Suamiku Musuh Bebuyutan Ku

Suamiku Musuh Bebuyutan Ku
balas dendam


__ADS_3

sesampainya di markas.


"dimana gadis itu?!" ucap charla. (nama Karin senyap karena dia masuk kedunia mafianya lagi). ia sudah mengenakan setalan serba hitam di lengkapi jubah hitam berlogo buaya putih di bagian punggung dan topeng.


"ruang bawah tanah" jawab verel asisten pribadi charla.


charla berjalan menuju ruang bawah tanah dengan langkah penuh semangat. decit sepatu boots menambah kesan mencekam di setiap langkahnya. membuat yang mendengar merasa merinding di sekujur tubuh. apalagi dengan gemetarnya tubuh seseorang yang charla cari.


diruang bawah tanah charla mendapati dua malfionso yang tengah berdiri tak jauh dari gadis yang tergeletak di lantai berdebu.


"kenapa kalian hanya diam?" tanya charla membentak.


"dia sudah pingsan queen" jawab salah satu malfionso yang bernama James.


"tapi dia belum matikan??" tanya charla dengan senyum mengerikan. charla berjalan mendekati gadis malang tersebut.


"apa yang mereka lakukan kepada mu?" tanya charla sok perhatian. charla mencengkram rahang gadis itu tak terlalu kuat.


"mereka memukul, mencambuk dan berusaha melecehkan ku." jawab gadis itu yang tak lain adalah Sabrina.


mata charla seketika melotot mendengar kata terakhir yang di ucapakan Sabrina. charla menatap tajam kedua malfionso yang tengah menunduk. mereka takut jika apa yang di lakukan nya salah.


"panggil malfionso yang lain!" perintah charla dengan nada membentak.


Sabrina senang karena dari tatapan charla yang di arahkan pada dua malfionso nya merupakan amarah yang sangat besar.


"semoga yang ku fikirkan benar" batin Sabrina.


setelah beberapa malfionso yang diperintah charla kembali dengan membawa 10 orang bertubuh besar berotot. charla menyunggingkan senyum miring di balik topengnya. malam ini akan ada adegan seru dalam sejarah ke kejamannya. yang tak hanya melukai fisik tapi juga mental.


"lanjutkan apa yang kalian lakukan pada bocah ini!" perintah charla.


dua malfionso yang tadinya ketakutan sekarang menjadi heran dengan perintah Queen nya.


"siksa dia queen?" tanya salah satu malfionso hati-hati.


charla berjalan mendekati Sabrina.


"layani mereka sampai mereka puas dengan tubuh mu!" perintah charla pada Sabrina membuat para malfionso itu melongo. terlebih Sabrina.


Sabrina yang tadinya mengira jika kehormatan nya akan selamat ternyata salah. baru hitungan jam yang lalu dua malfionso yang menyiksanya berani memegang paha dan dadanya, sekarang malah disuruh melayani kemungkinan ada 15 lelaki.


"tidak...kumohon siksa aku tapi jangan rebut kehormatan ku..hiks.." bela Sabrina pada dirinya.

__ADS_1


charla Hanya diam dengan senyum mengembang di balik topengnya.


"mmm..." dehem charla memberi isyarat kepada para malfionso nya. dengan ragu beberapa malfionso mendekat ke arah Sabrina yang tengah menangis.


"cepat lakukan atau kesempatan emas ini akan hilang!!" bentak charla.


dengan segera malfionso-malfionso itu mendekat ke arah Sabrina. dia hanya pasrah dengan keadaanya sekarang.


salah satu malfionso melepas tali yang mengikat Sabrina. di lanjutkan dua malfionso yang membuka baju sabrina yang sudah kucal dengan paksa. Sekarang terlihat tubuh Sabrina tanpa sehelai benang pun. charla yang masih berdiri di tepat tersenyum licik kearah Sabrina.


"lepasnya kehormatan mu dan hilangnya nyawa mu mungkin akan impas dengan kepergian ibuku." ucap charal sedikit lantang.


"kenapa kau sejahat ini kepada ku?... hiks..hiks." tanya Sabrina diiringi Isak Tangis.


"kerena kakak mu telah mengambil ibuku dan kau berani tidak percaya dengan ucapanku" jawab Charla. suaranya menggema di ruangan gelap itu.


"cepat lakukan!" perintah charla pada malfionso-malfionsonnya. sementara dia sendiri tetap berdiri di tempat dengan membawa ponsel untuk merekam aksi para bawahannya lalu, mengirim nya ke nomer jack yang sempat menchatingnya beberapa hari lalu.


"eh tunggu sepertinya jika ku beri waktu anak buah ku tidak akan pernah puas dengan tubuh mu yang belum terlalu menggoda, jadi ku biarkan saja mereka memakan mu hingga mereka puas." tutur charla semakin membuat Sabrina histeris.


setelah mendapatkan isyarat dari charla para malfionso-malfionso itu membuka semua kain yang menutupi tubuh mereka. dengan rasa jijik charla tetap diam di tempat untuk merekam apa yang akan bawahanya nya lakukan.


Sabrina hanya menangis sungguh telah hancur masa depanya. kulitnya yang putih kini meninggalkan bercak merah. sementara para malfionso itu masih bersenang senang dengan tubuhnya.


sementara itu...


seorang lelaki berwajah tampan dan gagah terlihat lesu, ia berjalan gontai memasuki rumah besar. pikirannya kacau. adiknya sudah hilang sejak kemarin. bahkan anak buahnya tak berhasil menemukan adik nya. memang ini kesalahan yang fatal apalagi dengan sadar lelaki itu Telah mengundang iblis dalam diri musuhnya. berita kekejam charal di kalangan mafia sudah tersebar dan sekarang dirinya malah mengundang kekejam itu dengan keadaan sehat dan sadar.


Saat lelaki itu membuka pintu rumah, seorang wanita berumur 40 tahunan menghambur memeluk lelaki itu. isak tangis pecah. tak terima, amarah, kesal, khawatir bercampur menjadi satu. hanya lelaki yang wanita itu peluk lah yang bisa membawa cahaya terang dalam kalbunya. hanya lelaki ini lah kunci dari segala hal yang terjadi akhir akhir ini.


Sementara tubuh yang di peluk berusaha untu terus kuat menopang segala beban yang datang secara bertubi tubi. gemetar hebat yang berusaha ia tahan. pecahnya air mata kala cahaya di hidupnya redup. mamanya kini menangis di dadanya yang bidang.


"dimana adikmu?..hiks.." tanya perempuan itu.


"maaf ma aku gagal, aku malah membunuh ibu charla." jawab lelaki itu berserta pengakuan.


plakk...


sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi lelaki itu. perih, tapi tak seperih batin seorang ibu yang harus kehilangan anaknya.


"Mama kecewa sama kamu zaky, kau bodoh ky... Mama benci kamu!!" teriak perempuan itu yang tak lain adalah ibu dari zaky (zaky nama asli jack) dan Sabrina.


"Zaky tidak suka bermain-main ma.. Zaky.." kalimat Zaky berhenti sebab Omelan dari mamanya kembali terucap.

__ADS_1


"adik mu hilang dan kau malah mementingkan egomu?!..bodoh!!.." bentak perempuan itu. tanganya melayang hampir menyentuh pipi zaky, namun tangan itu berhenti sebab ditahan oleh suamianya, yang seharusnya membela dia kala itu. ya dia adalah mantan king black dragon.


"ma.. ini tidak sepenuhnya salah zaky" bela topan ayah Zaky.


"ini sudah biasa di dunia mafia ma.." sambung andres.


"ini memang biasa bagi kalian, tapi tidak dengan seorang ibu!" jawab Sarah dengan


suara nya sudah meninggi.


topan berusaha menenangkan istrinya yang sudah sangat frustasi.


Ting...


Ting...


dua pesan masuk kedalam ponsel Zaky. pesan itu berasal dari nomer charla yang pernah ia chating. sebuah video berdurasi 30 menit dan sebuah kalimat.


'kau salah mengambil tindakan!' bunyi pesan tersebut. Zaky masih mematung di tempat. ia akhirnya memutar rekaman video yang di kirim charla.


mata Zaky melotot hingga hampir keluar. sebuah video aksi pemerkosaan yang di lakukan banyak pria kepada seorang wanita yang tak lain adalah adiknya. Zaky berlari keluar rumah, ia berusaha menghubungi pemilik nomer.


di sebrang...


charla menyunggingkan senyumnya kala melihat panggilan dari nomer milik Jack.


"tidak semudah itu..." desis charla. charla menekan tombol merah pada layar ponselnya.


tapi Jack bukan orang yang mudah menyerah. dia mengirim sebuah voice note.


"dasar pengecut! wanita gila... wanita lemah yang menyerang dari belakang... jika kau melakukan itu untuk menebus kematian ibumu itu terlalu berlebihan bodoh!!!" seluruh sumpah serapah keluar dari voice note itu.


charla tertawa mengingat perkataan Jack yang mengatakan bahwa dia wanita lemah yang menyerang dari belakang.


"hahaha...jika aku wanita lemah lalu dia apa? banci??" suara charla membuat anak buahnya memandang penuh heran sangat jarang melihat charla tertawa. tapi mereka juga sadar tawa itu bukan tawa biasa. sebuah tawa iblis yang bisa membuat pendengarnya merasakan gemetar tanpa sebab.


kembali ke posisi Zaky/Jack.


.


.


selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2