
Di sebuah Cafe yang cukup besar tidak jauh dari NK Hospital, Kenan dan Fara baru saja tiba di parkiran dengan mobil panjang ceper mewah milik Kenan yang tentu saja disupiri oleh si supir omes. Dengan sigap si supir omes membukakan kedua sisi pintu untuk tuan dan nyonya nya.
"Beneran gak apa - apa Fara nemuin Mas Bagus?" untuk kesekian kalinya Fara menanyakan pertanyaan ini pada Kenan ketika keduanya telah keluar dari mobil.
Kemarin, setelah menerima pesan dari Bagus, Fara memang berniat menemui Bagus tapi tidak bersama Kenan melainkan bersama Nabila. Meskipun ia tidak lagi memikirkan hubungannya yang kandas dengan Bagus, ia tetap ingin mendengar langsung dari Bagus alasannya membatalkan pernikahan mereka. Terlepas dari perasaannya yang sama sekali tidak pernah mencintai Bagus, ia tidak bisa menampik bahwa Bagus adalah sosok yang bisa ia anggap sahabat sekaligus seorang kakak. Jadi, ia berniat menemui Bagus bersama Nabila yang juga menganggap Bagus sebagai sahabat yang baik, terlepas dari kesalahan Bagus yang mengkhianati Fara.
Namun sekarang keadaan telah berubah. Setelah perdebatannya dengan Kenan semalam, Fara jadi mempertimbangkan untuk menemui Bagus atau tidak. Ketika ia meminta pendapat Kenan, sedikit tidak disangka ternyata Kenan memperbolehkannya menemui Bagus dengan syarat, Kenan juga ikut serta. Awalnya, ia mengira alasan kemarahan Kenan padanya karena secara sembunyi - sembunyi ingin menemui Bagus. Ternyata kemarahan Kenan dikarenakan ia tak memberitahu apapun pada Kenan tentang pesan Bagus.
Ya, sewaktu Kenan memeriksa ponsel Fara yang tak sengaja ketinggalan saat pergi makan siang bersama Nabila kemarin, Kenan kebetulan menemukan pesan tersebut baru saja masuk. Ia memilih diam dan bersikap seolah tidak tahu apapun. Maunya, Fara sendiri yang akan memberitahukan padanya. Namun apa, bahkan hingga jam kerja selesai dan mereka telah tiba di apartemen, Fara sama sekali tidak memberitahukan apapun padanya. Ia sangat kecewa dengan itu hingga tak bisa lagi berpura - pura tidak ada apapun yang terjadi. Jadilah semalam ia langsung memutuskan untuk kembali pisah kamar dengan Fara, meskipun itu juga sangat berat baginya yang sebenarnya merasa nyaman tidur bersama Fara.
Namun mau bagaimana lagi, begitulah Kenan, jika marah terhdap sesuatu, ia tak akan menyuruh si pihak bersalah untuk meminta maaf, yang ia inginkan hanya mereka mengakui kesalahannya, meminta maaf pun tak apa jika tak mau, yang terpenting mereka mengaku salah. Dan Fara malah tidak melakukan seperti itu, terlepas dari perspektif Fara yang tidak tahu di mana letak kesalahannya yang membuat perdebatan mereka sedikit meluber dan memanas semalam.
Untungnya, dari sekian banyak perbedaan antara Kenan dan Fara yang dapat membuat keduanya sulit untuk disatukan, mereka mempunyai satu kesamaan yang jika kedua insan itu sudah bersatu maka akan sulit untuk dipisahkan. Mereka sama - sama merupakan tipikal orang yang tidak suka berlarut - larut dalam menyelesaikan sebuah masalah.
Jadi, ya, untuk mengakhiri perdebatan mereka semalam, Fara memilih mengalah dan mengaku salah seperti yang Kenan inginkan. Fara juga meminta maaf. Dan seperti yang diharapkan, Kenan yang sejatinya merupakan bukan orang yang sulit memaafkan, terlebih kepada orang - orang yang disayanginya, tak ada alasan baginya untuk tidak memaafkan Fara. Namun pada akhirnya, Kenan juga mengaku salah karena hanya diam dan tidak menyadarkan Fara atas kesalahannya. Jadilah mereka berakhir dengan saling meminta maaf dan memaafkan serta berjanji akan mencoba saling terbuka terhadap satu sama lain kedepannya.
__ADS_1
"Iya, gak apa - apa, tapi..." jawab Kenan menjeda sejenak seraya merangkul pundak Fara "Ini terakhir kalinya kamu nyebut nama Bagus dengan embel - embel 'Mas', Kakak gak suka." lanjutnya dengan mode posesif.
Meskipun bingung dengan perubahan sikap Kenan yang tiba - tiba, tak ayal Fara mematuhi "Siap Kakak Suami." sembari tersenyum cantik ia berpose hormat asal - asalan tanpa melepas rangkulan Kenan di pundaknya.
Ingin sekali Kenan mencium Fara saat ini juga, saking gemasnya melihat tingkah istrinya itu "Sayang, lain kali jangan gini lagi di tempat umum ya, dan hanya lakuin itu di depan Kakak saja!" bisiknya ditelinga Fara memperingatkan.
Belum hilang kebingungannya atas perubahan sikap Kenan yang tiba - tiba, Fara dibuat semakin kebingungan dengan peringatan itu, keningnya berkerut dalam "Lakuin apa Kak?"
"Tersenyum sambil hormat, seperti yang kamu lakuin barusan." jawab Kenan "Kamu kalo kayak gitu ngegemesin bangeett. Untung kita lagi di tempat umum, kalo lagi di tempat sepi, udah Kakak cium kamu." lanjutnya menjelaskan ketika mendapati Fara akan bertanya lagi yang ia yakini akan mempertanyakan pertanyaan dari penjelasannya ini.
Benar saja, alih - alih terfokus pada penjelasan absurd Kenan, Fara malah lebih fokus pada kehebatan Kenan yang seakan bisa membaca pikiran.
"Ck..." Fara mencebik dengan bibir manyun "Katanya bukan, terus barusan apaan?"
Cup...
__ADS_1
Akhirnya Kenan tidak mempedulikan lagi sedang berada di mana. Melihat bibir manyun Fara, ia tak kuasa menahan untuk tidak menciumnya, namun hanya sekilas.
"Dan ini juga hanya boleh kamu lakuin di depan Kakak!" peringat Kenan lagi tanpa mempedulikan Fara yang melotot tajam padanya dengan wajah memerah menahan malu diperhatikan oleh sangat banyak pasang mata dari orang - orang yang sedang mengelilingi mereka.
Ya, sejak tadi orang - orang itu sudah mengelilingi Kenan dan Fara. Bukan karena kelakuan Kenan yang baru saja mencium Fara hingga menarik perhatian, melainkan, sejak awal Kenan dan Fara tiba, orang - orang itu langsung berkumpul mengelilingi mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat pula, sebut saja sedang. Apa lagi tujuan orang - orang itu berkumpul kalau bukan karena mengenali sosok seorang Kenan dan mencoba mendekatinya. Untung saja ada para pengawal pribadi Kenan yang selalu siaga berada di sekitar Kenan yang dengan sigap mengamankan sekumpulan orang - orang yang ingin mendekati sang tuan, Naufal Kenan.
"Kak Ken apa - apaan sih? Ini tempat umum, Fara malu tau!" lain di mulut lain di hati. Fara berucap dengan nada kesal, namun hatinya malah berbunga - bunga. Menunduk menghindari tatapan orang - orang termasuk Kenan, ia senyam senyum sendiri. Biarlah saat ini belum tumbuh perasaan cinta di hati Kenan untuk dirinya, dari perlakukan Kenan barusan, setidaknya Kenan tidak sedikitpun berniat menyembunyikan hubungan mereka dari publik, pikir Fara yang merasa sudah cukup puas dengan kemajuan hubungannya dengan Kenan.
"Hehe..." Kenan terkekeh tanpa dosa "Ngapain malu sayang? Kan yang nyium kamu, suamimu sendiri. Bawa santai aja, di luar negeri sana bahkan pasangan yang belum menikah ngelakuin lebih dari ini, gak malu sedikitpun." ujarnya sok tahu, padahal ia tidak pernah melihat langsung. Ia hanya mengutip pengetahuan umum tentang pergaulan di luar negeri saja.
Tiba - tiba Fara kembali menegakkan kepalanya dan menatap tajam, setajam silet pada Kenan yang sukses membuat wajah suaminya itu pias seketika "Hmm... Jadi, Kak Ken udah biasa ngelakuin ini di luar negeri?"
Dengan tegas Kenan langsung menggeleng - gelengkan kepalnya "Gak kok, sayang, Kakak gak pernah sekalipun. Sumpah!" diacungkan nya jari tengah dan telunjuknya membentuk simbol 'V'.
Fara sebenarnya percaya Kenan tidak berbohong. Tapi, melihat wajah pias sang suami membuat jiwa usilnya kumat ingin mengerjai Kenan. Ia pun mendengus seolah baru saja mendengar omong kosong "Humps... Terus yang barusan Kakak nyatain, tau dari mana? Gak mungkin kan Kak Ken cuman liat - liat aja? Atau Kak Ken emang hobi nontonin orang gituan?"
__ADS_1
Seperti yang diharapkan, wajah Kenan semakin pias. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang sok - sokan tahu tentang pergaulan di luar negeri. Digaruk - garuknya tengkuknya yang tidak gatal sembari menggigit keras bibir bawahnya "I- itukan pengetahuan umum, sayang. Semua orang pasti tau." tak ada pilihan lain selain berkata jujur, meski memalukan karena ketahuan sok tahu.
Sumpah demi apapun, Fara benar - benar ingin tertawa melihat wajah Kenan yang memerah menahan malu, tapi takut dosa, juga kualat. Lantas ia memalingkan pandangannya dari wajah Kenan seolah tidak begitu percaya dengan pengakuan Kenan. Padahal, ia hanya ingin menepis gejolak tawanya yang bisa dipastikan akan pecah jika lebih lama melihat wajah suaminya itu. "Baiklah, untuk kali ini Fara percaya." ucapnya dengan nada terpaksa.