
"Sayang, kok makanannya gak dimakan?" tanya Kenan pada Fara. Saat ini dirinya, Fara, Ju Woon dan Nabila tengah makan siang bersama di kantin rumah sakit pada jam istirahat siang.
"Bentar Kak, Fara lagi serius amatin wajah Kakak dan Ju Woon nih."
"Ck..." Kenan mencebik "Kenapa sih kamu masih ngeyel aja sayang? Kan Kakak udah bilang, mana ada wajah Kakak mirip sama bocah gak ada rahang ini."
"Uhuk uhuk..." spontan Ju Woon tersedak makanan yang tengah dilahapnya kala mendengar Kenan mengatakan wajah mereka mirip.
"Tuh kan, mana sudi Kakak mau disamain wajahnya dengan bocah yang makan aja gak benar seperti dia." lanjut Kenan mencibir sembari melirik sinis pada Ju Woon yang tengah dibantu oleh Nabila mengobati tersedak nya dengan segelas air.
Setelah merasa lebih baik, Ju Woon menatap Kenan dengan tatapan yang sulit diartikan sembari mengenakan ekspresi was - was. Mendapati tidak ada raut kecurigaan di wajah Kenan, ia pun bernafas lega. "Hehe... Iya nih, Fara Noona ada - ada aja. Mada aja wajah Ju Woon dan Kenan Hyung mirip? Masih gantengan Ju Woon lah." ucapnya narsis membalas cibiran Kenan sembari menyengir dibuat - buat. Memang ia senang mengetahui Kenan adalah Kakak kandungnya. Namun di samping itu, ia malah takut jika Kenan juga mengetahuinya. Takutnya, Kenan akan membenci dirinya.
Bukan karena apa. Ju Woon hanya mencoba mengumpamakan jika dirinya yang berada di posisi Kenan. Sanggupkah ia menerima dan menganggap keluarga, mereka yang telah mencampakkannya selama 31 tahun? Sungguh jika itu dirinya, Ju Woon tidak akan menerima dan bahkan mungkin akan membenci mereka.
Terlepas dari fakta bahwa sebenarnya keluarga Choi tidak pernah bermaksud mencampakkan Kenan. Mereka hanya mengira bahwa Kenan telah mati oleh insiden yang menyebabkan Kenan terpisah dari keluarga Choi 31 tahun yang lalu. Oleh karena itu, selama 28 tahun ini, tepatnya setelah kelahiran Ju Woon, keluarga Choi menghentikan upaya mereka yang tidak juga menemui titik terang dalam mencari keberadaan Kenan. Ya, selama 3 tahun selang insiden tersebut, keluarga Choi terus berupaya mencari keberadaan Kenan. Namun pada akhirnya mereka menyerah dan menganggap Kenan telah mati.
"Gantengan kamu dari mana? Dari Hongkong? Cih..." Kenan berdecih sinis "Wajah kayak barbie gitu dibilang ganteng." ejeknya menyindir wajah baby face Ju Woon.
"Ck ck ck..." Ju Woon berdecak - decak tidak terima "Gini nih, kalo taunya nonton film action barat aja. Coba deh sesekali Hyung nonton film action Asia. Wajah - wajah Ju Woon gini nih yang lagi banyak digandrungin cewek - cewek. Tanya aja sama Bila dan Fara Noona." balasnya menyindiri Kenan yang sangat suka menonton film action barat.
Refleks Kenan menoleh pada Fara dan Nabila secara bergantian. Sialnya kedua wanita itu dengan lugunya malah mengangguk membenarkan ucapan Ju Woon. Sekali lagi ia berdecih sinis "Cih... Ngapain juga nonton film Asia. Malas, banyak dramanya."
__ADS_1
"Wah wah, gak bisa gitu dong Hyung. Sebagai penduduk benua Asia, masa Hyung lebih ngidolain produk benua lain."
"Ini tentang selera masing - masing, gak ada hubungannya dengan di mana kita tinggal. Kamu aja suka banget nonton Naruto. Emang kamu penduduk desa Konoha?"
Sementara Kenan dan Ju Woon terus berdebat tak ada yang mau mengalah, Fara dan Nabila mulai jengah mendengarnya. Pasalnya perdebatan kedua pria itu malah meluber. Yang awalnya tentang siapa yang lebih ganteng dan sekarang malah beralih tentang kebanggan terhadap benua yang mereka tinggali. Dan apa yang baru saja dikatakan Kenan, desa Konoha? Fara dan Nabila yang belum pernah menonton serial kartun bocah siluman rubah berambut kuning berduri itu, tentu saja tidak mengetahui apa dan di mana itu desa Konoha. Sembari saling pandang, Fara dan Nabila sama - sama memutar kedua bola mata mereka malas.
Brak...
Tiba - tiba Fara menggebrak meja sedikit keras yang telah ia kondisikan agar tidak menjatuhkan makanan yang ada di atasnya. Namun cukup untuk membuat perdebatan Kenan dan Ju Woon seketika terhenti. "Kenapa sih Kak Ken sama Ju Woon suka banget berdebat gak jelas kayak gitu?" tanyanya geram - geram gemas. Ia tak sadar diri saja bahwa sejatinya perdebatan tersebut awalnya disebabkan olehnya.
"Ugh..." Kenan dan Ju Woon tertegun speechless dibuatnya. Bukannya mereka tidak tahu harus menjawab apa. Mereka hanya tidak mau menjawab. Sebab jika mereka menjawab, pasti Fara akan lebih geram. Menghadapi Fara dalam mode singa betina marah seperti ini, pilihan terbaik adalah diam. Terlebih mengingat kondisi Fara yang tengah hamil, Kenan dan Ju Woon benar - benar tak berani membuat si bumil makin emosi.
'Ya Tuhan, tolong kuatkan kesabaran hamba Mu ini.' Kenan dan Ju Woon hanya bisa membatin berusaha sabar menerima ejekan Fara.
Fara yang tidak mendapatkan perlawanan apapun, akhirnya capek sendiri dan menghentikan acara marah - marahnya. "Ya udah, mending sekarang kita makan saja. Ayo!" ajaknya kemudian, dan langsung mulai menyuapkan makanan ke mulutnya mendahului Kenan, Ju Woon, termasuk Nabila yang tengah menatapnya dengan tatapan terkagum - kagum.
Begitu mudahnya seorang Fara merubah suasana di sekitarnya. Pertama, disaat Kenan, Ju Woon dan Nabila yang telah memulai sesi makan mereka, dengan mudahnya Fara menghentikannya, bahkan berakhir dengan perdebatan diantara mereka sendiri. Dan sekarang, Fara mengajak mereka kembali memulai sesi makan yang sialnya mereka hanya bisa menurut begitu saja, ikut makan bersama si bumil itu. Entah, ini memang kehebatan sejati Fara, atau pengaruh hormon kehamilannya.
Kenan, Ju Woon dan Nabila cukup penasaran dengan itu. Jadilah sepanjang sesi makan siang yang sempat terhenti itu kembali berlangsung, pandangan ketiganya terus tertuju pada Fara yang terus makan dengan tenang dan lahapnya. Bukan hanya mereka bertiga, bahkan pengunjung kantin lainnya yang sejak tadi berada di TKP, secara diam - diam mencuri pandang pada Fara.
Sementara Fara yang menyadari dirinya tengah diawasi oleh sekian banyak pasang mata, sama sekali tidak ambil pusing. Dengan santai nan acuhnya, ia terus saja melahap makanannya tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya.
__ADS_1
>>>
"Hmm?" sebelah alis Kenan terangkat mendapati seorang wanita sepantaran dirinya yang tengah berbincang - bincang dengan dokter Adnan di meja kerja asistennya itu, begitu drinya dan Fara memasuki Dirut's Room sekembalinya mereka dari kantin. Sedangkan Fara di sampingnya, hanya terkejut singkat dan langsung membuat tebakan bahwa wanita itu mungkin pasien atau kenalan dokter Adnan.
"Selamat datang kembali Profesor Kenan, Dokter Fara." sambut dokter Adnan yang kebetulan meja kerjanya menghadap pintu utama ruangan, sehingga dapat menyaksikan ketibaan Kenan dan Fara. Sementara sang wanita yang awalnya duduk saling berhadapan dengan dokter Adnan, perlu membalikan badannya ke belakang dan baru bisa menyadari kehadiran Kenan dan Fara.
Deg...
Sesaat detak jantung Kenan seolah terhenti kala bertemu tatap dengan sang wanita. "Mita?" gumamnya lirih sembari terbayang sekelebat figura sesosok gadis kecil berusia kisaran 10 tahunan yang melintas sekilas di benaknya.
Lain Kenan, lain sang wanita. Jika Kenan mengenakan ekspresi terkejut, maka sang wanita yang disangkanya sebagai sosok pemilik nama 'Mita' yang baru saja ia gumamkan, wanita itu tampak biasa saja dengan ekspresi terpukau seperti yang dikenakan para kaum awam saat melihat sosok seorang Kenan.
"Mita?" Fara membeo sembari menatap Kenan dengan tatapan ingin tahu. Meskipun lirih, ia yang tepat berada di samping Kenan, cukup jelas mendengar apa yang baru saja digumamkan suaminya itu.
"Eh, Dokter Fara mengenal saya?" tanya sang wanita sedikit terkejut mendengar Fara baru saja membeo kan sebuah nama yang kebetulan sama dengan namanya. Bukan narsis atau terlalu percaya diri, nama sebenarnya adalah Asmita. Dan ia memang akrab dipanggil dengan nama 'Mita' seperti yang baru saja dibeokan oleh Fara.
"Ah..." berbeda dengan Fara yang salah tingkah, Kenan malah dibuat semakin yakin bahwa sosok wanita yang tengah berada dihadapannya kini adalah sosok yang ia Kenali sebagai pemilik nama 'Mita'.
"Mi- Mita? Benarkah itu kamu, Asmita?" tanya Kenan dengan suara bergetar kemudian, yang sukses mengurungkan kehendak Fara yang baru saja ingin menjelaskan bahwa beoannya barusan hanyalah sebuah ketidaksengajaan.
"Eh, bahkan Profesor Kenan juga mengenal saya?"
__ADS_1