Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Rencana Pernikahan Ju Woon - Nabila


__ADS_3

"Asyhadu an laa ilaaha illallah waasyhadu anna muhammadar rasulullah."


"Allahummaghfirli, warhamni, wahdini, wa'afini, warzuqni."


"Alhamdulillahirabbil alamin, dengan ini saudara kita Choi Ju Woon telah masuk islam."


Kenan, Fara, Nabila maupun Ju Woon sendiri serta para saksi lainnya yang datang menyaksikan proses Ju Woon menjadi mualaf, mengusap wajah masing - masing dengan kedua tangan mereka sembari berucap "Alhamdulillahirabbil alamin."


Proses pemindahan agama Ju Woon dilakukan di salah satu masjid besar yang tidak jauh dari apartemen Kenan dengan pimpin oleh sang imam masjid itu sendiri. Sebelum ke masjid tadi, Kenan, Fara dan Ju Woon menjemput Nabila terlebih dahulu. Itulah mengapa Nabila bisa hadir pada prosesi pemindahan agama Ju Woon. Tentu saja Nabila harus hadir dan menyaksikannya secara langsung sebagai orang yang mengajukan pada Ju Woon untuk menjadi mualaf sebagai syarat untuk menikahi dirinya.


Tak perlu ditanyakan betapa terharunya Nabila sepanjang menyaksikan prosesnya. Ia menangis dengan air mata penuh suka cita. Mungkin diantara semua orang yang bahagia dengan masuknya Ju Woon ke agama islam, dirinyalah yang paling bahagia. Bahkan hingga detik ini ia masih mewek sambil memeluk Fara yang berada di sisinya. "Huaa... Far, bentar lagi gue juga bakal nikah." ucapnya histeris dramatis.


"Iya Nab, gue juga seneng, bentar lagi lo bakal ngelepas titel JONES lo." Fara mengusap - usap punggung Nabila sembari mengejek sahabatnya itu.


"Huaa..." tangis Nabila kian pecah "Dasar sahabat gak ada rahang lo! Sembarangan aja ngatain gue JONES. Gue tuh SINGEL, standarnya tinggi kayak Bang Ju Woon gitu."


"Ck..." Fara mencebik "Calon laki lo tuh yang gak ada rahang."


Sementara Fara dan Nabila berdrama ria tak berfaedah, di depan sana, di saf para pria, ditemani Kenan, Ju Woon baru saja selesai diberi wejangan oleh sang imam masjid.


"Terima kasih Pak." ucap Ju Woon tulus pada sang imam.


"Sama - sama Nak Ju Woon. Bapak harap dengan menjadinya kamu sebagai mualaf, bukan status belaka. Tapi, kamu harus betul - betul menjalankan semua kewajiban mu sebagai umat islam." petuah sang imam.


"Amin, insyaallah pak."


"Hm." sang imam tersenyum syahdu melihat kesungguhan Ju Woon. "Memang tidak mudah untuk memulai, tapi cobalah lakukan yang terbaik. Mumpung sekarang sudah masuk waktu Dzuhur, mulailah dari sini." tandasnya sambil menepuk pundak Ju Woon, lalu bangkit dan beranjak.


"Ayo ikut aku!" ajak Kenan yang juga bangkit tak lama selepas kepergian sang imam.


"Kemana Hyung?" walaupun tak tahu Kenan akan mengajaknya ke mana, tak urung Ju Woon ikut bangkit dan mengekor di belakang kakaknya itu.


"Kita ke toilet dulu, kamu perlu mandi besar sebelum shalat."


"Mandi besar? Gimana tuh Hyung? Mandi di toilet yang besar gitu?" tanya Ju Woon lugu.


Kenan geleng - geleng kepala memaklumi ketidaktahuan Ju Woon "Kamu search aja di google, pasti ada penjelasan, apa itu mandi besar dan cara melakukannya. Nanti tinggal kamu praktekin."

__ADS_1


Tak lama kemudian, tibalah Kenan dan Ju Woon di toilet khusus pria.


"Ingat, jangan pake sabun, mandi besarnya!" peringat Kenan menghentikan langkah Ju Woon yang baru saja akan memasuki toilet.


Ju Woon berpose hormat sembari tersenyum pada Kenan "Siap, Hyung!" ucapnya dan kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam toilet.


>>>


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Kenan pada Ju Woon dan Nabila. Saat ini mereka sudah berada dalam perjalanan pulang selepas shalat Dzuhur beberapa waku yang lalu, bersama Fara serta si Bambang sebagai supir tentunya.


Ya, mereka menggunakan mobil ceper panjang mewah milik Kenan sejak kedatangan mereka ke masjid tadi. Itu usul Kenan, agar tidak repot katanya. Dan sekarang tujuan kepulangan mereka tentu saja apartemen Kenan dan Fara.


"Gimana Dek?" Ju Woon meminta pendapat Nabila. Jika Nabila memanggil Ju Woon 'Abang', maka Ju Woon memanggil Nabila 'Adek'. Itu adalah panggilan sayang mereka.


"Bila terserah Abang aja." jawab Nabila kalem nan malu - malu.


Hoek...


Tiba - tiba Kenan dan Fara merasa mual. Lain Kenan lain Fara. Kalau Kenan merasa mual karena risih mendengar panggilan sayang Ju Woon dan Nabila. Sedangkan Fara, ia merasa risih melihat tingkah Nabila yang sok kalem nan malu - malu itu.


"Cih..." Ju Woon berdecih tak terima "Iri? Bilang bos!!!" ejeknya pada Kenan dengan meme kekinian.


Kenan auto melotot tajam pada Ju Woon. Ya, memang ia iri mendapati Ju Woon dan Nabila memiliki panggilan sayang, sedang dirinya dan Fara tidak.


"Udah, udah! Jadi, gimana?" Fara mengibas - ngibaskan tangannya diantara Kenan dan Ju Woon yang ia tahu akan mulai berdebat.


"Humps..." Kenan dan Ju Woon saling mendengus terhadap satu sama lain.


Lalu Ju Woon kembali beralih pada Nabila "Gimana kalo besok aja Dek? Atau hari ini?" usulnya serius tanpa pikir panjang. "Awww..." jeritnya sesaat kemudian, sembari meringis dan mengelus - elus kepalanya yang baru saja mendapatkan jitakan dari Kenan.


"Kamu pikir nikah itu gampang, tinggal 'OK' aja terus jadi? Emang kamu udah lamar Nabila sama orang tuanya?" sungut Kenan tak habis pikir.


"Hehe..." Ju Woon menyengir ringis sembari masih mengelus - elus kepalanya "Maaf Hyung, lupa."


Sementara kedua gadis, Fara memutar kedua bola matanya jengah mendapati keabsuran Ju Woon, sedang Nabila ikutan meringis seolah dapat juga merasakan rasa sakit di kepala Ju Woon akibat jitakan Kenan.


"Cih..." Kenan berdecih, ia tahu Ju Woon akan menjawab seperti itu "Ya udah, kalo gitu kalian urus aja dulu pertemuan kedua keluarga untuk acara lamaran resminya." usulnya kemudian.

__ADS_1


Tiba - tiba seberkas kecemasan menyelimuti Ju Woon. Ia benar - benar lupa dengan itu. Pertemuan antara kedua keluarga? Benarkah ia harus meminta keluarganya untuk menemui keluarga Nabila? Ia takut keluarganya tidak akan merestuinya menikahi Nabila. Inipun, tentang pindahnya ke agama islam, ia sembunyikan dari keluarganya.


Keluarga Choi, terutama sanga kepala keluarga sangatlah meninggikan kasta. Tentu saja Nabila yang sejatinya berasal dari keluarga tanpa nama akan kesulitan, atau bahkan mungkin mustahil diterima sebagai menantu keluarga Choi.


"Woi, Ju Woon!"


Seketika Ju Woon tersadar dari lamunannya akibat sentakan Kenan yang berseru cukup keras.


"Etdah, nih Bocah. Kamu ngapain malah ngelamun?"


"Ugh, eh, ma- maaf Hyung, gak sengaja." kilah Ju Woon gelagapan.


Kenan memicingkan matanya menelisik raut wajah Ju Woon "Kamu lagi mikiran apa emang? Kok kelihatan cemas gitu?"


"Ugh..." Ju Woon tertegun, ia tahu tidak akan dapat menyembunyikan ekspresinya dari Kenan "Ju- Ju Woon tiba - tiba gugup aja mau ketemu calon mertua. Hehe..." bohongnya sembari menyengir.


Kenan sebenarnya tahu bahwa Ju Woon sedang berbohong dan iapun samar - samar dapat menebak apa yang menjadi kecemasan Ju Woon. Ia sedikit banyak mengetahui tentang keluarga Choi, termasuk karakter kepala keluarganya yang terkesan penuh otoriter. Mengetahui itu, ia memutuskan untuk tidak mendesak Ju Woon berkata jujur karena ia yakin Ju Woon juga pasti akan mengatakan yang sejujurnya kepadanya nanti. Saat ini Ju Woon hanya terpaksa berbohong karena tidak ingin Fara dan terutama Nabila tahu.


"Baiklah, jadi gimana?" tanya Kenan kembali ke topik utama kemudian.


Ju Woon pun bisa bernafas lega dalam hati. "Ya, Ju Woon akan mengikuti usulan Hyung. Secepatnya Ju Woon akan mengurus pertemuan kedua keluarga."


"Ok, jika perlu bantuan ku, kamu gak perlu sungkan."


Mungkin bagi Fara dan Nabila tawaran Kenan itu terkesan biasa saja. Namun bagi Ju Woon, ia sangat tahu bahwa itu adalah kode untuknya.


"Siap Hyung, Terima kasih." Ju Woon tersenyum tulus pada Kenan dan dibalas dengan senyuman tulus pula oleh Kenan.


Setelahnya Kenan, Fara, Ju Woon dan Nabila melanjutkan dengan obrolan santai. Sebelum tiba di apartemen, mereka memutuskan untuk singgah makan siang di restauran yang mereka lewati.


"Permisi, bolehkan saya ikut gabung duduk dengan kalian?"


Disaat keempatnya tengah bercanda gurau, tiba - tiba hadir sesosok pria yang cukup mereka kenali, meminta izin untuk ikut bergabung dengan sopan.


"Oh, tuan Bagus rupanya. Silahkan, anda tak perlu sungkan!" Kenan yang mempersilahkan dengan senang hati setelah terkejut sesaat.


"Terima kasih Profesor Kenan." Bagus tersenyum tulus pada Kenan dan lantas menduduki kursi diantara Fara dan Nabila.

__ADS_1


__ADS_2