
Akhirnya hari yang dinantikan Kenan dan Fara tiba juga. Hari dimana dunia akan mengetahui hubungan mereka sebagai sepasang suami istri yang sah di mata hukum dan agama. Namun juga hari patah hati internasional, dimana mayoritas kaum hawa harus dipupuskan harapan mereka untuk dapat bersanding dengan pria yang mereka kagumi dan dambakan, Naufal Kenan. Terutama untuk seorang gadis yang saat ini duduk di barisan terdepan bersama sang ayah, sebagai tamu undangan resepsi pernikahan Kenan dan Fara. Siapa lagi kalau bukan Gabela.
"Sabar Nak. Relakan Kenan dan Fara, istrinya. Kalau kamu memang mencintai Kenan, kamu harusnya ikut bahagia ngeliat dia bahagia. Dan sekarang lah saatnya. Lihatlah, Kenan terlihat sangat bahagia, kan!" Berhan mengusap - usap lembut punggung Gabela, namun pandangannya terus tertuju pada panggung utama resepsi di mana Kenan dan Fara duduk berdampingan dengan senyuman kebahagian yang terus terpatri di bibir masing - masing.
Gabela diam seribu bahasa tak menanggapi ucapan Berhan. Pandangannya juga terus tertuju pada Kenan dan Fara di atas panggung utama resepsi. Matanya memerah berkaca - kaca dengan buliran bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Dadanya terasa sangat sesak nan sakit. Pemandangan yang tengah disaksikannya benar - benar membuat hatinya hancur berkeping - keping bagai kaca yang terkena tumbukan yang sangat teramat keras.
"Ingat Nak, cinta itu harus bisa merelakan. Kalau tak bisa, itu bukan cinta namanya, tapi obsesi. Kamu cinta sama Kenan kan, bukan terobsesi? Kalau itu obsesi, sebaiknya kamu menyerah dari sekarang. Jika tidak, maka hanya kehancuran yang akan kamu dapati pada akhirnya." Berhan terus mengusap - usap lembut punggung Gabela sembari berusaha memberikan pengertian kepada putrinya agar dapat menerima kenyataan. Ia sungguh tak ingin mendapati Gabela lebih hancur dari ini.
Akhirnya air mata yang sejak tadi berupaya Gabela tahan, luruh juga menganak sungai membasahai pipinya. "Hiks... Tapi sakit banget, Yah. Gaby gak sanggup relain Kenan menjadi milik perempuan lain. Hiks... Harusnya Gaby yang di sana bersanding dengan Kenan. Apa kurangnya Gaby, Yah? Kenapa bukan Gaby yang di sana? Hiks..." ia mulai terisak dan mengadu tak terima.
"Ini bukan tentang apa kurangnya kamu, atau seberapa baiknya kamu. Tapi ini tentang takdir dan jodoh Nak, itu sudah ditentukan. Seberapa keras pun kamu berharap dan berusaha, jika Kenan tidak ditakdirkan untukmu, maka kalian tidak akan berjodoh." tutur Berhan bijak sambil merangkul Gabela yang sukses dibuat terbungkam dan semakin terisak.
Sementara di atas panggung utama resepsi, Kenan dan Fara sudah mulai menyambut para tamu yang berbondong - bondong datang memberikan ucapan selamat pernikahan. Begitu pula Farzan dan Ayudia yang juga berada di atas panggung tak jauh dari posisi Kenan dan Fara, ikut serta menyambut para tamu sebagai orang tua dan wali yang mendampingi putra putri mereka.
Seperti yang diharapakan, sangat banyak tamu yang menghadiri acara resepsi pernikahan Kenan dan Fara. Bahkan Berhan dan Gabela yang berada di baris terdepan dalam jajaran tamu - tamu penting, harus mengantri cukup jauh untuk memberikan ucapan selamat pada Kenan dan Fara.
"Hufh... Akhirnya tiba juga giliran ku." Berhan mend*sah sebelum menjabat tangan Kenan. Akhirnya setelah sekitar 15 menit mengantri, tiba juga gilirannya. "Selamat Ken, aku selalu berharap yang terbaik untukmu." ucapnya sembari tersenyum tulus kemudian.
__ADS_1
"Terima kasih Prof, Kenan juga selalu berharap yang terbaik untuk Prof." balas Kenan tersenyum tulus pula.
Lalu Berhan beralih pada Fara, sedang Gabela yang sejak tadi mengekor di belakang sang ayah, tiba gilirannya untuk memberi ucapan selamat pada Kenan. Ia tak lagi terisak, namun matanya masih memerah plus kantung mata yang sedikit sembab.
Kenan yang melihatnya, samar - samar dapat menebak penyebab keadaan Gabela yang seperti itu. 'Maaf Gaby, semoga setelah ini kamu tidak lagi berharap padaku dan mencari cinta sejati mu.' batinnya penuh harap sembari sedikit merasa bersalah dan iba terhadap Gabela. Sembari terus mematrikan senyum kebahagiaan di bibirnya, ia menyambut dan menjabat tangan Gabela.
"Selamat Ken." hanya itu yang terucap dari bibir Gabela sembari tersenyum paksa.
"Terima kasih Gaby, aku berharap kamu juga segera menemukan pendamping hidupmu." balas Kenan tulus.
Gabela tahu, dalam tutur kata Kenan juga menyiratkan agar dirinya berhenti berharap pada Kenan. Sungguh, iapun menginginkan demikian, namun ia tak bisa mengendalikan hatinya yang sudah terlampau terpatri pada Kenan. Selama 9 tahun memendam rasa, hanya ia sendiri yang tahu seberapa dalamnya nama Kenan tertanam di hatinya. Sungguh naas jika akhirnya ia harus menggugurkan benih cinta yang telah ditanamnya selama itu. Sanggup kah ia? Rela kah ia? Pikir Gabela bertanya - tanya pada diri sendiri.
Tak bisa menampik, Kenan yang melihat kegetiran dalam senyuman Gabela, semakin merasa bersalah dan iba. Namun ia tahu, ia tak bisa melakukan apapun untuk itu dan tak boleh termakan empatinya. Lantas dengan paksa namun lembut dilepasnya tangan Gabela yang seolah tak ingin melepaskan jabatan tangan mereka. "Maaf, kalau masih bacak kata selamat yang ingin kamu ucapkan, sebaiknya nanti saja secara pribadi. Kasian tamu yang lain jika mengantri terlalu lama." sarannya berdalih sekenanya sembari bersikap senatural mungkin.
Gabela hanya bisa pasrah menyayangkan jabatan tangan mereka terlepas dan menuruti saran Kenan. Ia pun beralih pada Fara yang juga baru saja selesai diberikan selamat oleh Berhan. Entah ucapan selamat apa saja yang diberikan Berhan kepada Fara, baik dirinya maupun Kenan sama sekali tak tahu karena lebih fokus dengan diri sendiri hingga mengabaikan sekitarnya.
"Selamat Fara." ucap Gabela datar, tak ada senyuman terpaksa seperti yang ia kenakan saat menyelamati Kenan barusan.
__ADS_1
"Terima kasih Gaby." namun Fara membalasnya dengan tulus sembari terus tersenyum bahagia seperti Kenan.
Hanya itu saja, tak ada lagi kata - kata yang terucap dari bibir Fara dan Gabela hingga keduanya melepaskan jabatan tangan mereka. Sangat singkat.
Kemudian Berhan dan Gabela lanjut menyelamati Farzan dan Ayudia sebelum turun dari panggung dan kembali ke tempat duduk mereka semula. Sedangkan Kenan dan Fara, melanjutkan kesibukan mereka menyambut para tamu lainnya.
Waktu terus berlalu. Tak terasa 3 jam sudah berlangsungnya acara resepsi pernikahan Kenan dan Fara yang sejauh ini berjalan dengan lancar tanpa kendala. Acara yang dimulai selepas shalat Ashar tadi itu, kini break isoma memasuki waktu shalat Maghrib, dan akan dilanjutkan selepas shalat Isya nanti. Kenan dan Fara serta para tamu undangan menunaikan shalat Maghrib terlebih dahulu, bagi yang muslim, sebelum bergabung dengan kaum non muslim, makan malam bersama sembari bersantai dan beristirahat guna mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan acara.
>>>
2 jam kemudian...
Kenan, Fara, Farzan dan Ayudia sudah kembali berada di atas panggung menempati posisi masing - masing seperti sebelumnya. Para tamu pun sudah kembali mengantri berbondong - bondong naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat. Mengiringi acara menyelamati dan diselamati itu, lantunan lagu - lagu klasik romantis menggema dari speaker MP3 player yang tersedia, memenuhi ballroom hotel yang sangat luas dengan dekorasi sedemikian megah sesuai konsep pernikahan pilihan Fara itu.
Ya, bagi Fara ini sangat megah, tak tahu dengan pendapat para tamu yang sebagian besar berasal dari kalangan atas elite diantara yang terelite. Fara tak mempedulikan apapun pendapat mereka, baik buruk, bagus, ataupun biasa saja, ia tak peduli. Ia sudah sangat puas dengan konsep pilihannya hingga tak mempedulikan yang lain. Terlebih dengan Kenan yang bersanding dengannya sebagai suaminya, semua itu sudah sangat lebih dari cukup baginya.
Adapun Kenan, ia sama sekali tidak peduli dengan dekorasi atau apapun itu. Baginya, cukup Fara yang bersanding dengannya sebagai istrinya, dan ia merasa benar - benar dilengkapi tanpa merasa sedikitpun kekurangan.
__ADS_1
Sementara di salah satu sudut ruangan, berbaur dengan tamu lainnya, ada sepasang mata yang terus tertuju lekat - lekat pada Fara dengan tatapan penuh kebencian dan kedengkian. Hanya dengan sekilas pandang orang - orang dapat langsung tahu bahwa ia seorang wanita, berdasarkan penampilannya yang mengenakan kebaya serta kerudung panjang hitam senada yang salah satu kutub nya digunakan untuk menutupi sebagian wajah bawahnya.