
"Pelan - pelan, sayang." Kenan membantu Fara keluar dari mobil. Mereka baru saja tiba di basemen apartemen sepulang dari rumah sakit.
Kondisi Fara cukup baik hingga tak mengharuskannya dirawat inap di rumah sakit pasca drop siang tadi. Ia hanya dianjurkan perbanyak istirahat dan menghindari banyak pikiran agar tidak stres yang bisa menyebabkan dirinya mengalami kompilasi lagi.
"Eh, Kakak mau bawa Fara kemana?" tanya Fara bingung ketika mereka tiba di depan pintu kamar Kenan.
"Ya, ke kamar lah buat istirahat." jawab Kenan santai, lalu memasukan anak kunci yang baru diambilnya dari saku celananya kedalam lubang kontak pintu kamarnya.
Ceklek...
"Ayo masuk!" ajak Kenan setelah pintu terbuka.
Namun Fara malah mematung enggan melangkah masuk ke dalam kamar Kenan. Kakinya terasa berat diayunkan seolah akan masuk ke tempat menyeramkan.
"Kenapa, sayang?" kedua alis Kenan saling bertaut erat, ia bingung.
"K- kok Kakak bawa Fara ke kamar Kakak?" Fara malah balik bertanya dengan sedikit terbata.
"Hmm?" Kenan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, cukup jelas ia dapat menebak apa yang sendang Fara pikirkan. Tangannya yang tadinya ia gunakan untuk memegang kedua sisi pundak Fara, perlahan ia alihkan melingkar ke pinggang Fara, memeluk istrinya itu dari belakang. "Emangnya kenapa, Yang? Bukannya semalam, kamu juga tidur di sini?" bisiknya dengan suara seksi tepat di telinga Fara. Dagunya ditopang kan di atas bahu Fara sembari sesekali dengan sengaja menghembuskan nafas ke ceruk leher Fara.
Jangan tanyakan reaksi Fara. Seketika tubuhnya menegang dan meremang. Kegugupan intens tiba - tiba menyelimutinya. Jantungnya berpacu begitu cepatnya bagai dentuman drum instrumen rock n rol.
"Hm, sayang? Kenapa kamu gemetar gini? Badanmu juga tiba - tiba kerasa dingin? Tapi kok kamu keringetan?" bisik Kenan lagi sembari menahan senyum.
Grrr...
Tubuh Fara semakin bergetar hebat seolah tersengat listrik ribuan volt. Bibirnya terasa berat untuk berucap.
"Ka- Kak Ken mau ngapain?" dengan suara bergetar Fara memaksakan bibirnya berucap ketika tangan nakal Kenan mulai menyusuri bagian depan tubuhnya dari balik baju yang ia kenakan, perlahan dari perut naik ke atas.
"Menurutmu, Kakak mau ngapain?" Kenan malah balik bertanya seraya terus melancarkan aksi tangan nakalnya. Ketika hendak mencapai gunung kembar Fara, dengan sengaja ia turunkan, lalu dinaikan lagi, terus seperti itu.
Glek...
Jika Kenan susah paya menahan tawa, maka Fara susah paya meneguk saliva. Wanita itu menjadi semakin gugup saja.
__ADS_1
"Ka- Kakak tau kan kondisi Fara lagi gimana?"
"Tentu aja tau, lalu?"
"La- lalu? Ka- Kakak gak mungkin kan lakuin itu ke Fara?"
"Hmm? Lakuin itu? Itu apa?"
Fara menggigit bibir bawahnya keras - keras ketika terbesit keinginan absurd di benaknya. Sekarang ia sudah kesulitan berpikir jernih. Ia takut, tapi juga mau. Pikirnya, Kenan pasti mau melakukan ritual panas seperti semalam dan pagi tadi. Ia tak tahu saja kalau Kenan hanya sedang menggodanya agar berpikir mesum. "I- itu loh Kak, seperti yang semalam sama tadi pagi."
"Seperti yang semalam sama tadi pagi?" Kenan masih saja bersikap sok lugu. Meskipun ya, ia juga menginginkannya, tapi akal sehatnya masih mampu menepis hasratnya. Sebagai dokter, tentu saja ia sangat tahu kondisi Fara tidak memungkinkan untuk melakukan itu sekarang. Dan ia tidak akan mengambil resiko.
Sesaat Fara speechless. Tidak mungkinkan ia menjawab secara lugas? Tidak, itu sangat tidak mungkin. Ia tidak memiliki muka yang cukup tebal, terlebih di depan Kenan. Saat masih mencoba merangkai kata perumpamaan yang tepat untuk mendeskripsikan isi pikirannya, ia merasakan samar - samar tubuh Kenan bergetar. Sedetik kemudian, ia diliputi rasa curiga. "Kak Ken, Kakak lagi godain Fara, ya?"
Tubuh Kenan semakin bergetar menahan tawa, rupanya Fara sudah menyadari apa yang sedang ia lakukan. "Godain gimana?" bukan Kenan namanya jika ia akan mengaku begitu saja.
Fara semakin yakin dengan kecurigaannya. Kegugupan yang tadi ia rasakan seketika meluap entah kemana, berganti rasa kesal. Tanpa melepaskan diri dari pelukan Kenan, ia memutar tubuhnya agar saling berhadapan dengan Kenan demi melihat ekspresi Kenan yang ia yakini pasti sedang menahan tawa. Benar saja, ia mendapati Kenan tengah mengeraskan rahangnya dengan senyuman mengembang tertahan.
Ketika Fara hendak menumpahkan kekesalannya, tiba-tiba terlintas sebuah ide untuk membalas Kenan di benaknya. "Oh, Fara kira Kakak lagi ngerjain Fara." ucapnya senatural mungkin sembari tersenyum simpul. Mungkin saking inginnya membalas Kenan, ia tidak lagi memikirkan imagenya. Entah mendapat keberanian dari mana, kini gantian dirinya yang meraba - raba tubuh bagian depan Kenan.
Jangan tanyakan reaksi Kenan. Tidak berbeda jauh dari Fara tadi. Tubuhnya seketika bergetar hebat, darahnya berdesir panas dan jantungnya berpacu dengan begitu hebatnya. Mungkin jika ada peraturan lalu lintas kecepatan detak jantung, ia sudah auto kena tilang sekarang, kecepatan detak jantungnya melewati batas normal.
Glek...
Kenan meneguk saliva susah paya. Gejolak tawa yang tadi ia rasakan hilang entah kemana, berganti gejolak hasrat yang kian membuncah dari waktu ke waktu. Tak ada lagi senyuman menahan tawa di wajahnya, berganti wajah mengeram menahan hasrat. Sadar tak sadar, ia memejamkan matanya demi menetralisir rasa yang ada.
"Sa- sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Kenan dengan suara berat nan parau.
"Hmm? Emang Fara ngelakuin apa?" tanya balik Fara sok polos.
"I- itu, tanganmu."
"Oh ini, Fara cuman mau hangatin tangan aja. Kakak kan tau, tangan Fara lagi dingin, pas tuh di hangatin di badan Kakak yang lagi panas. Ngomong - ngomong, kok tiba - tiba badan Kakak jadi panas?"
Keadaan benar - benar berbalik. Kini giliran Fara yang menggoda Kenan hingga kalang kabut.
__ADS_1
"Engh..." tanpa bisa dikendalikan, sebuah e*angan tertahan lolos begitu saja dari bibir Kenan.
Sembari mati - matian menahan tawa, aksi tangan nakal Fara semkin menjadi. "Hmm? Kak Ken ngapain bersuara begitu? Kayak orang lagi BAB aja, tapi susah keluarnya."
Kenan bukan orang bodoh, ia tahu Fara sedang membalasnya. Dengan gemas diremasnya salah satu bukit kembar di balik lembah Fara.
"Engh..." balas Fara yang spontan menge*ang tertahan.
Kenan tersenyum penuh kemenangan. E*angan Fara barusan sekaligus membuat aksi tangan nakal istrinya itu sontak terhenti. Dan ia pun terbebas "Hmm? Jadi kamu juga lagi susah keluar BABnya, yang?" balasnya meledek Fara.
"Mu- mungkin." sekali lagi Fara menggigit bibir bawahnya keras - keras dan kembali menjalankan aksi tangan nakalnya. Ia tak mau kalah.
Tentu saja Kenan juga tak mau kalah. Tangannya mulai bermain di bukit kembar Fara. Ingat, bukit kembar bukan gunung kembar, travelingnya dikondisikan.
"Sa- sayang, bukankah kita harus segera menghentikan ini?" Kenan mengingatkan dengan suara yang semakin berat nan parau ketika aksi absurd nan konyol mereka semakin intens akibat terbuai hasrat. Jika aksi itu diteruskan akan membuat mereka berdua sama - sama menderita akibat tidak dapat menuntaskan hasrat masing - masing, mengingat kondisi Fara yang sangat tidak memungkinkan untuk saat ini.
"I- iya, mangkanya Kakak berhenti, gih." Fara setuju, namun ia tetap tak mau mengalah dan berhenti lebih dulu.
"O- ok, baiklah." sebelum lebih terlambat, Kenan pun mengalah. Ia tahu, dirinya yang akan paling menderita nantinya.
Hosh hosh hosh...
Kenan dan Fara sama - sama terengah - engah sambil berpelukan setelah menghentikan aksi absurd nan konyol itu. Ya, sekarang mereka hanya berpelukan demi saling menguatkan pijakan satu sama lain. Tak ada lagi aksi tangan nakal yang dilakukan baik Kenan maupun Fara.
"Oh, astaga, kamu benar - benar menyiksa Kakak, sayang." keluh Kenan gusar di sela - sela terengah nya.
"Salah Kakak sendiri yang muali duluan." balas Fara mencibir, juga di sela terengah nya.
"Ck..." Kenan berdecak kesal "Tunggu aja kalo kamu udah baik - baik aja, Kakak gak bakal lepasin kamu."
"Siapa takut?" tantang Fara tak gentar.
"Ugh..." Kenan tertegun sesaat, reaksi Fara di luar ekspetasinya "Oh, istri Kakak udah dewasa sekarang, ya? Gak polos lagi."
"Jangan mulai lagi, deh!" peringat Fara.
__ADS_1