Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Usaha Andre Dan Kabar Kepulangan Kenan


__ADS_3

Ding dong...


Tiba - tiba bel pintu utama kediaman Farzan berbunyi di pagi hari, kala Fara dan Farzan tengah sarapan bersama di ruang makan.


"Siapa yang bertamu sepagi ini Yah?" tanya Fara sedikit heran sembari menghentikan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Farzan menggedikan bahu, juga sedikit heran sembari menghentikan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya "Entah, Ayah juga gak tau."


Sesaat sepasang ayah dan anak itu saling pandang dan sama - sama menggelengkan kepala isyarat benar - benar tak tahu siapa gerangan sang tamu.


"Bi Darsih!" seru Farzan kemudian, setengah berteriak memanggil sang kepala ART di kediamannya yang sedang bertugas di dapur yang hanya terpisahkan sebuah tembok dari ruang makan.


Tak lama kemudian, tampaklah sesosok wantia paruh baya kisaran usia 50 tahunan, dengan setengah berlari menghampiri Fara dan Farzan dari arah gerbang dapur. "Iya Tuan, ada apa?" tanyanya begitu tiba tepat di hadapan Farzan.


"Coba Bibi liat siapa yang datang, dan suruh masuk saja! Katakan padanya, aku dan Fara sedang sarapan." titah Farzan ramah.


"Baik Tuan." patuh Bi Darsih, lalu bergegas beranjak menuju pintu utama untuk melaksanakan perintah Farzan.


Selang sekitar 3 menitan kemudian, Fara dan Farzan harus kembali menghentikan menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka akibat sebuah sapaan.


"Selamat pagi Paman Farzan, Dek Fara." bunyi sapaan itu yang ternyata berasal dari Andre yang baru memasuki ruang makan bersama bi Darsih.


"Eh, Nak Andre, selamat pagi." Farzan yang membalas dengan sedikit terkejut, sedang Fara hanya tersenyum seadanya serta mengangguk kecil pada Andre.


"Ayo sini duduk! Kamu udah sarapan belom?" imbuh Farzan menawarkan sekaligus mempersilahkan Andre untuk ikut duduk bersama mereka di meja makan.


Dengan senang hati Andre menerima tawaran Farzan dan tanpa permisi langsung duduk tepat di samping kursi yang Fara duduki. "Paman sama Dek Fara, lanjut aja sarapannya. Andre udah sarapan kok." ujarnya menjawab pertanyaan Farzan kemudian.


"Ooh..." Farzan manggut - manggut santai "Bagaimana dengan segelas teh hangat?" tawarnya.

__ADS_1


"Boleh Paman." terima Andre tanpa sungkan.


Lalu Farzan beralih pada bi Darsih yang berdiri di salah satu sudut meja makan "Tolong ya Bi!" pintanya ramah nan sopan.


"Baik Tuan, apa itu saja?" patuh bi Darsih dan bertanya memastikan sebelum beranjak memenuhi permintaan Farzan.


"Itu saja Bi." jawab Farzan singkat.


Lantas Bi Darsih pun beranjak kembali menuju dapur untuk memenuhi permintaan Farzan.


"Ngomong - ngomong, ada angin apa kamu kemari pagi - pagi gini?" tanya Farzan pada Andre, sembari memulai kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Sementara Fara, ia juga kembali fokus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya seolah tidak menghiraukan keberadaan Andre di sampingnya. Sebenarnya ia merasa risih dengan Andre yang duduk di sampingnya. Namun ia tak sampai hati untuk menyuruh Andre pindah, takut menyinggung perasaan pria itu.


"Oh, ini Paman, sebenarnya Andre mau ngajakin Dek Fara berangkat kerja bareng." jawab Andre dengan santainya yang sukses membuat Fara mendelik risih kepada dirinya. Namun Andre seolah tidak menyadari itu dan terus menujukan pandangannya pada Farzan, sebagai lawan bicaranya.


"Maaf Kak Andre, tapi sepertinya Fara tidak bisa." Fara yang menyahut, tanpa pikir panjang ia menolak ajakan Andre dengan sopan.


"Kenapa Nak?" tanya Farzan bingung pada Fara.


"Fara gak mau aja buat Kak Ken cemburu Yah. Ayah kan tau gimana sifat Kak Ken." jawab Fara setengah jujur dengan tidak mengungkapkan bahwa ia merasa risih berada di dekat Andre.


"Ck..." Farzan berdecak, sekilas ia teringat tentang sikap cemburu Kenan tempo lalu yang bahkan tak mengizinkan dirinya untuk mengelus - elus perut Fara berniat mencoba melakukan kontak batin dengan calon cucunya. "Iya sih, kenapa sih Suamimu itu pencemburu banget?" ia jadi kesal sendiri.


Fara menyengir kuda menampakan deretan gigi putih dan rapihnya "Itu karena Kak Ken cinta banget sama Fara, Yah." jawabnya bangga.


"Ck..." sekali lagi Farzan berdecak gemas sembari menggeleng - gelengkan kepalanya tak habis pikir. Ia semakin kesal saja dibuatnya. Lantas ia kembali beralih pada Andre "Jadi, begitulah Nak Andre. Maaf ya, Suami Fara itu memang posesif banget sama Fara." ucapnya sedikit tak enak hati mendukung penolakan Fara.


Andre pun tersenyum yang terkesan sangat dipaksakan "Em, baiklah Paman, tidak apa - apa."

__ADS_1


Entah kebetulan atau kebenaran, tepat setelah Andre berucap, bi Darsih kembali hadir di ruang makan dengan membawa sebuah nampan kecil yang mengangkut segelas teh hangat dan meletakannya di atas meja makan, tepat di hadapan Andre. Berkat kehadiran bi Darsih tersebut, suasana canggung yang tiba - tiba menyelimuti meja makan cukup mereda. Namun setelah bi Darsih kembali lagi ke dapur, kecanggungan kembali terasa kian menjadi dari waktu ke waktu diantara Fara, Farzan dan Andre.


Jadilah Fara dan Farzan melanjutkan sesi sarapan mereka, sedang Andre mulai meminum teh hangat yang telah disuguhkan untuk dirinya. Ketiganya fokus dengan aktivitas masing - masing dalam diam nan tenang. Tak ada lagi obrolan yang terjadi hingga ketiganya menyelesaikan aktivitas masing - masing.


>>>


Kurang lebih 45 menit kemudian, baik Fara, Farzan, maupun Andre telah siap meninggalkan kediaman Farzan untuk berangkat ke tempat kerja masing - masing dengan menggunakan kendaraan masing - masing pula. Fara disupiri oleh Bambang, Farzan disupiri oleh Pak Setyo, supir pribadi Farzan, sedang Andre mengemudikan mobilnya sendiri.


Memang pada dasarnya tujuan Andre tidak tercapai untuk mengajak Fara berangkat kerja dengan kendaraan yang sama. Namun karena arah dan tujuan mereka sama, bisa juga dikatakan bahwa mereka berangkat bersama, dimana mobil yang ditumpangi Andre mengekor tepat di belakang mobil yang ditumpangi Fara.


"Hufh..." Fara menghembuskan nafas jengah saat menoleh ke luar kaca belakang mobil dan mendapati mobil yang ditumpangi Andre terus setia mengekori mobil yang ia tumpangi, bahkan setelah cukup jauh meninggalkan kediaman Farzan. "Apa sih maunya?" gerutunya kesal.


Drrt drrt...


Tiba - tiba ponsel Fara yang berada dalam tas kerjanya, bergetar notifikasi panggilan masuk. Dengan malas Fara merogoh kedalaman tas kerjanya dan dengan naluri mengambil benda pipih kesayangan sejuta umat miliknya itu. Sejurus kemudian raut kekesalan di wajahnya seketika sirna, berganti ekspresi penuh kebahagiaan dengan mata berbinar - binar.


Siapa lagi yang bisa membuat mood Fara berubah secepat kilat seperti itu kalau bukan Kenan? Ya, ternyata sang pemanggil tidak lain dan tidak bukan adalah Kenan, sang suami tercinta. Dan yang membuat Fara lebih senang lagi adalah panggilan tersebut merupakan panggilan vidio yang memungkinkan dirinya untuk dapat melihat wajah Kenan yang sangat dirindukannya. Tanpa membuang waktu, Fara pun segera menggeser icon telpon seluler berwarna hijau untuk menerima panggilan.


"Halo sayang, Assalamualaikum, selamat pagi." sapa Kenan dengan paket sapaan lengkap sembari tersenyum cerah sesaat setelah panggilan terhubung.


"Halo Kak, waalaikumsalam, selamat siang." balas Fara dengan paket sapaan lengkap sembari tersenyum cerah pula pada Kenan. Jika ada yang bertanya mengapa sapaan waktunya menggunakan selamat siang? Jawabannya karena memang begitu adanya, di Swiss sana saat ini memang sudah siang hari.


"Kamu baru mau berangkat kerja sayang?" tebak Kenan bertanya setelah sekilas mengamati background kedalaman mobil yang terekam kamera ponsel Fara.


"Fara udah di perjalanan kok Kak." ralat Fara membenahi tebakan Kenan.


"Ooh... Gitu." Kenan manggut - manggut kecil dan terdiam sejenak. "Miss you mooore sayang." ucapnya kemudian, selang keheningan singkat yang begitu terdengar syahdu di pendengaran Fara, bagaikan hembusan angin sejuk nan lembut yang mengalir mulai dari telinga dan turun ke sanubarinya.


Sejenak Fara speechless dengan mata yang mulai tampak mengembun. Sungguh tak ada kata yang mampu menggambarkan seberapa besarnya kerinduannya pada Kenan. Ia benar - benar merindu setengah mati. Iapun dapat melihat dengan jelas bahwa Kenan juga memendam rindu yang tak kalah besarnya dari sorot netra suaminya itu.

__ADS_1


"Hiks... Kak Ken kapan pulang? Hiks..." tanpa bisa ditahannya, perlahan air mata Fara luruh dan mulai terisak.


"Hufh..." Kenan tampak mend*sah lembut di seberang sana "Kalo semuanya berjalan lancar tanpa kendala, Kakak InsyaAllah pulangnya 4 hari ke depan. Besok operasinya dimulai dan 3 hari setelahnya adalah proses pemantauan kondisi pasien pasca operasi."


__ADS_2