
Ting ting ting...
Saat ini Kenan, Fara dan Nabila sedang makan siang bersama di kantin rumah sakit. Mereka makan dalam diam dan khidmat. Saking diamnya, yang terdengar hanyalah dentingan garpu, sendok dan piring yang saling beradu bersahutan. Ya, bukan hanya mereka bertiga yang makan dalam diam, tapi seluruh pengunjung kantin pun demikian. Tak ada yang berani bersuara dengan bibir mereka. Entah demi menjaga image, atau takut menggangu kenyamanan Kenan, sang big bos, saat sedang menikmati makanannya.
Terutama Nabila, sahabat gresek Fara itu, yang biasanya rada barbar saat sedang makan, saat ini makan dengan tenang dan sok kalem. Entah mimpi apa ia semalam, siang harinya bisa makan semeja dengan seorang Kenan. Ini adalah yang kedua kalinya ia berada dalam radius sedekat ini dengan Kenan, yang pertama, seminggu yang lalu saat menyelamati Kenan dan Fara pada acara resepsi pernikahan big bos dan sahabatnya itu. Namun tetap saja, setiap berada didekat Kenan, dirinya auto berubah jadi gadis sok kalem nan manis. Sifat gresek dan barbar nya hilang entah kemana.
Dalam diamnya, Nabila bertanya - tanya. Mengapa dirinya bisa berakhir makan siang bersama Kenan dan Fara? Perasaan tadi ia hanya mengajak Fara saja, tidak dengan Kenan. Sembari menyuapi makanan kedalam mulutnya, sesekali ia melempar lirikan penuh tanya pada Fara yang duduk tepat di depannya berdampingan dengan Kenan.
Namun yang dilirik penuh tanya tidak berbeda jauh dengan dirinya. Fara malah balas melakukan hal serupa dengan Nabila, sesekali melempar lirikan penuh tanya dengan wajah bodohnya pada sahabat gresek nya itu. Jadilah keduanya hanya saling melempar lirikan penuh tanya tanpa ada yang berniat menjawab. Ralat, bukan tidak ada yang berniat menjawab, melainkan tidak ada yang tahu mau menjawab apa.
Fara memang awalnya hanya datang sendiri untuk menerima ajakan makan bersama dengan Nabila. Namun, siapa sangka? Beberapa saat kemudian Kenan malah menyusulnya dan tanpa permisi langsung bergabung dengan mereka, duduk tepat di sampingnya. Fara pikir, seperti yang sudah - sudah setiap kali dirinya makan siang bersama Nabila, Kenan akan makan siang bersama Gabela di ruang kerja. Lalu sekarang, mengapa Kenan malah menyusulnya? Sungguh, ia tak tahu mengapa demikian.
Sementara Kenan yang menjadi sumber perubahan atmosfir, bukan hanya di meja makan yang dirinya tempati, bahkan di seluruh sudut kantin, tanpa mempedulikan apapun, pria tampan penuh sensasional itu malah makan dengan khidmatnya. Ia tak tahu saja para manusia disekitarnya tengah mencoba sebaik mungkin menahan kegugupan dan ketegangan.
"Hyung, ternyata kamu di sini!"
Tiba - tiba terdengar sebuah seruan girang dari arah pintu masuk kantin yang sukses memecah keheningan. Sontak semua mata tertuju pada sang penyeru yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ju Woon. Perlahan tapi pasti, pria berwajah baby face ala oppa - oppa Korea itu melangkah menuju meja makan Kenan dan kawan - kawan. Ia berjalan dengan santai sembari terus mematirkan senyuman ceria di bibirnya. Ia sama sekali tidak mempedulikan tatapan termangu orang - orang yang melihatnya.
Walaupun tidak sesensasional Kenan, Ju Woon juga sangat terkenal dengan statusnya sebagai pengusaha muda sukses di Asia dengan memimpin Choi's Group. Tidak seperti Kenan dan Fara yang biasa saja melihatnya, Nabila serta pengunjung kantin lainnya, rahang bawah mereka seolah akan terjatuh.
__ADS_1
"Ck..." Kenan berdecak malas ketika begitu Ju Woon tiba dan langsung duduk di samping Nabila tanpa permisi. "Apa kamu gak pernah diajarin sopan santun? Kalo mau duduk di tempat udah ditempatin orang tuh, permisi dulu. Bukan maen duduk gitu aja." cibirnya sinis. Ia tak sadar diri saja bahwa beberapa saat yang lalu, dirinya juga melakukan hal serupa.
"Hehe..." Ju Woon malah menyengir lebar memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih nan rapih. "Maaf, maaf, kebiasaan. Permisi! Udah kan." dengan santai digedikkannya bahunya sembari terus mempertahankan cengirannya.
"Cih..." Kenan berdecih "Ngapain kamu ke sini?" tanyanya judes.
"Ya elah Hyung, gak sabaran banget. Ju Woon tau kok Hyung udah kangen banget pengen ngobrol sama Ju Woon. Sabar, biarin Ju Woon mesan makanan dulu." alih - alih menjawab, Ju Woon malah berujar narsis. Lalu tanpa mempedulikan pelototan Kenan, ia segera memanggil pelayan yang responnya sangat laload akibat linglung saat tersadar dari ketermanguannya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Kenan lagi, mengulang pertanyaan yang sama persis dengan yang sebelumnya, setelah Ju Woon selesai memesan.
"Mau ketemu Kenan Hyung sama Noona Fara, Ju Woon kangen." jawab Ju Woon dengan intonasi sok manja nan menggemaskan.
"Ck..." Ju Woon mencebik mengejek "Hyung aja yang aneh, orang ngegemesin gini dibilang menjijikan. Coba aja Hyung tanya sama yang lain?"
Perlahan Kenan mengedarkan pandangannya mulai dari Fara dan Nabila yang terdekat, lalu sekilas menyapu ke sekelilingnya menelisik ekspresi pengunjung kantin lainnya. Sesaat kemudian ia mengernyit heran sendiri. Para pengunjung kantin yang kebetulan dominan kaum Hawa itu, termasuk Fara dan Nabila malah menatap terpesona pada Ju Woon, tidak seperti dirinya yang merasa jijik. Kenan jadi bertanya - tanya, benarkah dirinya yang aneh?
"Sayang, menurut kamu gimana?" Kenan mencoba meminta pendapat Fara.
"Eh, gimana apa?" Fara yang tersentak sadar dari keterpesonaannya malah balik bertanya linglung.
__ADS_1
Kernyitan di kening Kenan semakin dalam "Sayang, jangan bilang kamu juga nganggap tingkah Ju Woon barusan ngegemesin?" jiwa posesifnya mulai kumat mendapati Fara baru saja terpesona oleh tingkah Ju Woon yang menurutnya sangat menjijikan.
Ya, mungkin bagi Kenan tingkah sok manja nan menggemaskan Ju Woon menjijikan. Tapi, bagi kaum Hawa, itu malah terlihat sangat menggemaskan, sangat kompleks dengan wajah baby face Ju Woon yang menambah kadar ketampanannya berkali - kali lipat. Namun jangan salah, keterpesonaan Fara bukanlah keterpesonaan seolah ia jatuh hati pada ketampanan Ju Woon. Keterpesonaan Fara lebih lebih mengarah pada rasa gemas nan lucu seperti melihat hal - hal imut.
"Hm, emang gitu kan?" jawab Fara santai. Sepertinya ia benar - benar tidak menyadari bahwa Kenan tengah terbakar cemburu.
"Humps..." Kenan mendengus kesal "Menjijikan gitu dibilang ngegemesin." tanpa mempedulikan Fara yang malah ikut mengernyit keheranan, ia beralih pada Nabila "Kalau menurut anda, Dokter Nabila, bagaimana? Menjijikan kan!" tanyanya yang lebih terkesan menekankan pada Nabila agar sependapat dengannya.
"Ugh..." sontak Nabila tertegun dibuatnya "I- iya Prof, menurut saya juga begitu." jawabnya sembari tersenyum kikuk kemudian. Sebenarnya ia juga sama seperti Fara, menganggap tingkah sok manja nan menggemaskan Ju Woon imut. Namun mendapati intonasi penuh penekanan dalam pertanyaan Kenan, ia terpaksa membenarkan tanggapan sang big bos.
Kenan pun tersenyum penuh kemenangan. "Lihat kan, bahkan Dokter Nabila sependapat dengan saya. Sepertinya hanya saya dan Dokter Nabila yang normal di sini." cibirnya menyindir Fara dan Ju Woon serta para pengunjung kantin lainnya. "Sudahlah, ayo kita makan lagi Dokter Nabila! Kalau anda masih ingin tambah, silahkan pesan sepuasnya, nanti saya yang bayar." imbuhnya mengajak Nabila melanjutkan menyantap makanan mereka. Ia berucap dengan sangat ramah, bahkan menawarkan akan mentraktir Nabila.
Nabila yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kenan, merasa semakin canggung saja dibuatnya. Terlebih di bawah beragam tatapan intens yang tertuju padanya. Ada yang menatapnya iri, cemburu, ada pula tatapan yang sulit diartikan. "Eh, terima kasih Prof. Tapi, saya bayar sendiri saja." tolaknya sungkan kemudian.
"Tidak, tidak, saya yang akan membayar makanan anda. Anggap saja ini karena anda sependapat dengan saya. Oh ya, dan juga sebaiknya kita menggunakan bahasa santai saja kedepannya, saat sedang berada diluar jam kerja." masih dengan senyuman ramahnya Kenan berucap santai namun tegas, tak ingin dibantah.
Mendapati nada tegas dalam tutur kata Kenan, Nabila hanya bisa pasrah mengiyakan "Baiklah Prof." ucapnya di bawah tatapan - tatapan yang kian intens.
Terutama Fara. Ia termasuk salah satu diantara orang - orang yang menatap cemburu pada Nabila. Bagaimana tidak? Kenan malah bersikap sangat ramah pada Nabila, sedang pada dirinya bersikap judes.
__ADS_1
Sementara Ju Woon, pria itu menatap sulit diartikan pada Nabila.