Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Drama Berita Kehamilan


__ADS_3

Flashback on!


20 menit yang lalu...


"Eh, Pak Bambang, selamat pagi Pak!" sapa Ju Woon yang baru tiba di basemen NF Hospital dan menemukan Bambang tengah duduk melamun di kursi kemudi mobil ceper panjang mewah milik Kenan.


Sontak Bambang tersadar dari lamunannya dan menoleh pada Ju Woon yang berada di luar sisi pintu seberang kemudi "Selamat pagi Bos." balasnya sembari tersenyum tipis khasnya.


"Udah lama samapi Pak?" tanya Ju Woon berbasa - basi.


"Udah sekitar 25 menitan Bos."


Ju Woon manggut - manggut "Ngomong - ngomong, kayangknya mood Bapak lagi baik - baiknya? Dari tadi aku Bapak senyam senyum terus."


"Sepertinya tidak lama lagi kita akan memiliki Bos kecil, Bos." ujar Bambang yang sukses membuat kedua alis Ju Woon saling bertaut tidak mengerti.


"Maksudnya Pak?"


"Iya, kita akan segera memiliki Bos kecil, Tuan Kenan sedang mengurusnya."


Bambang terus saja berujar ambigu tak jelas dan membuat Ju Woon semakin tidak mengerti.


'Sebaiknya aku tanyakan ke Hyung aja. Bertanya sama makhluk yang satu ini benar - benar kesalahan.' Ju Woon membatin jengah "O- oh, gitu ya. Ya udah, kalo gitu aku ke atas dulu ya Pak, mau ketemu Hyung." ucapnya kemudian, pura - pura mengerti sekaligus berpamitan.


"Ok Bos."


Ju Woon pun berlalu meninggalkan Bambang yang kembali melanjutkan lamunannya sembari senyam senyum penuh makna tak jelas.


Flashback off!


"Ck ck ck..." Kenan berdecak - decak takjub setelah mendengarkan cerita Ju Woon "Insting orang itu ternyata masih sangat tajam."


"Maksud Hyung, Pak Bambang?" tanya Ju Woon menebak siapa gerangan 'orang itu' yang dimaksud Kenan.


"Hm." Kenan mengangguk.


"Tentu aja Hyung, mangkanya Ju Woon masih pertahanin Pak Bambang sebagai salah satu orang kepercayaan Ju Woon." Ju Woon malah membanggakan dirinya sendiri.


"Cih..." Kenan berdecih sinis "Dan kamu, otakmu sepertinya semakin tumpul. Maksud ucapan Pak Bambang aja kamu gak ngerti."


Ju Woon menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal sembari tersenyum kikuk "Hehe... Bukan otak Ju Woon yang tumpul Hyung, tapi Pak Bambang nya aja yang ngomongnya mendalam banget." dalihnya membela diri "Jadi, di mana Bos kecil yang dimaksud Pak Bambang itu?" tanyanya kemudian, kembali ke topik.


Kenan mencebik tanpa suara sembari menoleh pada Fara yang masih duduk di atas brankar "Tuh." tunjuk nya ke arah perut Fara dengan dagunya.


"Maksud Hyung, Bos kecilnya, Fara Noona?" Ju Woon mengernyit gagal paham.

__ADS_1


"Bukan, tapi yang di dalam perutnya."


Kernyitan di kening Ju Woon semakin dalam sembari terus menggaruk - garuk tengkuknya yang kini benar - benar menjadi gatal. Ia semakin bingung saja, benar - benar tidak connect dengan maksud ucapan Kenan. 'Sepertinya aku lebih salah karena bertanya sama Hyung. Like supir, like Tuan.' gerutunya dalam hati.


"Emang otakmu aja yang tumpul, bukan akunya yang sama dengan Pak Bambang, maksud ucapan kami sulit dimengerti." cibir Kenan seolah bisa membaca isi hati Ju Woon.


"Ugh..." Ju Woon tertegun sedikit salah tingkah "Se- sepertinya Hyung semakin hebat aja ngebaca isi hati orang." sanjung nya kikuk.


Kenan menggedikan bahunya acuh "Udahlah, gak usah ngawur. Kamu udah ngerti belum, Bos kecil yang ku maksud?"


"Hehe... Belum Hyung." Ju Woon menyengir.


Lantas Kenan kembali menghampiri Fara dan mengusap - usap lembut perut istrinya itu sambil berujar bangga "Di dalam sini ada Kenan junior."


"Hah?" sesaat Ju Woon termangu mencerna penuturan Kenan "Ma- maksud Hyung, Noona Fara hamil?" tanyanya antara percaya dan tidak.


"Yup, gak lama lagi Hyung mu ini bakal jadi Ayah." Kenan tersenyum sumringah tanpa dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Begitupun Fara di sampingnya, ikut tersenyum sumringah.


"Oh, Tuhan!" Ju Woon ikut - ikutan tersenyum sumringah seraya beranjak mendekat pada Kenan dan Fara.


Plak...


"Awww..." Ju Woon menjerit sembari dengan tangan lainnya mengelus - elus punggung tangannya yang baru saja mendapatkan pukulan dari Kenan.


"Mau ngusap - ngusapin perut Fara Noona juga Hyung." jawab Ju Woon polos.


"Enak aja, gak boleh." larang Kenan keras.


"Ck..." Ju Woon berdecak tidak terima "Masa Hyung boleh, Ju Woon gak?"


"Kamu lupa aku siapa? Tentu aja aku boleh, aku kan suaminya Nisha. Lah kamu, siapa?"


Ju Woon menyengir sedikit salah tingkah "Hehe... Ma- maaf, Ju Woon lupa Hyung. Ju Woon kan Adik Iparnya Fara Noona, seharusnya boleh juga dong."


"Gak, kamu tuh Adik Ipar yang terpaksa dianggap." hardik Kenan tanpa mempedulikan perasaan Ju Woon.


"Ayolah Hyung! Bentar aja, Ju Woon mau nyoba ngecek calon ponakan Ju Woon." rengek Ju Woon mengabaikan hardikan Kenan.


"Gak boleh!" tegas Kenan tetap tak memperbolehkan.


"Ck..." Ju Woon mencebik kesal "Kenan Hyung pelit!"


"Biarin." acuh Kenan.


Sementara Fara yang sejak tadi hanya diam, membiarkan saja Kenan dan Ju Woon terus berdebat tanpa berniat menghentikan seperti biasa. Entah mengapa, kali ini bukannya kesal, ia malah merasa terhibur melihat perdebatan sepasang adik kakak yang seperti Tom and Jerry itu. Entahlah, mungkin karena telah menyadari bahwa dirinya tengah hamil, hormon kehamilannya pun mulai aktif.

__ADS_1


Tok tok...


Tiba - tiba terdengar pintu bilik diketuk dari luar yang sukses menghentikan perdebatan Kenan dan Ju Woon.


"Masuk!" seru Kenan mempersilahkan sang pengetuk untuk masuk kemudian.


Ceklek...


Kali ini dugaan Kenan benar. Sesaat setelah pintu terbuka, tampaklah sosok dokter Adnan memasuki bilik.


"Maaf mengganggu waktunya Prof. 20 menit lagi jadwal konsultasi pasien penyakit dalam akan dilakukan." ujar dokter Adnan mengingatkan pada Kenan.


Kenan manggut - manggut "Baiklah Dok, terima kasih sudah mengingatkan saya. Kalau begitu, perintahkan saja OB/OG untuk segera membereskan bilik ini." lalu ia beralih pada Fara dan Ju Woon "Ayo keluar!" ajaknya setelah membantu Fara turun dari brankar dan merangkul posesif pundak istrinya itu menuntunnya berjalan.


"Sayang, kamu gak usah kerja dulu hari ini ya! Panggil aja Nabila buat handle pekerjaan kamu." ucap Kenan setelah mendudukkan Fara di kursi kebesaran istrinya itu.


"Kak, Fara baik - baik aja kok. Fara gak sakit, Fara masih bisa kerja." protes Fara.


Kenan menggeleng tegas "Gak sayang, Kakak gak mau kamu kecapekan. Please, nurut sama Kakak ya!" pinta Kenan perhatian.


"Iya Noona, benar kata Hyung. Noona istirahat aja dulu hari ini." timpal Ju Woon yang berdiri di samping Kenan, mendukung hyung nya itu.


"Hufh..." Fara mend*sah pasrah "Iya deh, Fara nurut."


"Nah, gitu dong sayang." Kenan tersenyum cerah sembari mengusap - usap penuh sayang puncak kepala Fara.


"Ya udah, kalo gitu biar aku yang jemput Nabila, ngajak dia kesini. Gimana?" usul Ju Woon menawarkan diri.


"Cih... Gak perlu kamu nawarin diri juga, aku emang niat mau nyuruh kamu. Sana gih, cepetan! Ingat, jangan singgah pacaran dulu!" Kenan mengusir serta memperingatkan Ju Woon.


'Ya Tuhan, punya Kakak gini amat.' batin Ju Woon sembari tersenyum kecut. "Siap Bos! Hyung memang Bosnya di sini." cibirnya sinis, lantas menjalankan perintah hyung tak berperasaan nya itu.


Kenan hanya geleng - geleng kepala sembari tersenyum lucu melihat Ju Woon berlalu. Begitupun Fara yang memperhatikan Ju Woon dari kursi kebesarannya.


"Ya udah, kalo gitu Kakak mau bersiap - siap nanganin pasien Kakak dulu. Gak apa - apa Kakak tinggal kan?" izin Kenan kemudian.


"Hm, iya Kak, gak apa - apa." Fara mengizinkan dengan senang hati.


Cup...


Kenan mendaratkan sebuah kecupan sayang di kening Fara dalam waktu yang lumayan lama "Ok, Kakak tinggal dulu. Sampai jumpa sayang!" lantas Kenan berlalu sambil melambaikan tangannya.


"Sampai jumpa Kak." balas Fara melambaikan tangannya pula sembari tersenyum cerah dengan hati yang berbunga - bunga akibat perlakuan manis Kenan barusan.


Sementara dari meja kerjanya, dokter Adnan meringis memperhatikan kelakuan Kenan dan Fara. Bukan karena apa. Ia hanya merasa big bos dan nyonya big bosnya itu terlalu dramatis. Cara mereka berpisah, seolah akan berpisah dalam jarak yang jauh. Padahal hanya beberapa meter saja dari jarak meja kerja Kenan dan meja kerja Fara. Itupun, apa juga disebut perpisahan? Ia dan istrinya saja hanya saling bersaliman yang berpisah dari rumah saat dirinya akan berangkat kerja. 'Mungkinkah aku yang ketinggalan trend cara berpisah pasutri?'

__ADS_1


__ADS_2