
Drrt drrt...
Sekitar pukul 1 dini hari ponsel Fara yang terletak di atas nakas, bergetar notifikasi pesan masuk. Fara yang memang masih terjaga segera meraih ponselnya dengan penuh antusias, samar - samar ia dapat menebak siapa sang pengirim pesan tersebut.
Benar saja, mata Fara langsung berbinar - binar bahagia kala melihat nama sang pengirim pesan yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kenan, suaminya yang telah ia rindukan setengah mati seharian ini.
'Assalamualaikum sayang, Kakak udah sampe nih. Miss you more.' begitulah isi pesan Kenan yang dibubuhi emote icon 'mencium' total 3 buah diakhir kalimat pesannya.
'Waalaikumsalam, alhamdulillah. Miss you more too Kak.' balas Fara menyertakan total 3 buah emote icon 'mencium' pula di akhir kalimat pesannya.
Drrt drrt...
Tak sampai 10 detik kemudian ponsel Fara kembali bergetar. Kali ini bukan notifikasi pesan, melainkan notifikasi panggilan vidio. Tanpa berpikir panjang Fara langsung menerima panggilan tersebut dan tampaklah tubuh bagian atas serta wajah Kenan di layar benda pipih kesayangan sejuta umat miliknya itu.
Samar - samar Fara dapat menebak bahwa Kenan baru saja menyelesaikan ritual mandi, berdasarkan pakaian yang dikenakan suaminya itu, yakni jubah mandi serta rambut yang masih tampak basah dan wajah yang fresh.
"Assalamualaikum sayang, kamu kok belum tidur?" itulah ucapan pertama Kenan sesaat setelah panggilan terhubung, dengan intonasi yang sedikit terdengar marah.
Seketika senyuman ceria yang sejak tadi terpatri di wajah Fara memudar dan berganti dengan bibir mengerucut cemberut. "Waalaikumsalam. Kenapa, Kak Ken gak senang ya, Fara jawab panggilannya?"
"Hufh..." Kenan tampak menghembuskan nafas berat di seberang sana "Bukan gitu sayang, Kakak senang kok, pake bangeet malah. Tapi, inikan udah tengah malam di sana, kok sayangnya Kakak belum tidur?" ujarnya lembut mengklarifikasi kesalahpahaman Fara.
"Hehe..." Fara malah menyengir "Abisnya Fara gak bisa tidur sih, dari tadi mikirin Kakak mulu." keluhnya sedih.
Kenan tersenyum syahdu "Hm, ok lah Kakak ngerti. Tapi, kamu juga musti jaga kesehatan sayang. Ingat loh, sekarang kamu gak sendirian lagi, pikirin juga dede bayi di dalam sana. Kalo Ibunya stress, dede bayinya pasti sedih." ya, sejak kehamilan Fara, inilah senjata yang selalu Kenan gunakan untuk membujuk sang istri, mengingatkan tentang kehamilannya.
Fara menggigit bibir bawahnya keras - keras "30 menit lagi ya Kak, Fara masih pingin ngobrol sama Kakak. Fara masih kangen banget." tawarnya mengiba.
Kenan menggeleng "Kelamaan, kan kita bisa telponan lagi besok."
__ADS_1
"Ck..." Fara mencebik kesal "20 menit deh." tawarnya lagi dan hanya di tanggapi dengan gelengan tegas oleh Kenan isyarat menolak tawarannya.
"10 menit, ya, ya, ayolah Kak, please!" Fara merengek dengan ekspresi semenyedihkan mungkin.
"Hufh..." sekali lagi Kenan menghembuskan nafas berat di seberang sana "Baiklah." putusnya kemudian, berkompromi menerima tawaran Fara.
Dan Fara pun kembali tersenyum ceria. "Terima kasih Kak."
Setelahnya Fara dan Kenan mengobrol mesra mengungkapkan kerinduan mereka terhadap satu sama lain. Tak terasa 10 menit sudah berlalu dan Fara dengan berat hati harus merelakan panggilan mereka diakhiri.
"Jangan sedih ya sayang, Kakak juga pingin banget lama - lama ngobrol sama kamu kok. Tapi, Kakak gak mau kamu sama dede bayi sakit karena tidur kemalaman. Besok kita sambung lagi video callannya deh." hibur Kenan setelah berhasil membujuk Fara.
"Hm." sahut Fara malas.
"Ayo dong sayang, jangan ngambek gitu, nanti cantiknya ilang loh. Kalo Kakak gak cinta lagi sama Nisha gimana?"
Tentu saja Kenan hanya bercanda, berniat menggoda Fara. Namun Fara menanggapinya dengan serius. Seketika Fara mencoba menepis rasa ngambeknya dan tersenyum semanis mungkin pada Kenan. "Fara gak ngambek kok, liat nih, Fara masih cantik kan?"
"Te- tentu aja Kak, Fara baik - baik aja kok."
"Beneran?" Kenan tampak tak percaya sembari menatap lekat - lekat wajah Fara.
"Iya Kak, beneran." Fara mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk simbol 'V'.
"Hm, mungkin perasaan Kakak aja kali."
'Hufh...' Fara menghembuskan nafas lega dalam hati. Ia sangat tahu tentang kepekaan Kenan yang tinggi. Pasti beberapa saat yang lalu Kenan menangkap keresahan dalam ekspresi serta nada suaranya.
Ya, beberapa saat yang lalu Fara memang sempat resah mendengar candaan Kenan yang menyatakan, tak mencintai dirinya lagi jika tak cantik lagi. Meskipun ia tahu Kenan hanya bercanda, entah mengapa ia tiba - tiba diliputi rasa takut.
__ADS_1
Tidak, bukan Fara tak tahu mengapa. Ia sangat tahu bahwa tanpa sadar ia mengartikan candaan Kenan sebagai ancaman. Bukan karena ia tak yakin seberapa besar Kenan mencintai dirinya hingga tak memandang fisik, ia hanya takut kalau itu benar - benar terjadi. Alasannya, tidak lain dan tidak bukan adalah Mita.
Ya, Mita. Entah mengapa saat mendengar candaan Kenan tadi, Fara tiba - tiba teringat percakapannya dengan Mita siang tadi. Kala Mita menanyakan prasangkanya yang merasa Kenan sangat mengenali dirinya saat pertemuan pertema mereka, Fara menjawab dengan berkelit bahwa itu hanya perasaan Mita saja. Namun Mita tak percaya dan menyatakan akan menanyakannya secara langsung pada Kenan nanti pada pertemuan mereka selanjutnya. Dan dengan percaya dirinya Mita menebak bahwa dirinya dan Kenan pasti punya hubungan spesial dimasa lalu.
Itulah salah satu alasan yang membuat Fara resah sejak tadi, hingga masih terjaga sampai detik ini. Ia harap - harap cemas menantikan pertemuan Kenan dan Mita selanjutnya yang ia tahu tidak akan bisa berbuat apapun untuk mencegah terjadinya pertemuan tersebut. Sekali lagi, terbesit di benak Fara ingin menanyakan perasaan Kenan yang sebenarnya kepada Mita. Namun sekali lagi pula ia terlalu takut untuk melakukannya.
"Sayang, kok diam aja?" tegur Kenan dari seberang sana mendapati Fara malah terdiam tidak menanggapi ucapannya yang menyatakan bahwa hanya perasaannya saja, mengira Fara tengah merasa resah.
"Eh, i- ini Kak, sepertinya Fara udah ngantuk deh. Hoam..." Fara mencoba berakting senatural mungkin kala tersadar dari lamunannya, dengan pura - pura menguap.
"Hmm... Ya udah, kalo gitu, sekarang kamu tidur ya!" titah Kenan langsung percaya begitu saja. Mungkin karena memang menginginkan Fara segera tidur, hingga tak mau bertanya lebih jauh lagi.
"Baiklah Kak." dengan patuh Fara menurut sembari tersenyum hangat pada Kenan.
Kenan balas tersenyum hangat "Nah, ini baru namanya Istri Kakak. Love you more sayang, semoga mimpi indah."
"Amin. Love you more too Kak."
"Ok lah, video callnya Kakak matiin ya. See you sayang, assalamualaikum." Kenan melambaikan tangannya di seberang sana.
Fara pun balas melambaikan tangannya pula "Iya Kak. See you too, waalaikumsalam."
"Hufh..." Fara mend*sah berat sesaat setelah panggilan vidio berakhir dan menyirnakan tampang Kenan dari layar ponselnya. "Semoga ketakutan ku tidak terjadi, Amin." gumamnya berdoa penuh harap sebelum kembali meletakan ponselnya di atas nakas.
Lantas Fara kembali berbaring berbalut selimut di atas ranjang seperti yang ia lakukan tadi sebelum menerima pesan dari Kenan. Namun ia tak langsung memejamkan mata, melainkan memandangi langit - langit kamar dengan tatapan menerawang. Ia masih mencoba menerka - nerka apa yang akan terjadi pada pertemuan Kenan dan Mita selanjutnya.
Apakah Kenan akan menjawab jujur dengan mengatakan bahwa dirinya dan Mita pernah tinggal di panti asuhan yang sama dan hubungan mereka sangat dekat? Apakah Kenan juga akan mengakui bahwa alasannya menjadi dokter tidak lain dan tidak bukan karena Mita? Lalu, akan seperti apa reaksi Mita saat mengetahui semua itu? Apakah Mita akan menggunakan fakta itu untuk kembali memasuki kehidupan Kenan dan menyingkirkan keberadaan Fara?
Itulah pertanyaan - pertanyaan yang terus berkecamuk dalam benak Fara usai percakapannya dengan Mita siang tadi. Siapapun akan dapat langsung menebak bahwa Mita menaruh hati pada Kenan yang sangat jelas tersirat dari sorot penuh pemujaan dalam netra Mita setiap kali melihat Kenan. Mungkin kedambaan Mita terhadap Kenan lebih besar dari kedambaan Gabela terhadap Kenan. Pikir Fara mencoba membandingkan dengan mengingat sorot netra Gabela dulu setiap kali melihat Kenan. Memikirkan itu, sungguh Fara benar - benar gegana, alis gelisah galau merana dibuatnya.
__ADS_1
Hingga entah memang karena sudah mengantuk, atau lelah dengan gegana nya, air wajah Fara perlahan mulai sayup hingga matanya terpejam dengan sendirinya tanpa ia sadari.