
'Apapun yang terjadi, Kakak gak bakal biarin kamu ninggalin Kakak, sayang. Kakak bakal lakuin apapun supaya kamu tetap berada di sisi Kakak. Hingga hanya takdir dan ajal yang bisa misahin kita.' Kenan membatin sembari membelai - belai lembut wajah lelap Fara yang berbaring di sampingnya di bawah selimut yang sama tanpa sehelai benangpun melekat di tubuh mereka.
Ya, Kenan baru saja menggempur Fara habis - habisan dan baru berhenti kala istrinya itu kelelahan, hingga terlelap tidur. Namun tenang saja, dalam praktek reproduksi mereka kali ini, Kenan tidak memperlakukan Fara dengan kasar bahkan lebih lembut dari biasanya sembari sangat berharap di rahim Fara segera hadir sosok calon buah hati mereka, Kenan Junior. Entah Kenan yang terlewat mesum, atau telah mencapai jalan buntu, hingga satu - satunya cara yang dapat ia pikirkan untuk dapat mempertahankan Fara tetap berada di sisinya hanyalah dengan cara menghamili istri tercintanya itu. Entahlah.
Memikirkan itu, tiba - tiba ekspresi Kenan menjadi sumringah dengan sorot mata berbinar penuh harap. "Benar juga, perasaan udah sebulan lebih kami nikah, aku belum pernah dapetin Nisha datang bulan." gumamnya lirih sembari salah satu tangannya di balik selimut refleks terulur mengusap - usap perut polos Fara "Apakah kamu udah ada di sana tanpa Ayah dan Ibu sadari Nak?"
Meskipun belum ada bukti nyata, Kenan sangat yakin dengan asumsi dan tebakannya. Terlebih mengingat obrolan singkatnya dengan Ju Woon sehari yang lalu, dimana Ju Woon mengatakan bahwa Fara semakin sangar "Iya ya, kenapa aku gak kepikiran sampai ke situ? Emang sih, akhir - akhir ini Nisha lebih sensian." ia terus bergumam lirih dan tanpa sadar matanya mulai mengembun "Ya Allah, semoga Nisha, Istriku benar - benar sedang mengandung calon buah hati kami." doanya penuh harap.
Tiba - tiba Kenan ingin sekali segera tertidur, tidak sabar menunggu hari esok tiba. Ia berencana akan memeriksakan Fara ke dokter spesialis kandungan besok.
Cup...
Kenan mendaratkan sebuah kecupan penuh sayang di puncak kepala Fara. "Semoga mimpi indah sayang!" ucapnya berbisik lirih, lalu mendekap tubuh Fara membawanya kedalam pelukan dan ikut memejamkan mata.
>>>
Pagi menyapa. Sang mentari sudah membentang cerah di atas sana menggantikan sang rembulan menyinari bumi untuk menyemangati setiap insan dalam memulai aktivitas mereka di hari baru ini.
"Tunggu sayang!" Kenan segera mencegah Fara yang hendak keluar dari mobil ketika Bambang baru saja membukakan pintu setelah memarkirkan mobil dengan sempurna, setibanya mereka di basemen rumah sakit.
"Hmm? Iya Kak, ada apa?" tanya Fara sedikit bingung.
"Tetap duduk, jangan turun dulu!" titah Kenan, lalu tanpa menunggu tanggapan Fara, ia bergegas keluar dari mobil, memutar dan tiba di sisi pintu Fara "Ok, ayo sini Kakak bantu!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Fara.
"Hah?" bukan hanya Fara, Bambang yang melihatnya juga ikutan bingung. Tingkah Kenan pagi ini sangat aneh menurut mereka.
__ADS_1
Terutama Fara yang mulai dari subuh tadi telah mendapati keanehan dari gelagat Kenan yang tiba - tiba menjadi suami siaga dan over protektif. Bahkan untuk mandi besar, Kenan yang memandikan dirinya dengan sangat hati - hati dan telaten. Terus, Kenan yang biasanya akan meminta bonus praktek reproduksi selepas shalat subuh, tidak memintanya subuh tadi. Kenan justru memanjakan Fara dengan memberikan pijatan terbaiknya. Lebih jauh lagi, bahkan Kenan melarang keras Fara untuk menyiapkan sarapan, melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati.
Tentu saja Fara protes dan bertanya - tanya, mengapa sikap Kenan tiba - tiba berubah. Namun Kenan sama sekali tidak mempedulikan protesan Fara dan hanya menjawab "Mulai hari ini sampai waktu yang ditentukan, Kakak yang akan mengurus semuanya dan memanjakan mu."
Agak tidak nyambung dan ambigu bagi Fara. Namun sekeras apapun ia mencoba protes dan bertanya - tanya, tanggapan dan jawaban Kenan tetap sama. Hingga akhirnya Fara menyerah dan mencoba mengikuti alur, membiarkan Kenan melakukan sesuka hatinya. Mau memasuki mode singa betina marah pun, Kenan tidak membiarkannya. Hanya dengan sebuah kecupan di pipinya dari Kenan, otomatis mengurungkan niat Fara yang akan memasuki mode singa betina marahnya. Dan anehnya, Fara sangat senang dan menikmati itu.
"Ada apa sayang? Kok diam aja?" tanya Kenan yang setelah sekian waktu berlalu, uluran tangannya tak kunjung mendapat sambutan oleh Fara yang malah diam termangu dalam lamunan.
Sontak Fara tersadar. Namun, alih - alih menyambut uluran tangan Kenan, ia malah memandang wajah Kenan dengan kedua alisnya saling bertaut erat "Ada apa sih Kak?" untuk kesekian kalinya ia melontarkan pertanyaan ini.
"Kakak kan udah bilang kalo mulai hari ini___"
"Iya, iya, Fara tau. Tapi___"
Cup...
Dan seperti yang sudah - sudah, Fara selalu tidak berkutik dibuatnya. Sebenarnya ia ingin protes dan bertanya lebih lanjut. Namun ia yakin bahwa Kenan tidak akan membiarkannya dengan memberikan kecupan bertubi - tubi di pipinya. Dan bila itu terjadi, ia pasti akan sangat malu kepada Bambang yang sejak tadi terus memperhatikan mereka. Bahkan baru satu kecupan saja sudah membuat wajahnya terasa sepanas ini yang ia yakini pasti sudah memerah bak kepiting rebus.
"Ck..." Fara berdecak tak berdaya "Baiklah." lantas disambutnya uluran tangan Kenan yang masih setia menggantung di udara.
Dan Kenan pun dengan sangat hati - hati nan telaten menuntun Fara keluar dari mobil. Kemudian, sambil merangkul posesif pundak Fara, ia melanjutkan menuntun istrinya itu berjalan menuju lift.
Tinggalah si Bambang yang terus memperhatikan Kenan dan Fara dalam diam hingga sosok tuan dan nyonya nya itu menghilang di balik pintu lift yang tertutup. Sebuah senyuman penuh makna tersungging di bibirnya kemudian. Entah apa yang sedang dipikirkannya, hanya dirinya sendiri yang tahu, bahkan otor tidak tahu.
>>>
__ADS_1
Ceklek...
"Selamat pagi Profesor Kenan, Dokter Fara!" begitu memasuki Dirut's Room, Kenan dan Fara langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya berusia sepantaran Ayu, bundanya Kenan sekaligus ibu mertua angkat Fara.
"Selamat pagi Dokter Susi."
"Se- selamat pagi Dokter susi?"
Balas Kenan dan Fara agak tidak kompak karena Fara yang sempat pangling sesaat. Ya, Fara pangling mendapati yang menyambut mereka bukan dokter Adnan pengganti Gabela sebagai asisten Kenan. Pria paruh baya berusia sepantaran Farzan itu yang selalu menyambut kedatangan mereka dalam 3 hari belakangan ini.
Fara bukan pangling karena tidak mengenal wanita paruh baya yang dirinya dan Kenan panggil 'Dokter Susi' itu. Melainkan pangling karena bingung dengan maksud keberadaan dokter Susi itu sendiri. Ia cukup mengenal dokter Susi sebagai pimpinan dokter spesialis kandungan di NF Hospital. Apa yang ingin dilakukan seorang pimpinan dokter spesialis kandungan di Dirut's Room? Sepagi ini pula? Pikir Fara bertanya - tanya.
Ceklek...
Belum sempat Fara menemukan jawaban dari pemikirannya, perhatiannya teralihkan oleh kehadiran dokter Adnan yang baru saja keluar dari bilik konsultasi pasien penyakit dalam.
"Selamat pagi Profesor Kenan, Dokter Fara. Maaf lambat menyambut." sapa dokter Adnan ramah.
"Selamat pagi Dokter Adnan." balas Kenan dan Fara ramah pula. Kali ini keduanya kompak.
"Tidak apa - apa Dokter Adnan, santai saja." dengan santai Kenan mengibaskan tangannya pada dokter Adnan, sedang Fara hanya mengangguk sembari tersenyum ramah menyetujui ucapan suaminya itu.
"Bagaimana, semua sudah siap?" tanya Kenan seraya bergantian memandang dokter Adnan dan dokter Susi.
"Sudah Prof." dokter Adnan yang menyahut, sedang dokter Susi hanya mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kita langsung mulai saja." lalu Kenan beralih pada Fara "Ayo sayang!" ajaknya sembari tanpa permisi kembali merangkul posesif pundak Fara dan menuntun istrinya itu menyusul dokter Adnan dan dokter Susi yang mendahului menuju bilik konsultasi pasien penyakit dalam.
Belum terjawab kebingungannya tentang maksud keberadaan dokter Susi, Fara semakin dibuat bingung dengan ajakan Kenan yang mengajaknya mengikuti dokter Adnan dan dokter Susi. Namun tak urung, ia menerima ajakan Kenan membiarkan suaminya itu menuntunnya. Sementara di benaknya, semakin banyak saja pertanyaan berkecamuk. Apa yang akan Kenan, dokter Adnan dan dokter Susi di bilik konsultasi pasien penyakit dalam? Dan apa maksud Kenan malah mengikut sertakan dirinya? Sungguh Fara benar - benar dibuat kebingungan, keheranan serta penasaran.