Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Apa Tujuan Mita?


__ADS_3

"Hufh..." untuk kesekian kalinya Fara mend*sah lesu. Saat ini masih pukul 10 pagi yang berarti 4 jam lebih sudah ia berpisah dengan Kenan. Sungguh baru selama itu saja, ia sudah sangat merindukan Kenan setengah mati. Sembari duduk malas di kursi kebesarannya, ia membaringkan kepalanya miring di atas meja kerjanya.


"Hufh..." Nabila yang duduk di sisi seberang meja berhadapan dengan Fara, ikut - ikutan mend*sah. Bedanya, ia mend*sah jengah mendapati Fara yang sejak tadi terus mend*sah lesu. Tentu saja ia tahu apa yang sedang Fara alami, apa lagi kalau bukan galau akibat merindukan Kenan setengah mati. "Ayolah Far, ini baru 4 jam lebih loh. Dan lo udah kayak zombie aja." ucapnya mencoba menyemangati Fara sembari geleng - geleng kepala.


"Lo gak tau sih gimana rasanya jadi gue. Gue tuh gak bisa banget jauh - jauh dari Kak Ken." adu Fara melankolis sembari terus mempertahankan posisinya.


Nabila memutar kedua bola matanya malas "Ya elah, gue aja yang udah seharian lebih gak ketemu Abang Ju Woon, biasa aja." ia malah curhat. Ya memang benar, sejak kemarin ia tak bertemu Ju Woon. Namun komunikasi mereka tetap lancar, dimana Ju Woon mengabarkan bahwa dirinya sedang berada di Bandung mengurusi bisnisnya di sana dan akan kembali ke Jakarta besok malam.


"Ck..." Fara mencebik kesal "Itu mah beda, komunikasi kalian lancar. Lagian pacar tukang ngigo aneh mu itu besok malam udah balik ke Jakarta juga."


"Asem, biarpun tukang ngigo aneh gitu, Abang Ju Woon ku tetap ganteng kok." Nabila tidak menyangkal, namun tetap membela dengan memuji ketampanan Ju Woon. Ia jadi ikut - ikutan kesal karena Fara menjelek - jelakan Ju Woon.


Ya, Nabila sudah mengetahui aib palsu Ju Woon yang dikarang Kenan. Inilah yang menjadi salah satu alasan Ju Woon pergi ke Bandung mengurusi bisnisnya yang padahal bisa dihandle oleh asistennya. Ju Woon hanya ingin menjauh untuk beberapa waktu dari Nabila, berharap Nabila akan melupakan aib palsunya itu ketika ia kembali ke Jakarta nanti. Namun sepertinya harapannya hanyalah harapan semu karena Fara baru saja mengungkitnya lagi.


"Ganteng - ganteng kok tukang ngigo, aneh pula." akhirnya Fara bangkit dari berbaring nya dan duduk tegak menghadap Nabila. Walaupun tidak sepenuhnya, perdebatan tak berfaedah nya dengan Nabila ini cukup mengurangi kerinduannya kepada Kenan.


"Ugh..." Nabila tertegun speechless sesaat, tak bisa menyangkal "Bi- biarin, yang penting gue tetap cinta."


"Heleh, gini nih sekalinya jones jatuh cinta, gampang banget dibutain sama cinta."


"Humps..." Nabila hanya mendengus kesal, tak tahu lagi apa yang harus ia ucapkan untuk membela diri, sedang Fara dengan bangganya tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Permisi, bolehkah saya ikut gabung mengobrol dengan kalian?" tiba - tiba entah sejak kapan, sesosok wanita sudah berdiri di salah satu susut meja kerja Fara. Dengan sopan nan ramah wanita itu meminta izin ingin ikut mengobrol bersama Fara dan Nabila.


Sontak perhatian Fara dan Nabila teralihkan pada sang wanita yang ternyata adalah Mita yang baru beberapa saat yang lalu selesai melakukan konsultasi dengan dokter Adnan di bilik konsultasi pasien penyakit dalam.


"Eh, Nona Asmita, te- tentu saja boleh, silahkan!" Fara yang mempersilahkan dengan sedikit salah tingkah yang entah mengapa, tiba - tiba saja ia menjadi gugup.


Ralat, bukan Fara tak tahu mengapa, ia sangat tahu apa yang membuatnya tiba - tiba menjadi gugup. Apa lagi kalau bukan karena hubungan antara Kenan dan Mita dimasa lalu. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Mita. Namun, ia tak punya alasan untuk tidak memperbolehkan Mita ikut mengobrol bersama dirinya dan Nabila, terlebih lagi untuk mengusirnya. Iapun tak sampai hati.


"Hm, terima kasih Dokter Fara." Mita tersenyum begitu ramah pada Fara. Lantas diambilnya sebuah kursi yang tersedia tak jauh dari situ dan duduk di sisi lain meja kerja Fara.


Sementara Nabila, sejak tadi ia hanya mencoba tersenyum seramah mungkin pada Mita yang sebenarnya tak ia kenali sedikitpun. Memang akhir - akhir ini ia sering menemukan Mita sering berkunjung di Dirut's room. Namun ia tak terlalu menghiraukannya karena berpikir bahwa Mita hanyalah salah satu pasien yang rutin melakukan pemeriksaan. Akan tetapi, mendapati perubahan sikap Fara yang tampak resah dalam pandangannya, Nabila mulai penasaran terhadap sosok Mita.


"Eh, tidak apa - apa Nona Asmita, kami hanya merasa canggung saja karena tidak tahu harus membahas apa dengan anda." dengan cepat Fara mencegah dan berdalih sekenanya yang diangguki Nabila isyarat sependapat.


Sontak Mita mengurungkan kehendaknya sembari menelisik ekspresi Fara dan Nabila, mencari kesungguhan di sana. Entah menemukan apa yang dicarinya atau tidak, sejurus kemudian wanita itu menyunggingkan seulas senyum simpul di sudut bibirnya. "Syukurlah kalau begitu." ucapnya tampak lega.


"Hm." Fara dan Nabila hanya mengangguk sembari balas mengukir senyum senatural mungkin di wajah masing - masing.


"Ngomong - ngomong kalau tidak salah, saya tadi mendengar bahwa Dokter Fara ditinggalkan oleh Profesor Kenan. Maaf jika tidak sopan, memangnya Profesor Kenan kemana?" tanya Mita pada Fara kemudian, yang meski terkesan sungkan namun tampak tak segan. Terlebih lagi dari sekian banyak pilihan kata perumpamaan, Mita malah menggunakan kata 'ditinggalkan' untuk menggambarkan keadaan Fara saat ini.


Bukan hanya Fara, Nabila pun ikut tersinggung dibuatnya. Memang sejak tadi Fara bertanya - tanya, ada angin apa tiba - tiba Mita ingin mengobrol dengan dirinya dan Nabila? Dan sekarang, dengan lancangnya Mita bertutur demikian. Sebaik mungkin Fara mencoba mengontrol emosinya yang mendadak membuncah. Mungkin karena hormon kehamilannya, sehingga ia mudah tersinggung.

__ADS_1


"Maaf Nona Asmita, sepertinya anda salah paham. SUAMI saya bukan meninggalkan saya, dia hanya pergi bertugas ke Swiss dan tak bisa membawa saya bersamanya karena kondisi saya yang sedang tidak memungkinkan." tutur Fara setenang mungkin, meralat sekaligus menjawab pertanyaan Mita sembari menekankan dalam menyebutkan status Kenan sebagai suaminya.


"Ugh..." sesaat Mita tertegun speechless kehilangan kata - kata. Namun sesaat kemudian ekspresinya kembali normal sembari tersenyum sesal "Oh, begitu rupanya. Saya pikir... maaf!" ujarnya memotong pendapat yang hendak ia utarakan, dengan kata 'maaf'.


Kini Fara benar - benar yakin bahwa maksud Mita yang tiba - tiba ingin mengobrol bersama dirinya dan Nabila, tidak lain ingin memancing emosinya. Namun ia tak tahu apa tujuannya. Sembari terus mencoba mengontrol emosinya yang kian membuncah, ia tersenyum senatural mungkin pada Mita. "Tidak apa - apa Nona Asmita. Tapi, ngomong - ngomong ada kepentingan apa anda menanyakan tentang SUAMI saya?" tanyanya kemudian, sembari sekali lagi menekankan kata 'SUAMI' sebagai kata sinonim status Kenan.


Seketika wajah Mita berubah pias nan kikuk kala mendengar pertanyaan Fara. Namun hanya sesaat, sesaat kemudian kembali normal lagi. "Ah, saya hanya ingin melakukan konsultasi mengenai penyakit saya dengan Profesor Kenan." jawabnya tenang.


"Hmm? Bukankah anda baru saja melakukannya dengan Dokter Adnan?"


"Justru Dokter Adnan yang menyarankan saya untuk konsultasi lanjutan dengan Profesor Kenan."


"Benarkah begitu? Lalu, apakah Dokter Adnan tidak memberitahukan kalau SUAMI saya sedang bertugas ke Swiss?" Fara masih tidak percaya.


"Sama sekali tidak." Mita menggedikan bahunya santai.


Fara lalu mengalihkan perhatiannya pada dokter Adnan yang sejak tadi berada di meja kerjanya sendiri. Saat keduanya bertemu tatap, dokter Adnan tersenyum canggung yang mengisyaratkan bahwa dirinya memang tidak memberitahukan tentang perjalanan tugas Kenan serta membenarkan bahwa telah memberikan saran demikian kepada Mita.


Fara pun balas tersenyum santai sembari mengangguk. Lantas ia kembali beralih pada Mita. "Ya sudah, tidak apa - apa. Sekarang setelah mengetahui bahwa SUAMI saya sedang bertugas ke luar negeri, apakah masih ada yang ingin anda tanyakan?" ujarnya berniat segera mengakhiri percakapannya dengan Mita kemudian.


Mita terdiam sejenak, sebelum menanggapi "Ada, sebenarnya saya ingin menanyakan tentang pertemuan pertama kita, dimana saya merasa Profesor Kenan sangat mengenali saya. Bukankah menurut anda juga begitu Dokter Fara?"

__ADS_1


__ADS_2