
'WOWWW...!' Fara berseru takjub dalam hati menyaksikan pemandangan di depannya. Bagaimana tidak? Kini dirinya dan Kenan baru saja memasuki apartemen sang suami. Alih-alih apartemen, bagi Fara unit ini lebih pantas disebut mansion. Gedung apartemen berlantai 10, unit Kenan berada di lantai paling atas. Setiap lantai yang diisi 5 unit apartemen, di lantai teratas ini hanya ada 1 unit milik Kenan seorang. Bayangkan saja seberapa luas unit apartemen itu. Megah? Tidak perlu dipertanyakan. Semua perabotan dan furniture di dalamnya merupakan yang terbaik di kelas mereka. Ditambah dengan interior serta tata ruang yang sangat elegan, membuatnya tampak semakin megah nan mewah.
"Nis, Ayo masuk, sayang!" ajak Kenan mendapati Fara masih mematung di ambang pintu seakan enggan untuk untuk masuk ke dalam.
Fara tersadar dari ketakjubannya. Namun, alih-alih melangkah masuk, ia malah menatap bengong pada Kenan.
"Ada apa?" kedua alis Kenan saling bertaut.
"Apa kita gak salah ruangan?" dengan bodohnya Fara balik bertanya.
Dan dengan bodohnya pula Kenan malah menanggapi pertanyaan itu dengan serius. Sebelum menjawab, ia mengedarkan pandanganya menyapu seluruh sudut ruangan "Gak kok."
"Yakin? ini mah lebih pantas disebut mansion daripada apartemen."
"Hehe..." Kenan terkekeh lucu baru menyadari kelinglungan sang istri "Gak kok, ini emang apartemen. Ukurannya aja yang lebih luas dari unit apartemen biasa." "Udah, gak usah bengong di situ, ayo masuk. Kita cek kamar kita." imbuhnya kembali mengajak.
Baru saja Fara hendak mengayunkan langkahnya, kembali ditariknya kakinya ke belakang "Ka-kamar kita?"
"Iya, kamar kita, kamar siapa lagi?"
"Eh, tapi,,," Fara seakan enggan melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa?" desak Kenan sedikit tidak sabar.
Namun Fara hanya menggigit bibir bawahnya masih enggan untuk menjawab.
Melihat gelagat sang istri, Kenan mengernyit. Menurut pengamatannya, Fara tampak khawatir. Namun ia tidak tahu apa yang dikhawatirkan istrinya itu. Ia pun mulai memutar otak menerka-nerka. Sesaat kemudian seulas senyum jahil tersungging di bibirnya "Udah, gak usah banyak mikir. Ayo, sekalian kita nyobain ranjangnya, nyaman apa gak."
"Nyo-nyobain?" Fara gelagapan dengan.
Kenan pun semakin yakin dengan tebakannya. Ia yakin, Fara pasti telah salah mengartikan perkataannya. Istrinya itu pasti mengartikan ucapan 'kamar kita' yang dirinya ucapkan sebagai kamar mereka berdua, alias satu kamar. Senyuman di bibir Kenan semakin merekah "Iya, nyobain. Itung-itung pemanasan, nanti malam baru ke intinya."
"Pe-pemanasan? I-inti?" semakin panik lah Fara. Pikirannya sudah traveling kemana-mana. Wajahnya memerah.
"Hm, atau mau langsung ke intinya aja?" setengah mati Kenan menahan gejolak tawanya mendapati pupil sang istri melebar. "Ayo sayang, aku udah gak tahan nih. Gak bisa jalan? Mau aku gendong? Buat hemat tenaga." semakin gencar Kenan melontarkan kata-kata ambigu nya.
__ADS_1
"Stop, stop Kak Ken! Apa yang mau Kak Ken lakuin?" dengan hati-hati bercampur panik Fara melangkah mundur sambil menengadahkan telapak tangannya menghadap Kenan yang terus mendekat padanya.
"Hmm? Mau gendong kamu ke kamar kita lah, sayang. Itukan mau mu?" Kenan menaik turunkan sebelah alisnya seraya terus melangkah.
"Gak, gak, siapa yang ngomong gitu?"
"Ayolah, sayang, gak usah malu-malu, jadilah gadis baik. Tenang aja, kakak akan lembut kok."
Glek...
Susah paya Fara meneguk saliva mendengar penuturan Kenan yang makin absurd. "Ta-tapi kak, Fa-Fara belum siap." ucapnya memelas dengan mata yang sudah memerah menahan tangis.
Tiba-tiba langkah Kenan terhenti. Senyumnya seketika pudar berganti dengan ekspresi datar. Matanya menatap dingin wajah Fara.
Langkah Fara pun ikut berhenti. Mendapati perubahan ekspresi Kenan, ia berpikir bahwa sang suami tengah marah padanya. Dirinya pun serba salah dibuatnya. "Ma-maaf Kak, bukannya Fara gak mau. Fara cuman..." 'Fara cuman belum siap nyerahin harta paling berharga Fara sebelum Kak Ken mencintai Fara.' lanjutnya dalam hati menjerit.
Kenan tidak bergeming sedikitpun.
"Kak?" rengek Fara mengiba dengan mata berkaca-kaca.
Kena tetap tidak bergeming seolah tidak mendengar ucapan Fara.
Mendapati sang istri mulai terisak, Kenan sedikit merasa bersalah sekaligus lucu. Akhirnya dinding sandiwara yang ia bangun sejak tadi dibangunnya. Dihampirinya Fara yang masih terisak, lalu didekapnya. "Hmm? Maaf? Maaf untuk apa, sayang?" tanyanya seolah tak mengerti.
Fara mendongak di dalam dekapan Kenan hingga tatapan keduanya bertemu. Namun ada yang aneh, tak ada lagi wajah datar dan tatapan dingin Kenan beberapa saat yang lalu. Kini suaminya itu justru tersenyum simpul padanya. Apa yang terjadi? Apakah Kenan tidak marah lagi padanya? "Kak Ken udah gak marah lagi sama Fara?" tanyanya pada akhirnya.
"Marah? Emangnya Kakak pernah marah sama Fara?"
"Barusan?"
"Gak kok, Kakak gak marah. Perasaanmu aja kali."
Fara mengernyit "Masa sih? Terus, kenapa tadi Kakak tiba-tiba diamin Fara?"
Senyuman Kenan semakin terkembang, saking gemasnya. Tangannya refleks mencubit gemas sebelah pipi sang istri "Gak kok, Kakak gak diamin Fara, perasaanmu aja. Udahlah, gak usah banyak mikir. Sekarang gimana, mau ngecek kamarnya, gak?"
__ADS_1
Pipi Fara tiba-tiba bersemu merah "Em, masalah itu Kak, Kita bakal tidur di kamar berbeda kan?"
"Hah?" Kenan pura-pura bingung "Emang iya kan, kita bakal tidur di kamar berbeda."
"Eh, bukannya tadi Kakak bilangnya kamar kita?"
"Iya, kamar kita. Kamar aku, kamar kamu, jadi kamar kita kan?"
Blus...
Semakin memerah lah wajah Fara. "Terus yang Kakak maksud nyobain, pemanasan, inti tadi, apa?"
"Ya, nyobain kasurnya lah, nyaman, gak dipake tidur. Kan ini masih pagi, jadi tidurannya dibuat pemanasan dulu. Nah, malamnya baru deh intinya, tidur benaran. Emang kamu mikirnya gimana?" mati-matian Kenan menahan tawa melihat wajah sang istri yang kian memerah seperti kepiting rebus.
Fara gelagapan "Eh, gak kok, Fara gak mikir apa-apa." 'Oh s*it, kamu sangat bodoh Faranisha Gayatri. Bagaiman bisa kamu mikir yang tidak-tidak sejak tadi. Gimana kalo Kak Ken tau, dan nganggap kamu gadis mesum? Aaaghh...!' monolognya dalam hati merutuki diri sendiri.
"Hmm? Kenapa mukamu merah gini? Kamu sakit?" Kenan meletakan punggung tangannya di kening Fara "Gak panas?"
Jangan tanyakan reaksi Fara, auto panik. "Oh, Fara kegerahan aja, Kak." alasannya.
"Masa sih? Tapi Kakak baik-baik aja kok."
"Hmm? Mungkin karena aku dipeluk Kak Ken."
"Oh gitu ya, maaf, maaf." Kenan pun melepaskan dekapannya dari tubuh Fara.
'Oh s*it!' sekali lagi Fara merutuki dirinya dalam hati. Mengapa juga ia beralasan seperti itu? Jadinya kan dirinya juga yang tersiksa batin karena menyayangkan terlepas dari pelukan Kenan yang dirasanya sengat nyaman. Namun mau bagaimana lagi? Tidak mungkin ia meminta sang suami memeluk dirinya lagi. Nanti ia dianggap sebagai gadis aneh oleh Kenan. Ia lebih memilih tersiksa batin daripada dianggap gadis aneh.
"Jadi, gimana nih ngecek kamarnya? Mau kakak gendong, atau jalan sendiri?" sepertinya Kenan masih belum puas menggoda Fara.
"Fara jalan sendiri aja, Kak." lain mulut lain di hati. Padahal, dalam hati Fara ingin sekali digendong Kenan. Sayangnya, ia tak cukup memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Ia terlalu malu.
"Padahal Kakak pengen banget loh gendongin Fara, kakak pengen bersikap seperti suami kayak di film-film romantis gitu." gurau Kenan pura-pura kecewa "Tapi gak apa-apa lah, kakak gak mau maksain Fara, nanti Fara jadi gak nyaman. Ya udah, ayo!"
Lantas Kenan kembali melangkah masuk mendahului Fara yang mengekor di belakang sembari menatap nanar punggung suaminya itu. Mendengar penuturan Kenan barusan, ia semakin merutuki dirinya sendiri yang sok jaim, alias jaga image. 'Nasib, nasib...' gumamnya ironis dalam hati.
__ADS_1
Tibalah mereka di kamar Fara, sesuai yang ditunjukan Kenan. Memang tak salah jika Fara menganggap unit apartemen ini seperti mansion. Lihatlah berapa banyak kamar di dalamnya. Bedanya, tidak seperti mansion pada umumnya yang bertingkat-tingkat, yang ini hanya satu lantai. Tapi tetap saja tak kalah megah nan mewah.
Memasuki kamar, sekali lagi Fara dibuat takjub. Semua perabotan dan furniture di dalamnya sangat lengkap untuk ukuran kamar seorang wanita. Jangan lupakan ranjang king size yang dari kelihatannya saja tampak sangat nyaman sebagai tempat pembaringan.