Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Kebesaran Cinta Bagus


__ADS_3

Setelah melalui drama sok - sokan di parkiran dengan disaksikan oleh sekumpulan massa, Kenan dan Fara akhirnya masuk ke dalam cafe. Mereka langsung menuju ke sebuah ruangan private yang selalu menjadi tempat pertemuan Fara dan Bagus serta Nabila dulu, saat hubungan ketiganya masih baik - baik saja.


Cafe ini sebenarnya cafe milik Bagus yang sengaja ia beli untuk memudahkan pertemuannya dengan Fara yang bekerja di NK Hospital yang tidak jauh dari sini. Dan sampai saat ini, meskipun keluarga Sanjaya telah bangkrut, cafe ini masih milik Bagus yang dibelinya menggunakan uang pribadinya dulu. Bagus tak pernah menyangka cafe yang awalnya ia beli hanya untuk mempermudah pertemuannya dengan Fara akan menjadi satu - satunya sumber pencahariannya kini. Untung saja identitasnya sebagai pemilik cafe ini tidak dipublikasikan, jika iya, mungkin cafe ini juga akan berhenti beroperasi, alias gulung tikar karena penurunan pelanggan. Sungguh skandal yang terjadi antara dirinya dan Sherina benar - benar merusak citra dan reputasi Bagus.


Ceklek...


"Akhirnya kamu datang juga Fara, Mas kira kamu gak bakalan da- tang... Ugh..." Bagus langsung menyambut saat pintu ruangan terbuka. Namun diujung sambutannya ia tertegun kikuk. Apa lagi penyebabnya kalau bukan mendapati keberadaan Kenan di sisi Fara. Senyuman berseri - seri yang semula menghiasi wajah tampan khas Indo nya, seketika memudar. Ya, sebenarnya Bagus bisa dikatakan tampan untuk ukuran orang Indonesia.


Kenan hanya tersenyum tipis, sedang Fara tersenyum canggung menanggapi sambutan Bagus barusan yang terkesan sangat antusias, sangat jelas begitu menantikan kehadiran Fara. Sejenak ketiganya hanya diam mematung pada posisi masing - masing sembari saling tatap. Bagus menduduki salah satu kursi di tepi meja makan bundar mini size yang tersedia dalam ruangan itu, sedang Kenan dan Fara masih berdiri di ambang pintu.


"Ehem..." Fara berdehem guna memecah keheningan yang semakin canggung dari waktu ke waktu "Terima kasih sambutannya, maaf udah ngebuat Ma- Kak Bagus menunggu. Bolehkah Fara dan suami Fara ikut duduk?" ucapnya membalas sambutan Bagus serta meminta izin untuk ikut duduk. Hampir saja ia kelepasan memanggil nama Bagus dengan imbuhan 'Mas', namun dengan cepat diralatnya jadi 'Kak' dan sukses menumpulkan tatapan tajam Kenan yang sempat mendelik pada dirinya.


Bagus tersadar dari ketertegunan nya. Lantas dengan kikuk sekaligus sungkan berpose mempersilahkan menggunakan tangannya "Te- tentu saja, silahkan!"


"Terima kasih."


Tanpa ba bi bu be bo lagi, Fara mendahului menuntun Kenan untuk ikut duduk di tepi meja makan. Kini posisi mereka, Kenan dan Fara duduk berdampingan, berhadapan dengan Bagus yang duduk seorang diri di seberang lain meja makan.

__ADS_1


Hening...


Kenan, Fara dan Bagus kembali terdiam selama beberapa saat.


"Ehem..." kali ini Kenan yang berdehem memecah keheningan "Silahkan, bicarakan saja apa yang kalian ingin bicarakan! Tak perlu mengkhawatirkan kehadiran saya. Saya akan berusaha menjadi pendengar yang baik, dan hanya akan ikut berbicara jika kalian mengizinkan." ucapnya formal nan sopan yang ditujukan kepada Bagus. Ingat, ia memiliki kepekaan yang tinggi. Jadi, tentu saja ia sadar keheningan itu disebabkan oleh kehadirannya.


Bagus yang tadinya tengah dag dig dug ser karena ketegangan intens, sedikit ditenangkan oleh penuturan Kenan yang sangat halus, bahkan tersenyum ramah saat berucap. Meskipun tidak begitu mengenal kepribadian Kenan, ia yakin bahwa senyuman yang dikenakan oleh pria yang kini berstatus suami dari mantan pacarnya itu adalah senyuman tulus. Sepak terjangnya yang cukup piawai di dunia bisnis menjadikan dirinya cukup piawai pula membaca ekspresi seseorang. Dan ia cukup percaya diri dengan kepiawaiannya itu.


Sementara Fara, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Bagus. Ia juga sejak tadi cukup was - was. Dan sedikit di luar ekspetasinya, ternyata Kenan, suaminya justru bersikap sangat tenang dan berkepala dingin. Padahal, setiap kali mereka terlibat masalah, Kenan kerap kali tak bisa mengendalikan emosi di depannya. Mengapa demikian? Pikir Fara bertanya - tanya keheranan.


"Terima kasih, Profesor Kenan." ucap Bagus sembari tersenyum yang masih terkesan sungkan pada Kenan.


"Ehem..." entahlah, sepertinya tiga makhluk halu ini sedang melakukan lomba berdehem. Pertama Fara, lalu Kenan, dan sekarang giliran Bagus yang berdehem guna menetralisir ketegangannya sekaligus mengumpulkan keberanian sebelum memulai pembicaraan dengan Fara di bawah pengawasan Kenan. "Baiklah, tapi sebelum itu, apa tidak sebaiknya kita memesan makanan dulu?" usul pria itu kemudian sebelum memulai.


"Boleh." Kenan yang menyahut, sementara Fara hanya mengangguk menyetujui.


"Silahkan!" Bagus menyodorkan pamflet menu serta sebuah notebook untuk mencatat pesanan pada Kenan dan Fara, setelah ia mencatat pesanannya sendiri.

__ADS_1


Setelah Kenan dan Fara juga selesai mencatat pesanannya, Bagus memanggil layanan pemesanan dengan interkom khusus yang tersedia di ruangan private itu. Memang fasilitas cafe ini sudah terbilang bagus dan maju sebelum berpindah kepemilikan ke tangan Bagus.


"Apakah kita langsung saja memulai pembicaraan, atau nanti setelah pesanan siap?" tanya Bagus meminta pendapat. Sebenarnya pertanyaan itu ditujukan khusus pada Fara, namun untuk menghormati Kenan, ia menggunakan kata subjek 'kita'.


"Saya, terserah kalian saja." Kenan menggedikan bahunya santai.


"Sebaiknya kita langsung mulai saja karena Fara dan suami Fara harus kembali bekerja setelah ini." jawab Fara dengan alasan sekenanya.


Namun bagi Bagus, alasan itu terkesan seolah Fara tidak ingin berlama - lama menghabiskan waktu bersamanya. Tentu saja itu membuatnya teramat sangat sakit hati, terutama tiap kali Fara menyebutkan identitas Kenan sebagai suaminya dengan tanpa beban sedikitpun. Awalnya ia pikir itu hanya sandiwara yang dilakukan Fara untuk membalas sakit hatinya kepada Bagus yang membatalkan pernikahan mereka secara sepihak dan tanpa alasan. Bukan tanpa alasan Bagus berpikir demikian. Pasalnya, dari nara sumber yang ia dengar, Fara tidak bahagia dengan pernikahannya dan bahkan tersiksa. Kalian tahulah siapa identitas nara sumber itu. Siapa lagi kalau bukan Gabela.


Bagus sempat shock saat Gabela menyatakan fakta bahwa Fara telah menikah dengan Kenan. Ia sama sekali tidak tahu tentang itu sebelumnya, karena memang pernikahan Kenan dan Fara belum dipublikasikan. Awalnya ia berniat akan menemui Fara dan menjelaskan alasannya membatalkan pernikahan mereka setelah situasi mulai membaik. Namun setelah Gabela menyatakan betapa naasnya kondisi rumah tangga pernikahan Fara, ia mempercepat niatnya. Ia tidak berharap Fara akan memaafkannya dan mau kembali padanya, ia hanya berharap Fara mengakhiri pernikahannya dengan Kenan jika itu Fara lakukan hanya untuk membalas sakit hati atas pengkhianatan nya yang sejatinya bukan keinginannya sendiri. Ia sangat menyayangi dan mencintai Fara, sehingga ia sangat tak rela Fara menderita.


Namun apa yang Bagus dapati sekarang? Sejak tadi ia tidak menemukan sedikitpun raut kesedihan di wajah Fara, terlepas dari kantung mata Fara yang terlihat sedikit sembab yang Bagus yakini akibat menangis cukup lama semalam. Tapi entah mengapa, Bagus tidak dapat mengartikan itu sebagai tangisan kepiluan, setelah melihat sorot mata Fara yang menyiratkan bahwa wanita itu sedang baik - baik saja, bahkan terkesan sedang bahagia yang tentu saja kebahagiaan itu bukan karena bertemu dengan dirinya.


Bagus jadi bertanya - tanya, apakah Gabela telah membohonginya? Kalau memang ia telah dibohongi, lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Tetap pada tujuannya untuk menjelaskan alasan sebenarnya, mengapa dirinya membatalkan pernikahan mereka? Atau mengurungkannya karena ia takut bisa membuat Fara bimbang dalam meneruskan rumah tangganya dengan Kenan. Jujur, Bagus dapat melihat itu, tatapan penuh cinta yang Fara tujukan pada Kenan, tatapan yang bahkan tidak pernah ia dapatkan sebagai mantan kekasih Fara.


Bukannya selama ini Bagus sama sekali tidak tahu tentang perasaan Fara yang sesungguhnya pada dirinya. Ia sangat tahu dan sadar bahwa Fara tidak pernah mencintainya. Namun saking besarnya kecintaannya kepada Fara, Bagus memilih menutup mata sembari berharap dan yakin bahwa suatu saat nanti cintanya akan terbalas. Tapi sepertinya, kini harapan dan keyakinan itu pupus sudah. Sakit hati? Tentu saja, Bagus merasakan hatinya sangat perih bagai teriris sembilu, sakit tapi tak berdarah. Namun sekali lagi, saking besarnya kecintaannya kepada Fara, Bagus mencoba ikhlas dan justru sangat besar harapannya untuk kebahagiaan Fara.

__ADS_1


"Baiklah, tapi sebelum itu ada yang pingin Mas pastiin. Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Bagus sembari menatap kompleks pada Fara kemudian.


__ADS_2