
"Hm, terima kasih atas niat baik anda yang sudah bersedia menyempatkan waktu untuk menjemput kepulangan saya, Dokter Andre. Tapi sayang, seperti yang anda lihat, sekarang saya sudah sampai di sini. Jadi, sebaiknya setelah ini anda pulang saja, atau mungkin langsung berangkat kerja ke NF Hospital." tutur Kenan datar nan formal tanpa melupakan kesopanan kepada Andre.
Ya, mobil yang beberapa waktu yang lalu yang hampir bertabrakan dengan mobil yang ditumpangi Kenan, Fara dan Farzan serta Bambang di depan gerbang kediaman Farzan, tidak lain dan tidak bukan adalah mobil milik Andre. Dan sekarang, kecuali Bambang, keempatnya sedang berada di ruang keluarga kediaman Farzan sembari menikmati hidangan ringan yang telah disuguhkan oleh ART untuk menemani sesi mengobrol Mereka, sesuai perintah Farzan.
Andre baru saja menyampaikan tujuan kedatangannya sepagi ini ke kediaman Farzan yang katanya, berniat ikut serta bersama Fara dan Farzan untuk menjemput kepulangan Kenan di bandara. Namun sayang, seperti penuturan Kenan barusan, Andre telah sangat terlambat untuk merealisasikan tujuannya. Jadilah Kenan menyarankan agar Andre pulang saja atau langsung berangkat kerja ke NF Hospital setelah menghabiskan suguhan yang telah disediakan oleh ART tersebut.
"Ugh..." Andre tampak tertegun speechless sesaat, sebelum menanggapi "Ba- baiklah Prof."
Sepertinya nyali Andre telah menciut. Pria itu langsung menuruti saran Kenan begitu saja tanpa berniat membantah. Sikap percaya diri yang dikenakannya tadi yang dengan fasih nya menyampaikan tujuan kedatangannya ke kediaman Farzan, kini hilang entah kemana hingga membuatnya berucap dengan sedikit terbata. Entahlah, mungkin hal itu disebabkan oleh aura otoriter serta penuh wibawa yang Kenan kenakan saat bertutur barusan.
Kenan pun mengangguk puas sembari terus mengunci tatapan datarnya tepat ke wajah Andre "Hm, sekali lagi terima kasih atas niat baik anda." ucapnya sekali lagi berterima kasih.
"Sa- sama - sama Prof." tanggap Andre yang sepertinya belum dapat mengembalikan kepercayaan dirinya.
Sementara Fara dan Farzan yang dapat menyadari bahwa Andre tengah terintimidasi oleh aura Kenan, membiarkan saja tanpa berniat membantu mencairkan suasana yang sangat terasa mencekam diantara Kenan dan Andre. Farzan, sebenarnya ia sudah mulai curiga dengan gelagat Andre yang akhir - akhir ini yang tampak sangat jelas ingin mendekati Fara bukan untuk sekedar beramah tama dengan sesama kerabat, melainkan ada maksud lain di baliknya. Meskipun tidak mengetahui dengan pasti apa maksud lain tersebut, setidaknya ia dapat membaca sorot pemujaan dalam netra Andre setiap kali memandang Fara.
Tentu saja Farzan sangat tidak membenarkan hal itu. Jadilah ia memilih diam saja sembari berharap agar Andre sadar bahwa Fara yang dipuja - puja dan didambakannya itu adalah milik pria lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kenan yang sedang berhadapan dengannya kini.
Sangat singkat, kurang lebih 5 menit kemudian, suguhan hangat nan sedikit panas yang harusnya dinikmati dengan santai itu telah ludes semua yang mana kebanyakan masuk kedalam perut Andre yang menyantapnya dengan agak terburu - buru. Bukan karena rakus, melainkan sangat jelas dari gelagat pria itu bahwa ingin segera menghabiskan suguhan tersebut agar dapat secepatnya pamit undur diri.
"Eeekkk..." entah karena terlalu kenyang, atau tidak dapat mengendalikan diri, setelah menandaskan teh hangatnya, Andre bersendawa panjang tanpa mempedulikan imagenya di depan Kenan, Fara dan Farzan. "Ups... Ma- maaf." ucapnya salah tingkah kemudian, dengan wajah yang memerah padam karena malu.
__ADS_1
"Sshh..." Kenan, Fara dan Farzan kompak mendesis cukup panjang sembari meringis di wajah masing - masing. "Oh, tidak apa - apa Dokter Andre. Sepertinya anda tidak sempat mengganjal perut sebelum kesini tadi, saking inginnya anda ikut serta menjemput kepulangan saya. Sekali lagi terima kasih Dokter Andre, anda sangat baik." Kenan yang menanggapi dengan menyindir Andre secara sarkasme.
"Sa- sama - sama Profesor Kenan." Andre tersenyum kikuk nan kecut dengan wajah yang semakin memerah menahan malu. Lalu pria itu berdehem seraya bangkit dari duduknya "Ehem... Ba- baiklah, sepertinya saya tidak punya keperluan lagi di sini. Bolehkah saya pamit undur diri sekarang? Hari ini saya mempunyai jadwal yang lebih awal dari biasanya." ujarnya memohon pamit undur diri dengan dalih, mempunyai jadwal yang lebih awal. Entah benar atau tidaknya dalih tersebut, hanya Andre dan tuhan yang tahu.
"Oh, tentu saja Dokter Andre, semoga sukses, semangat." dengan senang hati Kenan langsung mengizinkan tanpa mau peduli dengan kebenaran dalih Andre. Ucapan penyemangat yang ia ucapkan hanyalah sekedar basa basi manis tanpa makna.
"Amin, terima kasih Prof." tanggap Andre tampak tulus yang hanya diangguki santai oleh Kenan. Lalu pria itu secara perlahan menyapu pandangannya pada Kenan, Fara dan Farzan "Kalau begitu, semuanya, saya pamit undur diri! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." balas Kenan, Fara dan Farzan kompak. Lantas Andre pun berlalu dari hadapan ketiganya dengan berjalan agak tergesa - gesa menuju pintu utama.
Bukannya Kenan, Fara maupun Farzan tak ingin mengantar kepergian Andre, hanya saja pria itu yang tak memberikan mereka kesempatan untuk melakukannya. Tak bisa membantu, ketiganya hanya bisa geleng - geleng kepala menyaksikan kepergian Andre hingga sosok pria itu menghilang keluar dari kediaman Farzan.
"Ka- Kak Ken!" Fara memanggil Kenan rada - rada takut sekaligus memecah keheningan singkat yang sempat terjadi selang kepergian Andre.
"Ka- Kak Ken gak marah sama Fara kan?" tanya Fara harap - harap cemas.
Kenan menggeleng santai sembari tersenyum hangat dan mengusap - usap lembut puncak kepala Fara "Gak lah sayang. Ngapain Kakak musti marah ke kamu? Emang kamu ada salah sama Kakak hmm?"
Ragu - ragu Fara menggeleng "Gak sih, cuman itu tadi si Andre___"
"Sstt..." Kenan langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Fara dan sukses menghentikan ucapan istrinya itu "Itu tadi emang si Andre nya yang gak tau malu. Kamu gak salah apa - apa. Kakak bisa liat kok, sepertinya Andre terobsesi sama kamu."
__ADS_1
"Terobsesi?" Farzan yang duduk di samping Fara namun berbeda sofa, ia yang menyahut dengan membeo "Maksudmu terobsesi gimana Ken?" tanyanya bingung bercampur penasaran yang diangguki Fara yang juga bingung serta penasaran.
Kenan terdiam sejenak sembari menelisik ekspresi Fara dan Farzan secara bergantian. Lalu digaruk - garuknya tengkuknya yang tidak gatal menjadi agak ragu dengan penilaiannya terhadap Andre. Entah dirinya yang lebih piawai dalam membaca sorot netra seseorang dibandingkan Fara dan Farzan, atau dirinya yang terlalu sok tahu. "Emm, bentar, sebelum itu Kenan pingin nanya dulu. Sejauh ini gimana pendapat Ayah sama Nisha terhadap pandangan Andre setiap kali natapin Nisha?"
Entah kebetulan, atau memang gatal, Fara dan Farzan kompak ikutan menggaruk - garuk tengkuk mereka masing - masing. "Emm, kalo Ayah sih baru perhatiin nya akhir - akhir ini. Menurut Ayah, Andre mendam rasa sama Fara. Pandangannya kayak muja - muja Fara gitu."
Kenan manggut - manggut paham seraya mengalihkan pandangannya pada Fara yang merupakan gilirannya untuk menjawab.
Sembari terus menggaruk - garuk tengkuknya, Fara menyengir kikuk pada Kenan "Ka- kalo Fara, selama ini gak pernah perhatiin. Fara malas aja, menurut Fara gak ada gunanya juga."
"Hdeh..." Kenan geleng - geleng kepala sembari tersenyum gemas menatap Fara "Pantas aja selama ini kamu ngebolehin Andre manggil kamu dengan sebutan apa tuh? Dek Fara? Cih..." cibirnya geram - geram gemas.
"Ya, maaf Kak." ucap Fara pelan sembari menundukkan pandangannya menghindari tatapan menghakimi Kenan.
Kenan mengibas - ngibaskan tangannya santai "Udahlah, yang penting sekarang dia gak manggil kamu gitu lagi kan?"
"Ka- kadang - kadang masih Kak, katanya kelepasan." sembari terus menundukkan pandangannya, Fara menjawab jujur dengan rada - rada takut.
"Ck..." Kenan berdecak kesal "Sepertinya perlu Kakak langsung yang ngelarang dia buat manggil kamu gitu."
"Hm." Fara mengangguk menyetujui.
__ADS_1
"Udah - udah, sekarang bukan waktunya berdebat. Jadi, apa maksudmu tadi nyatain kalo Andre terobsesi sama Fara?" melihat ada peluang untuk berbicara, Farzan segera melerai sekaligus mengalihkan pembicaraan kembali ke topik.
"Oh itu, sebenarnya Kenan sama seperti Ayah, nangkap setiap tatapan Andre ke Nisha sebagai tatapan pemujaan. Cuman menurut Kenan, itu bukan cinta, tapi obsesi."