Suami Pengganti Sensasional

Suami Pengganti Sensasional
Mengobrol Serasa Menaiki Rollercoaster


__ADS_3

"Jadi, seperti itu."


Kenan baru saja menyelesaikan ceritanya, menjawab pertanyaan Mita yang menanyakan tentang hubungan diantara mereka dimasa lalu. Seperti yang diharapkan dari Kenan yang suka berterus tanpa menyembunyikan apapun, ia menceritakan semua kebenaran tentang dirinya dan Mita yang pernah tinggal bersama selama lebih 13 tahun di panti asuhan Al - Rahman hingga berpisahnya mereka karena Mita telah bertemu dengan keluarga kandungnya. Bahkan Kenan juga menyatakan fakta bahwa dirinya yang menjadi seorang dokter tidak lain dan tidak bukan karena ingin menyembuhkan Mita.


"Entah kamu percaya atau tidak, itulah fakta yang sebenarnya. Wajar jika kamu tak ingat, pasalnya pasca operasi pencangkokan tumor yang kamu jalani 3 tahun yang lalu membuatmu kehilangan cukup banyak ingatan dimasa lalu. Kamu tidak perlu berupaya untuk mengingatnya, karena mungkin mustahil kamu bisa melakukannya. Mungkin hanya keajaiban yang bisa membuatmu dapat mengingatnya kembali." imbuh Kenan mendapati Mita yang hanya terdiam tanpa bereaksi apapun setelah mendengar ceritanya. Ia pikir, mungkin Mita tengah berupaya mencerna dan mengumpulkan kepingan ingatannya dimasa lalu. Namun sayang, Kenan sangat tahu bahwa itu mustahil bagi Mita untuk kembali mengingatnya karena kehilangan ingatan yang dialaminya adalah permanen akibat rusaknya sebagian saraf pada otak kecilnya yang menyimpan memori - memori tersebut.


"Ugh..." sesaat Mita tampak tertegun "Kenapa anda berkata bahwa itu mustahil bagi saya untuk kembali mengingatnya?" tanyanya enggan percaya.


"Karena..." Kenan pun menjelaskan tentang kondisi spesifik Mita saat ini, sesuai ilmu sains dan medis yang ia ketahui.


Sementara Fara yang sejak tadi hanya diam menjadi pendengar dan penyimak yang baik, awalnya ia harap - harap cemas mendapati kecemasannya tentang Kenan yang akan menjawab dengan jujur pertanyaan Mita benar - benar terjadi. Namun kini, keharap - harap cemasannya itu sirna entah kemana, berganti dirinya diselimuti oleh rasa iba yang cukup mendalam terhadap Mita setelah mengetahui kondisi spesifik wanita itu dari penjelasan Kenan barusan. Begitulah tabiat sejati seorang Fara, cenderung memiliki empati serta simpati yang besar pada mereka yang nasibnya memang naas, bahkan jika itu adalah orang yang dianggapnya musuh atau orang yang dibencinya sekalipun, seperti Mita yang cenderung dianggapnya sebagai musuh.


"Hufh..." Mita tampak menghembuskan nafas berat "Jika memang seperti itu, maka tak apa, mungkin itu memang takdir saya. Tapi, bolehkah saya berharap hubungan kita bisa kembali seperti dulu Profesor Kenan?" ujarnya seolah tak berdaya dan mengiba dengan ekspresi penuh harap pada Kenan.


'Oh s*it!' spontan Fara mengumpat dalam hati sembari melotot pada Mita 'Sepertinya aku salah telah mengasihani wanita ini.' seketika keharap - harap cemasannya kembali dan merasa menyesal karena telah sempat mengasihani Mita.


"Hmm? Maksudmu kembali seperti dulu?" tanya Kenan tenang seolah tak mengerti.

__ADS_1


"Ma- maksud saya seperti dulu, dekat seperti saat kita tinggal bersama di panti asuhan." jelas Mita setelah keraguan singkat.


"Hehe..." Kenan lucu seolah baru saja mendengar lelucon "Apa yang kamu katakan? Sejak dulu sampai detik ini, aku tak pernah menganggap mu sebagai orang asing. Aku selalu menganggap mu sebagai seorang saudari yang sudah seperti adik bagiku. Justru aku seharusnya yang meminta itu padamu untuk bersikap seperti dulu. Sejak tadi saja, kamu selalu menggunakan bahasa formal saat berbicara padaku. Padahal ini bukanlah pertemuan formal." ujarnya panjang lebar dengan sedikit menyindir sarkas pada Mita.


"Ugh..." bukan hanya Mita, Fara pun ikut terkejut mendengar ujaran Kenan barusan.


Namun lain Mita lain Fara. Sesaat kemudian wajah Mita berseri - seri nan sumringah, sedang wajah Fara pias nan menegang. Jika bagi Mita ujaran Kenan barusan layaknya sebuah tiket untuknya menuju puncak kejayaan, maka bagi Fara layaknya sebuah tiket menuju jurang kehancuran. Intinya, Mita seolah mendapat dukungan besar, sedang Fara sebaliknya, merasa terancam dalam kelanjutan hubungannya dengan Kenan.


"Benarkah seperti itu, emm?" Mita bertanya memastikan dengan antusias tanpa dapat menyembunyikan rasa senangnya sembari tersenyum canggung diakhir ucapannya Karena tak tahu dengan sebutan untuk memanggil Kenan.


"Ken, Kenan, seperti itulah kamu memanggilku dulu. Ya, tentu saja aku bersungguh - sungguh dengan ucapan ku yang tak pernah menganggap mu orang asing, baik dulu maupun sekarang." jawab Kenan menyebutkan panggilan Mita dulu kepada dirinya sekaligus menyatakan bahwa ia bersungguh - sungguh dengan ucapannya.


Kenan mengibaskan tangannya dengan santai "Tidak perlu khawatir tentang itu, aku mengerti dengan keadaanmu. Dan lagipula aku tidak punya alasan juga untuk melupakanmu. Tapi..." ujarnya menggantung kemudian, seraya merangkul pundak Fara yang duduk tepat di sampingnya sembari tersenyum penuh kasih sayang pada istrinya itu sekilas, sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada Mita "Maaf, sekarang keadaanku juga sudah berubah. Untuk hubungan kita yang saling menganggap saudara maupun saudari terhadap satu sama lain, itu yang tidak akan berubah. Namun untuk masalah kedekatan, sepertinya itu harus dikondisikan. Karena sekarang aku sudah memiliki Istri yang sangat aku cintai dan selalu ingin berada di dekatnya. Jadi, untuk menghabiskan waktu denganmu seperti dulu, aku tidak bisa untuk selalu berada di dekatmu. Karena pasti Istri tercintaku ini pasti akan cemburu." lanjutnya panjang lebar penuh penghayatan pada setiap tutur katanya dan sedikit bercanda di penghujung ucapannya sembari kembali memandang Fara dengan tatapan penuh cinta.


Sekarang keadaan benar - benar berbalik 360° diantara Fara dan Mita. Giliran Fara yang mengenakan ekspresi sumringah, sedang Mita mengenakan ekspresi pias. Sungguh sepanjang obrolan yang telah berlangsung sekitar 20 menit ini, Kenan benar - benar membuat Fara dan Mita seperti tengah menaiki rollercoaster, mengaduk - aduk dan memporak - porandakan hati kedua wanita itu silih berganti dengan segala tindakan serta ucapannya.


"Jadi, seperti itu." Kenan kembali beralih pada Mita setelah merasa puas saling tatap penuh cinta dengan Fara.

__ADS_1


"Ugh..." untuk ketiga kalinya Mita tertegun dalam obrolan ini sembari segera mengubah ekspresinya menjadi tenang kala bertemu tatap dengan Kenan, setelah sempat menyiratkan kecemburuan yang membuncah. "Em, ba- baiklah tidak apa - apa, aku mengerti." tanggapnya sedikit kikuk kemudian. Ia menyatakan mengerti, namun kedua tangannya yang berada di atas pangkuannya yang terhalang meja, saling meremas begitu eratnya, mengisyaratkan bahwa wanita itu tengah memendam amarah.


"Terima kasih atas pengertiannya." Kenan tersenyum begitu tulus, demikian pula Fara ikut tersenyum tulus pada Mita. Bedanya dalam senyuman Fara tersemat senyuman penuh kemenangan yang dapat dengan jelas dilihat oleh Mita yang sukses membuat wanita itu semakin meradang.


Namun, sepertinya Mita juga merupakan salah seorang yang sangat pandai menyembunyikan ekspresinya. Sembari membalas senyuman tulus Kenan dan Fara dengan senyuman seadanya, wanita itu dengan santai berucap "Sama - sama Ken. Sepertinya kamu memang sangat mencintai Dokter Fara, maka aku doakan semoga hubungan kalian langgeng!"


"Amiin." baik Kenan maupun Fara tak ada yang bisa mendeteksi apakah ucapan Mita benar - benar tulus atau tidak, namun keduanya kompak mengaminkan dengan penuh antusias nan penuh harap.


"Ok, apa masih ada yang ingin kamu tanyakan padaku? Jika tak ada lagi, mungkin sekarang giliranku yang bertanya. Sebenarnya aku juga ada yang ingin ku tanyakan padamu." ujar Kenan kemudian, selang keheningan singkat yang sempat terjadi.


"Hmm?" bukan hanya Mita, Fara juga ikut penasaran. Kompak keduanya menatap Kenan sembari menaikan sebelah alis masing - masing. "Apa? Silahkan tanyakan saja Ken!" Mita mempersilahkan.


Sejenak Kenan terdiam sembari menatap dalam - dalam tepat ke wajah Mita yang membuat wanita itu sedikit salah tingkah, sedang Fara mulai diselimuti api cemburu. Namun Kenan sama sekali tak menghiraukan reaksi kedua wanita itu. "Apa maksudmu menyuruh seseorang untuk mengawasi Fara secara diam - diam?" tanyanya datar pada Mita kemudian.


Duarr...


Mendengar pertanyaan Kenan, ibarat mendengar bunyi guntur disiang bolong yang cerah bagi Mita. Seketika wajahnya berubah pias dengan sedikit memucat.

__ADS_1


Ya, seorang pria acak yang tempo lalu mencoba secara diam - diam mengambil foto Fara dan Andre di basemen NF Hospital, tidak lain dan tidak bukan merupakan orang suruhan Mita, sesuai hasil penyelidikan dari para bodyguard yang diperintahkan oleh Bambang saat mengikuti pria acak tersebut.


__ADS_2