
Keesokan harinya...
Tidak seperti biasa, pagi ini menu sarapan yang tersedia di atas meja makan hanyalah roti tawar serta beragam rasa selai, plus susu sehat. Seringnya, akan tersedia berbagai makanan sedikit berat sehat yang cocok untuk menu sarapan. Selain itu, sejak Fara tiba di ruang makan, ia juga mendapati ada yang berbeda dari Kenan. Kenan yang selalu terlihat fresh dan bugar setiap pagi, kali ini terlihat lesu dan lunglai. Bahkan kantung mata pria itu terlihat menggantung seperti orang kurang tidur dan terlihat sesekali menguap. Fara sangat terheran-heran dengan apa yang ia dapati.
Bagaimana tidak demikian? Semalam Kenan baru bisa terlelap menjelang pukul 5 dini hari. Rencana untuk melakukan eksperimen pembuktian bahwa dirinya seorang laki-laki normal, ia urungkan setelah sekian komplikasi batin yang menentang keras eksperimennya. Tentu saja ia tidak akan setega itu hingga merusak masa depan Fara hanya untuk membuktikan dirinya adalah laki-laki normal. Ia sungguh tak sampai hati, sekalipun Fara adalah istri sahnya di mata hukum maupun agama. Jadilah ia hanya berdiam diri lebih dari 3 jam di depan pintu kamar Fara semalam. Kembali ke kamarnya sudah pukul 1 dini hari. Niat hati ingin segera terlelap, pemikiran-pemikiran tentang keraguan terhadap dirinya sebagai laki-laki normal terus mengusiknya. Hingga ia lelah dengan pemikiran-pemikiran itu, ia pun baru terlelap menjelang pukul 5 dini hari.
Belum berakhir siksaan fisik maupun batin yang Kenan alami, rasanya baru saja memejamkan mata, ia harus kembali terjaga kala mendengar adzan subuh berkumandang. Tak ada pilihan, sebagai umat muslim yang taat beribadah, ia harus menunaikan kewajibannya. Usai shalat subuh yang biasanya ia gunakan untuk fitnes sembari menunggu sang mentari menyapa, ia gunakan untuk kembali tidur. Dan ia harus kembali terbangun di pukul setengah 7 pagi untuk menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja. Karena keadaan serta waktu yang tidak mendukung untuk menyiapkan menu sarapan seperti yang sudah-sudah, jadilah ia hanya menyiapkan menu seperti yang tersaji di meja makan saat ini.
Begitulah kronologi terjadinya keadaan aneh yang Fara dapati hingga membuatnya sangat terheran-heran.
"Kak Kenan baik-baik aja?" tanya Fara sedikit khawatir dengan keadaan Kenan yang terlihat kacau. Bukan hanya pakaian Kenan yang terlihat kusut, bahkan tatanan rambutnya yang selalu tersisir rapi dengan gaya blateng khasnya, kali ini terlihat acak-acakan tak terurus.
"Hoam..." Kenan menguap "Aku baik-baik aja kok." jawabnya yang lebih terdengar seperti mengigau.
Fara meringis sama sekali tidak percaya "Benarkah?"
Kenan meluruskan pandangannya untuk bertemu tatap dengan Fara, lalu mengerjap sekali untuk memperjelas visinya yang agak buram "Apa aku terlihat gak baik-baik aja?"
"Iya." jawab Fara tanpa ragu.
Kenan terdiam sesaat sembari mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
"Dari tadi aku perhatiin, Kak Kenan keliatan kurang semangat gitu. Terus Kak Kenan juga sering menguap seperti orang kurang tidur. Dan lagi, ini, tidak seperti biasa Kak Kenan hanya nyiapin roti tawar sama susu buat sarapan. Maaf, Fara gak bermaksud protes, Fara cuman heran aja. Emangnya semalam Kak Ken ngapain?" tutur Fara panjang lebar dan diakhiri dengan pertanyaan.
Kenan kembali mengerjap-ngerjapkan matanya lucu, gelagapan. Kemudian ia terdiam seakan enggan untuk menjawab pertanyaan Fara. Ingat, Kenan adalah orang yang sangat tidak suka berbohong. Tapi, bagaimana caranya menjelaskan alasannya bergadang semalam? Mungkin untuk menjelaskan keresahan atas meragukan dirinya sendiri sebagai laki-laki normal, ia masih bisa menebalkan muka. Lalu bagaimana dengan pemikiran absurd yang sempat terbesit di benaknya untuk menggunakan Fara sebagai subjek eksperimen pembuktian? Selain malu pada dirinya sendiri, Kenan juga tidak ingin Fara menganggapnya pria b*rengsek yang tak punya hati. Dan kemungkinan terburuknya, bisa-bisa Fara membenci dirinya. Tidak, Kenan sungguh tak ingin itu terjadi. Saat Kenan masih kelimpungan memikirkan jawaban untuk menjawab pertanyaan Fara, tiba-tiba...
Ding dong...
__ADS_1
Bel pintu apartemen berbunyi, dan Kenan pun bernafas lega dalam hati. Ia selamat, dengan ini ia bisa menghindari untuk menjawab pertanyaan Fara. "Ehem... Sepertinya Gabela udah datang. Sebaiknya kita segera menyelesaikan sarapan kita, gak enak kalau Gabela kelamaan menunggu. Lagipula, kita juga udah agak telat untuk berangkat ke rumah sakit." ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Lain Kenan lain Fara. Fara malah mendengus kesal. Bukan karena percakapannya dengan Kenan terganggu akibat kedatangan tamu yang tiba-tiba, tapi karena sosok sang tamu itu sendiri. Sosok yang selalu membuat Fara geram selama 1 minggu belakangan ini. Terlebih, saat melihat ekspresi Kenan yang tiba-tiba menjadi sumringah, seolah sangat senang dengan kehadiran Gabela. Namun tak urung ia menuruti seperti yang disarankan Kenan, mempercepat melahap sarapannya.
5 menit kemudian, Kenan dan Fara selesai dengan sesi sarapan mereka. Setelah itu mereka bergegas untuk bersiap berangkat kerja.
Ceklek...
Saat pintu terbuka, seperti yang sudah-sudah Gabela menyambut Kenan dan Fara dengan senyuman termanisnya. Tidak, lebih tepatnya senyuman itu terkhusus ditujukan untuk Kenan seorang, seolah Fara hanyalah bonus yang beruntung dapat melihat senyuman itu.
"Selamat pagi, Ken, Far!" sapa Gabela ramah.
"Pagi, Gaby." balas Kenan dan Fara datar kompak.
Gabela sudah terbiasa disikapi datar oleh pasangan suami istri itu. Jadi, ia merasa biasa saja, tak malu ataupun sedih lagi, seperti diawal-awal. Ia sudah kebal.
Tiba di basemen, Kenan, Fara dan Gabela langsung masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh sang supir. Seperti yang sudah-sudah, Kenan dan Fara duduk berdua di kursi penumpang belakang kemudi, sedangkan Gabela duduk di kursi penumpang depan samping kemudi. Kasihan si Gabela, niat hati menumpang di mobil yang sama dengan Kenan agar bisa duduk di samping Kenan, ia malah berakhir duduk di samping supir Kenan. Sungguh ironis.
"Ken, kamu baik-baik saja?" tanya Gabela yang sama halnya dengan Fara, juga melihat gelagat aneh Kenan sejak tadi.
"Iya." jawab Kenan singkat nan datar. Sungguh ia benar-benar ingin menghindari topik ini. Takutnya Gabela akan terus bertanya dan berujung dengan pertanyaan seperti yang ditanyakan Fara terakhir kali.
"Benarkah?"
'Argh...' Kenan mengeram dalam hati. "Iya." jawabnya lagi, singkat nan datar.
"Tapi keliatannya tidak begitu."
__ADS_1
Sumpah demi apapun, ingin sekali Kenan membungkam mulut Gabela dengan sepatu yang sedang dipakainya agar gadis itu diam dan berhenti bertanya. Sayangnya, ia tak sampai hati.
"Tidak jelas kah apa yang dikatakan SUAMIKU? Dia kan sudah menjawab, BAIK-BAIK SAJA. Lagipula kalau dia sedang tidak baik-baik saja, apa yang akan kamu lakukan? Terima kasih sudah mengkhawatirkan SUAMIKU. Tapi, lain kali sebaiknya tidak perlu, ada aku, ISTRINYA, yang bisa merawatnya dengan baik." Fara yang sejak tadi hanya diam, akhirnya tidak dapat menahan kesewotannya lagi. Panjang lebar ia bercerocos dan penuh penekanan.
"Ugh..." bukan hanya Gabela yang tertegun, Kenan juga ikut tertegun. Keduanya benar-benar tidak menyangka Fara akan bereaksi seperti itu.
"Ma-maaf, aku hanya khawatir sebagai sahabat Kenan." Gabela berdalih dengan sedikit tergagap.
"Hm, kamu memang sahabat yang baik, terima kasih. Jadi, apakah kamu masih penasaran dengan kondisi SUAMIKU?" Fara tersenyum miring penuh makna.
"Kalau diperkenankan untuk tahu, aku akan dengan senang hati mendengarkan." balas Gabela tersenyum sok ramah.
"Yakin? Aku takut kamu akan shock kalau mengetahui kebenarannya." Fara tiba-tiba masuk ke mode serius.
Bukan hanya Gabela, Kenan yang menggantikan Fara terdiam juga menautkan kedua alisnya erat. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa was-was dengan arah pembicaraan Fara dan Gabela yang tidak lagi bisa ditebak nya. Apakah Fara telah mengetahui alasan mengapa dirinya bergadang semalam? pikir Kenan khawatir.
"A-apa?" tanya Gabela ragu sekaligus penasaran.
"Hufh..." Fara m*ndesah berat "Sebenarnya..." ucapnya menggantung lama seolah berat untuk melanjutkan, seberat d*sahannya.
"Sebenarnya apa?" desak Fara tidak sabar dan semakin penasaran.
Sementara Kenan juga semakin khawatir plus tegang.
"Sebenarnya SUAMIKU hanya kelelahan. Semalam kami bermain kemalaman dari biasanya." ucap Fara hati-hati.
"Uhuk uhuk..." itu sang supir yang tersedak.
__ADS_1