
Ceklek...
"Sampai jumpa nanti malam Dokter Fara." ucap Mita sembari tersenyum simpul pada Fara yang menunggu di depan bilik konsultasi pasien penyakit dalam. Lantas tanpa mempedulikan Fara yang termangu kebingungan, wanita itu langsung berlalu begitu saja.
"Sampai jumpa nanti malam?" gumam Fara mencoba memahami maksud ucapan Mita barusan sembari terus menatap punggung wanita itu dari belakang.
Ceklek...
Belum sempat Fara menemukan jawaban dari kebingungannya, pintu bilik kembali terbuka disusul keluarnya sosok Kenan dan dokter Adnan.
"Eh, sayang, kamu nungguin Kakak?" Kenan langsung bertanya dengan sedikit terkejut mendapati Fara berada di depan bilik. Berhubung sekarang sudah masuk waktu istirahat siang, ia pikir Fara sudah berada di kantin rumah sakit bersama Nabila dan Ju Woon seperti yang sudah - sudah.
Fara pun berbalik demi mendapati dokter Adnan yang sedikit menunduk singkat sembari tersenyum padanya yang dibalasnya dengan tindakan serupa, sebelum pria paruh baya itu berlalu menuju meja kerjanya. Lalu Fara menghadap Kenan "Iya Kak, Kak Ken udah selesai kan?"
Kenan mengangguk "Hm, bentar ya, Kakak simpan jas Kakak dulu." jawabnya, lalu beranjak menuju meja kerjanya yang diikuti Fara dari belakang. "Sip, ayo!" ajaknya sembari menyodorkan sebelah lengan tangannya untuk digamit oleh Fara kemudian, setelah melepas dan menyampirkan dengan rapih jas dokter yang sejak tadi ia kenakan pada kursi kebesarannya.
Fara dengan senang hati menyambut dan menggamit lengan Kenan.
"Kami ke kantin dulu ya, Dokter Adnan!" mewakili dirinya serta Fara, Kenan menyempatkan berpamitan pada dokter Adnan yang hanya ditanggapi dengan anggukan mengiyakan oleh pria paruh baya itu, lantas ia pun menuntun sang istri keluar dari Dirut's Room.
Bruk...
"Kak, tadi waktu Nona Asmita keluar dari bilik konsultasi pasien penyakit dalam sebelum Kak Ken dan Dokter Adnan, dia sempat ngomong sama Fara. Katanya sampai jumpa nanti malam. Apa Kak Ken tau maksudnya?" tanya Fara begitu keduanya keluar dari Dirut's room dan mulai berjalan santai menuju kantin.
"Oh itu, mungkin maksud Mita, kita. Kakak ngajak dia makan malam bersama dengan kita nanti malam. Katanya ada yang pingin dia tanyakan ke Kakak tentang masalah yang cukup pribadi." jawab Kenan santai.
Deg...
Detak jantung Fara berpacu dengan cepat mendapati salah satu masalah yang sempat membuatnya resah akan segera terjadi. Ia tahu, pasti Mita ingin menanyakan perihal hubungannya dengan Kenan dimasa lalu seperti yang wanita itu nyatakan tempo lalu kepada dirinya saat Kenan berada di Swiss. Sembari terus berusaha mengendalikan detak jantungnya, Fara mencoba menerka - nerka apa yang akan terjadi pada pertemuan mereka dengan Mita nanti malam.
__ADS_1
"Hmm? Ada apa sayang?" tanya Kenan yang dapat mendeteksi kegugupan Fara akibat istrinya itu tiba - tiba semakin mengeratkan gamitannya pada lengan tangannya sesaat setelah mengucapkan jawabannya barusan.
"Ugh, eh, ma- maksud Kakak?" Fara mencoba berkelit dengan sedikit gelagapan balik bertanya seolah tak mengerti maksud pertanyaan Kenan.
"Kamu kok tiba - tiba jadi gugup gitu, hmm?"
"Si- siapa yang gugup?"
"Ya, kamu lah, masa Kakak."
"Ah, itu cuman perasaan Kakak aja kali."
"Hmm? Benarkah?"
Sementara Kenan yang terus mencoba mendesak dan Fara yang terus mencoba berkelit, tanpa terasa mereka telah tiba di kantin yang memang sejak tadi mereka mengobrol sambil terus berjalan.
"Iya, itu pasti perasaan Kak Ken doang. Udahlah, kita udah sampe nih, gak usah bahas itu lagi, gak penting. Mending kita langsung aja gabung bareng Nabila dan Ju Woon." Fara memanfaat ketibaan mereka tersebut untuk mengakhiri obrolan yang membuatnya semakin terdesak.
Kenan dan Fara pun langsung menghampiri Nabila dan Ju Woon yang telah melambai dari salah satu meja makan begitu keduanya memasuki kantin.
"Selamat siang Hyung, Noona." sapa Ju Woon berbasa basi setelah Kenan dan Fara telah menduduki masing - masing kursi yang memang tersedia untuk keduanya, bergabung bersama dirinya dan Nabila di satu meja makan.
"Siang Bocah."
"Siang Ju Woon."
Seperti biasa, hanya Fara yang membalas dengan ramah sedang Kenan dengan agak judes. Namun kali ini Kenan tak menambahkan embel - embel 'gak berahang' yang selalu ia tambahkan setelah kata 'bocah' setiap kali memanggil Ju Woon.
"Ck..." dan seperti biasa pula Ju Woon membalas Kenan dengan mencebik sinis tak terima "Ju Woon tau kok Hyung udah tua, tapi masa nama Ju Woon aja gak bisa Hyung ingat?"
__ADS_1
"Ehem..." Fara segera berdehem teredam demi mencegah Kenan yang hendak mendebat Ju Woon.
Sementara Nabila yang hanya diam semenjak ketibaan Kenan dan Fara, memutar kedua bola matanya malas nan jengah. Sama seperti Fara, ia juga sudah cukup hapal ketika Kenan dan Ju Woon akan berdebat. Ralat, bukan cukup hapal, tapi ia benar - benar yakin bahwa setiap kali bertemu, Kenan dan Ju Woon pasti akan berdebat lebih dulu.
Tak bisa membantu, Kenan dan Ju Woon yang menyadari kejengahan kekasih mereka, hanya bisa kompak menyengir kikuk.
"Ngomong - ngomong, Kak Andre kemana Far? Tumben gak bareng sama lo?" tanya Nabila kemudian, sekaligus memecah keheningan yang sempat terjadi.
"Ugh..." sesaat Fara tertegun speechless, sembari dengan takut - takut melirik Kenan, ingin melihat ekspresi suaminya itu. Ia benar - benar lupa memberitahukan kepada Kenan bahwa selama hampir seminggu ini sejak Andre kembali bekerja di NF Hospital, pria itu selalu mengekor di sisinya termasuk makan siang bersama di kantin, kecuali saat jam kerja karena ruang kerja mereka berbeda.
Sedikit tidak disangka, Fara mendapati Kenan tak menunjukan reaksi apapun. Ekspresi suaminya itu terlihat biasa saja seolah telah mengetahui perihal Andre yang selalu mengekor di sisinya kala berada di lingkungan NF Hospital.
"Hmm? Ada apa sayang?" Kenan malah kebingungan dengan Fara yang sangat jelas menatapnya dengan takut - takut.
"Emm, itu Kak, Fara lupa ngasih tau Kakak masalah Andre yang___"
Kenan mengibaskan tangannya santai yang sukses membuat Fara menghentikan ucapannya "Oh itu, gak apa - apa, Kakak udah tau kok. Ju Woon udah ngasih tau Kakak." ujarnya sekaligus secara tidak langsung membocorkan tindakan Ju Woon yang ternyata selama hampir seminggu ini mengawasi Fara dan Andre secara diam - diam.
Namun Fara bukannya marah, ia malah tersenyum penuh terima kasih pada Ju Woon yang dibalas adik iparnya itu dengan senyuman santai. Lalu ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Kenan "Maaf ya Kak, Fara bukannya gak mau ngasih tau, Fara beneran lupa." ucapnya penuh kesungguhan.
Kenan tersenyum santai "Gak apa - apa sayang. Gak penting juga kok. Lagian Kakak tau kalo itu semua juga bukan keinginan kamu. Si Andre nya aja yang gak tau malu ngekorin kamu mulu." tanggapnya bijak dan menyalahkan Andre sepenuhnya. "Dan Kakak juga tau kalo kamu gak enak hati aja buat ngelarang dia kan?" imbuhnya menebak setelah jeda singkat.
"Hufh..." Fara mend*sah tak berdaya "Gitulah kak." jawabnya membenarkan tebakan Kenan.
Kenan mengusap - usap lembut puncak kepala Fara "Udah, gak apa - apa sayang, nanti Kakak yang ngelarang dia."
Fara pun tersenyum syahdu pada Kenan "Terima kasih Kak."
"Kamu gak perlu berterima kasih sayang, itu emang tugas Kakak buat nyingkirin bibit - bibit pebinor seperti si Andre itu." tanggap Kenan sembari tersenyum geli.
__ADS_1
"Haha..." sontak Ju Woon tertawa singkat "Bener tuh Hyung, emang si Andre itu bibit - bibit pebinor." ucapnya sependapat dengan Kenan. "Aww..." sejurus kemudian ia tiba - tiba memekik tertahan sembari meringis dan mengusap - usap sebelah sisi pinggangnya yang terasa sedikit kebas akibat baru saja menerima cubitan cukup keras dari Nabila yang duduk tepat di sampingnya.
"Sstt..." Nabila menempelkan jari telunjuknya pada bibir serta ujung hidungnya sendri kala Ju Woon menoleh padanya "Abang kalo ngomongin orang, pelan - pelan dikit napa? Kan gak enak kalo ada orang lain yang dengar selain kita." ujarnya setengah berbisik mengingatkan Ju Woon bahwa mereka tengah berada di tempat umum. Ia yakin, Ju Woon pasti melupakan hal itu sehingga dalam membenarkan ucapan Kenan barusan, kekasihnya itu berucap dengan cukup keras yang sukses menarik perhatian pengunjung kantin yang duduk di sekitar meja makan yang mereka tempati.