
Hari ini adalah akhir pekan pertama yang Fara harus lalui tanpa Kenan semenjak pernikahan mereka yang telah berjalan hampir 2 bulan ini. Sementara Kenan di Swiss, hari ini adalah hari pertama masa pemantauan kondisi pasien yang baru dioperasi nya kemarin.
Saat ini Fara dan Farzan tengah bersantai di ruang keluarga kediaman Farzan usai sarapan beberapa waktu yang lalu. Terlihat Farzan tengah asyik menyaksikan tontonan di layar televisi, sedang Fara sejak tadi sibuk memainkan ponselnya sembari duduk malas selonjoran di sofa.
"Hufh..."
Untuk kesekian kalinya Farzan mendengar Fara mend*sah lesu. Ia tahu apa yang membuat sang putri sejak tadi seperti itu. Apa lagi kalau bukan karena resah menunggu kabar dari Kenan yang sejak kemarin sama sekali tidak bisa dihubungi karena sibuk dengan proses operasinya.
"Sabar Nak, Kenan pasti bakal hubungin kamu kalo dia lagi gak sibuk." dan untuk kesekian kalinya pula Farzan menggunakan kalimat ini untuk mencoba menenangkan Fara.
"Dari tadi Ayah juga bilang gitu, tapi sampe sekarang mana? Kak Ken belum juga hubungin Fara." gerutu Fara yang malah meluapkan kekesalannya pada Farzan.
Farzan tak tersinggung ataupun marah, ia mencoba mengerti dengan sikap Fara yang terkesan tidak sopan karena dipengaruhi mood yang labil serta hormon kehamilannya. Digaruk - garuknya tengkuknya yang tidak gatal sembari meringis kecil "Mu- mungkin Kenan nya lagi sibuk Nak. Ayah kan bilang, Kenan bakal hubungin kamu kalo dia lagi gak sibuk." ucapnya mencoba membela diri.
"Humps..." Fara mendengus "Ini lagi Kak Ken, dia lagi sibuk ngapain sih? Masa cuman karena mantauin pasien pasca operasi, Kak Ken jadi sesibuk ini sampe - sampe gak bisa hubungin Fara?" cibirnya yang kali ini beralih menyalahkan Kenan.
Farzan geleng - geleng kepala melihat kelabilan Fara yang semakin menjadi "Emangnya kamu udah coba hubungin dia?" tanyanya kemudian.
Fara mengangguk lesu "Udah Yah, tapi nomernya gak aktif. Pesan Fara aja masih centang satu. Hufh..."
"Ya udah, daripada kamu mumet gitu nungguin Kenan hubungin kamu, kenapa kamu gak keluar aja jalan - jalan sama Nabila?" usul Farzan. "Tapi ingat, jalan - jalannya dikondisiin, kamu kan lagi hamil." imbuhnya mengingatkan sebelum Fara sempat menanggapi.
Fara mengangguk paham seraya berujar "Hm, iya Yah, Fara paham kondisi Fara kok. Fara emang udah janjian sama Nabila, tapi nanti siang abis shalat Dzuhur. Pagi ini Nabila sama Ju Woon lagi ada pertemuan dengan pihak WO."
__ADS_1
Farzan manggut - manggut sembari memain - mainkan jenggotnya yang cukup lebat dengan sebelah tangannya, mencoba memikirkan cara apa lagi yang dapat mengobati kemumetan Fara.
Ding dong...
Belum sempat Farzan menemukan cara dengan pemikirannya, tiba - tiba bel pintu utama berbunyi yang sukses menginterupsi proses pemutaran otaknya. "Siapa tuh?" tanyanya sedikit penasaran pada Fara.
Fara menggedikan bahunya cuek "Entahlah Yah, Fara juga gak tau."
Sebenarnya Farzan bisa meminta kepada para ART untuk melihat sekaligus menyambut sang tamu. Namun mumpung sekarang dirinya tak sedang sibuk, ia memutuskan untuk melakukannya sendiri. Perlahan, ia pun bangkit dari duduknya "Bentar ya, Ayah mau nyambut tamunya dulu." ucapnya yang hanya diangguki mengiyakan oleh Fara, lalu beranjak menuju pintu utama.
Selepas kepergian Farzan, perhatian Fara kembali tertuju pada ponselnya dan langsung mencoba menghubungi Kenan untuk kesekian kalinya.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang___" belum selesai sang operator boot sim card mengoceh, Fara sudah mematikan panggilan dengan kesalnya seraya menggerutu tidak jelas meluapkan kekesalannya kepada sang operator "Maaf, maaf? Dari tadi ngoceh minta maaf aja taunya, usaha kek biar Kak Ken bisa dihubungin."
Tap tap tap....
"Oh, jadi tamunya, Kak Andre." gumam Fara cuek yang langsung mengenali sang pemilik suara yang didengarnya dengan memori pendengarannya yang cukup baik.
Ketika Farzan dan Andre memasuki ruang keluarga, Fara hanya melirik acuh kepada kedua pria berbeda generasi itu sekilas dan kembali fokus dengan ponselnya. Ia mencoba tidak menghiraukan keberadaan Andre yang benar - benar telah membuatnya sangat jengah karena dua hari belakangan ini selalu mencari kesempatan untuk mendekatinya.
Ya, sejak hari pertama Andre kembali bekerja di NF Hospital dua hari yang lalu, pria itu selalu berusaha mendekati Fara dengan berbagai macam cara dan alasan. Dan Fara bukannya tidak bisa melarang atau menyuruh Andre berhenti mengikuti dirinya. Hanya saja Fara tak sampai hati melakukan itu dan takutnya akan dianggap narsis oleh Andre, terlepas dari Fakta bahwa memang benar adanya jikalau Andre yang memang selalu mencari - cari kesempatan untuk mendekati Fara.
Namun mana ada maling yang mau mengaku? Bisa saja Andre berkelit dan malah memutar balikan fakta dengan menyatakan bahwa Fara yang terlalu narsis dengan berpikir demikian.
__ADS_1
"Selamat pagi Dek Fara." seperti biasa, Andre selalu mengenakan senyuman tertampan nya setiap kali berbicara dengan Fara.
"Pagi Kak Andre." dan seperti biasa pula, Fara hanya membalas dengan senyuman tipis alakadarnya dan kembali memfokuskan perhatiannya pada layar ponselnya.
Andre, pria itu sepertinya saraf kepekaannya telah gagal fungsi atau mungkin tidak memiliki saraf kepekaan sejak lahir. Bisa - bisanya ia begitu tahan dengan sikap acuh Fara yang bahkan telah Fara terapkan semenjak diperingati oleh Bagus dulu, semata - mata demi membentengi jarak antara dirinya dan Andre. Namun Andre seolah tidak menyadari itu dan terus saja mencoba mendekati Fara.
Fara pikir kepergian Andre ke Singapura 3 tahun yang lalu untuk melanjutkan studi S3 nya adalah isyarat bahwa Andre telah menyerah untuk mencoba mengejarnya. Memang Andre tidak pernah menyatakan secara langsung bahwa dirinya menaruh hati pada Fara. Namun hanya dengan melihat dari sikap Andre yang selalu menunjukan perhatian berlebihan pada Fara, siapapun akan langsung dapat menebak bahwa di balik semua perhatiannya pada Fara itu, ada maksud terselubung.
Dan Fara merasa bahwa perlakuan Andre itu semakin menjadi kini. Buktinya, selama dua hari belakangan ini Andre selalu berkunjung ke kediaman Farzan yang apa lagi tujuannya kalau bukan untuk bertemu Fara. Fara pun bertanya - tanya, jika dua hari yang lalu alasan kunjungan Andre untuk mengajaknya berangkat kerja bersama namun tak pernah terwujud, maka hari ini apa lagi alasan kunjungan pria itu?
"Ehem..." Farzan tiba - tiba berdehem demi mengalihkan perhatian kepada dirinya "Jadi gini Nak, maksud kedatangan Nak Andre kali ini ingin mengajak kamu jalan - jalan." ujarnya pada Fara kemudian, entah kebetulan atau memang dapat membaca pikiran sang putri.
Sejenak Fara terpukau takjub dengan keilahian Farzan yang layaknya seorang peramal atau pemilik kekuatan supranatural yang dapat membaca pikiran seseorang. Namun ia tak berniat menanyakan atau mengkonfirmasi benarkah Farzan seperti itu? Tidak mungkin, Fara sangat yakin itu hanya kebetulan. Lantas ia pun mengalihkan pandangannya pada Andre "Oh, gitu ya Kak. Tapi maaf, Fara gak bisa karena Fara udah ada janji sama teman Fara." ucapnya menolak ajakan Andre secara halus dengan menggunakan janjiannya dengan Nabila sebagai dalih.
"Maksud kamu dengan Nabila?" tanya Andre entah menebak atau memastikan.
"Hm." Fara mengangguk santai membenarkan.
"Bukannya kata Paman, kalian janjiannya nanti siang?"
Sekilas pandangan Fara kembali beralih pada Farzan dan mendapati sang ayah mengangguk isyarat bahwa telah memberitahukan perihal janjiannya dengan Nabila kepada Andre. Lantas kembali dialihkannya pandangannya pada Andre "Justru karena kami janjiannya siang, Fara gak mau kemana - mana pagi ini biar gak capek siang nanti." jawabnya kemudian dengan beralasan sekenanya, bersikukuh menolak ajakan Andre.
"Ugh..." Andre tertegun speechless tak tahu lagi harus berkata apa untuk memperjuangkan kehendaknya yang ingin mengajak Fara jalan - jalan karena jawaban Fara sangat masuk akal.
__ADS_1
Sementara Farzan yang menjadi penyimak yang baik, awalnya ia mendukung tujuan Andre. Namun mendengar jawaban Fara barusan, ia pun sama tak berkutik nya dengan Andre.
"Jadi gitu Kak, sekali lagi maaf ya. Dan terima kasih udah mau ngajakin Fara jalan - jalan." sekali lagi Fara menegaskan penolakannya atas ajakan Andre, sebelum Andre maupun Farzan menemukan cara untuk membujuk dirinya.