
Flashback on!
Kediaman keluarga Sanjaya...
Malam hari menjelang pernikahan antara Bagus dan Fara di keesokan harinya. Waktu masih menunjukan pukul 20.25 PM, waktu setempat. Selang beberapa menit setelah mengakhiri panggilan vidio dengan Fara, ponsel Bagus kembali berdering notifikasi panggilan masuk. Di layar ponsel tertera 'Riky Calling'. Riky adalah salah satu sahabat karib Bagus.
"Halo." ucap Bagus sesaat panggilan terhubung.
"Halo Gus, lo lagi dimana?" tanya Riky di sebrang sana.
"Di rumah, napa?"
"Keluar yuk!"
"Maaf Rik, lo kan tau besok gue married. Gue malas keluar, butuh tenaga ekstra buat besok."
"Ya elah Gus, justru itu gue ajak lo keluar. Kalo lo udah nikah, waktu bareng kita pasti bakal kebatas. Lo kan bucin banget sama si Fara, belom married aja nempel mulu. Ayolah Bro, anggap aja ini ngumpul - ngumpul acara ngelepas masa lajang lo."
Sesaat Bagus terdiam berpikir. Semua yang dikatakan Riky memang benar adanya. Lagi pula, ia juga merasa tak enak hati pada para sahabatnya yang sering mengajaknya keluar, namun sangat jarang disanggupinya karena sibuk bekerja dan menghabiskan waktu dengan Fara. "Ok lah, ngumpul di tempat biasa kan?" putusnya kemudian.
"Yoi Bro!" seru Riky terdengar antusias di seberang sana.
"Tapi, gue gak bisa lama, ya!" peringat Bagus.
"Iya, iya, buru gih, kesini!"
"Ok, otw."
Setelah panggilan terputus, Bagus bergegas bersiap. Ia hanya mengenakan pakaian santai, jaket kulit dan celana jeans puntung selutut.
"Mau kemana Gus?" tanya Bagas, sang ayah pada Bagus yang hendak melewati ruang santai keluarga. Sudah menjadi rutinitas pada jam - jam seperti ini Bagas dan Adriana, istri Bagas sekaligus ibu Bagus, akan bersantai di ruangan itu sambil menonton televisi.
"Mau keluar bentar, Yah." jawab Bagus seraya menghampiri kedua orang tuanya dan menyalami mereka.
"Kemana?" kali ini giliran Adriana, sang ibu yang bertanya.
"Riky barusan nelpon, ngajak Bagus ngumpul - ngumpul acara ngelepas masa lajang Bagus." jelas Bagus sedikit malu - malu.
"Ciee... Yang besok udah gak lajang lagi. Ya udah, sana gih, tapi ingat, jangan kemalaman pulangnya!"
"Hehe... Ok sip, Ma. Ya udah, Bagus pergi dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
>>>
Sekitar 25 menit kemudian, Bagus tiba di sebuah bar yang cukup besar. Bar ini adalah tempat yang sering digunakan Bagus dan para sahabatnya untuk berkumpul dan bersantai menghibur diri dikala sedang suntuk.
Keluar dari mobilnya yang sudah terparkir sempurna, Bagus langsung masuk ke dalam bar. Tiba dalam Bar, ia segera menuju ruang VVIP yang sering mereka gunakan.
Ceklek...
"Wow, akhirnya dateng juga yang ditunggu - tunggu!" Diki, sahabat lain Bagus selain Riky, spontan berseru menyambut Bagus yang baru saja memasuki ruangan.
"Malam gaes!" sapa Bagus basa basi pada keempat pria di sana. Mereka berempat lah para sahabatnya, Riky, Diki, Andika dan Anton.
"Yoi calon pengantin!" sahut keempatnya kompak menggoda Bagus yang hanya terkekeh menanggapinya.
"Sorry baru bisa gabung lagi." ucap Bagus ketika sudah ikut duduk bersama keempat sahabatnya itu.
"Gak apa - apa, santai aja Bro." Anton yang paling dekat dengannya, menepuk - nepuk bahu Bagus.
"Yoi." timpal ketiga lainnya, sekali lagi kompak. Memang mereka berlima bisa menjadi sahabat karena kekompakan mereka.
"Ok lah, sebagai permintaan maaf gue sekaligus acara ngelepas masa lajang gue, malam ini kalian boleh pesan sepuasnya, gue yang traktir."
"Yuhuuu... You are the best Bro!" lihatlah, lagi - lagi Riky, Diki, Andika dan Anton berseru kompak penuh semangat.
"Oh, iya ya, gue hampir lupa." timpal Diki sembari menepuk jidatnya sendiri, sedang Andika dan Anton hanya ber'hm' sembari mengangguk sependapat.
"Yang laen?" kedua alis Bagus saling bertaut, ia bingung. Pikirnya hanya akan ada mereka berlima saja.
"Hmm? Apa waktu ditelpon tadi gue gak ngasih tau, ya?" Riky menggaruk - garuk tengkuknya canggung.
Bagus hanya menggeleng, sedang Diki, Andika dan Anton kompak menepuk jidat.
"Hehe..." Riky menyengir "Sorry, sorry, sebenarnya yang ngumpul bukan kita aja. Sherina sama teman - temannya juga ikut." jelasnya sedikit takut - takut. Sebagai sahabat, tentu saja ia tahu bagaiman hubungan antara Bagus dan Sherina.
"Hufh..." Bagus menghembuskan nafas pasrah. Sebagaimana Riky mengetahui tentang dirinya, ia juga sedikit banyak mengetahui tentang Riky yang sejak lama menaruh hati pada Sherina. Jadi, pasti Riky tidak berani mengecewakan Sherina, pikirnya. "Ok lah, gak apa - apa." putusnya kemudian.
"Sorry ya, Bro." ucap Riky tak enak hati pada Bagus.
"Udah gak apa - apa, santai aja." Bagus menggedikan bahunya santai sembari tersenyum ramah.
Ceklek...
Entah kebetulan atau kebenaran, tepat setelah Bagus berucap, pintu ruangan terbuka disusul masuknya Sherina serta kedua sahabatnya, Sindy dan Mika. Ketiganya mengenakan pakaian yang cukup ketat dan terbuka hingga menampakan kes*ksian tubuh mereka.
__ADS_1
"Malam gaes! Maaf, udah nunggu lama, ya?" sapa Sherina dengan senyuman termanisnya. Ia berkata maaf, namun ekspresinya tidak sedikitpun menunjukan rasa bersalah.
"Malam Sher, gak kok, kita juga belom lama." balas Riky begitu antusias, sedang Bagus dan ketiga lainnya hanya tersenyum tipis.
Senyuman Sherina semakin mengembang sembari mencuri - curi lirikan pada Bagus. Sedang Sindy dan Mika hanya tersenyum cerah ala kadarnya.
"Ok, karena semuanya udah berkumpul, yuk mulai aja acaranya!" seru Riky ketika Sherina, Sindy dan Mika sudah duduk di sofa yang memang tersedia untuk mereka.
"Ck, ck... Yang punya acara siapa, yang buka siapa?" Andika mencebik bercanda menyindir Riky.
Riky menyengir, sedang yang lain hanya geleng - geleng kepala.
"Ya udah, sono pesan, gih! Gue ke toilet dulu." ujar Bagus sebelum bangkit dari duduknya tanpa menunggu diperbolehkan.
Ketika Bagus kembali dari toilet, ia cukup terkejut mendapati semua pesanan telah siap, bahkan para audiens sudah mulai menikmati pesanan tersebut. Perasaan ia hanya pergi sekitar 10 menit. Sepertinya Riky dan ketiga sahabatnya sudah memesan sebelum kedatangannya, pikir Bagus positif, tak ingin berprasangka yang tidak - tidak kepada para sahabatnya. Ia pun ikut bergabung menikmati pesanan ala bar yang minumannya dominan mengandung alkohol itu. Bagus sebenarnya bukan peminum berat, tapi untuk malam ini entah mengapa ia sangat ingin minum. Mungkin efek ketegangan yang ia rasakan menjelang pernikahannya besok, sehingga ingin merilekskan tubuh dan pikirannya . Tapi ia juga tidak berniat minum terlalu banyak agar tidak mabuk berat. Ia hanya akan minum secukupnya sampai merasa sedikit fly dan lebih rileks. Mereka menikmati pesanan sambil berkaraoke menggunakan fasilitas karaoke yang tersedia dalam rungan VVIP itu.
Entah sudah berapa waktu mereka lalui dalam kesenangan dan keceriaan, Bagus tiba - tiba merasa kantuk menghinggapinya. Padahal ia minum belum terlalu banyak, dan iapun merasa belum mabuk. Dan lebih anehnya lagi, kantuknya semakin menjadi dari waktu - ke waktu, hingga ia benar - benar terlelap dan tak tahu apa lagi yang terjadi setelahnya.
>>>
Bagus kembali tersadar di pagi hari buta sekitar pukul 5 dini hari dalam keadaan kepala yang terasa sangat berat. Sembari mengumpulkan kesadaran, diedarkannya pandangannya menyapu sekeliling ruangan yang tampak asing baginya. Saat visi dan kesadarannya mulai membaik, betapa terkejutnya ia dengan apa yang ia dapati.
Saat ini Bagus sedang dalam keadaan t*lanjang bulat hanya berbalut selimut. Di sampingnya, Sherina masih terlelap yang juga dalam keadaan t*lanjang bulat seperti dirinya. Hanya dengan sekilas pandang, ia dapat langsung menebak bahwa mereka sedang berada di dalam kamar hotel.
Dalam keadaan shock nya, Bagus termenung mencoba mengingat - ingat apa yang telah terjadi. Namun yang dapat diingatnya hanya sebatas ia tiba - tiba merasa kantuk semalam. Selanjutnya hingga berakhir dalam keadaan ini, ia benar - benar tidak mengingat apapun.
Brak...
Suara gebrakan pintu seketika membuyarkan lamunan Bagus. Mendongak, ia mendapati Bagas, sang ayah dan seorang pria paruh baya sepantaran Bagas yang ia kenali sebagai ayah Sherina, Mahmud Hendrawan tengah menatap murka pada dirinya.
"Ayah, Om, ini bukan___"
Plak...
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat telak di sebelah pipi Bagus sebelum sempat menyelesaikan ucapannya.
"Kurang ajar! Apa yang telah kamu lakukan pada putriku B*JINGAN!!!" Mahmud menghardik penuh amarah setelah menampar Bagus.
Plak...
"TANGGUNG JAWAB ATAS PERBUATANMU!" Bagas ikut melakukan hal serupa.
Flashback off!
__ADS_1