
Jepreet jepreet...
"Hehe... Mimpi apa gue semalam, kayaknya hari ini gue bakal dapat jackpot nih." gumam seorang pria kisaran usia 25 tahunan sembari menyeringai smirk merasa puas dengan hasil jepretan yang baru saja didapatkannya dengan canon miliknya.
"Ooh, benarkah?" sahut sebuah suara bariton yang terdengar santai tepat dari belakang pria itu.
"Tentu saja, hehe..." tanggap sang pria tak kalah santai dan terkekeh sombong sembari terus menyaksikan hasil jepretannya pada layar kecil canon miliknya itu.
"Wah, kalo gitu bolehlah nraktir aku. Semangkok bakso aja gak apa - apa kok." suara bariton dari belakang pria itu kembali terdengar menyahut meminta ditraktir oleh sang pria.
"Ck..." sang mencebik seraya membalikan tubuhnya ke belakang "Enak aja minta traktiran ke gue, kerja sendiri sono. Emangnya lo sia- pa?" sontak pria itu tercengang hampir tak dapat menyelesaikan ucapannya akibat shock kala bertemu tatap dengan sosok yang sedari tadi terus menyahuti ucapannya.
"Kenalin, namaku Bambang." jawab Bambang memperkenalkan diri sembari tersenyum begitu ramah, namun tampak sangat mengerikan bagi sang pria yang seketika bergidik hebat dibuatnya. "Ngomong - ngomong, bolehkah aku lihat hasil jepretan mu barusan?" imbuh Bambang meminta dengan sopan tanpa mempedulikan ekspresi sang pria yang sangat jelas ketakutan setengah mati dengan wajah memucat.
Glek...
Sang pria meneguk saliva susah paya. Tenggorokannya tiba - tiba terasa kering tercekat. Tanpa mampu berucap, dengan tangan bergetar disodorkannya canon miliknya kepada Bambang yang terus mengukir senyum ramah di wajahnya yang tampak sangat mengerikan bagi pria itu.
"Terima kasih." masih mempertahankan kesopanannya Bambang meraih canon tersebut dan mulai memeriksa hasil jepretan yang baru saja didapatkan sang pria yang katanya bisa membuatnya mendapatkan jackpot.
Sepanjang mengamati gambar - gambar pada layar kecil canon itu, ekspresi Bambang tampak biasa saja sembari terus manggut - manggut "Iya sih, dengan ini aku yakin kamu bakal dapat jackpot besar. Iya gak?" ucapnya kemudian, setelah melihat semua hasil jepretan yang baru saja didapatkan pria itu.
Masih tak mampu berucap, sang pria dengan tegas menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Hmm? Kenapa?" tanya Bambang sok bingung sembari menaikan sebelah alisnya.
Namun sekali lagi hanya ditanggapi dengan gelengan tegas oleh sang pria yang tak mampu berucap dengan bibirnya yang terkunci sangat rapat.
__ADS_1
"Hadeh..." Bambang geleng - geleng kepala "Jadi, siapa yang menyuruhmu?" tiba - tiba nada suara serta ekspresinya berubah serius. Tak ada lagi senyuman ramah namun mengerikan itu di wajahnya yang berubah datar.
Glek...
Sekali lagi sang pria meneguk saliva susah paya dibuatnya dengan wajah yang tampak semakin pucat nan pias. Digigitnya keras - keras bibir bawahnya, berupaya keras membuka bibirnya untuk berucap. "Sa- saya ti- tidak tahu si- siapa namanya Tu- Tuan." jawabnya terbata - bata dengan suara bergetar.
Jangan salah, omes - omes begini, Bambang sangat hebat dalam membaca ekspresi serta sorot netra. Jadi, ia dapat langsung mengetahui bahwa sang pria tidak berbohong. "Laki - laki atau perempuan?" lanjutnya mengganti pertanyaannya.
"Pe- perempuan, Tu- Tuan."
Bambang manggut - manggut, lalu menepuk pundak pria itu pelan "Baiklah, karena katanya kamu gak bakalan dapatin jackpot dengan foto - foto ini, kasih ke aku aja ya." pintanya kembali bersikap ramah.
Sang pria langsung mengangguk - anggukan kepalanya "I- iya tuan."
"Hm, terima kasih." Bambang tersenyum tulus sembari merogoh - rogoh saku seragam supirnya "Sebagai gantinya, nih. Anggap aja aku yang nraktir kamu, kan aku yang bakalan dapatin jackpot nya." imbuhnya sambil meletakan selembar uang 20.000 rupiah ke tangan sang pria. "Seharusnya itu cukup buat beli semangkuk bakso."
Sang pria hanya bisa meringis sambil mengangguk - anggukan kepalanya mengiyakan semua perkataan Bambang.
"Nasib, nasib..." gumam sang pria melankolis setelah sosok Bambang menghilang dari pandangannya. "Hufh..." ia mend*sah lemah, lantas ikut berlalu dari tempat itu ke arah yang berlawanan dengan Bambang.
Sementara Bambang, kini si supir omes itu sudah duduk anteng di kursi kemudi dalam mobil ceper panjang mewah milik Kenan yang terparkir di basemen NF Hospital. Ya, TKP kasus percobaan pengambilan foto secara diam - diam yang dilakukan oleh seorang pria acak beberapa saat yang lalu, tidak lain dan tidak bukan di basemen NF Hospital.
Tepatnya, pria acak itu secara diam - diam telah mencoba mengambil foto Fara dan Andre yang hendak memasuki lift bersama. Padahal jarak keduanya tidak terlalu dekat, juga tidak terlalu jauh pula. Namun dengan piawainya sang pria acak memotret dengan angel yang sangat sempurna, hingga mengahasilkan gambar dimana Fara dan Andre terlihat sangat dekat dan intim. Andre yang tampak merentangkan tangannya dengan berjalan sedikit di belakang samping Fara, terlihat seolah tengah merangkul pundak Fara.
"Sepertinya ada yang mencoba bermain - main dengan Nyonya Fara. Hehe..." Bambang menyeringai smirk sembari memain - mainkan memori card dengan tangannya yang bertumpu di atas setir mobil. Lalu ditekannya tombol calling interkom yang bertengger di telinga kanannya, menghubungi para bodyguard yang selalu mengawal Kenan dan Fara kala berada di luar.
"Ikuti laki - laki yang baru saja keluar dari basemen, dengan ciri - ciri..." perintah Bambang pada para bodyguard tersebut yang tengah stay tepat di gerbang basemen seperti biasa, sembari menjelaskan ciri - ciri lengkap sang pria acak, mulai dari kisaran umur, bentuk wajah, tinggi badan, serta pakaian yang dikenakannya. Tidak sulit baginya untuk mengingat dengan spesifik ciri - ciri sang pria acak yang cukup lama berbincang dengannya.
__ADS_1
"Siap laksanakan Bos!" sahut para bodyguard serempak dari seberang sana, tepat sebelum Bambang memutuskan panggilan.
"Ok, sekarang apa yang harus aku lakukan dengan kasus ini? Apakah aku perlu melaporkannya kepada Bos Kenan?" Bambang kembali bergumam pada dirinya sendiri sembari mengetuk - ngetuk setir mobil dengan jemarinya. Ya, sejatinya sejak dulu ia memanggil Kenan dengan sebutan 'Bos Kenan'. Namun di depan publik terutama di depan Fara, ia memanggil Kenan dengan sebutan 'Tuan Kenan' agar tidak mengundang kecurigaan.
Disaat Bambang masih tengah menimang memikirkan apa yang harus dilakukannya dengan kasus ini, ia sedikit dikagetkan oleh kehadiran Ju Woon yang cukup tiba - tiba dan langsung mengucapkan salam sesaat setelah memarkirkan mobil dengan sempurna tepat di samping mobil yang ia tumpangi.
"Assalamualaikum Pak Bambang, selamat pagi."
"Eh, Big Bos, walaikumsalam. Pagi Big Bos." balas Bambang sedikit tersentak dari lamunannya.
"Lagi ngelamunin apa Pak?" tanya Ju Woon yang mengetahui Bambang baru saja tersadar dari lamunannya, sembari tetap berada dalam mobilnya.
"Ini Big Bos, aku lagi mikirin cara buat mencegah pecahnya perang dunia 3." seperti biasa, Bambang menjawab dengan ambigu.
"Hah?" Ju Woon pun sukses dibuat terperangah olehnya. "Pe- perang dunia 3? Kapan? Dimana? Antara Negara apa dan apa?" cecar nya bertubi - tubi setelah kembali pada kesadarannya.
"Ini perang saudara Big Bos, antara Ibu Negara dan Bapak Negara. Kayaknya bakal terjadi di Indonesia, bisa kapan saja."
Sshh...
Ju Woon mendesis sembari meringis dalam - dalam. Ia benar - benar gagal paham dengan penuturan Bambang yang mengibaratkan Kenan sebagai bapak negara dan Fara sebagai ibu negara. Pikirnya yang dimaksud Bambang adalah ibu presiden dan bapak presiden Indonesia. "Memangnya udah ada yang terpilih menggantikan Pak Mahmud?" tanyanya tidak nyambung kemudian.
"Hmm?" Bambang pun bingung dibuatnya. Namun tak urung ia menjawab seusai pengetahuannya "Belum ada Big Bos."
"Hmm? Terus siapa yang Pak Bambang maksud dengan Ibu dan Bapak Negara?" Ju Woon ikutan bingung.
"Nyonya Fara dan Bos Kenan." jawab Bambang dengan santainya yang sukses membuat kedua pupil mata Ju Woon melebar sempurna serta bibir yang berkedut - kedut seolah hendak berucap.
__ADS_1
Sumpah demi apapun, kalau tidak mengingat bahwa Bambang lebih tua dari dirinya, detik ini juga Ju Woon pasti audah menyumpah serapahi si supir omes itu. "Hufh..." dihembuskannya nafas berat demi menetralisir emosinya "Lalu perang gimana yang Pak Bambang maksud?" tanyanya tenang kemudian.
Tanpa berucap, Bambang langsung menyerahkan memori card yang ada di tangannya kepada Ju Woon.