
"Sayang, kok pakaian Kakak jadi gini?" protes Kenan. Dirinya dan Fara baru saja keluar dari mall. Ia yang tadinya hanya mengenakan kemeja dan celana jeans, kini hampir berubah total, kecuali jeansnya. Sekarang ia mengenakan overcoat dengan dalaman baju kaos santai. Di kepalanya sebuah beret bertengger rapih. Di hidungnya bertengger sebuah kaca mata hitam gelap serta ditutupi masker yang menutupi hingga ke bawah dagunya. Semua itu adalah hasil karya Fara yang katanya untuk menutupi penampilan Kenan agar tidak dikenali oleh orang - orang saat mereka sedang berkencan.
Ya, sesuai kesepakatan bersama kemarin, hari ini mereka akan berkencan. Mengapa baru hari ini, bukan dari kemarin? Apa lagi alasannya jika bukan karena Kenan yang ternyata benar - benar merealisasikan ancamannya, mempercepat proses pembuatan Kenan junior. Jadilah kemarin setelah memijat Fara, Kenan langsung memulai aksinya. Mereka istirahat ketika waktu makan siang tiba, lalu melanjutkan di malam harinya sebelum tidur, plus pagi buta tadi setelah shalat subuh.
"Udah, jangan banyak protes. Siapa suruh jadi orang terkenal, pake banget lagi." protes balik Fara kesal. Berbeda dengan Kenan yang penampilannya hampir berubah total, yang berubah dari penampilannya hanyalah tambahan sebuah beanie bertengger cantik di kepalanya. Sedangkan pakaiannya, tetap mini dress yang ia gunakan sejak dari apartemen tadi.
"Ya elah sayang, itu kan bukan mau Kakak juga. Para jurnalis aja yang kurang kerjaan nyari berita buat dipublish." gerutu Kenan tidak ingin disalahkan.
"Lah, kok kurang kerjaan? Namanya juga jurnalis, kerjaan mereka mah emang nyari berita. Kakak gimana sih?"
"Eh, iya ya. Hehe..." Kenan menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal sembari menyengir. "Terus, salah siapa dong?" tanyanya kemudian.
"Tau ah, gelap." jawab Fara sebal "Udah, gak usah bahas itu lagi, gak penting. Mending kita mulai aja kencannya." digamitnya sebelah tangan Kenan, berjalan menuju mobil dimana si supir omes menunggu mereka sudah cukup lama sejak mereka memasuki mall.
"Gak penting? Yang mulai bahas itu kan dia. Untung sayang." cibir Kenan lirih seraya mensejajarkan langkahnya dengan Fara.
"Kakak ngomong apa barusan?" tanya Fara yang ternyata dapat mendengarnya, namun samar.
"Gak, Kakak gak ngomong apa - apa kok." jawab Kenan berbohong.
Fara tidak bertanya lebih lanjut, tidak penting juga, pikirnya.
Setibanya di mobil, Kenan dan Fara disambut dengan tatapan aneh oleh si supir omes. Ia memang tahu bahwa tuan dan nyonya nya ini absurd, namun ia tak tahu jika sampai seabsurd ini. Ditengah cuaca cerah nan sedikit terik ini, sepasang Kenan dan Fara malah menggunakan setelan pakaian musim dingin, terutama Kenan yang hampir full set. Mungkin bukan hanya si supir omes, melainkan setiap orang yang berpapasan dengan Kenan dan Fara sejak keluar dari mall, berpandangan serupa, pasangan konyol, aneh bin absurd. Kenan dan Fara mau mengelabui orang - orang, atau justru cuaca itu sendiri? pikir si supir omes tak habis pikir.
"Pak, kok diam di situ? Ayo masuk!" Fara yang memberi perintah dengan sedikit tidak sabar ketika dirinya dan Kenan sudah memasuki mobil dan menutup pintu sendiri, namun si supir omes malah diam mematung di luar.
Si supir omes sedikit tersentak sadar dari lamunannya. "Eh, maaf Nyonya, baik." lantas bergegas memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Wow!" Fara berseru takjub singkat. Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah ia dengar terucap dari bibir si supir omes. Sedang Kenan di sampingnya, terlihat biasa saja, entah sudah pernah mendengar yang lebih panjang dari ini, atau memang tidak peduli.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Kenan sedikit penasaran melihat reaksi Fara. Ia sama sekali tidak tahu apa yang baru saja membuat istrinya itu takjub.
"Ternyata pak supir bisa ngomong sedikit panjang juga." jawab Fara sembari terus menatap si supir omes yang sudah mulai menjalankan mobil di kursi kemudi.
"Haha..." Kenan tertawa singkat, merasa konyol dengan jawaban Fara "Kamu ada - ada aja, sayang. Kirain apa?" ucapnya santai sembari geleng - geleng kepala.
Fara mengalihkan pandangannya pada Kenan, menatap suaminya itu dengan tatapan ingin tahu "Kakak kok kayaknya biasa aja? Emang udah sering dengar Pak supir ngomong panjang seperti ini?"
"Ya, iya lah. Orang Pak Bambang nya udah lama kerja sama Kakak. Jangankan seperti ini, lebih panjang pun Kakak udah sering dengar." Kenan menggedikan bahunya mengisyaratkan bahwa ia bersungguh - sungguh.
"Pak Bambang?" alih - alih fokus pada jawaban inti dari pertanyaannya, Fara malah lebih terfokus pada nama yang baru saja disebutkan Kenan.
"Iya, Pak Bambang, nama Pak supirnya." terang Kenan.
"Ooh, jadi namanya Pak Bambang." Fara mangggut - manggut.
"Sa- salam kenal juga, Pak. Hehe..." Fara tersenyum canggung, sedang Kenan di sampingnya santai - santai saja seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
Hening...
Setelahnya tidak ada percakapan apapun lagi di dalam mobil, sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di lokasi kencan pertama, Taman Langsat. Mengapa Kenan dan Fara memilih Taman Langsat? Jawabannya sederhana, karena mereka ingin berkencan dengan destinasi spot yang asri. Dan pilihan mereka jatuh pada Taman Langsat, salah satu tempat yang cukup strategis untuk dijadikan tempat bersantai dan berkencan yang letaknya di Kebayoran baru.
"Terima kasih, Pak." ucap Fara masih saja merasa canggung pada si Bambang, sebelum bergegas turun.
"Sama - sama, Nyonya." sedangkan si Bambang kembali bersikap datar seperti biasa.
Kenan hanya geleng - geleng kepala sembari tersenyum lucu melihat interaksi antara istri dan supirnya itu.
"Hmm? Apa?" Kedua alis Kenan saling bertaut erat ketika Fara tiba di sisinya dan langsung mengulurkan salah satu tangannya, menengadah seolah meminta sesuatu. Ia benar - benar tidak mengerti dengan maksud uluran tangan itu.
__ADS_1
"Cih..." Fara berdecih sinis "Gini nih, kalo orang gak pernah pacaran."
"Apaan sih, sayang?" tautan kedua alis Kenan kian mengerat, semakin bingung dan sedikit tersinggung dengan ucapan Fara yang terkesan mengejek dirinya.
"Pegangan tangan, suamiku sayang." jelas Fara gemas.
"Ooh..." Kenan manggut - manggut dan perlahan mengulurkan tangannya berniat menyambut tangan Fara. Namun ketika tangannya hendar meraih tangan Fara, tiba - tiba ditariknya kembali dengan cepat.
"Hmm? Kenapa?" giliran Fara yang menautkan kedua alisnya erat. Ia bingung dengan tindakan Kenan.
"Kakak gak mau ngelakuin hal yang sama seperti yang kamu dan Bagus lakuin saat lagi kencan. Kalian pasti pegangan tangan juga kan?" jawab Kenan judes.
Mendapati Kenan yang tengah kesal, Fara malah menyunggingkan senyuman tertahan di sudut bibirnya.
"Kenapa kamu malah senyum gitu?" Kenan semakin kesal.
"Kakak cemburu ya?" tebak Fara masih dengan menahan senyum.
"Ugh..." sesaat Kenan tertegun sembari pipinya tiba - tiba merona "Ga- gak kok, siapa bilang aku cemburu." bohongnya melengos, membuang pandanganya ke sembarang arah, menghindari tatapan Fara.
Fara yang sempat melihat rona di pipi Kenan, semakin mengembangkan senyumnya. Ingin sekali ia terus menggoda Kenan yang terlihat sangat lucu nan menggemaskan di matanya, ketika tengah terbakar cemburu seperti ini. Namun ia juga takut, Kenan malah semakin kesal dan berujung marah, hingga mereka berakhir dengan perdebatan.
Fara menggunakan dirinya sendiri sebagai patokan. Jika dirinya yang berada di posisi Kenan, ia juga pasti akan terbakar cemburu. Yang jika terus dipanasi, pasti akan berakhir dengan kemarahan yang menggebu - gebu.
Lantas Fara melangkah lebih dekat ke sisi Kenan dan langsung merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Kenan. Tanpa permisi, ia meraih sebelah tangan Kenan dan dirangkulkan pada pinggangnya sendiri. Jadilah Kenan dan Fara berdiri berdampingan dalam jarak yang sangat dekat sambil merangkul pinggang satu sama lain.
Sesaat Kenan terkejut dan shock dnegan tindakan Fara. Ketika tersadar, ia hendak melepaskan rangkulannya dari pinggang Fara, namun dengan sigap dicekal oleh istrinya itu.
"Kak Ken mau ngelakuin yang gak pernah, Fara sama Kak Bagus lakuin saat lagi kencan kan? Nah gini, kami gak pernah kayak gini." ujar Fara penuh kesungguhan.
__ADS_1