Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Ada Apa Dengan Dokter Adnan?


__ADS_3

"Bagaimana Dok?"


"Sepertinya memang perlu dilakukan operasi lagi Prof."


"Hufh..." Kenan menghembuskan nafas berat.


Saat ini Kenan dan dokter Adnan tengah terlibat percakapan serius di bilik konsultasi pasien penyakit dalam sepeninggalan Mita beberapa saat yang lalu usai melakukan konsultasi dengan dokter Adnan. Dan hasilnya, seperti yang dokter Adnan katakan bahwa Mita perlu melakukan oeprasi lagi yang ternyata pencangkokan tumor yang dilakukan 3 tahun lalu tidak benar - benar mengangkat akar tumornya sehingga kembali tumbuh.


"Maafkan saya Prof." ucap dokter Adnan dengan segenap rasa bersalah dan penyesalan. Ialah yang menjadi penanggung jawab pengontrolan kondisi Mita paska operasi 3 tahun lalu. Bagaimana ia bisa lalai hingga tidak menyadari bahwa akar tumor di otak Mita tidak terangkat? Ia benar - benar merasa bersalah dan menyesal atas kelalaiannya itu.


Kenan menatap lurus tepat ke wajah dokter Adnan dengan tatapan kompleks. Sebagai pribadi perfeksionis, ia memang sangat tidak menyukai kegagalan, namun bukan berarti ia bisa serta merta menyalahkan, terlebih sampai menghakimi dokter Adnan.


Puk...


Kenan menepuk pelan pundak dokter Adnan "Tidak apa - apa Dok. Seperti yang anda katakan kepada Bunda Ayu 21 tahun yang lalu, anda hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan." ucapnya bijak.


Ya, dokter Adnan inilah yang memeriksa dan menemukan tumor di otak Mita 21 tahun yang lalu. Jika ada yang bertanya mengapa ia bisa menjadi asisten pribadi Kenan sebagai dokter spesialis penyakit dalam, maka itulah jawabannya. Kenan sangat mengapresiasi dirinya, baik dari aspek kepiawaian maupun aspek attitude nya yang tidak diragukan lagi sangat baik.


"Eh? Maksud anda, Prof?" dokter Adnan bingung dengan pernyataan Kenan.


Kenan tersenyum simpul, ia dapat menebak bahwa sepertinya dokter Adnan telah lupa dengan pertemuan pertama mereka 21 tahun yang lalu di panti asuhan Al - Rahman. "Dokter Adnan mengenal Bunda Ayu, kepala yayasan panti asuhan Al - Rahman kan?" pancingnya mencoba mengingatkan.


Hanya dengan pengenangan singkat, dokter Adnan langsung teringat yang anehnya ia tiba - tiba menjadi gugup "Eh, i- iya Prof, te- tentu saja saya mengenal Bu Ayudia, pemilik yayasan sebesar itu." jawabnya tergagap - gagap.


Kenan sedikit bingung dan penasaran dengan perubahan sikap dokter Adnan yang tiba - tiba menjadi gugup. Namun sekarang ia tak punya waktu untuk menanyakan itu. Yang menjadi fokusnya sekarang adalah membuat dokter Adnan mengingat sosok kecilnya 21 tahun yang lalu. "Bukan sebagai pemilik yayasan panti asuhan Al - Rahman, maksud saya, anda mengenal beliau sejak 21 tahun yang lalu kan?"

__ADS_1


"Eh, Ko- kok anda bisa tahu Prof?" dokter Adnan gelagapan salah tingkah. Ia menjadi semakin gugup saja.


"Hmm?" Kenan pun semakin bingung dan penasaran saja dibuatnya. Namun sekali lagi ditepisnya rasa bingung serta penasaran itu. "Tentu saja saya tahu, karena 21 tahun yang lalu saya lah anak kecil berusia 10 tahun yang menjatuhkan nampan dan gelas yang sedang saya bawa saat tidak sengaja mendengar percakapan anda dan Bunda Ayu setelah selesai memeriksa keadaan Mita kecil." ungkapnya kemudian langsung to the poin, tidak lagi mencoba memancing dokter Adnan yang tampaknya tidak dapat fokus pada pancingannya sejak tadi.


"Apaaa?" kelepasan dokter Adnan tak sengaja memekik spontan cukup keras, saking terkejutnya. Ya, ia memang tidak mengenal sosok Kenan kecil 21 tahun yang lalu, bahkan namanya saja tidak. Siapa sangka anak kecil berusia 10 tahun yang tampak biasa saja dalam pandangannya yang tak sengaja ia temui 21 tahun yang lalu, kini telah menjadi sosok yang sangat sensasional dan tak terjangkau. Dan sialnya, ia telah menjadi pengagum berat bahkan menganggap Kenan sebagai panutannya sejak nama Kenan dikenal dalam dunia medis, terkhusus bidang spesialis penyakit dalam. Bukan hanya terkejut, ia benar - benar shock mendapati fakta tersebut.


Kenan meringis, sedikit tidak menyangka reaksi dokter Adnan akan sedramatis ini. "Sepertinya anda sudah ingat." ucapnya sembari manggut - manggut.


Dokter Adnan tersadar linglung dari shock nya "Be- benarkah itu anda?" tanyanya seolah tak ingin percaya.


"Iya, itu memang saya. Ada apa Hmm?" jawab Kenan, balik bertanya bingung.


"Hufh..." dokter Adnan menghembuskan nafas frustasi "Ah, ti- tidak apa - apa Prof. Sa- saya hanya tidak menyangka saja." jawabnya sedikit tergagap kemudian.


Kali ini Kenan merasa tidak bisa lagi membendung rasa bingung serta penasarannya terhadap sikap dokter Andan. Ia pun bertanya "Benarkah begitu? Dalam pengamatan saya, sepertinya sejak saya membahas tentang Bunda Ayu, anda tampak gugup. Apakah saya salah?"


'Dokter Adnan memang tidak punya bakat dalam berbohong.' gumam Kenan dalam hati merasa prihatin dengan kepayahan dokter Adnan dalam berbohong. Bukannya ia menjunjung tinggi orang yang pandai berbohong, ia hanya merasa setiap orang perlu tahu cara berbohong yang baik. Karena ada keadaan yang mengharuskan kita berbohong, untuk menutupi aib kita misalnya.


Bagi Kenan, orang yang terlalu jujur itu bukan orang lugu, melainkan orang bodoh. Namun bukan berarti ia menganggap dokter Adnan bodoh, faktanya dokter Adnan masih berusaha berbohong yang sayangnya sangat payah hingga siapapun, termasuk Kenan dapat langsung mengetahui bahwa pria paruh baya berusia 51 tahun itu tengah berbohong.


Ingin tertawa, Kenan takut dosa menertawakan orang yang lebih tua, terlebih salah satu sosok yang dihormatinya seperti dokter Adnan. Jika ia ingin, akan sangat mudah baginya untuk mendesak dokter Adnan agar berkata jujur. Namun demi rasa hormatnya, ia pun memutuskan pura - pura percaya saja, meskipun ia juga masih bingung dan penasaran. "Oh, begitu. Maka, maaf." ucapnya sembari tersenyum dibuat - buat kemudian.


"Hehe..." dokter Adnan terkekeh hambar sembari merasa lega mendapati Kenan tidak terus mendesaknya. Ia cukup sadar diri bahwa kemampuan berbohong nya memang sangat payah. Jadi, ia tahu bahwa Kenan sengaja melepaskannya yang entah apapun itu alasannya, ia tak terlalu peduli. Yang terpenting ia selamat dan rahasia yang telah disimpannya seorang diri selama 21 tahun ini tetap aman. "Tidak apa - apa Prof." balasnya sembari tersenyum dibuat - buat pula.


"Hm, baiklah. Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Mengenai operasi lanjutan yang akan dilakukan Mita, saya serahkan sepenuhnya kepada anda untuk mengatur jadwal dan persiapannya. Bagaimana, Dokter Adnan bisa kan?" ujar Kenan berniat mengakhiri percakapan mereka.

__ADS_1


Dengan mantap dokter Adnan mengangguk "Tentu saja Prof, saya akan melakukan yang terbaik."


Puk...


Untuk kedua kalinya Kenan menepuk pundak dokter Adnan pelan "Tidak perlu terburu - buru. Yang terpenting persiapannya berjalan lancar dan maksimal." peringat nya bijak.


"Baik Prof." dokter Adnan kembali mengangguk mantap.


"Baiklah, ayo keluar!"


Kenan beserta dokter Adnan pun bangkit dari duduk mereka dan beranjak keluar dari bilik konsultasi pasien penyakit dalam. Setibanya di luar, ternyata Fara serta Ju Woon dan Nabila telah menunggu Kenan untuk mengajaknya makan siang bersama di kantin rumah sakit.


Ya, sekarang memang sudah memasuki jam istirahat siang. Inilah salah satu alasan Kenan yang memutuskan mengakhiri percakapannya dengan dokter Adnan. Jika tidak demikian, mungkin saat ini Kenan tengah menggoda dokter Adnan. Sedikit - sedikit tidak apalah, pikir Kenan. Untungnya dewi fortuna berpihak kepada dokter Adnan dan selamat dari kejahilan jenaka Kenan.


Cup...


Kenan langsung mendaratkan sebuah kecupan sayang di kening Fara begitu tiba di sisi istrinya itu tanpa mempedulikan orang - orang yang memandang risih di sekitarnya. "Maaf, Kakak udah buat kamu nunggu lama ya?" tanyanya hanya pada Fara sembari benar - benar mengabaikan Ju Woon dan Nabila yang berdiri tepat di depan meja kerja Fara yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


"Gak kok Kak." dan parahnya lagi, Fara malah tersenyum cerah menanggapi Kenan, ikut mengabaikan keberadaan Ju Woon dan Nabila.


"Ck..." Ju Woon mencebik kesal "Serasa dunia milik berdua." cibirnya sinis.


"Iri? Bilang bos! Wleek..." Kenan menjulurkan lidahnya mengejek Ju Woon.


"Cih... Hyung pikir, Kenan Hyung sama Fara Noona aja yang bisa? Ju Woon sama Bila juga bisa kali. Ayo Dek, kita tunjukin!" lantas Ju Woon berbalik menghadap Nabila. Namun baru saja ia hendak mengecup kening Nabila, kehendaknya segera diurungkan kala mendengar seruan garang nan dingin Fara.

__ADS_1


"Ju Woon!"


__ADS_2