
Seperti yang sudah - sudah, saat akhir pekan tiba, Kenan dan Fara akan menjauhkan diri dari apapun yang terkait dengan pekerjaan. Akhir pekan mereka gunakan semaksimal mungkin untuk bersantai atau yang sering orang - orang sebut refreshing.
Seperti pagi ini, Kenan dan Fara hanya berdiam diri bermalas - malasan sambil menonton televisi yang tentunya ditemani cemilan di ruang santai apartemen. Namun lama kelamaan, baik Kenan maupun Fara merasa bosan. Dan disaat rasa bosan mereka sudah mencapai ubun - ubun, tiba - tiba bel pintu apartemen berbunyi.
Ding dong ding dong...
Bukan hanya sekali, tapi berkali - kali. Seolah - olah sang penekan bel tak sabar menunggu dibukakan pintu.
Kenan dan Fara saling pandang dengan ringisan serupa di wajah masing - masing. Mereka sangat mengetahui siapa gerangan sanga penekan bel. Siapa lagi kalau bukan Ju Woon si adik serta adik ipar tak berahang.
"Ck... Emang gak ada rahang nih Bocah, udah juga berkali - kali dibilangin kalo nekan bel sekali aja, masih aja diulangin kayak gini. Sepertinya nih Bocah perlu diberi pelajaran khusus." Kenan menggerutu kesal sembari bangkit dari rebahan nya di sofa dan langsung beranjak menuju pintu utama.
"Ck... Adik Kak Ken tuh." Fara malah menyalahkan Kenan sambil ikut mengekor di belakang suaminya itu.
"Adik Ipar kamu, kalo kamu lupa sayang." Kenan tak mau kalah.
Ceklek...
"WOI, BOCAH! RAHANG MU KEMANA SIH?" Kenan langsung menyemprot Ju Woon dengan umpatan geram - geram gemasnya, begitu pintu terbuka.
Tentu saja Ju Woon spontan terlonjak kaget sambil mengusap - usap dadanya demi menetralisir kekagetannya. Namun sesaat kemudian ia malah cengengesan pada Kenan dan Fara yang tengah menatap tajam pada dirinya "Hehe... Maaf, maaf Hyung, Noona, kebiasaan."
"Cih... Kebiasaan, terakhir juga alasannya gitu." Kenan mencebik "Mau ngapain kamu ke sini pagi - pagi gini?" tanyanya tapa basa basi kemudian.
"Ya elah Hyung, kalo ada tamu itu, disuruh masuk dulu, disuguhi apa kek, terus baru nanya - nanya deh." ujar Ju Woon sok bijak.
"Udah tau." sahut Kenan malas.
"Kalo udah tau kenapa gak dipraktekin?" tanya Ju Woon.
"Ya, kan lagi gak ada tamu."
__ADS_1
"Hah? Llau Ju Woon apa?"
"Bocah nyasar. Mana ada tamu mencet bel gak sopan gitu."
"Hehe..." Ju Woon menyengir sembari menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya udah, Hyung sama Noona masuk ulang gih! Biar Ju Woon ulang juga mencet bel nya." usulnya asal.
"Kamu___"
"Udah, udah, cukup Kak Ken, Ju Woon!" Fara yang sudah jengah menyaksikan perdebatan tak berfaedah antara Kenan dan Ju Woon, langsung memotong ucapan Kenan yang semakin terpancing meneruskan perdebatan tersebut. Diputarnya kedua bola matanya malas mendapati kedua pria itu terbungkam. "Ayo gih, masuk!" ajaknya kemudian, dan langsung beranjak masuk mendahului Kenan dan Ju Woon.
"Selamat!" Kenan dan Ju Woon kompak bergumam lirih sambil mengusap dada masing - masing, merasa lega karena Fara tidak jadi memasuki mode singa betina marahnya. Lantas keduanya mengikuti jejak Fara patuh layaknya anak ayam yang mengikuti induknya.
"Duduk dengan tenang!" titah Fara tegas, menyuruh Kenan dan Ju Woon duduk di sofa begitu mereka tiba di ruang santai. "Fara buatin minuman dulu." ucapnya, sebelum langsung beranjak menuju dapur tanpa mempedulikan kedua pria yang sudah duduk dengan patuh itu.
"Hyung, kok Ju Woon perhatiin, Fara Noona semakin sangar aja." ucap Ju Woon dengan suara berbisik ketika sosok Fara baru saja menghilang di ambang gerbang dapur.
Buk...
Sangat cepat, sebuah bantal sofa tiba - tiba mendarat dengan sempurna di wajah Ju Woon.
Ingin sekali Ju Woon balas menimpuk wajah Kenan, tapi takut dosa karena durhaka kepada kakak. Sebagai gantinya ia hanya bisa mencebik geram - geram gemas "Ck... Terus buat apa Hyung nimpuk muka Ju Woon barusan?"
"Hanya aku yang boleh ngatai Istriku sangar." jawab Kenan santai dengan ekspresi tanpa dosanya.
'Ya tuhan, benarkah dia Kakak kandungku?' Ju Woon membatin frustasi. Tiba - tiba saja ia meragukan Kenan sebagai kakak kandungnya, seperti praduga nya.
"Sstt..." baru saja Ju Woon akan mendebat, Kenan sudah memberikan kode 'diam' dengan meletakan satu telunjuk di bibirnya sembari mengedip - kedip kan sebelah matanya.
Ju Woon langsung memahami kode Kenan, samar - samar ia dapat mendengar sebuah langkah kaki yang semakin jelas dari waktu ke waktu pertanda langkah tersebut semakin mendekat yang ia yakini langkah milik Fara. Dan benar saja, beberapa saat kemudian kakak ipar sangarnya itu sudah berada di tengah - tengah dirinya dan Kenan yang duduk saling berhadapan diantarai sebuah meja ceper standar. Yang mana di atas meja tersebut Fara baru saja meletakan nampan yang dibawanya dari dapur, lalu beranjak dan duduk di sisi Kenan.
"Ayo, silahkan dinikmati!" ucap Fara mempersilahkan kemudian. Hidangan yang ia sediakan sangatlah sederhana. Yakni hanya 3 kemasan teh kotak. Pantas saja ia sangat cepat kembali.
__ADS_1
"Noona, apa Kenan Hyung udah bangkrut?" tanya Ju Woon sembari tersenyum kecut pada Fara.
"Gak kok, Fara lagi malas aja nyiapin hidangan yang mewah - mewah." Fara menggedikan bahunya santai.
'Like Husband, Like Wife!'. Itulah gagasan dalam pikiran Ju Woon tentang Kenan dan Fara saat ini. Sepasang suami istri itu benar - benar buruk cara mereka memperlakukan tamu. Jika itu orang lain, mungkin sah - sah saja. Tapi ini dirinya, seorang Choi Ju Woon, pengusaha muda nan sukses di Asia, CEO Choi's Group.
Tak perlu sebutkan identitasnya sebagai bos besar The Dangerous. Sebagai CEO Choi's Group saja, seharusnya Kenan dan Fara sudah cukup menghormatinya. Namun apa yang ia dapati? Saat menyambut, Kenan bahkan tidak menganggap dirinya sebagai tamu. Dan sekarang, Fara malah hanya menjamunya dengan teh kotak.
Sumpah demi apapun, ini adalah pertama kalinya ia bertamu dan mendapatkan pelayanan seperti ini. Biasanya, paling kurang ia akan disuguhkan beberapa botol anggur import kualitas terbaik. Namun ini, hanya teh kotak, tak dingin pula.
"Udah, gak usah pilih - pilih, nikmatin aja!" ucap Kenan sembari tersenyum menahan tawa melihat betapa kecutnya wajah Ju Woon yang tengah meratapi nasib. Lalu dirangkulnya pundak Fara dan mencubit gemas pipi istrinya itu "Istri Kakak emang paling bisa diandalin buat layanin tamu." pujinya.
"Oh, iya dong." dengan manjanya Fara menyadarkan kepalanya pada dada bidang Kenan yang sukses membuat ekspresi Ju Woon bertambah kecut melihat kemesraan antara sepasang suami istri tak berakhlak itu.
"Kenapa? Cemburu? Mangkanya, buruan nikah!" ejek Kenan.
"Cih..." Ju Woon berdecih "Gak nikah sekalipun, Ju Woon juga bisa mesra - mesraan gitu." ucapnya penuh percaya diri. Namun sedetik kemudian nyalinya menciut kala Kenan dan Fara sama - sama menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, setajam silet.
Glek...
Ju Woon meneguk saliva susah paya "I- iya, iya, Ju Woon bakal nikahin Nabila secepatnya. Ini juga maksud kedatangan Ju Woon, mau minta bantuan Hyung sama Noona buat secepatnya ngurusin pindahan agama Ju Woon."
Ya, singkat cerita, Ju Woon dan Nabila telah menjadi sepasang kekasih, alias berpacaran. Ju Woon yang sejatinya pemain wanita, tidak sulit baginya untuk menaklukan Nabila yang juga notabenenya rada blingsitan, alias sangat mudah jatuh hati pada pria - pria manis seperti Ju Woon.
Namun tentu saja, keduanya sangat serius dengan hubungan mereka. Buktinya, baru saja 3 hari menjalin kasih, Ju Woon langsung melamar Nabila. Tentu saja Nabila menerima, akan tetapi dengan 1 syarat. Yakni, Ju Woon harus pindah agama ke agama yang sama dengan dirinya, agama islam. Dan Ju Woon tanpa ragu menyanggupinya.
Rencananya hari ini Ju Woon ingin melakukan itu. Oleh karena itu, ia datang meminta bantuan pada Kenan dan Fara, sebagai orang terdekatnya di Indonesia.
"Kamu sudah benar - benar yakin dengan keputusanmu?" tanya Kenan penuh keseriusan.
"100% yakin Hyung!" jawab Ju Woon penuh keyakinan.
__ADS_1
Sejenak Kenan terdiam sembari menelisik ke dalam netra Ju Woon, mencari kesungguhan di sana. Begitupun Fara yang juga ikut melakukan seperti yang dilakukan Kenan.
"Baiklah, kami akan segera bersiap." Kenan tersenyum syahdu kemudian.