
POV Kenan
Flashback On!
11 tahun yang lalu...
Namaku Naufal Kenan. Aku adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan Al-Rahman. Tahun ini usiaku sudah menginjak 20 menuju 21 tahun. Seharusnya besok adalah jadwal keberangkatan ku ke singapura untuk melanjutkan studi S2 ku sebagai dokter spesialis bedah dengan beasiswa penuh yang aku terima berkat prestasiku selama ini.
Namun malam tadi aku menerima berita duka bahwa istri dari mentor yang sebentar lagi akan menjadi mantan mentor ku itu, meninggal dunia. Tanpa berpikir panjang, ku batalkan waktu keberangkatan ku hari ini, diundur menjadi seminggu kemudian.
Nama mentor ku Farzan Abrisam. Bagiku beliau lebih dari sekedar mentor, melainkan sudah ku anggap sebagai seorang ayah. Sangat banyak didikan yang ku peroleh darinya, baik pendidikan pengetahuan maupun moral. Bahkan sebelum aku menerima beasiswa, biaya pendidikan S1 yang baru saja aku selesaikan 2 bulan yang lalu sebagian besar dibiayai oleh beliau tanpa meminta imbalan padaku. Beliau hanya memintaku untuk belajar dengan baik agar sukses dengan karirku. Sungguh jasanya dalam kehidupanku sangatlah besar. Jadi, jangankan menunda, bahkan membatalkan keberangkatan ku ke Singapura untuk melanjutkan studi S2 aku tak akan ragu, jika itu bisa membuat diriku bisa berada di sisi beliau kala berada di titik terendah dalam hidupnya seperti saat ini.
Pagi tadi sekitar pukul 9, jenazah istri beliau telah dimakamkan. Dan kini waktu sudah menunjukan pukul 16 dimana aku dan beliau baru saja selesai menunaikan shalat Ashar. Sejak pulang dari pemakaman tadi, aku selalu setia berada di sisi beliau, siaga kalau - kalau beliau jatuh dalam keadaan terpuruk. Tapi syukurlah, hingga saat ini beliau tidak menunjukan tanda - tanda akan terpuruk.
"Kamu gak bosan ikutin Ayah terus dari tadi?" lihatlah, bahkan saat melontarkan pertanyaan itu padaku, beliau masih bisa tersenyum. Namun cukup jelas ku lihat tersematkan kesenduan di dalamnya.
"Gak." jawabku singkat.
__ADS_1
"Hufh..." beliau menghembuskan nafas berat yang bisa ku tebak bahwa beliau mulai jengah dengan keberadaan ku. Namun aku tak peduli, aku berpura - pura acuh seolah tidak menyadarinya. Bukannya aku menjadi anak angkat durhaka, aku hanya tidak ingin beliau jatuh terpuruk ketika aku tidak berada di sisinya, sehingga tak bisa sekurangnya menjadi sandarannya.
"Baiklah, lakukan sesuka mu." beliau mengibas - ngibaskan tangannya padaku. Bukan mengusir, melainkan pertanda menyerah. "Ngomong - ngomong, Ayah mau jengukin Fara, sepertinya dari pagi tadi dia belum makan. Kamu mau ikut?" usulnya kemudian.
Meskipun belum pernah bertemu secara langsung, aku cukup mengetahui nama - nama anggota keluarga mentor ku ini berdasarkan yang beliau ceritakan padaku kerap kali dikala kami sedang bersantai. Fara, kalau tidak salah itu adalah nama putri semata wayangnya dengan Maya, istri beliau yang kini sudah berstatus almarhumah.
"Tentu aja Kenan ikut, Yah." jawabku dengan senang hati menerima tawarannya.
"Ayo!"
Ceklek...
Setelah mengetuk pintu dan berseru memanggil empunya kamar beberapa kali, namun tak kunjung mendapat tanggapan dari dalam kamar, mentor ku langsung membuka pintu tanpa menunggu lagi. Sepertinya beliau sudah kehilangan kesabaran. Namun tak lantas beliau meluapkan ketidak sabarannya dalam bentuk kemarahan ketika kami sudah memasuki kamar.
Sedangkan aku, ingin sekali aku memaki gadis yang ku taksir berusia 13 tahunan yang sedang membenamkan diri sambil tersedu - sedu dalam selimut itu. Terlebih ketika aku sempat mendapatinya sekilas melirik ketika kami baru saja memasuki kamar ini. Terlepas dari diriku sendiri yang memang sejatinya merupakan orang yang tidak suka menunggu, setidaknya dia menghargai mentor ku, ayahnya sendiri yang sejak tadi berkoar - koar memanggil sambil mengetuk pintu dari luar. Apa susahnya menyahut sekali saja? Sungguh kesan pertamaku kepada putri mentor ku ini sangatlah buruk. Aku menganggapnya sebagai bocah tengik yang cengeng nan manja, terlepas dari keadaan yang sedang dia alami. Bukannya aku tak bersimpati atas kesedihannya, aku hanya tidak suka dengan sikapnya yang terkesan sangat tidak menghormati ayahnya sendiri yang juga sudah ku anggap sebagai ayahku. Namun tak mungkin aku menumpahkan emosiku itu. Aku tak cukup memiliki keberanian untuk melakukannya yang aku yakini, mentor ku akan memaki balik diriku yang terkesan tak punya hati.
"Hufh..." ini kedua kalinya aku mendapati mentor ku menghembuskan nafas berat yang aku yakini, saat ini beliau tengah terpukul melihat keadaan putrinya yang memang terlihat sangat menyedihkan. "Nak, Ayah mohon berhentilah menangis! Ikhlaskan Ibu di sana, Ibu sudah tenang di sana. Jika Ibu melihatmu seperti Ini, Ibu pasti akan sangat sedih." ucapnya mengiba kemudian.
__ADS_1
Namun Fara, bocah tengik itu tak bergeming sedikitpun yang lagi - lagi membuat darahku mendidih. Tanganku mengepal sangat erat di bawah sana, mana kala mentor ku terus saja mencoba mengajak bicara dan menghibur putrinya, namun tak sekalipun mendapat tanggapan. Hingga akhirnya mentor ku menyerah dan meletakan ke atas nakas, nampan yang mengangkut semangkuk bubur dan segelas air yang sejak tadi digendongnya. Sebelum beranjak pergi, beliau menyempatkan mengingatkan pada sang putri untuk memakan bubur tersebut serta meminum airnya juga tentunya. Sedangkan aku, mengikuti jejak beliau, aku menyempatkan meletakan salah satu koleksi sapu tanganku tepat di sebelah nampan, lalu mengikuti jejak mentor ku, meninggalkan kamar bocah tengik itu.
Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku lakukan. Apa yang membuatku memberikan sapu tangan itu? Walaupun memang bukan sapu tangan mahal, bahkan terkesan murahan, sapu tangan itu sangatlah berharga bagiku. Itu adalah salah satu sapu tangan yang dibuatkan khusus untukku dengan sulaman inisial nama lengkap ku 'NK' di salah satu sudutnya, oleh ibu panti yang sudah ku anggap sebagai ibuku sendiri. Namanya Ayudia, posisinya di hatiku mungkin setara dengan mentor ku, Farzan, sebagai sosok yang sudah ku anggap sebagai orang tuaku. Mungkin itu bagian dari empati ku, simpul ku sekenanya pada akhirnya.
>>>
Keesokan harinya...
Seperti kemarin, hari ini aku juga selalu stay di sisi Farzan sejak aku menginjakan kaki lagi di kediaman mentor ku ini. Dan hampir di waktu yang sama seperti kemarin, kami kembali menjenguk si bocah tengik yang katanya masih belum juga berhenti meratapi kesedihan. Namun kali ini kesan ku kepada bocah tengik itu sedikit berbeda, aku tidak lagi menganggapnya sebagai gadis cengeng nan manja. Setelah perenungan batin yang aku lakukan, aku menganggap hal itu wajar. Mungkin kemarin aku menganggapnya demikian, hanya karena aku belum pernah mengalaminya. Terlebih setelah mentor ku menceritakan seberapa dekatnya hubungan antara putri dan mendiang istrinya, itu benar - benar mematahkan tanggapan yang aku simpulkan hanya dengan menggunakan logika.
Tapi, julukan bocah tengik sepertinya memang tak bisa aku lepaskan. Bisa - bisanya gadis itu menjadikan sapu tangan yang aku tinggalkan kemarin sebagai penyeka ingus? Dan lebih anehnya lagi, terlepas dari kegeraman ku, aku malah kembali memberikan salah satu koleksi sapu tanganku yang lain.
Tidak cukup sampai di situ, hari ke tiga dan ke empat, aku kembali melakukan tindakan serupa, tindakan yang benar - benar berlawanan antara batin dan pikiranku. Untungnya, di hari ke lima dan ke enam aku tidak lagi mendapati sapu tangan yang ku berikan kepada bocah tengik itu, digunakan sebagai penyeka ingus, melainkan sudah digunakan sebagaimana mestinya. Itu membuatku sedikit lega dan entah mengapa aku merasa sangat bahagia. Dan pada hari ke tujuh, atau hari terakhir sebelum keberangkatan ku besok ke Singapura, aku tidak lagi berniat memberikan sapu tangan, melainkan sekotak tisu merk pasaran yang aku beli di mini market.
"Gunakan itu untuk menyeka semua air matamu agar Ayahmu tidak melihatmu meneteskan air mata. Sedih boleh, tapi jangan tunjukan itu pada Ayahmu. Karena bukan kamu saja yang sedih dengan meninggalnya Ibumu, Ayahmu pun begitu. Jadi, jika Ayahmu melihatmu bersedih, maka dia akan semakin sedih." itu adalah pembicaraan pertama sekaligus terakhir antara diriku dan gadis itu. Dan entah mengapa, ada rasa ketidak relaan di relung hati terdalam ku untuk pergi meninggalkannya.
Flashback off!
__ADS_1