
Flashback on!
21 tahun yang lalu...
Di sebuah rumah sederhana berdinding bata dan berlantai olahan semen mentah, dalam sebuah kamar terlihat dua orang, pria dan wanita paruh baya tengah berbincang dengan ekspresi serius di wajah masing - masing.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya sang wanita pada sang pria yang diketahui sebagai seorang dokter berdasarkan jas dokter yang dikenakannya.
"Hufh..." sang dokter menghembuskan nafas berat "Maaf Bu Ayu, untuk saat ini saya belum bisa menyatakannya secara langsung. Anak itu perlu dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh."
Ya, sang wanita tidak lain dan tidak bukan adalah Ayudia. Dan tempat mereka berada saat ini adalah rumah Ayudia yang sejak 3 tahun yang lalu merangkap sebagai panti asuhan yang diberi nama Al - Rahman.
Sementara Ayu dan sang dokter berbincang - bincang, pandangan mereka terus tertuju pada sesosok gadis kecil berusia kisaran 10 tahunan tengah terbaring lelap nan lemah di atas sebuah ranjang minimalis dalam ruangan itu. Gadis kecil itu diketahui bernama Asmita.
"Hmm?" sebelah alis Ayu terangkat "Apa Dokter tidak memiliki diagnosa awal?" tanyanya bingung.
"Ada, tapi..." jawabnya menggantung seolah tidak ingin melanjutkan.
"Tapi, apa Dok? Tolong katakan!" desak Ayu dengan nada suara serta ekspresi yang mendadak cemas.
"Hufh..." sekali lagi sang dokter menghembuskan nafas berat "Saya tidak yakin apakah diagnosa awal saya benar atau tidak. Saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Saya___"
"Maaf Dok, bisakah anda langsung mengatakan intinya saja?" pinta Ayu sesopan mungkin memotong ucapan sang dokter yang sangat bertele - tele.
Sesaat sang dokter terdiam sembari menatap dalam - dalam wajah Ayu "Menurut diagnosa awal saya, ada tumor di otak Anak itu. Tapi, seperti yang saya katakan, saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, bisa saja diagnosa awal saya salah. Jadi, kita perlu melakukan pemeriksaan secara lebih menyeluruh." tuturnya hati - hati kemudian. Sangat jelas tersirat dari tutur katanya, ia berusaha sebaik mungkin agar tidak membuat Ayu khawatir.
Hening...
__ADS_1
Sejenak Ayu shock sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangannya setelah mendengar penuturan sang dokter. Disaat mulai dapat mengendalikan rasa shock nya, ia pun berujar "Tolong jelaskan detailnya hasil diagnosa awal anda, Dok!"
"Maaf Bu, tapi seperti yang saya katakan, saya___"
"Tidak apa - apa Dok, saya mengerti anda hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Namun, apa salahnya anda mengutarakan pendapat anda? Kalaupun anda memang salah, saya tidak akan protes dengan itu. Jadi, saya mohon Dok, saya ingin tahu bagaimana kondisi Anak saya." pinta Ayu sepenuh hati memotong ucapan sang dokter yang masih ingin berkelit.
Melihat ketetapan hati Ayu yang benar - benar penuh, sang dokter tahu bahwa ia tak dapat berkelit lagi. Akhirnya, dengan segenap keberatan hati ia memenuhi permintaan Ayu dan mulai menjelaskan "Hm, seperti yang saya katakan tadi bahwa dari hasil diagnosa awal saya, saya menemukan ada tumor di otak Nak Asmita. Namun Bu Ayu tenang saja, tumor tersebut masih jinak. InsyaAllah jika ditangani tepat waktu dan di tangan yang tepat, kemungkinan Nak Asmita untuk sembuh sangat tinggi. Oleh karena itu, sebaiknya Bu Ayu segera memeriksakan Nak Asmita ke rumah sakit secara menyeluruh."
Ayu mencoba mendengarkan dan mencerna penuturan panjang lebar sang dokter dengan kepala dingin. "Apa kemungkinan terburuk yang bisa terjadi Dok?" tanyanya setenang mungkin kemudian.
"Kemungkinan terburuknya, jika Nak Asmita tidak segera mendapatkan penanganan lanjut, tumornya akan berkembang lebih besar. Sebagai dampaknya, dia akan sering mengalami sakit kepala tiba - tiba seperti beberapa waktu yang lalu, itu dampak teringan. Dampak terberatnya, Nak Asmita akan mengalami kehilangan memori secara perlahan akibat tumor yang terus memakan saraf otaknya. Dan jika sama sekali tidak dilakukan penanganan, saya yakin Bu Ayu tahu apa yang akan terjadi pada Nak Asmita, yakni kematian."
Praanggg...
Tiba - tiba terdengar suara benda jatuh dan pecah dari arah luar pintu kamar yang sedikit terbuka. Spontan perhatian Ayu dan sang dokter teralihkan pada sumber suara tersebut.
Tersadar dari ketertegunan singkatnya, Ayu bergegas beranjak menghampiri Kenan kecil dan langsung membawa bocah yang tampak shock berat itu kedalam pelukan. "Sa- sayang, apa kamu ngedengar apa yang baru aja Om Dokter katakan?" tanya Ayu lembut nan hati - hati.
Kenan kecil tersadar linglung dari shock nya "Bun- Bunda, yang Om Dokter katakan barusan itu gak benar kan?" tanyanya balik dengan suara bergetar, mengabaikan pertanyaan Ayu.
"Hufh..." Ayu mend*sah lemah. Meskipun baru berusia 10 tahun, ia tahu ia tak akan bisa membohongi Kenan kecil yang sejatinya seorang jenius. "Sayang, dengerin Bunda ya! Apapun yang terjadi, kamu gak boleh ngasih tau ini sama Mita. Kamu tenang aja, Mita gak akan ninggalin kita kemana - mana. Tugas kamu mulai sekarang, jagain Mita biar gak sakit kepala kayak tadi lagi." ujarnya tak membenarkan ataupun menyangkal pertanyaan Kenan kecil.
Namun Kenan kecil, dengan mudahnya memahami maksud ujaran Ayu yang secara tidak langsung membenarkan informasi mengenai kondisi Mita yang didengarnya dari bibir sang dokter. Sontak tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Ayu. Tanpa mampu berucap, tangisnya pecah dengan suara tercekat. Dan Ayu pun memeluk dirinya semakin erat.
"Ehem..." sang dokter berdehem setelah sekian waktu berlalu, dimana Ayu berusaha menguatkan Kenan kecil "Permisi Bu Ayu, apakah sekarang saya sudah boleh pulang?" tanyanya sopan berniat pamit kemudian.
Tanpa melepaskan Kenan kecil dari pelukannya, Ayu yang posisinya tengah membungkuk, harus mendongak demi bertemu tatap dengan sang dokter. "Eh, silahkan Dokter! Maaf atas ketidaknyamanannya." ucapnya mempersilahkan sungkan, sedikit tak enak hati dengan keadaan yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Tidak apa - apa Bu Ayu." sang dokter tersenyum ramah "Kalau begitu, saya permisi dulu. Bu Ayu bisa membayar biaya pemeriksaan tadi, nanti saat anda membawa Nak Mita untuk diperiksakan ke rumah sakit."
"Baik Dokter Adnan, Terima kasih banyak." balas Ayu tersenyum ramah pula sembari menyebutkan nama sang dokter sesuai yang tertera pada nametag di dada kanan jas dokternya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dokter Adnan pun berlalu meninggalkan Ayu yang kembali berusaha menguatkan Kenan yang masih belum reda dari tangisnya.
###
Singkat cerita sejak hari itu, menuruti nasehat Ayu, Kenan kecil selalu siaga berada di sisi Mita kecil, menjaganya layaknya seorang adik meskipun mereka seumuran. Sampai pada suatu ketika, terbesit sebuah keinginan dan tekad yang begitu besar di benak Kenan ingin menjadi seorang dokter yang bisa menyembuhkan Mita suatu saat nanti melihat kondisi Mita yang tak kunjung membaik dikarenakan Ayu yang tak mampu membayar biaya pengobatannya secara maksimal.
4 tahun kemudian, dimana Kenan telah menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Kenan tidak lagi dapat menjaga Mita secara siaga karena harus hidup mandiri meninggalkan panti asuhan. Dan ketika suatu akhir pekan ia berkunjung ke panti asuhan, Kenan mendapati bahwa Mita telah bertemu dengan orang tua kandungnya yang otomatis membawa Mita untuk mengasuhnya.
Kenan tak bisa berbuat apa - apa, walaupun berat dan ada rasa tak rela untuk berpisah dengan Mita yang sudah benar - benar dianggapnya sebagai saudara kandung. Ia hanya bisa mencoba berpikir positif bahwa ini yang terbaik untuk Mita. Terlebih dari penjelasan Ayu yang mengatakan bahwa orang tua Mita merupakan orang berada yang akan lebih baik jika Mita bersama mereka agar bisa mendapatkan pengobatan yang lebih baik dengan biaya yang terjamin.
Terlepas dari semua itu, Kenan sama sekali tidak mengurungkan niat dan tekadnya untuk menjadi seorang dokter. Sembari berharap suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengan Mita dalam keadaan baik - baik saja yang tentunya akan lebih baik lagi jika sudah sembuh dari penyakitnya.
Flashback off!
"Eh, bahkan Profesor Kenan juga mengenal saya?"
Deg...
Sekali lagi detak jantung Kenan seolah terhenti sesaat, mendapati tanggapan Mita yang terkesan tidak mengenali dirinya sebagai sosok Kenan kecil dari 18 tahun silam.
__ADS_1