
Ceklek...
Fara memasuki ruang kerja Kenan yang sekarang juga menjadi ruang kerjanya sebagai asisten Kenan. Namun baru saja melangkah masuk, langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat pemandangan di depannya. Kedua alisnya saling bertaut, mencoba mengenali sosok gadis yang sedang duduk berhadapan dengan Kenan di meja kebesaran Kenan, saling bersebrangan. Kenan serta gadis itu juga balas menatap pada dirinya. 'Siapa dia? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?' Fara membatin sembari mengingat-ingat sosok sang gadis yang tampak akrab.
"Ken, dia siapa?" tanya gadis itu pada Kenan seraya menunjuk Fara dengan dagunya sekilas. Penggunaan bahasa Indonesia nya agak belibet namun lancar, ala-ala orang LN.
"Bukankah sudah saya peringatkan untuk menggunakan bahasa formal?" alih-alih menjawab, Kenan malah menegur penuh penekanan.
"Ups, maaf Prof." ralat gadis itu segera.
"Hm." Kenan mengangguk puas, lalu beralih pada Fara "Nis, sini!" panggilnya.
Sesaat Fara termangu, sebelum dengan cepat menjawab panggilan Kenan, beranjak ke sisi suaminya itu.
"Perkenalkan Dokter Gabela, ini istri saya, Faranisha Gayatri. Dia juga merupakan asisten saya sebagai dokter spesialis bedah." Kenan langsung memperkenalkan Fara, lengkap dengan jabatannya di NK Hospital.
Bukan hanya Gabela, Fara juga tampak terkejut mendengar penuturan Kenan. Bedanya, jika Fara terkejut karena baru menyadari identitas Gabela yang dikenalnya sebagai asisten Kenan sebagai dokter spesialis penyakit dalam di Logan's Hospital, maka Gabela terkejut karena baru menyadari identitas Fara sebagai istri Kenan yang memang ia sangat penasaran ingin bertemu. Lantas keduanya saling tatap dalam diam dengan pemikiran masing-masing.
"Ehem..." Kenan berdehem, entah hanya imajinasinya atau memeng nyata, tiba-tiba saja ia merasa atmosfir mencekam "Apakah perkenalannya sudah cukup? Saya rasa istri saya sudah mengenal Dokter Gabela, bukankah begitu, Nis?"
Fara mengangguk dengan senyuman yang terkesan dibuat-buat.
"Baguslah, kalau begitu, situasi ini akan lebih mudah dijelaskan. Jadi, mulai hari ini, Dokter Gabela juga akan bekerja sebagai asisten saya sebagai dokter spesialis penyakit dalam." tanpa diminta, Kenan langsung menjelaskan maksud keberadaan Gabela. Entah penjelasan itu tertuju khusus untuk Fara, atau untuk mereka bertiga sekaligus. Yang pasti, saat menjelaskan, pandangan Kenan terus tertuju pada Fara.
Senyuman Fara pun semakin terkembang dan lebih dulu mengulurkan tangan pada Gabela untuk berjabat tangan. Gabela balas tersenyum, entah asli atau dibuat-buat seraya menyambut dan menjabat tangan Fara.
"Mohon kerja samanya, Dokter Gabela." Fara.
__ADS_1
"Mohon kerja samanya juga, Dokter Faranisha." Gabela.
Mereka berjabat tangan cukup lama, saling menunggu pihak lain untuk melerai lebih dulu. Hingga akhirnya, entah kebetulan atau sehati, keduanya sama-sama melerai.
"Ehem..." sekali lagi Kenan berdehem, ia merasa atmosfir kian mencekam hingga membuatnya meremang "Ok, sebaiknya segera mulai bekerja." putusnya kemudian.
"Baik Prof." sahut Fara dan Gabela serempak, lalu beranjak ke meja kerja mereka masing-masing.
Ketiganya pun memulai pekerjaan mereka. Namun, tidak seperti biasanya, selama bekerja pikiran Kenan tidak bisa fokus. Berbanding terbalik dengan Fara dan Gabela yang justru terlihat lebih bersemangat dari biasanya, seolah ingin menunjukan bahwa diri mereka yang terbaik dari yang lain. Kenan sampai terheran-heran dibuatnya. Dengan siapa mereka bersaing? Bukankah mereka berbeda bidang? Dan untuk apa mereka bersaing? Pikir Kenan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Kebetulan pagi ini tidak ada pasien bedah yang memerlukan penanganan Kenan secara langsung. Adapun pasien penyakit dalam, konsultasi dilakukan langsung di dalam ruangan itu. Jadi, tidak ada yang lebih memonopoli waktu untuk berdua saja dengan Kenan, baik Fara maupun Gabela. Dan Fara, walaupun dirinya tidak terlibat dalam penanganan pasien penyakit dalam, tetap dibiarkan berada di dalam ruangan. Lagi pula tidak ada aturan yang mengharuskan dirinya keluar dari ruangan saat sedang penanganan pasien penyakit dalam. Dan Gabela pun tidak memiliki hak untuk protes. Jadilah ketiganya selalu berada dalam ruangan yang sama hingga tiba waktu istirahat siang.
Bahkan makan siang pun mereka lakukan bertiga. Terutama Gabela, selalu saja ada alasan untuk bisa terus berada di sisi Kenan, seolah tak ingin memberikan waktu privasi pada Kenan dan Fara. Hanya Kenan orang yang ia kenal dekat, asing dengan pemetaan rumah sakit, selalu itu yang menjadi alasan andalan Gabela untuk berdalih. Baik Kenan maupun Fara tidak bisa menyangkalnya, karena memang begitulah adanya.
Mereka makan siang di sofa santai yang tersedia dalam ruang kerja dengan menyuruh OB/OG yang memesankan mereka makanan dari kantin rumah sakit. Kenan menghabiskan makanannya lebih dulu dan pamit pergi ke toilet. Tinggallah Fara dan Gabela yang terus melanjutkan melahap makanan mereka yang juga hampir habis.
Fara tidak bergeming, seolah tidak merasa terpanggil.
Gabela mencebik "Dokter Faranisha Gayatri!" ralatnya menyebutkan nama lengkap Fara.
Barulah Fara mendongak sembari tersenyum ramah, seolah tidak menyadari intonasi kekesalan dalam suara Gabela "Ada apa Dokter Gabela Logan?" balasnya menyebutkan nama lengkap Gabela pula.
"Minta Kenan menceraikan mu!" perintah Gabela penuh penekanan tanpa bertele-tele. Inilah alasan utamanya datang ke Indonesia. Bekerja di NK Hospital dan menjadi asisten Kenan hanyalah dalih belaka.
Fara sempat tertegun, tidak menyangka Gabela akan selugas ini. Memang sejak awal ia sudah menyadari pandangan tak suka Gabela padanya. Tidak, lebih tepatnya tatapan kecemburuan dan kebencian. Awalnya Fara sempat bertanya-tanya, apa maksud tatapan itu? Bukankah ini kali pertama mereka bertemu? Bukannya Fara tak dapat membaca tatapan penuh cinta Gabela pada Kenan, suaminya. Hanya saja, ia tidak sekalipun berpikir bahwa Gabela akan secara terang-terangan menyuruhnya berpisah dengan Kenan. Sebisa mungkin Fara bersikap tenang "Apa maksud anda?" tanyanya seolah tak mengerti.
"Ck..." Gabela berdecak "Apakah pendengaran mu tidak berfungsi dengan baik? Saya memerintahkan mu agar meminta Kenan menceraikan mu. Apa masih belum jelas juga?"
__ADS_1
"Tapi mengapa? Apa hak anda memerintahkan saya seperti itu?" masih dengan tenang Fara bertanya lagi.
"Karena saya yang paling pantas menjadi istri Kenan." satu jawaban, menjawab sekaligus pertanyaan Fara. Gebela berucap dengan penuh percaya diri dan kesombongan.
Ceklek...
Saat Fara masih tertegun, pintu toilet terbuka disusul keluarnya sosok Kenan yang kembali menghampiri mereka dengan langkah perlahan.
"Ingat, lakukan apa yang saya perintahkan jika kau ingin hidup dengan tenang!" setengah berbisik Gabela memperingatkan sekaligus mengancam Fara, saat jarak Kenan masih cukup jauh.
"Kalian sudah selesai makan?" tanya Kenan yang baru saja kembali duduk di tempatnya semula.
"Sedikit lagi, tapi sepertinya aku tidak bisa menghabiskan makananku karena sudah kenyang." Gabela yang menyahut sembari tersenyum semanis mungkin pada Kenan. Berhubung tengah di luar jam kerja, ia tidak lagi menggunakan bahasa formal.
Sementara Fara, gadis itu hanya terdiam mematung seolah tidak menyadari keberadaan Kenan.
"Kamu, Nis?" tanya Kenan, namun yang ditanya tidak bergeming. Kenan pun mengernyit. Ia tahu Fara sedang melamun. Memang sejak pagi tadi Fara terlihat sangat banyak melamun. Tapi saat jam kerja tadi, Fara sudah kembali bersikap seperti biasa, bahkan penuh semangat. Lalu mengapa tiba-tiba istrinya ini kembali banyak melamun lagi? Apakah yang sedang Fara lamun kan saat ini, sama dengan yang tadi pagi? Pikir Kenan bertanya-tanya curiga. "Nis?" dilambai-lambaikan nya tangannya tepat di depan wajah Fara.
"Eh, i-iya?" Fara tersentak linglung dari lamunannya.
"Ada apa?" tanya Kenan terdengar dingin.
"Eh, aku? Ada apa denganku?" Fara masih linglung dan malah balik bertanya tak jelas.
"Hufh..." Kenan menghembuskan nafas kasar demi mencoba mengontrol emosinya "Kamu kenapa sih, Nis? Sejak pagi tadi sering skali melamun? Apa yang kamu lamunin sebenarnya?" akhirnya dilontarkannya juga pertanyaan-pertanyaan itu.
Fara speechless. Walaupun tak sampai meninggikan suara atau membentak, ia dapat dengan jelas menangkap intonasi kegeraman dalam tutur kata Kenan. Dan itu cukup untuk menohok hatinya. Bahkan lebih menohok dibandingkan saat Kenan tiba-tiba bersikap dingin kepadanya, pagi tadi. Terlebih, kali ini ada orang lain diantara mereka yang parahnya adalah Gabela. Tadi pagi memang juga ada orang lain, supir Kenan. Tapi, kalian tahulah seperti apa pandangan Fara terhadap sang supir. Jelas kali ini kondisinya sangat berbeda. Tidak bisa dipungkiri, sesak, sangat sesak.
__ADS_1