
Berhan Logan. Siapa yang tidak mengenal nama itu? Sesosok pria yang juga tak kalah sensasional dibandingkan Kenan. Hanya saja keduanya berbeda generasi. Berhan sepantaran dengan Farzan. Pria paruh baya yang dijuluki guru besar di dunia medis, terutama dalam bidang spesialis penyakit dalam itu, detik ini tengah berada di hadapan Fara.
Sudah cukup lama semenjak kedatangan Berhan dan Gabela tiba di apartemen Kenan yang kini juga menjadi apartemen Fara, namun Fara sebagai tuan rumah belum mengucapkan sepatah katapun. Keantusiasannya beberapa waktu yang lalu yang ingin bertemu sosok Berhan yang merupakan salah satu sosok yang ia kagumi dalam dunia medis, kini lenyap entah kemana setelah bertemu langsung dengan Berhan. Terutama saat ini, dimana mereka baru saja selesai menikmati hidngan penyambutan tamu, tatapan Berhan tak pernah beralih darinya terus menatap lekat dirinya dengan tatapan menelisik.
"Jadi ini Istrimu, Ken?" tanya Berhan pada Kenan, namun pandangannya terus tertuju pada Fara. Ia berucap menggunakan bahasa Indonesia yang cukup fasih.
"Iya Prof, ini Istriku, Faranisha Gayatri." jawab Kenan tenang.
Berhan manggut - manggut "Cantik." ucapnya memuji Fara singkat, entah tulus atau tidak.
"Tentu saja Prof, terima kasih atas pujiannya." tanggap Kenan bangga, sedang Fara tersipu sembari terus menunduk menghindari bertemu tatap dengan Berhan.
Sementara Gabela yang juga sejak tadi hanya diam, gadis itu tentu saja tengah terbakar cemburu. Kedua tangannya mengepal erat di bawah meja. 'Ayah apa - apaan sih? Pake muji Fara segala, masih cantikan aku juga. Cih...' batinnya mencibir kesal nan narsis.
Ketika Kenan menanggapi pujiannya pada Fara barusan, Berhan mengalihkan pandangannya pada mantan anak didik sekaligus bawahannya itu. Sangat jelas dapat dilihatnya dalam sorot netra Kenan menyiratkan kesungguhan bahwa dirinya benar - benar bangga, tak ada sandiwara di sana. Ia pun tersenyum getir samar, apa lagi kalau bukan merasa prihatin pada Gabela, putrinya yang sepertinya sudah tak ada lagi untuk menggapai Kenan. Ya, ia sadar betul bahwa sampai detik ini Gabela masih menaruh hati dan mendambakan Kenan.
Tujuannya ke Indonesia kali ini, selain ingin menghadiri undangan resepsi pernikahan Kenan dan Fara, Berhan juga ingin memastikan apakah Kenan bahagia. Sejatinya ia adalah orang yang baik dan bijaksana. Jadi, meskipun ia sangat menginginkan Gabela bahagia dan tidak ingin melihat putrinya itu tersakiti, ia tidak mungkin merusak kebahagiaan Kenan saat tahu Kenan benar - benar bahagia menjadi suami Fara. "Pantas saja kamu cepat sekali jatuh cinta padanya." cibirnya mengejek Kenan kemudian.
"Hehe..." Kenan terkekeh malu - malu "Ya, begitulah Prof."
Mendengar pengakuan Kenan membuat Fara semakin tersipu, sedang Gabela semakin terbakar cemburu.
"Cih..." Berhan berdecih "Rupanya kamu bisa jatuh cinta juga, aku pikir kamu hanya tau cara mengobati pasien."
"Haha..." Kenan hanya tertawa singkat menanggapi sindiran Berhan.
"Baiklah, sepertinya sudah tak ada pembahasan lagi." Berhan bangkit dari duduknya, begitupun Gabela mengikuti sang ayah "Sampai jumpa di resepsi pernikahan kalian besok." salam pamit Berhan.
Kenan dan Fara juga ikut bangkit dari duduknya untuk mengantar Berhan dan Gabela sampai sepasang ayah dan anak itu keluar dari apartemen dan menghilang di balik pintu lift yang tertutup.
__ADS_1
Lalu Kenan merangkul bahu Fara "Ayo masuk, sayang!" ajaknya.
"Hm." Fara menurut, membiarkan Kenan menuntunnya.
Kini Kenan dan Fara kembali ke ruang santai untuk melanjutkan sesi bersantai nan bermalas - malasan mereka yang sempat terputus demi menyambut tamu, Berhan dan Gabela. Sedangkan di ruang makan, para ART sibuk membereskan bekas hidangan penyambutan tamu tadi.
"Kamu kok diam aja tadi, sayang? Kemana keantusiasan kamu sebelumnya waktu tau Profesor Berhan akan datang?" tanya Kenan.
"Entahlah Kak, Fara juga gak tau." jawab Fara juga bingung.
Kenan menaikan sebelah alisnya "Emang kamu ngefans banget ya, sama Profesor Berhan?"
"Tentu aja, semua Dokter pasti gitu." keantusiasan Fara tiba - tiba kembali.
"Lebih ngefans siapa, Profesor Berhan atau Kakak?"
Fara terdiam sejenak menimbang - nimbang "Kayaknya sama deh." jawabnya kemudian.
"Hehe..." Fara terkekeh lucu, ia tahu Kenan sedang cemburu "Iya deh, iya, mulai sekarang Fara lebih ngefansnya sama Kakak." ucapnya mengiyakan saja, ia malas berdebat untuk masalah tak penting.
"Nah, gitu baru Istri Kakak." cup... Kenan mendaratkan sebuah kecupan kilat di pipi Fara "Anggap aja itu hadiah buat fans Kakak." ujarnya sembari tersenyum tampan.
Pipi Fara merona, tentu saja hatinya berbunga - bunga. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah garang "Jadi, Kak Ken sering ngasih hadiah seperti ini buat para fans Kakak?" tanyanya mengintrogasi.
"Ugh..." Kenan tertegun sesaat menyadari kesalahannya memilah kata. Lalu dengan cepat ia menggeleng - gelengkan kepalanya "Gak kok, mana ada? Kamu doang yang dapat hadiah seperti itu dari Kakak."
Fara memicingkan matanya "Beneran? Terus maksud Kakak tadi ngomong 'hadiah buat fans Kakak', apa? Berarti tiap kali Kakak ngasih Fans Kakak hadiah, dicium dong sama Kakak."
Sekali lagi Kenan menggeleng - gelengkan kepalanya, lalu menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal sembari memilah kata - kata yang tepat untuk menjelaskan "Gak gitu sayang. Kakak tadi salah, bukan fans, tapi fans istimewa. Dan fans istimewa Kakak itu cuman kamu doang, gak ada yang lain."
__ADS_1
Fara menatap lekat - lekat kedalam kedua netra Kenan, mencari kejujuran di sana. Dan ya, ia menemukan kejujuran itu. Ia pun tersenyum cerah "Baiklah, kali ini Fara percaya. Awas aja kalo Kakak bohong."
"Tenang aja sayang, Kakak gak mungkin bohongin kamu. Lagian, gimana mau cium, dekat aja, gak." ucap Kenan penuh percaya diri tanpa menyadari ia kembali salah memilah kata.
"Jadi kalo dekat, bakal Kak Ken cium?"
Kenan meringis, merutuki kebodohannya bibinya yang asal berucap. "Eh, bukan gitu juga sayang. Maksud Kakak, gimana mau cium, Kakak aja gak mau dekat sama mereka. Ya, gitu, Kakak yang gak mau dekat sama mereka."
"Fara gak yakin." Fara mencebik, kali ini ia tidak menemukan kejujuran dalam netra Kenan. Yang ada malah kepanikan.
Sekali lagi Kenan menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal sembari memilah kata - kata untuk menjelaskan. "Sumpah yang, beneran, Kakak gak bohong!" diacungkan nya jari tengah dan telunjuknya membentuk simbol 'V'.
Mendengar kata 'sumpah' terucap dari bibir Kenan, Fara tidak punya pilihan lain selain percaya. Ia sangat tahu bahwa Kenan bukanlah orang yang hanya akan serta merta bersumpah. "Baiklah, Fara percaya."
"Hufh..." Kenan pun bisa berkata lega "Lagian ya, sayang, Kamu itu satu - satunya perempuan yang paling dekat dengan Kakak selain Bunda." ungkapnya bersungguh - sungguh kemudian.
"Hmm?" kedua alis Fara saling bertaut, ia tidak connect, 'dekat' seperti apa yang dimaksud Kenan. "Lalu Gaby? Bukannya Gaby udah lama banget jadi asisten Kakak?"
Kenan menggeleng "Bukan 'dekat' gitu. Maksud Kakak 'dekat' tuh lebih intim gitu dalam ngelakuin kontak fisik." terangnya.
"Ooh..." Fara manggut - manggut tercerahkan. Sedetik kemudian wajahnya tiba - tiba memerah bak kepiting rebus, kala lebih mendalami penuturan Kenan. Pikirannya traveling membayangkan betapa intimnya dirinya dan Kenan sejauh ini.
"Hmm?" sebelah alis Kenan terangkat "Kenapa mukamu merah tiba - tiba merah gitu, yang? Kamu sakit?" tanyanya bingung seraya mengulurkan tangan ingin menyentuh kening Fara guna mengecek suhu tubuh istrinya itu.
Namun segera menepis lembut tangan Kenan sembari menggeleng panik "Gak kok, Kak, Fara baik - baik aja. Gak tau nih, Fara tiba - tiba ngerasa gerah." kilahnya sekenanya.
"Hmm? Kakak kok, gak ngerasa gitu? Masih sama aja seperti tadi, normal." Kenan mencoba lebih memfokuskan indra perabanya untuk merasakan perubahan suhu di sekitar mereka.
"E- entahlah Kak, mungkin perasaan Fara aja." Fara sedikit gelagapan "Udahlah, gak usah bahas itu lagi, gak penting. Beneran Kakak paling dekatnya cuman sama Fara dan Bunda doang?" tanyanya berkelit mengalihkan pembicaraan kemudian.
__ADS_1
Kenan yang sependapat menganggap pembahasan suhu tidak penting, tanpa protes mengikuti alur. "Iya, Kalo sama yang laen, termasuk Gabela, paling intimnya cuman sebatas salaman formal doang."
Mendapati sorot kejujuran pada netra Kenan, Fara pun percaya.