
Byurr...
"Uhuk uhuk..." Andre terbatuk - batuk oleh guyuran air yang memasuki hidung dan mulutnya, sekaligus menyadarkannya entah dari pingsan atau tidur. Matanya menyipit kala cahaya lampu yang cukup menyilaukan memasuki retinanya sesaat matanya baru saja terbuka. "Aku di mana?" gumamnya dengan suara serak khas baru bangun tidur sembari mulai mengedarkan pandangannya memindai sekeliling ruangan seluas 5 × 6 meter dengan nuansa serba putih yang tampak sangat renggang karena keminiman perabot yang mengisi ruangan tersebut.
"Kau!?" pupil mata Andre yang tadinya masih tampak sayup seakan enggan untuk terbuka, seketika melebar sempurna kala tatapannya jatuh pada sesosok pria jangkung berbadan kekar yang berdiri tidak jauh di hadapannya sambil menenteng sebuah ember di sebelah tangannya. Ia yakin pia itu pasti adalah orang yang baru saja mengguyurnya dengan air. Mengedarkan pandangannya lebih jauh lagi, ia mendapati 3 pria lainnya dengan proporsi tubuh yang tak kalah jangkung dan kekar, berseragam serba hitam berdiri dalam barisan rapih tepat di belakang sang pria yang menenteng ember.
"Ka- kalian? Bu- bukankah kalian supir dan para bodyguard Profesor Kenan?" tanya Andre menebak sekaligus memastikan bahwa ingatannya tidak salah mengenali orang. Ya, total 4 pria yang sedang berdiri dihadapannya sembari menatap sinis dan menyeringai padanya, tidak lain dan tidak bukan adalah Bambang dan para bodyguard Kenan yang tidak lain merupakan anak buah Bambang. Andre cukup mengenali wajah mereka karena cukup sering bertemu atau berpapasan di NF Hospital.
"Oh, anda mengenal kami? Baguslah, sepertinya ini akan lebih cepat." seringai smirk nan menyeramkan di wajah Bambang semakin menjadi, begitupun ketiga bodyguard di belakangnya.
"Ka- kalian, apa yang kalian lakukan pada saya? Ugh..." Andre tertegun saat mendapati ternyata dirinya sejak tadi tengah menduduki sebuah kursi kayu dengan badan serta kedua tangannya terikat pada sandaran kursi, sedang kedua kakinya terikat pada kedua kaki depan kursi. "Apa maksudnya ini? Cepat lepaskan saya! Apa kalian tidak tau siapa saya?" protesnya yang entah mendapat keberanian dari mana, ia membentak Bambang dan kawan - kawan serta menyuruh mereka melepaskan dirinya.
"Oh, oh, tolong tuan, jangan galak - galak seperti itu! Anda membuat kami takut. Lihatlah ketiga temanku sudah gemetaran seperti itu!"
"Pfftt..."
Bambang memelas sembari berakting pura - pura takut dan menunjuk ketiga anak buahnya yang memang tampak gemetaran di belakangnya. Namun bukan karena ketakutan, melainkan tengah berusaha menahan tawa karena merasa geli dengan tingkah garang Andre serta akting yang dilakukan Bambang.
"Kau!!!" seketika rahang Andre mengeras dengan wajah memerah padam serta urat - urat tangannya tampak menonjol seolah ingin melompat dari tempatnya. Ia sangat marah sekaligus malu mengetahui Bambang tengah mengejek dirinya.
"Hadeh..." Bambang geleng - geleng kepala sambil mengibas - ngibaskan tangannya pada Andre "Baiklah, cukup basa basi nya. Tentu saja kami sangat mengenal anda, Tuan Andre Setiawan, seorang Dokter spesialis kesehatan kulit di NF Hospital yang baru menyelesaikan studi S3 nya sekitar 2 minggu yang lalu." sesaat kemudian ia kembali pada mode serius dengan menyebutkan identitas Andre cukup lengkap.
__ADS_1
"Humps..." Andre mendengus "Baguslah jika kalian mengenal saya. Maka cepat lepaskan saya dan sebaiknya kalian bersiap - siap untuk menerima ganjaran atas apa yang telah kalian lakukan pada saya." ujarnya memerintah serta mengancam dengan sombong nan percaya dirinya.
"Kalau kami tidak mau bagaimana?" Bambang dan kawan - kawan sama sekali tidak bergeming ataupun merasa terancam. Mereka malah mencibir sinis Andre tanpa bersuara.
"Ugh..." sesaat Andre tertegun mendapati reaksi Bambang dan kawan - kawan berada diluar ekspetasinya "Kau... Kalian tidak takut pada saya? Percaya atau tidak, saya bisa menuntut kalian dan memastikan kalian membusuk di penjara seumur hidup."
"Haha..." Bambang tertawa hambar nan singkat "Wow, kami sangat takut sekali! Mungkin anda memang bisa melakukan itu, tapi apakah anda yakin memiliki kesempatan untuk melakukannya?" seringai smirk nan mengerikan kembali menghiasi wajah Bambang dan kawan - kawan.
Glek...
Susah paya Andre meneguk saliva. Entah datang dari mana, firasat buruk tiba - tiba menghantuinya. "A- apa sebenarnya yang ingin kalian lakukan pada saya?" tanyanya dengan suara bergetar serta wajah pias ketakutan. Ia baru menyadari posisinya saat ini yang benar - benar tidak dapat melakukan apapun. Seketika kesombongan serta kepercayaan diri yang menyelimutinya sejak tadi, hilang entah kemana, berganti ketakutan menerka - nerka kejadian buruk yang bisa saja menimpa dirinya.
Tap tap...
Puk...
Glek...
Sekali lagi Andre meneguk saliva susah paya kala terjadinya kontak fisik antara tangan bambang dan pipinya. Ia sangat yakin, jika tepukan itu dilakukan dengan maksud untuk menyakitinya, pasti akibatnya akan parah. Paling kurang, ia hanya kehilangan beberapa giginya yang rontok, sedang paling parahnya, tidak mustahil tulang rahangnya akan patah.
Andre langsung mengangguk - anggukan kepalanya dengan tegas "Ba- baiklah, saya akan menjawab semua pertanyaan kalian sejujur - jujurnya. Silahkan tanyakan apa saja yang kalian inginkan!" ujarnya mempersilahkan pada Bambang dan kawan - kawan untuk memulai sesi pertanyaan mereka.
__ADS_1
Puk...
Kali ini tepukan pelan Bambang mendarat di sebelah pundak Andre "Bagus! Tenang saja pertanyaan kami tidak banyak, sebenarnya hanya satu. Namun jika anda tidak langsung menjawabnya dengan jujur, maka akan menjadi banyak. Dan anda tahu, saya adalah orang yang sangat tidak suka dibohongi. Entah apa yang akan dilakukan tangan ini jika anda membohongi saya."
Puk puk...
Bambang memberikan dua tepukan pelan susulan masih di pundak Andre yang sama demi membuat pria itu semakin merasa terancam agar tidak berani berbohong.
"Sa- saya tidak akan berani berbohong pada anda, Tuan supir yang terhormat!" Andre langsung berseru penuh kesungguhan serta sedikit meninggi - ninggikan Bambang dengan memanggilnya 'Tuan supir yang terhormat'. Ia berharap dengan itu, Bambang berempati pada dirinya.
"Ck ck ck..." Bambang berdecak - decak sembari tersenyum geli menatap Andre "Tidak perlu mencoba meninggi - ninggikan saya. Saya tidak butuh semua itu, yang saya butuh hanyalah anda menjawab dengan sejujur - jujurnya pertanyaan saya nanti, paham?"
Andre kembali mengangguk tegas "Pa- paham Tuan."
"Ok, dengarkan baik - baik pertanyaannya. Apa tujuan Anda dengan membayar seorang jurnalis untuk menjelek - jelekan reputasi Tuan Kenan dan Nyonya Fara serta NF Hospital, pada jumpa pers tadi pagi?" Bambang tidak lagi berbasa - basa dan langsung to the poin menanyakan pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
Ya, Andre lah dalang di balik kegemparan yang terjadi pada Jumpa pers pagi tadi. Dimana sang jurnalis yang dengan kurang ajarnya bertanya di luar konteks jumpa pers yang tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk menghancurkan reputasi Kenan, Fara, serta NF Hospital, jurnalis tersebut adalah jurnalis yang telah dibayar oleh Andre.
Untung saja Kenan dan Fara dapat menyangkal tuduhan - tuduhan yang tercipata oleh pertanyaan - pertanyaan yang diajukan oleh sang jurnalis bayaran dan membuktikan bahwa tuduhan - tuduhan tersebut tidaklah benar. Sangat mudah bagi Kenan dan Fara melakukannya, cukup menyarankan massa untuk melihat pada fakta dan terbukti bahwa tuduhan - tuduhan itu tidak benar.
Seperti Fara yang menyarankan massa untuk memeriksa riwayat medisnya, Kenan juga hanya menyarankan massa untuk memeriksa rekaman CCTV di NF Hospital cabang Swiss, tepatnya di ruang pemantauan pasien pasca operasi. Yang mana dalam rekaman CCTV tersebut, terbukti bahwa Kenan hampir setengah hari berada di ruang pemantauan pada hari pertama pasca operasi, tidak seperti opini absurd yang menuduhnya tengah bermain wanita dikala waktu tersebut.
__ADS_1
Berkat semua bukti dan fakta yang ditunjukan, reputasi Kenan, Fara, serta NF Hospital berhasil terselamatkan. Namun tetap saja, sekali mendapat celah, para hatters Kenan tak akan membiarkannya lolos begitu saja. Mereka mengklaim bahwa semua bukti maupun fakta yang ditunjukan adalah palsu, sehingga sekarang tengah dilakukan pemeriksaan secara lebih menyeluruh.
Dan di sinilah Andre si dalang utama kegemparan meresahkan tersebut, disekap oleh Bambang dan kawan - kawan di salah satu ruang introgasi dalam markas pusat The Dangerous di Indonesia.