Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Makan Malam Memacu Adrenalin


__ADS_3

Glek...


Susah paya Kenan meneguk saliva. Detik ini juga ia telah benar-benar yakin, seyakin-yakinnya bahwa dirinya adalah pria normal. Darahnya mendesir hebat, suhu tubuhnya tiba-tiba memanas di malam yang sejuk ini, di bawah sana ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan, sebut saja si Jonny, alat tempur pemroduksi Kenan junior. Semua gejala yang sangat asing bagi Kenan itu disebabkan oleh pemandangan ilahi, penggoda iman para kaum Adam di hadapannya. Meskipun sangat asing, bagi Kenan yang notabenenya seorang dokter tentu saja memahami makna gejala-gejala tersebut. Hasrat Biologis, itulah sebutannya dalam ilmu sains, Biologi.


Meskipun tidak tahu pasti alasan ia dapat menikmati pemandangan ilahi ini, Kenan tidak peduli. Yang pasti saat ini, Kenan hanya tak ingin melewatkan pemandangan tersebut barang sedetikpun. Matanya seakan enggan berkedip menatap memindai kemolekan tubuh Fara di balik piyama tipis transparan yang membalut lingerie over seksi yang melekat di tubuh gadis itu. Dosa? Itu adalah pemandangan yang sudah terjamin kehalalannya untuk Kenan, ia hanya akan merugi jika melewatkannya. Pikirnya, mungkin Fara tidak menyadari penampilannya sendiri sekarang. Namun Kenan sama sekali tak berniat menegur untuk menyadarkan Fara. Ia malah ingin Fara tidak pernah menyadarinya. Kenan tak sadar saja bahwa tindakannya yang terus menatap intens Fara tanpa berkedip, justru menyadarkan gadis itu.


Sementara di sisi lain, Fara yang nyatanya betul-betul sadar lahir batin dengan penampilannya, sebisa mungkin bersikap acuh seolah tidak menyadari apapun. Awalnya, Fara sempat resah memikirkan reaksi Kenan ketika melihat penampilannya yang seperti ini. Meskipun telah menyiapkan mental baja untuk menerima cacian atau makian Kenan jika menilai buruk dirinya, Fara tetap saja masih resah akan hal itu. Namun apa yang ia dapati, ekspetasinya sangat berbanding terbalik. Ternyata suaminya ini diam-diam menghanyutkan juga, pantas saja supirnya juga begitu. Kenan yang ia kenal alim, hilang entah kemana. Namun, alih-alih ilfil terhadap Kenan, Fara justru senang akan hal itu, kesuksesan rencananya sepertinya sudah terjamin.


Emang dasar pasangan absurd, si suami senang dengan istrinya yang berpenampilan seksi, si istri senang dengan suaminya yang berotak mesum. Tapi, tentu saja itu hanya akan berlaku diantara keduanya saja.


"Ehem..." Fara berdehem begitu tiba di sisi meja makan dan langsung menarik kursi untuk ia duduki di hadapan Kenan saling bersebrangan sisi meja makan "Maaf, udah buat Kak Ken menunggu." ucapnya senatural mungkin untuk menutupi kegugupannya.


"Ehem..." balas Kenan berdehem, sama halnya dengan Fara, ia juga berupaya bersikap senatural mungkin untuk menutupi kegugupannya "Gak kok, Kakak juga baru selesai nyiapin makanannya."


Ya, seperti yang telah mereka sepakati saat dalam perjalanan pulang tadi, Kenan dan Fara akan makan malam di apartemen dengan Kenan yang menyiapkan makanannya. Dan di sinilah mereka kembali terdiam setelah percakapan singkat itu.


"Hmm, baiklah, karena semua udah siap, ayo langsung aja makannya!" lanjut Kenan berucap, mengajak Fara segera memulai sesi makan malam sebelum suasana menjadi lebih canggung.

__ADS_1


"Hm." tanggap Fara hanya ber'hm' singkat sebagai jawaban persetujuan.


Kenan dan Fara pun memulai sesi makan. Mereka makan dalam diam dan agak tidak khidmat. Baik Kenan maupun Fara agak kesulitan menelan makanan yang mereka lahap. Kenan yang selalu mencuri-curi pandang menikmati kemolekan tubuh Fara, membuat pria itu berkali-kali meneguk saliva susah paya. Sedangkan Fara yang menyadari setiap tatapan intens Kenan yang seolah ingin menerkamnya, membuat gadis itu semakin gugup dan juga berkali-kali susah paya meneguk saliva.


Setelah sekian waktu berlalu, akhirnya sesi makan malam yang sangat memacu adrenalin itu selesai juga. Baik Kenan maupun Fara, tampak di dahi keduanya timbul bulir-bulir keringat. Entah keringat akibat saos dalam makanan mereka yang cukup pedas, atau keringat akibat atmosfir sepanjang sesi makan yang memanas oleh sebab yang abnormal.


Sembari menunggu makanan yang baru saja mereka lahap tercerna dengan baik dalam perut mereka, Kenan dan Fara tetap duduk diam di kursi mereka seolah enggan untuk beranjak. Bukan enggan agar proses pencernaannya berjalan lebih baik, tapi enggan karena keduanya mempunyai maksud tertentu. Kenan yang ingin lebih lama berada di sisi Fara karena belum puas dan seakan menginginkan lebih dari sekedar menikmati pemandangan indah kemolekan tubuh istrinya itu. Sedangkan Fara, gadis itu tengah memikirkan tindakan apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk meneruskan rencananya menggoda Kenan.


Lihatlah, tujuan mereka sebenarnya sama. Hanya saja baik Kenan maupun Fara tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mewujudkan tujuan itu. Ralat, bukan tidak tahu, tapi keduanya hanya menjaga image masing-masing. Pasalnya, mereka tidak saling mengetahui isi pikiran satu sama lain. Jika tahu, pasti akan mudah. Hanya perlu salah satu diantara keduanya meminta secara terang-terangan dan yang lain pasti akan dengan senang hati memberikan. Atau kalau mau yang lebih praktis, salah satunya langsung saja memulai tanpa aba-aba, dan yang lain pasti auto mengikuti alur tanpa protes.


Namun sayang, semua itu hanya jika. Nyatanya Kenan dan Fara sama sekali tidak saling mengetahui isi pikiran satu sama lain. Keduanya bukan peramal atau pemilik kekuatan supranatural yang bisa membaca pikiran, mereka hanyalah manusia biasa dalam dunia halu romansa modern.


"Mau beresin meja makan, Kak, kenapa?" tanya balik Fara sedikit heran dengan mimik wajah serta intonasi Kenan yang terkesan panik.


"Ugh..." Kenan tertegun menyadari kelepasan nya "G-gak kenapa-napa kok, Kakak kaget aja kamu tiba-tiba berdiri." kilahnya sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal "Kamu duduk aja, nanti Kakak yang beresin." imbuhnya bertitah kemudian.


Fara yang sudah mulai mengumpulkan perkakas bekas makan mereka di atas meja, mengabaikan titah Kenan "Biar Fara aja, Kak. Fara gak enak ngerepotin Kak Ken mulu. Masa Kak Ken yang nyiapin makanannya, Kak Ken juga yang beresin bekas makannya."

__ADS_1


"Siapa bilang ngerepotin? Kamu gak ngerepotin Kakak, kok. Bukannya tadi Kakak juga udah bilang, kamu gak usah sungkan sama Kakak. Kakak kan suamimu."


Mendadak Fara menghentikan kegiatannya dan menatap tajam Kenan "Lalu, bagaimana dengan Fara? Fara kan istri Kakak, salahkah Fara ngelakuin apa yang seharusnya Fara lakuin sebagai istri? Sebenarnya siapa yang istri, siapa yang suami? Kok selama ini Fara perhatiin malah kebalik, Fara suaminya, Kak Ken istrinya. Kak Ken mulu yang layanin Fara." akhirnya uneg-uneg yang dipendamnya dalam hati selama ini terucapkan juga.


Glek...


Kenan meneguk saliva susah paya. Untuk kedua kalinya setelah bersama Farzan terakhir kali, ia kembali melihat mode singa betina marah Fara. Kenan menunduk tidak berani bertemu tatap dengan istrinya itu "Maaf, Kakak gak sadar. Kakak cuman ingin menjadi suami yang baik untuk Fara. Kakak kira semua yang Kakak lakukan selama ini udah benar." cicitnya penuh penyesalan bercampur takut. Kesepuluh jemarinya di bawah sana saling bertaut *eremas-*emas.


Jika Kenan mengibaratkan sikap Fara bak singa betina marah, maka Fara mengibaratkan sikap Kenan saat ini bak kucing jantan ketakutan. Seketika kekesalan Fara hilang entah kemana, berganti sunggingan senyum tertahan di bibirnya. Sungguh lucu menurut Fara, ingin tertawa, takut dosa.


"Ehem, ehem..." Fara batuk berdehem guna menetralisir gejolak tawa yang hampir pecah sudah sampai di tenggorokannya "Ya udah, gak apa-apa. Yang penting Kak Ken udah sadar sekarang. Jadi, mulai saat ini biarin Fara ngelakuin tugas Fara ngelayanin Kak Ken sebagai istri. Bolehkan?"


Kenan langsung mengangguk "Iya, boleh." 'Ngelayanin di atas ranjang pun Kakak ngebolehin, pake banget malah.' lanjutnya dalam hati. Ingin sekali ia mengucapkan kalimat lanjutan itu dengan bibirnya, namun sayang ia tidak memiliki cukup keberanian.


Senyuman Fara semakin mengembang puas "Hm, kalo gitu Fara mau lanjutin beresin mejanya, Kak Ken duduk anteng aja di situ, ok?"


Hati-hati Kenan mendongak untuk kembali bertemu tatap dengan Fara "Kali ini Kakak bantu, ya! Udah malam soalnya. Kali ini aja, please!" tawarnya memohon.

__ADS_1


Fara terdiam berpikir sejenak "Ya udah, boleh. Tapi inget, kali ini aja!"


Dengan sigap Kenan berpose hormat sembari tersenyum "Siap, bu bos!"


__ADS_2