian dan kasih sayang pada Fara. Benarkah, bahkan dengan itu tidak juga mampu menggerakkan hati Fara?
"Bagaimana Kak, apa Kakak percaya?" tanya Fara lagi setelah sekian waktu berlalu dan Kenan masih bungkam.
Alih - alih menjawab, Kenan malah semakin memperdalam tatapannya kedalam netra Fara "bisakah kamu jelaskan detailnya bagaimana perasaanmu pada Bagus!"
Fara yang mengetahui Kenan tengah mencoba mencari kejujuran melalui sorot matanya, tanpa ragu menjelaskan "Sejujurnya, sejauh ini Fara hanya merasakan nyaman dengannya. Seperti rasa nyaman pada sahabat sekaligus seorang Kakak, tidak lebih dari itu. Adapun kesedihan yang Fara rasakan saat Bagus membatalkan pernikahan kami, itu hanyalah kesedihan akan rasa terkhianati dan merasa dipermainkan."
Sekali lagi Kenan tidak menemukan sedikitpun kebohongan dalam sorot netra Fara sepanjang menjelaskan. Dihelanya nafas dalam - dalam dan dihembuskan perlahan nan berat, seberat keputusannya "Huffhh... Baiklah, Kakak percaya. Tapi,,, mengapa?"
__ADS_1
"Mengapa, maksudnya?" Fara tak connect.
"Mengapa bahkan setelah 3 tahun hubungan kalian, kamu masih tidak bisa juga mencintai Bagus? Kakak benar - benar tidak mengerti, bisakah kamu jelaskan alasannya?"
Fara mendadak speechless sesaat. Akhirnya yang ia wanti - wanti sejak awal sebelum mulai menjawab pertanyaan Kenan, terjadi juga. Sungguh ia belum sanggup untuk menjelaskan itu pada Kenan. Digigitnya cukup keras bibir bawahnya "Bolehkah Fara tidak menjawab pertanyaan ini? Ini terkait masalah pribadi Fara." dalihnya.
Balas Kenan yang mendadak speechless. Dalam batinnya terjadi peperangan sengit antara pro dan kontra. Di satu sisi, ia merupakan pribadi yang berprinsip sangat menentang keras memaksakan kehendaknya pada orang lain, terlebih menyangkut privasi mereka. Namun di lain sisi, ia juga merupakan pribadi yang sangat berobsesi jika penasaran atau ingin tahu tentang sesuatu. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Memperjuangkan obsesinya atau mempertahankan prinsipnya? Jika ia memperjuangkan obsesinya, maka bukan hanya Fara yang akan merugi, ia juga akan merendahkan dirinya sendiri sebagai pria yang berpendirian. Namun jika ia mempertahankan prinsipnya dan menyerah pada obsesinya, maka bisa dipastikan ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak mulai malam ini akibat penasaran setengah mati.
Hening...
Sementara Kenan sibuk dengan peperangan batinnya yang mengalami kebuntuan, Fara harap - harap cemas menantikan jawaban Kenan. Jadilah mereka diam - diaman dalam keadaan tak pasti.
Ceklek....
Tiba - tiba pintu ruangan terbuka disusul masuknya seorang perawat yang hendak memeriksa keadaan Fara.
###
Sementara itu...
Di waktu yang sama, dalam suatu ruangan private pada restauran hotel X1, salah satu bintang 5 di ibu kota, terlihat Gabela tengah duduk saling berhadapan berseberangan diantarai meja makan dengan seorang pria yang penampilannya sangat tertutup, mulai dari switer yang topinya digunakan untuk menutupi hampir seluruh kepala dah hanya menyisakan wajahnya serta masker yang cukup untuk menutup dari bawah dagu hingga pangkal hidungnya.
"Jadi, bisakah anda jelaskan maksud anda mengajak saya bertemu, Dokter Gabela?" tanya pria itu yang sepertinya cukup mengenal identitas Gabela.
__ADS_1
"Hmm... Rupanya anda orang yang tidak suka berbasa basi, Tuan Bagus Sanjaya. Bagus, seperti nama anda, saya juga sebenarnya orang yang tidak suka berbasa basi."
Ya, pria itu adalah Bagus.