
"Kak Ken!" Fara menegur Kenan dengan berseru sedikit keras. Saat ini mereka tengah bersantai bermalas - malasan di ruang santai apartemen, seperti biasa rutinitas mereka di pagi hari akhir pekan.
Namun sejak tadi Fara berceloteh mengajak Kenan mengobrol, suaminya itu malah tak menyahut sedikitpun. Fara tahu itu bukan karena Kenan tengah asyik menonton televisi, tapi karena melamun. Dan Fara sudah jengah dengan hal itu. Pasalnya bukan pagi ini saja, sejak semalam ia mendapati Kenan memang banyak melamun. "Kak Ken kenapa sih?"
Kenan tersentak dari lamunannya dan spontan menunduk demi bertemu tatap dengan Fara yang tengah berbaring menggunakan sebelah pahanya sebagai bantal. "Eh, Ka- Kakak gak kenapa - napa kok sayang."
Bohong. Fara tahu Kenan berbohong "Dari semalam Kakak bilangnya gak kenapa - napa, tapi apa? Fara masih sering nemuin Kak Ken ngelamun." diputarnya kedua bola matanya malas "Emang Kak Ken ngelamunin apa sih? Kak Ken lagi ada masalah?" cecarnya.
"Ugh..." Kenan tertegun. Ia tersadar dan jadi merasa bersalah karena sudah cukup banyak membohongi Fara. Ralat, bukan berbohong, lebih tepatnya ia hanya selalu mencoba menghindar tidak ingin memberitahu Fara tentang apa yang mengusik pikirannya sejak semalam. Dan bahkan sampai detik ini, ia juga masih belum ingin memberitahu Fara.
"Hufh..." Fara mend*sah lemah "Ok, Fara gak bakal maksa kalo emang Kak Ken gak mau ngsih tau Fara. Tapi Fara mohon, kalo emang Kak Ken lagi ada masalah, ceritain ke Fara. Bukankah kita udah sepakat untuk saling terbuka?" ujarnya sedih nan kecewa.
"Ugh..." Kenan semakin tertegun dan merasa bersalah saja dibuatnya. Ya, benar. Mereka memang telah sepakat untuk saling terbuka setelah terlibat pertengkaran tentang Bagus terakhir kali, yang mana saat itu Fara harus terpaksa mengakui perasaannya pada Kenan demi mengakhiri pertengkaran tersebut. Yang juga sekaligus menyadarkan Kenan tentang perasaannya pada Fara dan mengakuinya. Bagaimana Kenan bisa lupa tentang itu?
Sejenak Kenan speechless tak bisa berkata - kata. Lalu digigitnya keras - keras bibir bawahnya "Se- sebenarnya Kakak bukannya gak ingin ngasih tau kamu apa yang lagi ngusik pikiran Kakak. Kakak cuman bingung gimana cara ngejelasinnya. Dan juga Kakak pikir ini gak penting juga buat kamu tau." tuturnya kemudian.
"Ck..." Fara mencebik "Penting gak pentingnya, bukan masalah. Emang apa salahnya kalo Fara tau? Kali aja Fara bisa bantu ngasih masukan kan?"
"Hufh..." Kenan menghembuskan nafas berat "Baiklah, Kakak bakal ngasih tau. Jadi gini, pernah gak kamu ngerasa saat dekat dengan seseorang, kamu pingin terus dekat dengannya? Ya, semacam rasa kerinduan gitu. Tapi, hubungan kamu dan orang itu gak dekat - dekat amat, bahkan cenderung asing. Bertemu pun hanya sekali dua kali." ujarnya panjang lebar menjelaskan dengan analogi.
"Hmm..." dengan santainya Fara manggut - manggut mencerna penjelasan Kenan. Namu sedetik kemudian matanya tiba - tiba dipicingkan menatap tajam suaminya itu. "Jangan bilang orang itu cewek?" cecar nya.
Dengan polosnya Kenan mengangguk "Hm, iya dan juga___"
"APAAA?" pekik Fara spontan langsung memotong ucapan Kenan yang belum selesai.
Reflek Kenan menutup kedua telinganya yang berdengung akibat pekikan Fara yang dangat tiba - tiba dan keras itu. "Ya ampun sayang, kamu apa - apaan sih?" gerutunya kesal.
__ADS_1
"Siapa cewek yang Kakak maksud itu? Cepat jawab! Kakak jangan coba - coba nyembunyiin dari Fara!" Fara mengabaikan gerutuan Kenan dan malah mencecar menggebu - gebu. Posisinya pun sudah tidak lagi berbaring di pangkuan Kenan. Ia sudah berdiri sambil berkacak pinggang tepat di hadapan Kenan sembari mengenakan ekspresi garang.
"Hah?" Kenan tercengang. Ia benar - benar tidak mengerti dengan perubahan emosi Fara yang begitu tiba - tiba. Dalam ketercengangannya, diputarnya otaknya keras - keras demi mencoba mencari tahu apa kesalahan yang telah ia lakukan, hingga membuat Fara tiba - tiba memasuki mode over singa betina marahnya seperti ini. Ah, sejurus kemudian ia pun menemukan di mana letak kesalahannya. "Emm, sa- sayang, kamu tenang dulu ya. I- ini gak seperti yang kamu pikirin, kamu pasti salah paham." ujarnya hati - hati.
"Salah paham? Kakak masih mau ngeles? Bukannya Kakak sendiri yang bilang tadi kalo itu perasaan kerinduan? Ayo, coba jelasin dimananya Fara salah paham!" lantas Fara mencengkram kerah kaos Kenan "Kakak jangan berani - berani main di belakang Fara ya! Enak aja udah ngehamilin Fara, masih berani ngerinduin cewek laen."
Glek...
Kenan meneguk saliva susah paya sembari meringis dalam. Pelan - pelan diulurkan nya tangannya memegang kedua sisi pinggang Fara "I- iya sayang, kamu cuman salah paham. Te- tenang dulu ya, baru Kakak jelasin." pintanya putus asa. "Sumpah, Kakak gak ada sedikitpun main di belakangmu!" imbuhnya bersumpah demi menenangkan emosi Fara yang masih menggebu - gebu. Ia jadi geregetan sendiri melihat Fara yang seperti itu.
Mendengar kata 'sumpah' terucap dari bibir Kenan, Fara berhasil sedikit ditenangkan. "Beneran Fara cuman salah paham?" tanyanya memastikan.
Kenan mengangguk tegas "Iya sayang, kamu cuman salah paham. Kerinduan yang Kakak maksud tadi bukan kerinduan sama orang Kakak cintai. Kalo kerinduan seperti itu cuman sama Fara seorang Kakak rasain, sumpah!" sekali lagi ia bersumpah penuh kesungguhan demi benar - benar menenangkan Fara.
Fara terdiam sejenak sembari menelisik raut wajah dan sorot netra Kenan mencoba mencari jikalau ada kedustaan di sana. Dan hasilnya, ia tak menemukan apa yang dicarinya. Ia pun benar - benar berhasil ditenangkan. "Terus, kerinduan seperti apa yang Kakak maksud?" tanyanya bingung kemudian.
Kenan menepuk - nepuk pahanya sembari berucap "Kamu duduk dulu sini, baru Kakak jelasin."
Dengan patuh Fara menuruti permintaan Kenan dan duduk di pangkuan suaminya itu.
"Hufh..." Kenan pun dapat bernafas lega. Kemudian dirangkulnya pinggang Fara sedikit erat dan mulai menjelaskan "Itulah tadi yang Kakak bilang Kakak bingung gimana cara jelasinnya. Kakak juga gak tau, kerinduan seperti apa itu. Tapi, Kakak yakin itu bukan seperti kerinduan seperti yang Kakak rasain sama Fara."
Sembari mencerna penjelasan Kenan, Fara menatap lekat - lekat wajah suaminya itu. "Emang sama siapa Kakak ngerasain kerinduan itu?" tanyanya dengan sebelah alis terangkat.
"Emm... Sa- sama Tuan dan Nyonya Jung Hwa." ungkap Kenan setelah ragu sesaat.
"Hmm? Maksud Kak Ken, Ayah dan Ibu Ju Woon?" tanya Fara lagi memastikan.
__ADS_1
"Hm." Kenan hanya mengangguk sembari ber'hm' singkat membenarkan.
Sejenak Fara terdiam mencoba menelaah kasus yang tengah Kenan alami. Namun setelah sekian siklus putaran otak, ia tidak menemukan apapun penjelasan tentang kasus tersebut. Ia benar - benar buntu karena tidak pernah mengalami kasus serupa. "Maaf ya Kak, kayaknya Fara juga gak bisa bantu ngasih masukan. Padahal tadi Fara udah desak Kakak buat ceritain apa yang lagi ngusik pikiran Kakak." ucapnya sedikit malu serta tak enak hati kemudian.
Kenan menggeleng sembari tersenyum hangat "Gak apa - apa kok sayang. Emang sih kita gak nemuin jawabannya. Tapi, sekarang Kakak ngerasa masalah itu gak terlalu ngusik pikiran Kakak lagi. Dan lagian, kamu emang benar, apapun masalahnya, kita harus selalu saling terbuka. Maafin Kakak yang sempat lupain kesepakatan kita ya!"
"Iya Kak, gak apa - apa kok." Fara pun balas tersenyum hangat.
Hening...
Sejenak Kenan dan Fara sama - sama terdiam sembari saling pandang dan melempar senyuman terhadap satu sama lain.
"Eiittss..." Fara segera menempelkan telunjuknya ke bibir Kenan yang mencoba menciumnya. Bukan karena menolak atau tidak mau dicium oleh Kenan, tapi karena ada sesuatu yang tiba - tiba terbesit di benaknya.
"Sayaaang, kok?" rengek Kenan dengan wajah ditekuk.
"Hehe..." Fara terkekeh pelan merasa lucu melihat ekspresi Kenan "Sabar Kak, Fara juga mau kok, tapi Fara tiba - tiba keinget sama ucapan Kakak semalam."
Tekuk kan di wajah Kenan sedikit mengendur dengan sebelah alis terangkat "Ucapan yang mana?"
"Itu loh, ucapan Kakak yang bilang kalo kepribadian Kak Ken rada mirip sama Ju Woon."
"Hmm, terus?"
Perlahan Fara mengulurkan kedua tangannya dan menangkup wajah Kenan "Setelah Fara perhatiin baik - baik, bukan cuman kepribadian kalian, wajah kalian juga rada mirip." ujarnya sembari mengamati setiap inci pahatan wajah Kenan.
"Hehe..." Kenan terkekeh lucu nan sisis "Sayang, kayaknya matamu bermasalah. Mana ada wajah Kakak mirip dengan wajah bocah gak ada rahang itu. Kamu ada - ada aja."
__ADS_1