Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Pesan Bagus


__ADS_3

Bruk...


Kenan menutup pintu kamarnya dengan sedikit membanting hingga menghasilkan suara tumbukan yang cukup keras. Fara yang sejak tadi mengekor di belakangnya, berniat ikut masuk kedalam kamar sang suami dibuat terperanjat kaget karenanya. Sejenak Fara mengusap - usap dadanya guna menetralisir kekagetannya, lalu mengulurkan tangannya meraih gagang pintu.


Ceklek ceklek ceklek...


Namun setelah sekian putaran ia memutar gagang pintu, Fara mendapati pintu tersebut tak mau terbuka yang mengindikasikan dalam keadaan terkunci.


"Hah?" kedua alis Fara saling bertaut erat "Apa Kak Ken lupa kalo kami sudah sekamar?" gumamnya bertanya - tanya kebingungan. Tindakan Kenan membanting pintu barusan, pikirnya hanya tindakan refleks yang suaminya itu lakukan akibat terlalu lelah hingga malas menutup pintu dengan cara yang lebih baik. Tak ada sedikitpun pikiran janggal yang terbesit di benaknya tentang itu.


Tok tok tok...


"Kak, kok pintunya dikunci? Fara masih di luar loh!" Fara mencoba mengetuk pintu sembari berseru cukup keras agar Kenan mendengarkan dari dalam.


Ceklek...


Baru saja Fara hendak mengetuk lagi, pintu kamar sudah lebih dulu terbuka disusul munculnya sosok Kenan dari balik pintu dalam keadaan agak kusut. Beberapa kancing atas kemeja yang dikenakan pria itu sudah terbuka tak ada lagi dasi yang tersimpul di kerahnya, serta rambut yang tadinya tersisir rapi, kini terlihat sedikit acak - acakan klimis.


"Ada apa?" Tanya pria itu dengan nada malas yang terdengar dingin di telinga Fara.

__ADS_1


Tautan kedua alis Fara semakin erat "Kok, ada apa? Harusnya Fara yang nanya gitu, kenapa Kak Ken main kunci aja pintunya? Fara kan masih di luar."


"Hufh..." Kenan mend*sah berat "Oh itu, maaf, sepertinya kita emang gak bisa tidur satu kamar. Jadi, kamu langsung ke kamarmu aja. Di sana masih ada pakaian yang bisa kamu pakai buat malam ini kan? Pakaianmu yang ada di sini, nanti aku suruh ART buat mindahin lagi, besok." ujarnya panjang lebar dengan nada dan ekspresi datar.


Fara benar - benar semakin kebingungan binti heran dibuatnya. Mengapa tiba - tiba Kenan berubah pikiran seperti ini? Bukankah kemarin malam, bahkan Kenan sendiri yang meminta dirinya untuk tidur sekamar? Apakah Kenan tidak nyaman tidur dengannya hingga kurang tidur seperti kemarin malam? Tapi, benarkah dirinya yang menyebabkan Kenan kurang tidur? Kalau memang karena dirinya, tapi apa yang ia lakukan hingga demikian? Perasaan ia hanya tidur nyenyak semalam dalam pelukan Kenan, itupun Kenan sendiri yang memeluknya tanpa ia meminta. Berbagai pertanyaan penuh komplikasi berkecamuk dalam benak Fara.


"Apa masih ada yang kamu perlukan?" tanya Kenan membuyarkan lamunan Fara sekali lagi dengan nada malas yang terdengar dingin di telinganya.


Fara mulai merasakan ada sesuatu yang janggal. "Kalo boleh tau, kenapa Kak Ken tiba - tiba berubah pikiran? Padahal kemaren malam___"


"Maaf Fara, bisakah kita membahas itu lain waktu? Aku lagi capek banget, mau istirahat, gak ada waktu buat ngebahas itu. Kalo gak ada perlu lagi, lebih baik kamu langsung ke kamarmu, gih!" sela Kenan sebelum Fara menyelesaikan ucapannya.


Deg...


"Hufh..." sekali lagi Kenan mend*sah berat "Oh, ayolah Fara, kali ini tolong ngertiin aku! Aku gak mau kita berdebat hanya karena masalah ini." ucapnya memohon penuh harap mendapati Fara masih terdiam setelah sekian waktu berlalu dan tak menunjukan tanda - tanda akan beranjak dari tempatnya.


Fara tersadar dari lamunannya sembari berusaha menetralisir rasa sesak yang kian menyesakan di dadanya. Sebenarnya ia berniat terus mendesak Kenan agar menjawab pertanyaannya. Namun mendengar nada memohon penuh harap dalam tutur kata Kenan serta sependapat tidak ingin berdebat, ia pun mengurungkan niatnya. Dihelanya nafas dalam - dalam, lalu dihembuskan perlahan "Huffhh... Baiklah, maaf udah ganggu waktu Kakak." ucapnya lirih sembari menunduk sedih. "Selamat malam." imbuhnya masih sempat mengucapkan salam sebelum berlalu dari hadapan Kenan, menuju kamarnya sendiri yang letaknya tepat di sebelah kamar Kenan.


Bruk...

__ADS_1


Giliran Fara yang menutup pintu kamarnya dengan sedikit membanting.


"Hufh..." Kenan menghembuskan nafas gusar sambil mengacak - acak rambutnya sendiri. 'Maafin Kakak, sayang. Lagi - lagi Kakak nyakitin kamu karena gak bisa ngendaliin emosi Kakak.' batinnya penuh penyesalan dan rasa bersalah sembari menatap nanar pintu kamar Fara. Lantas kembali masuk kedalam kamarnya yang kali ini menutup pintunya pelan - pelan.


Dalam kamar Fara...


Bruk...


Fara langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, berbaring tengkurap. Wajahnya mendarat tepat di atas bantal membenamkan nya di sana.


"Hiks... Hiks..." wanita itu mulai terisak. Air mata yang sejak tadi berupaya ia bendung agar tak tumpah di depan Kenan, akhirnya lolos juga dari pelupuk matanya. "Hiks... Apa salah Fara? Kenapa Kak Ken tiba - tiba berubah gitu ke Fara?" tanyanya di sela isak nya. Entah pada siapa, mungkin pada bantal atau guling di sana. "Kak Ken jahat! Selalu gitu, tiap Fara salah didiemin. Kenapa gak jelasin ke Fara, apa salah Fara, biar Fara tau dan bisa perbaikin. Kak Ken jahat, bodoh, gak peka! Tapi, hiks... Fara sayang pake bangeett... Huaaa..." gerutunya kesal bercampur sedih hingga tangisnya kian pecah. Entah karena terlampau sedih atau menyesal karena telah mengumpati Kenan yang sangat disayanginya.


"Sebenarnya apa sih salah Fara?" Fara lanjut bertanya - tanya ketika tangisnya mulai mereda. "Perasaan tadi siang sikap Kak Kenan masih baik - baik aja ke Fara? Balik dari makan siang bareng Nabila, kayaknya juga masih baik - baik aja? Ya, emang iya sih lebih banyak diam ketimbang paginya. Tapi, itu kan karena sibuk kerja, jadi wajarlah. Eh, apa jangan - jangan mulai dari situ? Terus apa penyebabnya? Apa si pelakor amatir itu ada ngehasut Kak Kenan?"


Mendadak tangis Fara terhenti sepenuhnya, menyisakan sedikit sesugukan yang membuatnya sesekali menarik ingus. Bangkit dari baring tengkurap nya, ia duduk bersandar pada sandaran kepala ranjang. Mengaktifkan mode detektif sok jeniusnya, ia kembali mencoba menebak - nebak apa yang menjadi penyebab perubahan sikap Kenan.


"Tapi, aku gak yakin kalo Kak Kenan bakal kehasut sama Gaby. Kak Ken gak sebodoh itu, kalo aku sih mungkin aja, hehe..." dengan cepat Fara menggeleng - gelengkan kepalanya seolah itu bisa membuat pikirannya kembali lurus tidak melalang buana kemana - mana "Apaan sih kamu, Far. Otak gresek nya dikondisiin dulu, lagi serius gini, malah cengengesan. Ok, ok, ayo fokus!" puk puk puk... Ditepuk - tepuknya pipinya sendiri bergantian kanan kiri, semua kebagian biar tak ada yang iri, pikirnya.


"Terus, kalo bukan karena hasutan si pelakor amatir itu, apa yang ngebuat sikap Kak Ken berubah? Setahuku yang bisa buat Kak Ken bersikap seperti itu ke aku hanya karena nyurigain aku lagi mikirin Bagus. Oh ya, benar si Bagus!" Fara bergegas meraih tas kerjanya yang juga berada di atas ranjang tak jauh dari posisi duduknya karena tak sempat menaruhnya di atas nakas seperti biasa. Ralat, bukan tak sempat, tapi lupa akibat terlampau galau dan langsung menghempaskan dirinya ke atas ranjang tadi.

__ADS_1


Mengacak - acak isi dalam tasnya, Fara dengan tak sabar mengeluarkan ponselnya dari dalam sana dan langsung membuka menu inbox.


'12.35 AM', itu waktu pesan masuk dari Bagus siang tadi yang berisi, 'Assalamualaikum, Fara. Makasih udah gak ngeblokir kontak Mas, dan maaf atas semua kesalahan Mas. Mas gak berharap Fara maafin, Mas hanya pingin jelasin alasan Mas sebenarnya, kenapa Mas ngebatalin pernikahan kita dan malah nikah sama Sherina. Besok Mas tunggu di cafe biasa saat jam istirahat siang kerjamu. Mas harap Fara datang, sekali lagi Mas minta maaf. Wassalamualaikum.'


__ADS_2