Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Pertemuan Lamaran (Ju Woon - Nabila)


__ADS_3

Seminggu berlalu, hari pertemuan antara pihak keluarga Nabila dan keluarga pihak Ju Woon untuk membahas perihal lamaran pun tiba. Pertemuan tersebut diadakan di hotel XXI, salah satu hotel bintang 5 di ibu kota, sesuai pengaturan Ju Woon.


Awalnya Nabila sempat bertanya - tanya, mengapa pertemuannya tidak diadakan di kediaman keluarganya saja? Bukankah pertemuan itu untuk melamar dirinya pada orang tuanya?


Dan Ju Woon berdalih bahwa dalam pertemuan tersebut Kenan juga akan ikut hadir untuk membahas bisnis dengan kepala keluarga Choi. Jika diadakan di kediaman keluarga Nabila, maka tak etis untuk Kenan turut hadir sementara pihak keluarga Ju Woon akan langsung kembali ke Korea usai pertemuan. Jadi, sekalian saja diadakan ditempat yang agak terbuka.


Dengan itu, Nabila pun tidak bertanya lebih jauh lagi dan mengikuti saja pengaturan Ju Woon. Dan di sinilah mereka berada di salah satu ruangan presiden suit yang sudah disulap dengan dekorasi sedemikian mewah nan megahnya.


Dari pihak keluarga Ju Woon dihadiri oleh kepala keluarga Choi (Choi Dae Jung), ayah Ju Woon (Choi Jung Hwa), ibu Ju Woon (Choi Hyun Jae) dan Ju Woon sendiri tentunya. Sementara dari keluarga Nabila dihadiri oleh ayah Nabila (Abbas Fannan), ibu Nabila (Ratnasari), serta Nabila sendiri, plus Kenan dan Fara.


Namun keikutsertaan Kenan dan Nabila disematkan sedemikian rupa, sehingga hanya pihak keluarga Ju Woon yang menyadari kehadiran mereka sebagai bagian dari pihak keluarga Nabila. Sedangkan pihak keluarga Nabila sendiri sama sekali tak ada yang menyadari itu. Sepengetahuan pihak keluarga Nabila, kehadiran Kenan dan Fara adalah terkhusus untuk tujuan mereka sendiri, sesuai penjelasan Ju Woon yang menyatakan bahwa Kenan ingin menemui kepala keluarga Choi, Choi Dae Jung, untuk membahas perihal bisnis.


Dan demikianlah sehingga sisi pertemuan terbagi menjadi dua sisi. Di satu sisi hanya antara Kenan dan Choi Dae Jung, dan di sisi lainnya menjadi sisi pertemuan utama untuk membahas perihal lamaran.


"Baiklah, sepertinya pertemuannya sudah bisa dimulai. Bagaimana?" ujar ayah Ju Woon, Choi Jung Hwa, memulai pembicaraan setelah setiap orang di sisi pertemuan utama menyelesaikan menyantap hidangan pembuka sebelum memulai pertemuan. Pria paruh baya yang masih tampak tampan diusianya yang tak lagi muda itu berucap dengan bahasa Indonesia yang fasih, namun sedikit belepotan seperti Ju Woon, ala - ala orang LN.


"Hm, saya pikir juga begitu." ayah Nabila, Abbas yang menyahut sependapat dengan Jung Hwa. Pria paruh baya itu berucap tak kalah berwibawa nya dari Jung Hwa. Pertemuan pun dimulai...


Sekilas tentang keluarga Nabila, sebenarnya keluarga mereka bukanlah dari kalangan bawah, bahkan terbilang berada. Faktanya, Abbas sendiri selaku kepala keluarga merupakan salah satu pejabat tinggi di pemerintahan. Bahkan namanya termasuk salah satu kandidat yang terpilih menggantikan posisi Mahmud sebagai presiden. Kepiawaiannya di dunia politik pemerintahan tidak perlu diragukan lagi. Adapun ibu Nabila, Ratnasari, bisa dikatakan pengusaha sukses dengan usaha jasa catering nya yang cukup laku dan mempunyai cukup banyak pelanggan tetap dari kalangan berada. Dan Nabila sendiri, diusianya yang masih terbilang muda ini, ia terbilang cukup sukses dengan karirnya sebagai dokter spesialis bedah seperti Fara. Lihatlah, bukankah mereka merupakan keluarga sukses?

__ADS_1


Ya, bagi kalangan umum mungkin demikian. Namun bagi keluarga Choi, kekayaan seluruh keluarga Nabila hanyalah setitik debu di mata mereka. Bahkan mungkin satu cabang kecil Choi's Group saja, penghasilannya lebih besar dibandingkan gabungan penghasilan Nabila serta kedua orang tuanya.


Jadi ya, wajar saja jika sepanjang pertemuan berlangsung, pihak keluarga Nabila sedikit kewalahan menimpali tutur kata pihak keluarga Ju Woon yang terkesan sombong dengan membangga - banggakan kekayaan keluarga mereka. Semua orang tahu, tujuan pihak keluarga Ju Woon melakukan itu, tidak lain demi menunjukan otoriter mereka yang secara tidak langsung menyatakan bahwa segala keputusan dalam pertemuan tersebut berada ditangan mereka.


Namun bagi Abbas yang sudah cukup terbiasa berhadapan dengan tipikal orang - orang seperti itu tidak membiarkan harga dirinya serta keluarganya dipandang rendah. Seperti saat ini, dimana pertemuan telah memasuki pembahasan mahar yang dengan enteng dan sombongnya Jung Hwa menyebutkan nominal yang fantastis, yakni satu triliun rupiah.


"Terima kasih atas penilaian tinggi anda terhadap putri saya, Tuan Jung Hwa. Namun saya sebagai orang tua, berapapun itu tidak masalah. Yang terpenting bagi saya adalah Putri saya bisa menikah dengan orang yang dia cintai dan mencintainya juga, itu sudah cukup. Jadi, semua keputusan akan saya serahkan pada Putri saya, Nabila." tutur Abbas dengan tenang dan berwibawa. Memang penuturannya terkesan merendah, namun pada akhirnya ia tak membiarkan semua berjalan seperti kemauan Jung Hwa yang mengira bahwa dengan menyebutkan nominal sebesar itu, Abbas selaku ayah Nabila akan langsung setuju dan kesepakatan pun terbentuk.


Kini semua perhatian tertuju pada Nabila, menantikan keputusannya. Mungkin jika sebelum ini, Nabila pasti akan la langsung memutuskan untuk menerima lamaran orang tua Ju Woon, terlepas seberapapun nilai mahar yang ditentukan. Namun setelah melihat kesombongan mereka, Nabila jadi meragu.


"Ehem..." Ju Woon tiba - tiba berdehem demi mengalihkan perhatian pada dirinya. "Bolehkah saya dan Nabila berbicara empat mata sebentar?" pintanya kemudian. Ia tahu dengan keraguan Nabila. Untuk itu, ia ingin berbicara empat mata dengan Nabila untuk kembali meyakinkan kekasihnya itu.


"Terima kasih Paman." Ju Woon tersenyum tulus pada Abbas, lalu beralih pada Nabila "Ayo Dek!" ajaknya seraya bangkit dari duduknya.


Nabila yang juga mengetahui maksud Ju Woon mengajak dirinya berbicara empat mata, dengan patuh ikut bangkit dan langsung mengekor di belakang Ju Woon yang sudah beranjak menuju pintu utama ruangan.


Bruk...


"Dek, Abang minta maaf mengenai sikap orang tua Abang. Abang harap Adek ngerti, itu emang kebiasaan mereka bersikap seperti itu sama setiap orang." ucap Ju Woon setelah kembali menutup pintu ruangan, setibanya dirinya dan Nabila di luar. Lantas diraihnya salah satu tangan Nabila dan digenggamnya lembut dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Nabila membiarkan saja tangannya digenggam oleh Ju Woon. Lalu digigitnya keras - keras bibir bawahnya "Ka- kalo Bila sih, insya Allah Bila bisa ngerti. Tapi, gimana dengan orang tua Bila?" ya, inilah yang sejak tadi menjadi bahan pertimbangannya, sehingga ia meragu. Walaupun baik ayah maupun ibunya tidak menunjukan ketidaksenangan mereka secara langsung terhadap sikap sombong dan otoriter orang tua Ju Woon, ia yakin, terutama Abbas, sang ayah, benar - benar tidak senang dengan hal itu. Sangat jelas terlihat dari cara Abbas yang dengan sabar selalu berusaha menimpali setiap tutur kata sombong yang dilontarkan oleh Jung Hwa.


"Untuk itu Adek tenang aja, Abang akan berusaha ngertiin Paman dan Bibi juga. Untuk sekarang, kamu dulu yang terpenting. Abang janji Dek, percaya sama Abang." tanggap Ju Woon mengiba penuh kesungguhan.


Luluh? Ya, melihat kesungguhan Ju Woon, benar - benar sukses membuat Nabila luluh. Namun masih ada beberapa keraguan dalam hatinya. Sekali lagi digigitnya keras - keras bibir bawahnya "Ta- tapi___"


Ceklek...


Tiba - tiba pintu ruangan terbuka dari dalam, hingga membuat Nabila menghentikan ucapannya.


Bruk...


Sejurus kemudian tampaklah sosok sang pembuka pintu yang ternyata adalah Fara yang langsung kembali menutup pintu begitu tiba di luar ruangan dan langsung menghampiri Ju Woon dan Nabila.


"Gimana?" tanya Fara tanpa basa basi langsung menanyakan hasil pembicaraan Ju Woon dan Nabila yang iapun tahu apa yang tengah adik ipar dan sahabatnya itu bicarakan.


Sejurus kemudian, bukan lagi tangan Nabila yang berada dalam genggaman Ju Woon, melainkan berganti dengan tangan Fara. "Fara Noona, tolong bantu Ju Woon ngertiin Nabila!" pinta pria itu mengiba penuh permohonan.


Sesaat Fara dan Nabila dibuat terperangah oleh tindakan Ju Woon yang sangat cepat, hingga keduanya tidak dapat bereaksi.

__ADS_1


"Ck..." Fara mencebik, namun tak urung ia mencoba memenuhi permintaan Ju Woon. "Nab, kalo emang lo gak bisa percaya sama Ju Woon, lo bisa percaya sama gue. Gue yakin, semua akan baik - baik aja setelah kalian nikah." ucapnya bersungguh - sungguh pada Nabila kemudian.


__ADS_2