
3 hari kemudian...
Semalam Kenan mendapatkan panggilan dari Swis yang mengabarkan bahwa ada sebuah operasi yang memerlukan langsung penanganannya. Dan di sinilah Kenan dan Fara berada sekarang di suatu landasan pribadi di bandara Soetta pada pagi buta kala waktu baru menunjukan pukul 05.30 PM. Usai shalat subuh tadi, mereka langsung berangkat ke sini dari apartemen.
"Kamu beneran gak mau ikut sayang?" tanya Kenan agak sedih. Ya, hanya dirinya yang akan berangkat ke Swis, sedang Fara hanya datang mengantarnya sampai di sini. Saat ini keduanya saling berhadapan dan berpegangan tangan tepat di bawah tangga jet pribadi yang akan digunakan Kenan untuk penerbangannya. Tentu saja jet tersebut milik Kenan pribadi.
"Hm, Fara juga sebenarnya pingin ikut. Tapi, Kakak tau kan kondisi Fara yang mabuk udara. Terlebih lagi Fara lagi hamil." jawab Fara juga tampak sedih.
"Hufh..." Kenan menghembuskan nafas berat, seberat perasaannya yang merasa tidak rela meninggalkan Fara. Namun ia bisa apa? Seperti yang dikatakan Fara tentang kondisinya, itu memang benar adanya. "Tapi, Kakak kangen gimana?" rengek nya menyedihkan.
Fara tak tahu mau menangis atau tertawa. Di satu sisi ia merasa kasihan, di sisi lain ia juga merasa lucu dengan sikap dan ekspresi Kenan. "Mangkanya Kakak cepatan kelarin kerjaan Kakak di sana. Lagian, kita kan bisa video call juga." ujarnya mencoba menghibur Kenan.
"Ck..." Kenan malah mencebik kesal "Kamu gak tau sih yank, Kakak berat bangeet loh ninggalin kamu. Ini aja baru mau naik pesawat, Kakak udah kangen sama kamu." keluhnya dengan bibir mengerucut.
Sumpah demi apapun, Fara benar - benar gemas melihatnya. Cup... Disambarnya bibir Kenan dengan bibirnya sekilas. "Tuh, anggap aja itu obat kangen Kakak sama Fara."
Kenan terdiam mematung sesaat, sedikit terkejut dengan serangan mendadak Fara. Senang? Tentu saja ia senang, namun merasa tidak puas. "Segitu doang? Mana ada, gak cukup lah. Lagi, yang lama, pokoknya nanti Kakak yang minta lepasin baru boleh kamu lepasin. Ayo sini!" titahnya sambil menunjuk bibirnya yang sudah dikerucutkan.
Namun Fara tak bergeming, ia malah termangu melongo menatap Kenan dengan tatapan tak percaya. Bisa - bisanya Kenan minta dicium di tempat terbuka seperti ini. Ya, terlepas dari sedikitnya pasang mata serta mereka adalah orang - orang Kenan, tetap saja Fara malu mencium Kenan di depan mereka. Ciuman kilat yang baru saja ia berikan kepada Kenan hanyalah atas dasar kelepasan, saking gemasnya melihat ekspresi suaminya itu.
"Sayang, kok diam aja? Ayo cepatan!" protes Kenan dan kembali bertitah mendapati Fara tak kunjung juga menciumnya.
"Ah..." Fara tersadar dari ketermanguannya sembari menyengir kikuk "Hehe... Ka- Kak Ken becanda kan?"
"Ck..." Kenan berdecak kesal "Kalo kamu gak mau, biar Kakak aja."
"Umph..."
Sebelum Fara dapat bereaksi, secepat kilat Kenan sudah mendaratkan bibirnya di bibir istrinya itu. Salah satu tangannya merangkul pinggang, sedang tangan lainnya menahan tengkuk Fara. Jadilah Fara tak bisa berbuat apapun untuk mencoba melepaskan diri.
__ADS_1
"Balas sayang!" Kenan menggigit lembut bibir bawah Fara yang hanya diam tanpa membalas ciumannya.
Tak bisa membantu, mau tak mau Fara melakukan seperti yang diperintahkan Kenan, mengikuti alur membalas ciuman suaminya itu hingga dirinya pun terhanyut.
Cukup lama, mungkin sekitar 3 menitan mereka berciuman dan Kenan baru berinisiatif menghentikannya ketika mendapati Fara mulai kekurangan pasokan oksigen.
Hosh hosh hosh...
Kenan menempelkan dahinya dan dahi Fara sembari keduanya mencoba mengatur pernafasan masing - masing yang cukup terengah - engah.
"Nah, gini baru benar. Terima kasih sayang." Kenan tersenyum puas kemudian, sembari terus mempertahankan posisi mereka.
"Hm." balas Fara hanya mengangguk kecil sembari tersipu.
Lalu Kenan memeluk Fara "Doain semoga kerjaan Kakak sukses dan cepat selesai ya!" pintanya.
Sejak tadi Fara hanya berusaha terlihat tegar agar Kenan tak terlalu memikirkan dirinya ketiak berada di Swis. Ia takut Kenan tak bisa fokus dalam bekerja karenanya. Membalas pelukan Kenan dan membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya itu dalam - dalam, ia mulai terisak lirih.
Namun Kenan masih bisa mendengarnya. Perlahan, dialihkannya kedua tangannya yang merangkul tubuh Fara, berganti menangkup wajah istrinya itu demi mempertemukan tatapan mereka. "Udah sayang, jangan nangis ya! Kakak gak akan lama kok, Kakak janji." giliran dirinya yang berusaha menghibur Fara.
"Hiks... Siapa yang nangis? Fara gak nangis kok, Fara kelilipan doang. Hiks..." Fara mencoba menyangkal, namun isak nya makin menjadi kala melihat wajah Kenan yang ia yakini, akan sangat ia rindukan sebentar lagi.
Kenan tersenyum syahdu sembari menyeka lembut air mata Fara "Iya, Kakak tau. Istri Kakak ini pasti gak bakal nangis. Istri Kakak kan wanita tangguh yang bakal menjadi Ibu dari anak - anak Kakak nanti. Jadi, kalo Ibunya nangis, nanti si dede bayi di dalam sana juga ikutan sedih." ucapnya terus mencoba menguatkan Fara dengan mengingatkan kondisinya yang tengah hamil.
"Hunggss..."
Dan sepertinya berhasil. Isak Fara seketika terhenti dengan satu tarikan ingus panjang. Ralat, bukan ingus, melainkan hanya cairan bening berlendir yang membuat hidungnya terasa mepet. Kemudian ia mencoba mengukir sebuah senyuman ceria di bibirnya. "Iya dong, Fara emang wanita tangguh." ucapnya dengan nada bangga.
Cup...
__ADS_1
Kenan mendaratkan sebuah kecupan gemas di hidung Fara. "Ya, ya, Nisha Kakak memang wanita tangguh." tanggapnya mengiyakan saja yang sukses membuat senyuman di bibir Fara semakin mengembang.
"Maaf mengganggu Sir! Saya ingin melaporkan bahwa pesawatnya sudah siap lepas landas." tiba - tiba entah dari mana, seorang kru pesawat datang melaporkan dengan sopan, berdiri tepat di belakang Fara.
"Hm, terima kasih." tanggap Kenan ramah tak merasa terganggu sedikitpun. Ia memang masih ingin berlama - lama bersama Fara, namun pekerjaannya menuntutnya untuk mengejar waktu.
Sebagai seorang dokter profesional dan bertanggung jawab, Kenan tidak mungkin membuang - buang waktu yang dapat membahayakan nyawa pasiennya. Dalam dunia medis, setiap detik ibarat masa hidup pasien. Jadi, seberapa banyak detik yang Kenan buang untuk menunda waktu, sama saja ia membuang masa hidup pasien sebanyak itu pula. Tentu saja Kenan tak akan sampai hati melakukan itu. Ia masih punya hati nurani.
"Hufh..." Kenan menghembuskan nafas berat "Sayang, sepertinya Kakak udah harus pergi."
Fara mengerti dan sekali lagi mencoba menegarkan dirinya. Perlahan, dilepaskannya kedua tangannya yang merangkul pada pinggang Kenan dan dialihkan menimpali tangan Kenan yang masih menangkup wajahnya yang terus mencoba mematrikan senyuman. "Baik Kak, Kakak hati - hati ya! Jangan lupa langsung kabarin Fara kalo udah sampe di Swis." peringat nya.
Kenan pun mencoba menegarkan dirinya juga dan balas tersenyum "Tentu aja sayang. Kamu juga jaga diri baik - baik di sini. Jangan telat makan, jangan lupa rutin minum susu hamil sama vitaminnya juga, dan yang paling penting jangan lupa bahagia." diakhir pesannya, ia menyempatkan bercanda demi menghibur Fara sekaligus dirinya sendiri.
"Haha..." Kenan dan Fara pun tertawa kompak singkat.
"Kalo itu pasti Kak, Kak Ken juga jangan lupa bahagia. Hehe..." Fara cengengesan balas bercanda.
"Hufh..." Kenan mend*sah lemah "Baiklah, sepertinya Kakak butuh pelukan dari Istri Kakak tercinta ini buat penawar Kangen Kakak dalam perjalanan nanti. Ayo sini!" dicubitnya gemas kedua sisi pipi Fara, lalu merentangkan tangannya meminta istrinya itu segera menghambur memeluknya.
Grep...
Dan dengan senang hati, Fara langsung melakukan seperti yang Kenan minta. Dipeluknya erat - erat tubuh Kenan dan membenamkan wajahnya dalam - dalam pada dada bidang suaminya itu.
"Love you more, sayang." ucap Kenan penuh ketulusan sembari membalas pelukan Fara tak kalah erat.
"Love you more too, Kak." balas Fara tak kalah tulus pula.
Kenan dan Fara berpelukan cukup lama, sekitar 10 menitan dan baru melerainya kala mereka telah merasa cukup. Ya, cukup, bukan puas. Siapa yang akan puas dengan perpisahan? Mereka hanya merasa cukup dengan ego masing - masing agar Kenan tidak menunda waktu keberangkatannya lebih lama lagi.
__ADS_1