Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
bukan dangerous Tiger


__ADS_3

Penuh perjuangan menemukan tempat ini. tempat yang dominan mirip dengan markas milik nya. pernah salah tempat dan salah orang telah Karin dan anak buahnya hadapi. lama penyelidikan itu berlangsung sampai salah satu anak buah Karin yang memantau CCTV menemukan titik terang.


Karin dan Bima sama sama datang dengan penuh persiapan dan kewaspadaan. dangerous Tiger bukan sebuah organisasi mafia biasa. bisa di bilang kekuasan mereka di atas white crocodile dan black dragon. kekejaman mereka juga tak dapat sembarangan di remehkan. banyak perusahaan hancur karena ulah mereka. siapa pun musuh langganan mereka akan tiada dalam sekejap mata.


Karin datang sebagai charla bersama Bima sebagai verel. charla diam diam menghubungkan ponsel nya dengan nata. hanya untuk berjaga jaga tentang apa yang akan terjadi di kemudian waktu.


nata bukan penghianat dari black dragon, kerena kini posisinya bukan tentang black dragon dan white crocodile yang memang telah bermusuhan sejak zaman Alif. melainkan ini tentang keluarga.


"kalian siap?" tanya charla memastikan kesiapan anak buahnya yang hanya ikut beberapa orang.


semua mengangguk dengan keyakinan dan ambisi. apapun akan mereka lakukan demi membuktikan kesetiannya pada sang queen.


kreekkk...


bunyi itu berhasil mengecoh otak charla yang berisi strategi untuk masuk kedalam markas dangger. serentak ia memerintahkan anak buahnya untuk mundur terlebih dahulu.


"kita disini Sampai depan markas sepi" ucap charla memberi peringatan.


semua mengangguk tak terkecuali verel yang sebenarnya belum tau pasti apa yang tengah terjadi.


Kondisi nata sudah membaik, kini seseorang yang di sebut sebagi otak dari black dragon memiliki kendali penuh dengan dirinya sendiri.


Nata, Zaky dan topan tengah menuju suatu tempat, bukan markas rahasia atau sejenisnya. melainkan sebuah rumah berlantai satu. rumah yang tak mewah tapi juga tak biasa biasa saja. ya, mereka tengah menuju rumah John, untuk rumah Andreas mereka belum menemukan nya.


"kita masuk dengan cara bagaimana?" tanya Zaky.


"dengan cara diam diam" ucap nata.


"dengan cara baik" ucap topan.


mereka mengemukakan pendapat hampir bersamaan hal itu membuat Zaky sedikit di buat bingung.


"jadi?" tanyanya lagi.


Nata dan topan saling berpandangan, menatap tak mengerti maksud pendapat yang di ajukan masing masing orang.


"ini sudah malam, datanglah seperti tamu jika ingin di perlakukan bak raja" ucap topan masih menatap Nata.


"tapi pa... jika dia malah menyerang?" tanya nata yang belum tau konsep yang di maksud topan.


"kita mendatangi rumahnya bukan tempat tongkrongan nya, kita datang baik baik, papa yakin kita juga akan di sambut baik" nasehat topan sebelum memutuskan keluar dari mobil.


Tak perlu pelan pelan untuk melangkah menuju pintu rumah. tak perlu juga menyamarkan bunyi sepatu yang berdecak. mereka datang baik baik akan menanyakan dan mengintrogasi dengan baik pula.


tok tokkk... tokk ..


"assalamualaikum" ucap ketiganya


"pemisi.." kemudian


Pintu di buka secara perlahan, menampilkan sosok perempuan yang tengah menggendong anaknya.


"waalaikumsalam" perempuan itu menatap Nata, Zaky dan topan secara bergantian. "maaf cari siapa?" lanjutnya.


"pak John nya ada?" topan ambil suara.


"baru saja beliau keluar"


"kalau boleh tau kemana?"


"saya kurang tau" Perempuan itu mendelik menandakan dirinya emang tak tau.


tangan nata terulur pada pipi tembam milik gadis kecil yang ada di gendongan perempuan itu.

__ADS_1


"anaknya pak John?" tanyanya.


"iya..."


"kalau boleh tau anda ini siapa?" tanya perempuan itu


nata tak menjawab lantas dia hanya mengatakan sesuatu yang membuat Zaky dan topan menatap sendu pada laki laki itu.


"ponakan om" nata berucap pelan sambil mengelus pipi gadis kecil itu.


perempuan itu menatap tak mengerti ucapan nata barusan. dia di buat diam sejenak sambil menatap mata putrinya yang memiliki bulu mata lentik.


"mbak namanya siapa?" tanya nata.


"Sinta"


"Sampaikan pada suami mu, adik nya rindu" nata berucap sebelum berbalik badan. di ikuti Zaky dan topan, akan tetapi sebelum mereka ikut berbalik badan tak lupa topan dan Zaky memberi salam pada Sinta.


"kau lebih baik Nat" ucap Zaky setelah masuk mobil.


"dia masih keponakan ku kan? apa salah nya? toh John dan Sinta juga akan mendapatkan keponakan dari ku" Nata menunjukkan ekspresi bangga yang malah membuat topan dan Zaky ketakutan.


bukan... bukan karena mereka tak suka dengan kebahagiaan nata, akan tetapi mereka takut dan merasa ada sesuatu yang akan terjadi. pada kebahagiaan itu.


Markas dangger sudah terlihat sepi sejak beberapa saat lalu. tapi kini ganti charla yang ragu, kalau sampai pemimpin dangger tidak ada di tempat kemungkinan mereka tengah di awasi. charla berpendapat seperti itu karena memang sering terjadi.


"rel... Lo sama gue maju dulu yang lain susul setelah lima belas menit kita gak balik" perintah charla pada anak buahnya.


sedangkan verel mengangguk setuju dengan apa yang charla perintah kan. hitung hitung dia juga hati hati. kasian mau halalin cewek masa mati dulu kan gak lucu.


langkah pelan dan keringan dingin menemani langkah charla dan verel. mereka tak ingin salah perhitungan hingga nyawa jadi taruhan.


charla penakut? tidak dia hanya hati hati kalau salah langkah dan tertangkap semua identitas nya kan terbongkar. masalah identitas lebih penting dari pada nyawanya. bagi charla melindungi seseorang yang dia sayang adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya.


"siapa itu?" pekik seseorang dari dalam markas.


"gue percaya sama Lo dan Lo juga harus percaya sama gue" balas verel yang ikut mengecilkan nada suara nya.


"apa?" tanya charla tak mengerti.


Verel tak menjawab tapi apa yang ia lakukan membuat charla Merinding bukan main.


"gue asisten queen white crocodile" ucap verel menunjukan dirinya ke pada banyaknya orang yang tengah berkumpul di ruang tengah markas.


melihat itu charla tak dapat bertindak apa apa selain mengikuti apa yang verel lakukan. tentang dampaknya nanti saja di pikirkan.


"leader white crocodile" charla berjalan maju mendekat segerombolan orang yang telah mengangkat senjata api.


lama terdiam sampai tepukan tangan membuat segerombolan orang bertubuh kekar tinggi memberi jalan. sedangkan charla dan verel menatap lurus ke depan memperhatikan seseorang yang akan datang dari ujung sana.


"hai... lama tak berjumpa" ucap laki laki yang memiliki perawakan besar, tinggi, kekar berkulit sawo matang. bertopeng hitam dengan lambang harimau putih dan asap biru di sekelilingnya.


"apa mau mu Cha?" tanyanya.


"tidak lebih dan tidak banyak. kembalikan Raina dan resa" ucap charla datar.


"emm... aku rasa pernah dengar nama itu tapi aku belum sekalipun pun melihat wajahnya secara langsung" ucap orang itu dengan laga sok memikirkan sesuatu.


"aku tidak bercanda di sini" ketus charla.


"kurang ajar!" balas seseorang itu tak kalah ketus. malah orang itu berteriak kencang dengan jarak kurang dari dua meter di hadapan charla.


"masuk tidak permisi! menuduh tanpa bukti dan masih berani membentak ku!" geram orang tersebut. "kalian sudah pantas mati" lirihnya kemudian.

__ADS_1


nyali charla sedikit menciut tapi hal itu tak dapat membuatnya gentar untuk mundur.


"bukan kah memang dangerous Tiger yang membantu seseorang atas nama Andreas sandres?" tanya charla menutupi rasa takutnya.


laki laki itu menurunkan todongan pistol. ia berjalan perlahan melewati memutari charla.


"aku membantunya di saat yang tepat, anggota ku membunuh bukan menculik. kau tau kan bagi ku menculik ada hal bodoh yang di lakukan pengecut" jawabnya.


sampai sini charla paham apa yang di katakan leader dangger Bener. sama sekali ia tak mencium omong kosong di dalamnya.


"baru tau... dua regu mafia bermusuhan mengincar orang yang meminta perlindungan ku, atas dasar apa?" tanya leader dangger.


"keluarga" jawab charla singkat.


"kau sudah menikah?" suara pria itu meninggi.


"sudah, lebih dari tiga bulan" jawab charla jujur.


"kau!..." entah kenapa nada suaranya pria itu meninggi. "pergi atau mati" pekik nya kemudian.


charla dan verel tau situasi. tidak atau apa yang menggangu mood leader dangger sehingga dia berubah kasar.


charla dan verel pergi meninggalkan markas dangger dengan nafas lega. ternyata yang di curigai tidak melakukan apa yang dituduhkan. tapi charla jadi bingung siapa yang menculik resa dan Raina masih menjadi misteri. tambah bingung lagi dirinya saat menyadari tingkah leader dangger tiba tiba berubah saat mengetahui bahwa dirinya sudah berkeluarga.


Jam makan siang telah di mulai sejak sepuluh menit yang lalu. tapi memilih diam di ruangannya sendiri adalah pilihan Tania. yang biasanya gadis itu akan pergi makan siang bersama Bima kini tidak lagi.


Kesal rasanya jika tau Bima lebih memilih urusan pribadinya. padahal jika di hitung hitung makan siang tidak sampai satu jam. Tania teringat nama yang Bima panggilan saat dirinya dan Bima makan bersama. nama itu terlalu familiar di telinga Tania, sebab jika di pikir nama 'cha' bisa di gunakan beberapa nama lengkap contoh 'Icha, Acha, chanva, Chandra' dan masih banyak lagi. hal itu membuat bingung mau mencurigai siapa. 'karin?' tidak nama panggilan ataupun nama lengkap nya tak ada yang menggunakan kata 'cha'


"ah bodo bukan urusan gue" ucapnya setelah melamun beberapa saat.


"tapi ya urusan gue lah... kan katanya Bima mau serius..."


"gimana sih hah?"


"emang dasar kalau kandidat buaya tetap aja buaya, emang bisa buaya jadi merpati yang hidup sama satu wanita aja?"


Tania berbicara sendiri seperti orang tak waras.


jujur kalian juga pernah kan... kalau si doi tiba tiba berubah 😩 jujur aja aku juga pernah kok ngomong sendiri kayak si Tania hehe😁*


"Lo ngomong sama siapa Tan?" tanya citra yang tiba tiba datang tanpa mengetuk pintu.


"heh... apa sih Lo masuk ruangan orang gak permisi dulu"


"tadi mau ngetuk eh denger Li ngomong sendiri jadi takut gue"


"takut kenapa?"


"takut kalau otak Lo kumat lagi" jawab citra asal.


"gila Lo" jawab Tania ketus sambil melempar pulpen di depannya.


"eiittt gak kena?" ejek citra yang berhasil menghindari serangan Tania. "eh btw gue kesini mau aja Lo makan siang? Lo laper gak?" lanjutnya.


"ya laper sih tapi gak ada mood"


"emang Lo kenyang kalau nerusin galau galau lo yang gak jelas itu? kalau gue sih mending makan masalah laki ada tuhan yang atur" ucap citra lalu berbalik tanpa mengucap apa pun.


"Weh tunggu gue laper taii...." ucap Tania kemudian setelah citra menghilangkan di telan pintu.


.


.

__ADS_1


selanjutnya...


penculiknya tetep jadi rahasia ya sampai aku berbaik hati buat kasih tau bocorannya, makanya sabar man teman aku setia kok hehe😁


__ADS_2