
Seketika Jack terduduk. Tubuhnya gemetar hebat dan dia hampir kehilangan kesadaranya. Tapi dia terus berusaha kuat agar tak terlihat lemah di mata anak buahnya.
Dengan tangan gemetar, dia berusaha meraih ponselnya di saku. Jack menghubungi papanya untuk segera ke markas. Sambil menunggu ke datangan papanya Jack memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan mayat adiknya dari plastik yang menutupi tubuhnya.
Mayat Sabrina di letakkan pada meja besi. Jack segera membalut tubuh Sabrina yang tanpa helai kain dengan jubah kebesarannya. Jack dengan rasa terpukul hanya terdiam, bahkan bernafas pun dia sesak.
30 menit berlalu. Akhirnya topan sampai di markas putranya. Wajahnya terlihat tegang, sebab putranya menyampaikan suatu hal yang tak mudah di pahami.
"Ada apa Jack, kenapa kalian semua berdiri disini!.." suara topan mengagetkan Jack. Tubuh jack semakin bergetar hebat. Tak tau harus menyampaikannya dari mana.
"Pa... Sabrina su...dah pu..pulang" ucap Jack bergemetar.
"Hah syukurlah Dimana dia?" Tanya topan mendekat ke arah Jack.
"Dia... Sudah pu...Lang...ke pangkuan... Sang ku...asa" lanjut Jack, suaranya hampir tak terdengar.
Mendengar ucapan putranya, topan menghentikan langkahnya. Kini tubuhnya ikut bergemetar. Tubuhnya lemas, kepalanya mulai pusing.
"Apa maksudmu Jack!" Ucap topan berusaha kuat. Kini dirinya telah berdiri tepat di samping Jack.
Dengan jelas terlihat wajah pucat Sabrina yang tak bernyawa. Namun tak membuat topan puas. Dia meraba wajah putrinya. Wajah dingin dan kaku itu menyentuh kulit topan.
"Organ perutnya hi...hilang pa.." ucap Jack hati hati.
Mendangar sebuah penyataan yang tak mungkin seorang ayah bisa menerima, topan pun terduduk lemas. Keringat dingin mulai mengucur deras. Keaadaan sang istri yang kini ada dalam benaknya. Setelah lama tak pulang kini malah hanya membawa nama.
"Pa... Maaf kan Jack.." ucap Jack ikut duduk di depan papanya.
"Bagaimana mama bisa menerima ini?" Tanya topan lirih.
Jack tak menjawab. Tamparan kemarin masih melekat pada pipinya. Tamparan dari seorang ibu yang kecewa dan kini apa? Sebuah berita yang tak mungkin mudah di terima.
"Om saya memiliki saran agar Tante bisa menerima ini..." Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari balik kerumunan anak buah Jack yang ikut berdiri.
Sontak suara itu membuat Jack dan topan tertegun. Suara yang sangat di kenal itu akhirnya muncul kembali.
__ADS_1
"Nata... Kau.." ucap Jack lirih.
"Ya aku sudah kembali... Menjadi asisten mu lagi brother.." jawab nata melangkah kearah Jack dan topan.
Topan dan Jack segera bangkit dan memeluk nata. Jonata Aditya sandres salah satu pemegang perusahaan keluarga topan yang sempat di kirim ke singapura untuk mengajukan kerja sama dengan seorang pengusaha terkenal di sana.
Jonata Aditya seorang lelaki berumur 25 tahun. Dia memiliki perawakan tinggi gagah seperti Jack. IQ nya masuk dalam nilai rata-rata yang membuatnya sering menciptakan penemuan- penemuan baru. Semenjak kepergiannya beberapa bulan lalu membuat Jack sering kewalahan menghadapai musuhnya yang tak lain adalah white crocodile.
"Aku menemukan sistem baru... sebuah alat yang bisa menggerakkan orang yang sudah tak bernyawa. Penemuan ini ku sebut moving back. Sebab sistem ini menggerakkan kembali otot otot yang sudah mati. Bagaimana?" Jelas nata.
"Nata tunjukkan cara kerja dan efek samping menggunakan alat itu... Kau tau bukan Tante mu itu cerdas. Om takut dia menemukan keganjalan dan menyelidiki nya" jawab topan.
Nata hanya mengangguk mengerti apa yang omnya maksud. Ia pun berjalan meninggalkan kerumunan itu untuk mengambil tas berukuran sedang yang ia bawa saat menuju markas. Jack dan topan hanya melihat apa yang akan di tunjukkan nata pada mereka begitupun para anak buah mereka.
"Lihatlah om alat ini seperti sebuah kabel yang di hubungkan dengan ponsel atau komputer untuk mengendalikannya. Tapi aku menggunakan jarum agar tak terlihat seperti manusia robot." Jelas nata.
"Apa bisa ku uji sekarang?" Tanya nata.
Jack dan topan mengangguk menyetujui permintaan nata.
"Bro tak salah lagi IQ mu patut ku akui" ucap Jack menepuk pundak nata.
Nata berjalan ke arah tubuh Sabrina yang sudah dingin. Dia mulai memasang beberapa jarum di bagian-bagian yang akan di gerakan nanti. Setelah selesai nata menggambil ponselnya dan seketika tangan dan raut wajah Sabrina bergerak. Matanya terbuka, mulutnya juga terlihat mengatakan sesuatu namun tak ada suara yang terdengar. Membuat Jack dan topan merasa kurang puas.
"Bagaimana kita menjalankan siasat ini jika Sabrina tidak bisa berucap?" Tanya Jack.
Nata hanya tersenyum.
"Kita buat Sabrina seperti mengalami kecelakaan" jawab nata santai.
Jawaban nata membuat Jack dan topan tersenyum.
"Kita buat cerita bahwa Sabrina berhasil lolos dari Cengkraman white crocodile. Lalu saat Sabrina ingin pulang nasib malang menghampirinya... Dia kecelakaan dan mengakibatkan dirinya meninggal" ucap nata.
"Kapan kita menjalankan siasat ini?" Tanya Jack.
__ADS_1
"Sekarang... Malam sudah sangat larut jadi kita bisa menjalankan siasat ini. Suruh anak buah mu untuk mengendarai salah satu mobil milik black dragon untuk menabrak Sabrina." Jawab nata santai.
"Baik kita jalankan sekarang" topan ikut bersuara.
Tubuh Sabrina yang terlihat pucat di beri polesan agar terlihat hidup. Jack dan topan bertugas mendadani Sabrina sementara yang lain menyiapkan keperluan sedetail mungkin agar tak ada yang curiga dengan kelakuan mereka di tengah malam.
Segala persiapan telah selesai. Kini semua orang ikut serta dalam siasat ini. Mereka segera terjun langsung ketempat yang sudah di pilih nata untuk menjadi TKP. Sabrina yang tadinya terlihat dingin dan pucat sekarang terlihat hidup. Walau gerakan yang di buatnya kurang stabil tapi ini sudah paling baik.
Sebuah jalan sepi di dekat markas black dragon menjadi incaran nata karena tidak ada orang yang lalu lalang di tempat itu. Setelah semua persiapan matang ekting pun di mulai.
Mobil tanpa plat dan bekas logo yang hilang menjadi kendaraan yang akan menabrak Sabrina. Nata yang bertugas menjalankan tubuh Sabrina sedikit kesulitan sebab sinyal di tempat ini kurang memadai. Sementara Jack dan topan hanya melihat dan menilai ekting yang di lakukan. Dan anak buah mereka berperan sebagai tiang cctv yang merekam siasat tersebut.
Setelah mendapatkan apa yang mereka ingin kan, mereka semua kembali ke markas untuk sedikit menambah editan pada Vidio. Pekerjaan mereka pun beres. Begitupun perasaan Jack dan topan yang sudah beres Dangan kegelisahan mereka. Untuk menunggu mentari menyapa mereka semua memutuskan untuk istirahat.
Hari ini pagi tak di sambut dengan senyuman mentari, melainkan dengan setumpuk masalah para manusia di bumi dengan aura mendung. Jack dan topan memutuskan untuk kembali kerumah dan berusaha menutupi kebenaran dengan wajah sedih.
Dengan membawa sebuah peti berisi tubuh Sabrina yang tak dapat bergerak kembali. Jujur saja hati topan dan Zaky merasa sakit saat harus membohongi seseorang yang berarti dalam hidup mereka.
"Papa... Ada apa ini kenapa ada polisi dan tenaga medis di sini... Siapa dia mengapa mayat itu di bawa kesini" tanya Sarah mulai gelisah.
Zaky dan topan berusaha tenang dan tidak gelisah agar rencana mereka berhasil. Topan mengarahkan tatapannya pada dua pria berpakaian polisi yang tak lain adalah anak buahnya sendiri. Memberi isyarat untuk menjelaskan kronologi kecelakaan yang menimpa seorang gadis yang ada di dalam peti seperti tugas polisi pada umumnya.
Mendengar penjelasan yang di sampaikan polisi, membuat Sarah tak terima kerena bukti belum di serahkan. Mendengar tuturan Sarah yang tak percaya membuat topan maju demi lancarnya strategi.
"Ma.. lihatlah rekaman cctv ini" ucap topan.
Sarah meraih ponsel yang ada pada tangan topan dan memutar Vidio berdurasi satu menit itu. Mata nya membelalak kala melihat putrinya seperti orang mabuk. Sarah mencoba untuk teliti dan tak menemukan keganjalan sedikit pun. Ia akhirnya menerima kematian Sabrina. Walau Sarah menerima kematian putrinya bukan berarti ia tak lagi memikirkan penculikan Sabrina beberapa Minggu yang lalu. Kini Sarah berdebat dalam batin antara Sabrina benar di culik atau memang dia sendiri yang ingin keluar malam. Seketika pikiran negatif tentang putrinya ia tepis, tak mungkin gadis yang masih duduk di kelas 3 SMP ini berani melanggar aturan mamanya sendiri.
Dengan perasaan sedih yang teramat dalam, Sarah masih berusaha untuk tegar dan ikut memakamkan jenazah Sabrina ke peristirahatan terakhir.
Setelah pemakaman selesai Zaky, Sarah, dan topan berkumpul di ruang keluarga. Zaky dan topan mulai membicarakan apa yang mereka lakukan sampai sampai kemarin malam tidak pulang. Mereka membuat Akuan bohong yang mengatakan bahwa mereka sedang mencari keberadaan Sabrina dan melihat beberapa polisi yang berkerumun di suatu jalan sepi malam malam. Dan saat itulah topan dan Zaky tau bahwa Sabrina menjadi korban tabrakan. Si pelaku di mintai keterangan dan di nyatakan tidak ada yang bersalah sebab di saat itu Sabrina seperti sedang mabuk berat. Bohong topan dan Zaky. Sebenarnya mereka berdua merasa bersalah pada Sabrina dan Sarah karena berbohong dan menutupi kejadian sebenarnya. Hanya satu yang mereka takutkan yaitu Sarah akan depresi jika mendengar nyatakan yang ada.
Di markas white crocodile...
.
__ADS_1
.
Selanjutnya...