
Tak terasa seminggu sudah usia pernikahan Kenan dan Fara. Sejauh ini hubungan mereka lumayan mengalami kemajuan. Tinggal di satu atap yang sama, bekerja di tempat yang sama, membuat keduanya lebih sering berinteraksi. Namun sepertinya perasaan cinta itu belum tumbuh di hati Kenan yang terkesan masih enggan memperlakukan Fara selayaknya seorang istri. Alih-alih sebagai istri, Fara merasa perlakuan Kenan kepada dirinya sejauh ini lebih cocok disebut seperti memperlakukan seorang adik.
Dan hari ini, akhir pekan, Kenan dan Fara rencananya akan pindah ke apartemen Kenan untuk tinggal berdua. Meskipun berat, baik Fara maupun Farzan sudah siap untuk berpisah. Lagi pula jarak apartemen Kenan dan kediaman Farzan tidaklah jauh, hanya berjarak 15 menit perjalanan waktu bersih dengan menggunakan kendaraan. Waktu bersih di sini maksudnya tidak ada kendala atau macet dalam perjalanan. Jadi, jika ingin melepas rindu, tidak akan sulit untuk mereka bertemu.
"Yah, Fara pamit ya. Jaga diri Ayah baik-baik, perhatikan kesehatan." pesan Fara pada sang ayah. Kini keduanya tengah berpelukan di depan rumah dengan Kenan setia berdiri di sisi mereka, menyaksikan sepasang ayah dan anak itu mendramatisir perpisahan yang sebentar lagi akan mereka lakukan.
Ya, bagi Kenan pemandangan itu seperti drama. Bagaimana tidak? Mereka hanya akan berpisah rumah dengan jarak yang sedikit jauh. Tak apalah jika hanya saling berpelukan. Tapi, apa perlu sampai menangis tersedu-sedu seperti ini? Namun ia juga mengerti, mungkin itu drama bagi orang lain, tapi adalah hal yang wajar bagi Fara dan Farzan. Selama 11 tahun hanya hidup berdua, saling menguatkan dan menyemangati untuk tetap melanjutkan hidup setelah kehilangan orang yang sangat mereka cintai, itu tidaklah mudah. Sehingga Kenan memilih diam dan dengan penuh kesabaran menantikan drama itu berakhir.
Setelah merasa cukup, Fara dan Farzan akhirnya melerai pelukan mereka dan menyeka air mata masing-masing. Selanjutnya giliran Kenan yang memeluk Farzan, namun tak selama dan sedramatis pelukan perpisahan antara Farzan dan Fara. Tidak ada air mata yang menetes dari pelupuk mata kedua pria berbeda generasi itu.
"Ayah titip Fara, ya. Tolong jaga putri Ayah, sekarang dia sudah menjadi tanggung jawab mu." ucap Farzan pada Kenan setelah mereka melerai pelukan.
"Tenang saja Yah, Kenan akan melakukan yang terbaik. Mungkin Kenan tidak bisa menjanjikan akan membuat Nisha bahagia, tapi Kenan bisa pastikan tidak akan menyakitinya." ucap Kenan bersungguh-sungguh.
"Hm, Ayah percaya padamu." lalu Farzan kembali beralih pada Fara "Jadilah istri yang baik dan berbakti pada suamimu." pesannya pada sang putri.
Fara mengangguk mantap "Iya Yah."
Setelah itu, Kenan dan Fara bergantian menyalami Farzan sebagai tahap akhir perpisahan. Kemudian sepasang suami istri itu memasuki mobil ceper panjang mewah milik Kenan yang disupiri oleh supir Kenan. Di bawah pengawasan Farzan, mobil itu berlalu hingga menghilang di ambang gerbang kediaman Farzan.
__ADS_1
"Butuh bahu untuk bersandar?" tawar Kenan pada Fara setelah mobil yang mereka tumpangi sudah cukup jauh meninggalkan kediaman Farzan. Pikirnya, sang istri larut dalam kesedihan yang teramat mendalam setelah berpisah dengan sang ayah.
Fara yang sejak tadi hanya diam, sedikit tersentak mendengar penuturan Kenan. Spontan ia menoleh pada sang suami yang duduk di sampingnya. Yang dipikirkan Kenan memang tidak sepenuhnya salah. Fara memang masih larut dalam kesedihan, namun tak sedalam yang Kenan pikirkan. Suaminya ini tak tahu saja bahwa diamnya sejak tadi hanya karena merasa canggung dengan keadaan dan memang tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Ya, beginilah Fara. Bahkan setelah seminggu menjadi istri Kenan, ia masih saja merasa canggung jika sedang berduaan dengan sang suami. Meskipun sekarang mereka bertiga, namun Fara tidak menghitung sang supir yang tengah fokus mengemudi. Bagi Fara supir itu lebih mirip robot daripada manusia. Pria yang kira-kira seumuran dengan suaminya itu sangat profesional dalam bekerja. Berbicara saja, hanya seperlunya dan jika diperlukan. Benar-benar seperti robot semi otomatis.
"Hmm? Bagiamana, mau? Kalau mau, silahkan gunakan bahuku." tawar Kenan lagi mendapati sang istri hanya diam menatap dirinya dengan tatapan linglung.
Fara tersadar dari lamunannya dan spontan menggeleng "Eh, tidak perlu. Aku baik-baik saja."
"Yakin?"
Fara mengangguk "Iya."
"Baiklah. Tapi jika kamu butuh, tidak perlu sungkan untuk gunakan bahuku." Kenan tersenyum tulus. Senyuman yang mampu menghipnotis setiap kaum wanita, termasuk Fara.
Inilah mengapa Kenan sangat suka menggoda Fara. Lihatlah betapa menggemaskannya istrinya itu saat tengah salah tingkah seperti ini. Entah mendapatkan bisikan darimana, tiba-tiba saja ia membaringkan kepalanya kesamping, bertumpu di bahu Fara "Kalau begitu, biarkan aku yang meminjam bahu mu."
Jangan tanyakan reaksi Fara. Seketika tubuhnya menegang seakan enggan bergerak, takut mengusik kenyamanan Kenan yang membaringkan kepala di pundaknya. Bahkan untuk bernafas saja, dilakukannya dengan sangat hati-hati. Namun jantungnya tidak dapat diajak kompromi. Dengan kurang ajarnya jantung itu berdetak sangat kencang tanpa seizinnya. Bagaimana jika Kenan mendengarnya? Pikirnya mendadak panik. Konyol memang, alih-alih memikirkan cara untuk menanggapi keadaan, ia malah pusing dengan kepanikannya yang tidak berfaedah itu. Jadilah dirinya seperti patung bantal hidup.
Kenan yang sedikit banyak mengetahui reaksi sang istri melalui kontak fisik yang terjadi diantara mereka, pikiran jahilnya semakin menjadi. "Bolehkan sayang?"
__ADS_1
"Hm." sahut Fara.
"Yakin?"
"Hm."
"Terima kasih sayang."
"Hm."
Setengah mati Kenan menahan tawanya agar tak pecah. Ia sangat tahu apapun yang diucapkannya hanya akan ditanggapi dengan sahutan 'Hm' oleh Fara. Dan itu sangat lucu menurutnya. Setelah dapat mengendalikan gejolak tawanya, ia kembali melanjutkan aksinya menjahili sang istri "Ngomong-ngomong, ini bunyi apa sayang? Dag dig dug, dag dig dug gitu."
Blush...
Meskipun tidak melihatnya secara langsung, Kenan sangat yakin, wajah Fara pasti tengah memerah padam karena panik bercampur malu, bunyi detak jantung yang berusaha ia sembunyikan ternyata terdengar oleh sang suami. Hal itu cukup jelas diprediksi Kenan akibat merasakan getaran samar tubuh Fara. Getaran yang menandakan bahwa Fara semakin tegang. Dan lebih parahnya lagi, detak jantungnya malah semakin kencang terdengar oleh Kenan. Sumpah demi apapun, sekali lagi Kenan mati-matian menahan gejolak tawanya yang hampir pecah. Rasanya ia belum puas menjahili sang istri.
"Sayang? Ini kok bunyinya makin kencang?" tanya Kenan sok polos.
Masih tak ada jawaban dari Fara, bahkan setelah sekian waktu berlalu. Bibir gadis itu amat terasa berat untuk sekedar berucap, saking gugupnya.
__ADS_1
"Hahaha..." akhirnya tawa Kenan pecah juga. Pria itu bahkan terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya sendiri. Bulir bening di pelupuk matanya sudah menggenang. Posisinya pun tidak lagi berbaring di bahu Fara.
Menyaksikan gelagat sang suami, Fara baru tersadar bahwa dirinya telah dijahili oleh Kenan. Wajah yang awalnya sudah memerah, kian memerah lagi. Malu, kesal, geram berpadu menjadi satu ia rasakan. Namun sialnya, ia seakan tak dapat meluapkan kekesalan maupun kegeramannya, mana kala menyaksikan wajah sang suami yang semakin tampan dengan wajah tawanya. Sungguh Fara sangat merutuki kelemahannya ini. Alih-alih marah, ia malah terpesona. Ini adalah kali pertamanya melihat Kenan tertawa lepas seperti ini. Bahkan saat bersama Farzan menjahili dirinya dulu, tawa Kenan tak selepas ini. Mungkin waktu itu suaminya masih menahan diri dan sungkan, sebab ada sang mertua, pikir Fara. Gadis itu malah tersenyum sembari terus menatap wajah Kenan. Kekesalan, kegeraman yang sempat ia rasakan seolah meluap entah kemana. Bahkan sekarang ia merasa senang, mendapati sang suami tidak menahan diri saat bersamanya. Ia menganggap ini sebagai kemajuan yang cukup besar dalam hubungan mereka.