Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
teringat


__ADS_3

sudah beberapa hari ini Karin dan Bima kembali ke rumah masing masing. walau masih harus menjalani sistem rawat jalan. kondisi keduanya semakin membaik bahkan Karin sudah berani mengangkat telpon semua orang terlebih zaky. dengan memanfaatkan halaman belakang rumah yang asri untuk mengangkat Vidio Cell yang di lakukan dirinya bersama kekasihnya itu.


hari ini adalah saat yang paling di tunggu Karin untuk melepas jahitan pada punggungnya. mengingat tiga hari lagi akan ada pesta pernikahan yang akan di adakan keluarga Zaky untuk nata dan resa. waktu begitu cepat berjalan sampai tak sadar jika hubungan sehidup semati itu akan segera terlaksana.


di kediaman keluarga Hartanto.


seluruh anggota keluarga tak ada yang hanya berdiam diri dan menonton televisi. para art Sampai pegawai catering sangat sibuk. nata dan Zaky juga terlihat tengah menata halaman rumah sebagai tempat akad.


"Nat gimana rasanya?" tanya Zaky dengan senyum nakalnya.


"Lo bakal ngerasain dua bulan lagi" jawab nata tanpa menoleh.


"tau dari mana Lo kalau gue rencana mau nikahin Karin dua bulan lagi?"


"om" jawab nata singkat.


"ah papa enggak bisa di ajak kompromi" gerutu Zaky pelan namun masih jelas di telinga nata.


"siap siap aja, lo bakal ngerasain apa yang gue rasain. gak boleh ketemu Sampai nikah lah, apalah ada ada aja tradisinya" nata ikut menggerutu.


"gue gak mau pakek tradisi kayak gitu, gue yakin Karin setuju"


"serah" jawab nata lalu dia pergi meninggalkan Zaky untuk menata bagian lain.


sementara di kediaman Santos, gadis itu tengah sibuk menyiapkan baju yang akan dia kenakan di acara pernikahan sahabat baru nya. karena peringatan dari doktor membuatnya frustasi. dia harus pandai pandai memilih baju yang berserat halus. luka Karin memang sudah kering tetapi luka itu akan mudah mengelupas jika terkena benda sekasar apapun.


Dia mulai mengobrak ngabrik isi lemarinya. tidak ada baju yang pas untuknya. kebanyakan baju yang dia milik membuka bagian punggung. dia takut luka itu terlihat. ada beberapa dress dan gaun yang menutup punggung nya tapi sayang serat kainnya tak sesuai dengan yang di anjurkan dokter.


saking frustasi nya Karin memilih meminta tolong pada sopir nya untuk mengantarnya ke mall. ia tidak ingin salah kostum yang beresiko muncul nya pertanyaan pertanyaan curiga dari Zaky.


"Bi... mas jo dimana?" tanya karin saat bertemu di Tuti di lantai dasar.


"oh... nek belakang non batuin pak Mardi bersihin kebun" jawab bi Tuti.


"tolong panggilin ya... saya tunggu di ruang tamu" perintah Karin.


"enggeh non" jawab bi Tuti.


wanita paruh baya itupun akhirnya meninggalkan karin yang masih berdiri di bawah tangga. tangannya memegang sebuah tas kecil berwarna biru navy. Karin berjalan menuju ruang tamu yang telah di janjikan pada mas Jo melalui bi Tuti.

__ADS_1


beberapa menit kemudian, seorang lelaki berumur 30 tahunan berdiri menunduk di hadapan Karin.


"ayo mas... langsung aja keburu kesorean" pinta Karin.


lelaki itu mengangguk. sifatnya yang dingin membuat Karin enggan bertanya atau ngobrol ringan. walau sudah memiliki seorang istri dan anak, mas Jo tidak menghilangkan sifat dinginnya. dia hanya berbicara seperlunya saja. di balik sifatnya yang terlihat pendiam dan tak mudah peduli terhadap orang lain, mas Jo memiliki perilaku baik yang pantas di kagumi. dia hanya akan bersifat ramah dengan orang yang selalu ada dan mengenal baik dirinya.


selesai memilih milih baju dan aksesoris yang akan di kenakan di acara pernikahan nata dan resa, Karin pun segera keluar dari mall. ia tak tega meninggalkan mas Jo sendiri.


acara sakral yang pasti banyak di tunggu insan manusia kini tergelar meriah di sebuah gedung. setelah acara akad pagi tadi kini resa dan nata akan melakukan resepsi.


seutas bayangan kelam tiba tiba hinggap di ingatan resa. sudah lebih dari lima bulan kepergian mendiang suaminya. wajah itu kembali.


teringat dua mempelai bahagia tengah menyalami dengan ramah para tamu tamu undangan. tak ada kesedian di antara insan insan itu. semua bahagia, semua merayakan, semua tersenyum. miris itu tidak lama. seluruh tamu undangan bahkan pelayan pelayan yang di sewa kalang kabut. tanpa aba aba tiba tiba Arvin ambruk. bersamaan dengan itu senyum resa menyurut. teriakan histeris yang saling bersahutan menambah kebingungan. resa lemas, dia tak sanggup menahan segalanya. tubuhnya mulai oleng sampai pada akhirnya gelap.


cahaya terang nampak samar samar. resa menyipitkan matanya, berusaha menghilangkan pandangan kabur itu. beberapa detik setelahnya dia menangkap seorang wanita paruh baya tengah duduk menunduk di hadapannya. Raina ya orang tua satu satunya yang di miliki oleh resa. tampak air mata masih mengalir deras membasahi pipinya.


"mama kenapa?" tanya resa, suaranya masih terdengar lirih namun masih dapat di dengar oleh Raina. "ma... mama kenapa nangis, oh iya aku ada di mana ini? mah... mas Arvin tadi pingsan kenapa ya?" tanya resa bertubi tubi.


tak ada jawaban dari Raina. dia malah mengencangkan suara tangis nya lalu memeluk resa. lama sekali, resa hanya diam menanti sebuah jawaban keluar dari mulut mamanya.


"arvin... Arvin..." Raina tak sanggup berkata.


"Arvin serangan jantung... resa sabar ya... Arvin sudah tenang disana... resa kuat ya? mam di sini nak..." jawab Raina berusaha tersenyum.


deg... seakan waktu berhenti. belum ada 24 jam Arvin dan resa menjadi pasangan suami istri dan sekarang apa? dia harus menjadi janda? sakit rasanya. ingin sekali resa mengakhiri hidupnya sekarang, tapi dia tau masih ada hati yang harus dia bahagia kan. hati seorang ibu yang selalu berharap besar terhadap anaknya. untuk kembali percaya bahwa takdir tuhan adil. membalas segala cacian dengan prestasi, membalas cibiran dengan senyuman. dia lah harapan mamanya.


cukup miris alur cerita keluarga resa. setelah ayahnya meninggal dua tahun lalu di susul hutang ayahnya yang minta di tebus. sekarang baru saja menikah sudah di tinggal pergi suami untuk selama nya. kembali di susul nyinyiran pedas mertua resa sendiri yang menganggap dirinya pembawa sial.


"sa... kamu kenapa? jangan bengong... di liat tamu gak enak" nata mengguncang pelan tubuh resa agar tersadar dari lamunannya.


"hah... oh ya maaf" jawab resa gelagapan.


"mikirin apa? Arvin ya?" tanya nata penuh selidik.


"em.. iya, aku ingat dulu di acara seperti ini... tiba tiba mas Arvin jatuh setelah itu aku gak liat dia lagi" bisik resa. ada tangis yang tertahan di sana.


"besok kita ke makamnya, aku Pengan minta izin untuk dapet in kamu seutuhnya" bisik nata nakal.


resa tersenyum sipu.

__ADS_1


tak mereka sadari sebenarnya sedari tadi Karin dan Zaky tengah memperhatikan gerak gerik mereka. Zaky mau pun Karin menebak nebak resa terbawa suasana. mereka juga tau bagaiman rasanya di tinggalkan oleh orang yang di sayang.


"nanti kita lebih indah dari itu ya..." ucap Zaky tiba tiba.


"emang kamu mau nikahin aku?" seketika Karin terkaget dengan pertanyaannya sendiri.


"hah? ya iyalah, dengar ya Karin Evelin Santos... saya bukan seperti laki laki brengs*k di luar sana yang mau pacaran aja giliran di ajak nikah pergi" jawab Zaky santai.


"kapan kamu mau nikah in aku?" tanya Karin, senyum itu tiba tiba mengembang saja dari bibir merah semu nya.


"tunggu saja nanti, jangan pakek mikir... langsung terima ya" jawab Zaky tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.


Karin tersenyum. ada rasa senang juga gelisah di sana.


acara berlanjut sampai pukul 00.00. para tamu dengan suka hati berdansa dan nari. di iringi musik bernada romantis.


dari kejauhan Bima tampak memperhatikan seseorang. seorang gadis yang duduk di sebuah kursi. kanan dan kiri kursi tersebut kosong tak ada yang mendekat ke arahnya. tak mau membuang waktu Bima mendekati gadis tersebut. jujur saja bukan tanpa alasan dia mendekatinya. ada satu alasan kokoh yang ada di dalam hatinya yaitu agar hatinya beralih ke wanita lain. tidak mengharapkan seekor burung yang di lepas untuk kembali.


"hai Tania kan?" tanya Bima ramah.


merasa namanya terpanggil Tania pun menoleh.


"tuan Bima? silahkan duduk" jawab Tania.


"gak usah panggil aku tuan, bukannya kita teman" jawab bima.


"rasa tidak pantas tuan..."


"panggil aku Bima saja, lebih gak enak nanti kalau ada orang yang dengar kamu panggil aku tuan"


Bima dan tania membuka obrolan ringan. ternyata mencari topik pembicaraan sungguh sulit apalagi jika harus berbicara dengan seseorang yang kita kenal dari orang lain. isi pembicaraan itu hanya perihal kehidupan sehari hari.


semoga sadboy dan sadgirl itu di jodohkan. bisik seseorang.


.


.


selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2