
"Menurut Hyung, Ju Woon harus gimana?" Ju Woon meminta pendapat Kenan.
Saat ini tengah dalam waktu istirahat siang. Kenan dan Ju Woon memutuskan makan siang berdua saja di Dirut's Room. Sedangkan dokter Fara, Nabila dan dokter Adnan makan siang di kantin rumah sakit.
Rencananya, Kenan dan Ju Woon akan mendiskusikan solusi agar Nabila diterima sebagai menantu dalam keluarga Choi, dimana kedua keluarga akan mengadakan pertemuan pekan depan. Oleh karena itu, untuk mengelabui Fara dan Nabila yang tadinya ingin ikut serta makan siang bersama pria mereka di Dirut's Room, Kenan dan Ju Woon berdalih ingin membahas perihal bisnis yang akan menjadi topik membosankan untuk didengar oleh kedua wanita itu sepanjang sesi makan berlangsung. Adapun dokter Adnan, hanya dengan isyarat kedipan mata langsung dibuat sadar diri bahwa Kenan dan Ju Woon akan membahas sesuatu yang bersifat privasi, sehingga memutuskan ikut serta bersama Fara dan Nabila.
"Aku akan ikut hadir dalam pertemuan itu dan mengaku sebagai kerabat Nabila. Seharusnya itu cukup kan?" usul Kenan menawarkan diri sebagai back up Nabila.
"Hm, seharusnya cukup sih Hyung, cukup banget malah. Tapi,,," Ju Woon tidak melanjutkan ucapannya.
Kenan mengibaskan tangannya santai pada Ju Woon "Tenang aja. Aku kan udah pernah bilang kalo hubungan Fara dan Nabila udah seperti keluarga yang otomatis aku dan Nabila juga demikian. Dengan mengenalkan diriku sebagai kerabat Nabila di depan keluargamu hanyalah caraku untuk menegaskannya. Jadi, kamu gak perlu sungkan dan merasa tak enak hati karena berpikir telah memperalat diriku." tuturnya seolah tahu isi hati Ju Woon yang memang merasa sungkan dan tak enak hati.
Ju Woon pun tersenyum syahdu pada Kenan. Meskipun tak sepenuhnya, penuturan Kenan benar - benar sukses mengurangi rasa sungkan dan tak enak hatinya. Terlepas dari nilai penuturan Kenan yang memang benar adanya, fakta bahwa pada kasus ini ia memperalat Kenan juga tak terbantahkan. Namun ia tak punya pilihan lain selain menerima usulan Kenan untuk diperkenalkan sebagai kerabat Nabila. Memang sejak awal Ju Woon berniat menggunakan cara itu yang ia pikir sebagai satu - satunya cara yang paling efektif dalam kasus ini.
Sejurus kemudian, Ju Woon yang awalnya duduk di sofa, tanpa mementingkan harga dirinya duduk bersimpuh di lantai sembari menundukkan kepala dan mengatupkan kedua tangannya menghadap Kenan yang duduk di sofa seberang. "Terima kasih banyak Hyung." ucapnya penuh ketulusan.
Semua itu terjadi sangat cepat hingga Kenan tak sempat bereaksi dan menghentikan Ju Woon berlaku demikian. Tersadar dari keterkejutan singkatnya, Kenan bergegas menghampiri dan langsung mencoba membangkitkan Ju Woon. "Apa yang kamu lakukan? Cepat bangun!" titahnya dengan nada memarahi.
Namun Ju Woon tak bergeming, sekuat tenaga ia mempertahankan posisinya. "Gak Hyung, ini memang pantas Ju Woon lakuin. Bahkan kalo Hyung mau Ju Woon bersujud, pasti bakal Ju Woon lakuin." demi membuktikan bahwa ia bersungguh - sungguh, di penghujung ucapannya ia benar - benar ingin bersujud.
Namun tentu saja Kenan tidak akan membiarkannya. Tanpa menahan diri lagi, ia memaksa Ju Woon bangkit dan kembali mendudukkan bocah keras kepala itu di sofa. "Ck..." decak nya kesal "Berhenti ngelakuin hal gak berguna itu! Aku gak butuh." bentaknya dengan suara meninggi 1 oktaf.
Seketika Ju Woon menghentikan perjuangannya yang ingin kembali bersimpuh dan bersujud pada Kenan. Ia tahu Kenan benar - benar marah saat ini. "Ma- maaf Hyung, Ju Woon pikir itu memang pantas Ju Woon lakuin. Yang Hyung katakan memang benar, tapi tetap faktanya Ju Woon memperalat Hyung dalam kasus ini." cicitnya berusaha membenarkan tindakannya sembari menunduk tak berani bertemu tatap dengan Kenan.
"Humps..." Kenan mendengus "Pers*tan dengan fakta, atau apapun itu! Emangnya aku peduli? Gak sama sekali." tegasnya menggebu - gebu dengan wajah memerah padam.
Glek...
__ADS_1
Ju Woon meneguk saliva susah paya sembari menunduk lebih dalam. Ia sudah benar - benar kehilangan nyali untuk berusaha membenarkan diri.
Mendapati Ju Woon yang terbungkam, Kenan kembali beranjak duduk pada sofa yang ia duduki sebelumnya sambil melonggarkan simpulan dasi di kerah kemejanya. Saking geramnya, ia tiba - tiba merasa gerah.
Tok tok...
Baru saja Kenan hendak lanjut menghakimi Ju Woon, kehendaknya diurungkan oleh ketukan pintu dari luar ruangan.
"Masuk!" seru Kenan mempersilahkan kepada sang pengetuk untuk masuk. Ia yakin, sang pengetuk adalah OB/OG yang diperintahkan memesankan dirinya dan Ju Woon makanan.
Ceklek...
Dan benar seperti dugaan Kenan, sesaat setelah pintu terbuka, masuklah sesosok pemuda berusia kisaran 20 tahunan dengan setelan seragam khas OB/OG NF Hospital.
"Permisi Prof, Tuan!" Izin pemuda itu berniat menata pesanan yang dibawanya ke atas meja santai yang berada diantara Kenan dan Ju Woon.
Pemuda berseragam OB itu pun mulai menata dengan gesit dan telaten sembari berusaha tidak melakukan kesalahan sekecil apapun. "Saya pamit undur diri Prof, Tuan." pamitnya kemudian, setelah semua pesanan sudah tertata rapih di atas meja.
Kenan dan Ju Woon hanya mengangguk sembari tersenyum tipis mempersilahkan.
Bruk...
Sesaat setelah sosok pemuda berseragam OB itu menghilang di balik pintu tertutup, suasana dalam ruangan kembali menegang dan mencekam bagai Ju Woon. Di bawah tatapan tajam Kenan, Ju Woon kembali menundukkan kepalanya dalam - dalam.
"Ayo makan!" ajak Kenan setelah keheningan singkat yang sukses membuat Ju Woon bernafas lega. Namun sesaat kemudian Ju Woon kembali menhan nafas kala Kenan melanjutkan dengan berucap "Sebaiknya abis makan, kamu nemuin cara yang bisa nyenangin aku, biar gak marah lagi."
Glek...
__ADS_1
Sekali lagi Ju Woon meneguk saliva susah paya sembari menggigit bibir bawahnya keras - keras. Ia benar - benar menyesal telah sok - sokan bersikap layaknya pria gentleman yang rela merendahkan harga dirinya demi mengakui kesalahan yang dilakukannya.
Sungguh ini benar - benar sesi makan siang terburuk bagi Ju Woon. Bagaimana tidak? Sembari makan, ia harus memeras otak berpikir keras untuk menemukan cara untuk menyenangkan Kenan nanti.
Sementara Kenan, pria itu seolah tidak mengizinkan Ju Woon untuk dapat berpikir tenang. Sembari makan, ia terus menatap intimidasi pada Ju Woon seolah makanan yang tengah dikunyah nya itu adalah Ju Woon.
Glek...
Entah sudah ke berapa kalinya Ju Woon susah paya meneguk saliva. Makanan yang dimakannya pun terasa hambar. Ia tak lagi dapat membedakan mana nasi mana lauk, semua terasa sama di lidahnya.
Eeekkk...
Kenan bersendawa panjang setelah menghabiskan makanannya. Sepertinya pria itu benar - benar menikmati dan merasa puas dengan makanan yang baru saja dilahapnya.
Sedangkan Ju Woon, makanan di piringnya bahkan belum setengah berkurang dari porsi awal, dan ia sudah tidak sanggup makan lagi. Bukan karena porsinya kebanyakan, tapi selera makannya telah hilang. Ralat, bukan hilang, tapi memang ia tak berselera makan sedikitpun sejak awal sesi makan tadi. Namun, walaupun tak sanggup, ia tetap terus makan. Jika ia menyerah dan berhenti, Kenan pasti tak akan membiarkannya mubasir membuang - buang makanan. Dan bisa dipastikan, jika ia membantah, maka Kenan pasti akan lebih marah pada dirinya. Kemarahan Kenan yang sebelumnya saja, belum ia temukan cara untuk meredakannya. Jadi, mana mungkin ia membuat Kenan semakin marah.
'Ayo Ju Woon, kamu pasti bisa!' Ju Woon membatin menyemangati dirinya sendiri yang tengah berada di ambang menyerah.
"Ck... Kamu makan kayak Kakek - Kakek ompong aja, lemot banget." Kenan malah menghardik Ju Woon yang makan sangat pelan.
Sumpah demi apapun, Ju Woon benar - benar ingin menangis, ia merasa teraniaya.
"Dan lagi, kenapa mukamu merah gitu? Kepedasan? Perasaan sambal lauknya biasa aja. Bos besar mafia apaan kamu? Segitu doang, kepedasan. Dasar banci!" Kenan terus saja mengoceh menghardik tanpa mempedulikan perasaan Ju Woon yang hanya bisa diam dan pasrah sembari terus berusaha menghabiskan makanannya.
5 menit kemudian...
Akhirnya Ju Woon berhasil menghabiskan makanannya setelah melalui perjuangan fisik dan batin yang sangat melelahkan. Fisiknya berusaha mencerna makanan yang dilahapnya, sedang batinnya berusaha mencerna ocehan Kenan yang terus menghardiknya. Memang benar kata Kenan, lauknya tidak pedas, yang pedas justru kata - katanya.
__ADS_1