
Keesokan harinya...
Pagi ini publik digemparkan oleh berita tertangkapnya seorang dokter spesialis kesehatan kulit yang cukup ternama di Indonesia, atas dasar konspirasi percobaan pencemaran nama baik Kenan, Fara, serta NF Hospital. Siapa lagi sang tersangka kalau bukan Andre yang secara suka rela mengakui konspirasi yang dilakukannya bersama seorang jurnalis bayaran yang mengakibatkan sang jurnalis ikut tertangkap dan membekuk bersama Andre di balik jeruji.
Sekali lagi Kenan membuktikan kekuasaannya yang dengan sangat mudah dapat menghancurkan para pakar - pakar ternama. Sebenarnya Kenan bisa saja membuat hukuman yang dijatuhkan pada Andre lebih berat dari yang diterimanya pada kasus ini, yakni hanya hukuman penjara selama 3 tahun. Kenan mempunyai sangat banyak kasus - kasus tindak pidana Andre dari hasil penyelidikannya.
Ternyata, selama ini Andre secara diam - diam telah melakukan praktik ilegal tanpa sepengetahuan pihak NF Hospital sebagai naungan tempatnya bekerja. Yang mana tindakan tersebut telah melanggar kontrak kerjanya dengan NF Hospital yang melarang keras melakukan praktik diluar pengawasan pihak NF Hospital. Apa lagi tujuan Andre kalau bukan demi menambah pundi - pundi uangnya, yang tentu saja jika melakukannya dibawah pengawasan pihak NF Hospital, dimana bayaran yang didapatkan dari hasil prakteknya akan terbagi antara dirinya dan NF Hospital.
Namun bukan berarti pihak NF Hospital dikatakan egois dengan menerapkan peraturan seperti itu. Masalahnya adalah, setiap praktik ilegal yang dilakukan Andre mengatasnamakan NF Hospital yang berarti jika terjadi kegagalan dalam praktiknya, maka NF Hospital lah yang menjadi pihak penanggung jawab.
Bisa dibayangkan akan seberat apa hukuman yang akan diterima Andre jika Kenan menguak kasus praktik ilegal tersebut. Bila diperhitungkan secara matematis, setiap praktik ilegal yang dilakukan akan menuai sangsi 5 tahun penjara, sesuai perjanjian dalam kontrak kerja antara Andre dengan NF Hospital. Dan Andre sendiri telah melakukan praktik ilegal sebanyak lebih dari 10 kali.
Sungguh, jika tidak mengingat hubungan kekerabatan antara Farzan dan Ardan yang merupakan sepasang ipar, Kenan pasti akan menguak kasus praktik ilegal yang dilakukan Andre yang bisa dipastikan, bisa saja Andre menghabiskan sisa hidupnya dibalik jeruji. Kalaupun Andre berumur panjang, sekeluarnya dari penjara pun telah dalam keadaan tua renta dengan kisaran usia 80 tahunan. Sungguh ironis.
Namun Ardan yang tidak mengetahui kasus - kasus tindak kriminal yang telah dilakukan Andre, sanga keponakan, suami dari ami sekaligus adik ipar Farzan itu datang menemui Farzan di kediamannya dengan tujuan meminta Farzan untuk membujuk Kenan dan Fara untuk mencabut tuntutan mereka pada Andre. Dan di sinilah Kenan dan Fara berada di kediaman Farzan pada siang hari yang seharusnya tengah bekerja saat ini.
"Jadi, bagaimana Nak?" Farzan tak serta merta memenuhi permintaan Ardan. Ia lebih memilih meminta pendapat langsung pada Kenan, sebagai bentuk penghormatannya pada sang menantu.
Saat ini mereka, Kenan, Fara, Farzan dan Ardan serta Ami tengah berkumpul di ruang keluarga kediaman Farzan mencoba merundingkan secara kekeluargaan mengenai kasus yang melibatkan Kenan, Fara dan Andre.
__ADS_1
"Maaf Yah, Kenan tidak akan mencabut tuntutan Kenan." jawab Kenan tegas.
"Tapi Nak Ken, maaf, bukannya paman ingin membenarkan apa yang telah dilakukan Andre. Paman akui apa yang telah dilakukan Andre adalah salah dan sudah keterlaluan terhadap kalian. Tapi, tidak bisakah kita menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan?" Ardan memelas pada Kenan tanpa menghiraukan upaya Farzan yang mencoba memberinya isyarat untuk bersikap tenang dengan menengadahkan telapak tangan menghadap pada dirinya.
Kenan tak bergeming ataupun tergerak dengan tindakan Ardan yang memelas. Dengan tegas ia menggeleng "Tidak Paman, maaf, Kenan tidak bisa mencabut tuntutan Kenan."
"Kamu___"
"Nak, bisakah kamu jelaskan alasanmu, mengapa kamu tidak mau mencabut tuntutan mu pada Andre dan menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan?" Farzan langsung memotong ucapan Ardan yang ingin mendebat Kenan. Ia tahu Ardan telah terpancing emosi karena menganggap Kenan keras kepala dan tak punya hati. Berbeda dengan dirinya yang dapat berpikir dengan kepala dingin serta sangat mengetahui kepribadian Kenan, ia yakin menantunya itu mempunyai alasan krusial yang membuatnya tak ingin memenuhi permintaan Ardan.
Kenan tersenyum skeptis pada Farzan "Ayah memang sangat mengetahui Kenan." lalu tatapannya kembali dialihkan pada Ardan "Jadi begini Paman, sekali lagi Kenan minta maaf karena tidak dapat memenuhi permintaan Paman. Alasannya, karena apa yang telah dilakukan Andre sudah sangat keterlaluan. ___"
"Iya, Paman tahu itu, Andre memang sudah sangat keterlaluan. Paman juga minta maaf untuk itu. Tapi, tetap saja___"
"Ardan!" tegur Farzan mendapati Ardan yang sepertinya telah benar - benar tak dapat lagi berpikir jernih "Tolong tenangkan dirimu!"
"Ugh... Ma- maaf Kak." Ardan tertegun singkat, lalu mencicit sembari menundukkan pandangannya tidak berani bertemu tatap dengan Farzan, sang kakak ipar yang sangat ia hormati. Bukannya ia juga tidak menghormati Kenan, hanya saja egonya lebih besar yang menganggap Kenan tidak menghormati dirinya sebagai orang yang lebih tua.
"Sabar Mas." Ami yang duduk tepat di samping Ardan mencoba memberikan dukungan moral pada sang suami dengan mengusap - usap lembut punggung suaminya itu. Sejak tadi ia hanya memilih diam karena memang dalam kasus ini ia tidak memiliki hak untuk berbicara dan tak tahu harus berpihak pada siapa. Jadilah ia hanya memposisikan dirinya sebagai pendukung moral untuk Ardan, seperti yang ia lakukan saat ini.
__ADS_1
"Hm." Farzan hanya ber'hm' singkat sembari mengangguk memaklumi tindakan Ardan. Lantas ia beralih pada Kenan "Silahkan lanjutkan penjelasan mu Nak!"
"Terima kasih Yah." Kenan tersenyum pada Farzan yang hanya menanggapi dengan anggukan kecil. Lantas Kenan kembali beralih pada Ardan "Kenan mengerti perasaan Paman yang menganggap kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, bagaimana jika tanpa sepengetahuan Paman, ternyata kesalahan Andre lebih besar dari kasus ini?"
Perlahan Ardan memberanikan mengangkat kembali pandangannya demi bertemu dengan Kenan yang tengah mengenakan ekspresi penuh keseriusan. "Maksud nya?" tanyanya sembari saling menautkan kedua alisnya, benar - benar tidak memahami maksud ujaran Kenan barusan.
"Ya, seperti yang Kenan katakan, sebenarnya kesalahan yang Andre lakukan lebih besar dari kasus ini."
"Memangnya kesalahan apa lagi yang dilakukan Andre selain percobaan pencemaran nama baik yang dia lakukan kepadamu, Fara, dan juga NF Hospital."
Dengan tenang nan santai, tanpa berucap Kenan menyodorkan sebuah map yang sejak tadi berada di atas meja yang mengantarai mereka berlima. Map yang tadinya berada tepat di hadapannya, kini berpindah tepat di hadapan Ardan.
"Apa ini?" tanya Ardan dengan tautan kedua alisnya semakin mengerat.
"Buka dan periksa saja isinya Paman. Dan Paman akan tahu mengapa Kenan tidak mau mencabut tuntutan Kenan pada Andre." jawab Kenan ambigu.
Meskipun tidak puas dengan jawaban Kenan, tak urung Ardan melakukan seperti apa yang dikatakan menantu iparnya itu. Perlahan tapi pasti dibukanya map tersebut dan mengeluarkan isinya yang ternyata total 13 lembar kertas HVS ukuran F4 yang hampir dipenuhi tulisan hasil ketikan serta sebuah cetakan gambar pada setiap lembarannya.
Bukan hanya Ardan, Ami dan bahkan Farzan yang tadinya duduk di sofa berbeda, kini berpindah duduk di sofa yang sama tepat di samping sang adik ipar demi dapat ikut serta memeriksa lembaran - lembaran yang kata Kenan, tidak lain dan tidak bukan itulah yang membuatnya tidak ingin mencabut tuntutannya pada Andre. Tidak bisa membantu, setelah selesai dengan proses pemeriksaan mereka pada setiap lembaran, Farzan dan Ami mengenakan ekspresi yang sama, yakni meringis dalam, sedang Ardan, ekspresinya benar - benar pias sembari termangu menatap kosong pada lembaran terakhir yang diperiksa.
__ADS_1
"Bagaimana Paman Ardan?" tanya Kenan hanya meminta pendapat Ardan kemudian, sekaligus memecah keheningan yang sempat tercipta sejak dimulainya proses pemeriksaan yang dilakukan oleh Ardan, Farzan, serta Ami.
"Ah..." Ardan tersadar linglung dari ketermanguannya. Pandangannya tepat tertuju pada wajah Kenan, namun sorot netra nya menyiratkan kekosongan "Ti- tidak mungkin, ini pasti kesalahan, Andre tidak mungkin melakukan semua ini! Argh..." tiba - tiba riwayat jantungnya kambuh akibat shock dan tidak bisa menerima fakta tentang semua tidak kriminal yang telah dilakukan oleh Andre, berdasarkan bukti valid yang Kenan tunjukan.